
Sore setelah kepergian Kevan dan Jade, sisil menjatuhkan jemarinya di atas tuts piano yang dingin. Jari lentiknya dengan gemulai menekan satu persatu tuts dan memainkan lagu kesukaannya.
Lagu itu mengalir dari hatinya. Penuh perasaan sendu.
Semua yang terjadi dengan Kevan meskipun ia begitu diam, ia bukan tak pernah mendengar apapun. Semuanya ia tahu, bahkan pandangan mata Kevan pada Ara pagi tadi membuatnya semakin tahu. Satu-satunya alasan Kevan terus menunda pernikahan mereka karena ia tak benar-benar ingin menikahinya. Sisil sadar, ia berada di sisi Kevan karena apa. Matanya berkabut, begitu sendu.
Hal paling menyedihkan dari mencintai adalah tak pernah di cintai.
Sekarang, Kevan menemukan hatinya. Tapi bukan untuknya tapi untuk gadis lain, mungkin itu Ara.
Setiap hari ketika melihat Kevan berjalan keluar rumah untuk bekerja, ia harus bergulat pada pikirannya, bahwa Kevan tak mungkin menyukai Ara dan pasti suatu hari akan membuka hatinya untuk dirinya.
Tanpa Sisil ketahui, Ara menatap Sisil dari lantai atas. Ara tak tahu banyak tentang piano, tapi ia tahu ada melody menyedihkan dari setiap tuts yang Sisil tekan. Melody itu bahkan bisa menggambarkan dengan jelas rasa kesepian dan kesedihannya.
Lama berdiri memperhatikan, ia melihat hujan akhirnya turun di balik kabut mata gadis lembut itu.
Apa? apa yang membuatnya begitu sedih?
Ara perlahan mengayunkan langkahnya menuruni tangga dan mendekati tubuh Sisil. Ia berdiri tepat di samping Sisil, gerakan tangan Sisil tiba-tiba berhenti. Ara menyodorkan selembar tisue pada Sisil. Sisil menyambutnya dengan senyuman. Terimakasih.
“Lagu yang indah, tapi kenapa terdengar menyakitkan?apa yang membuatmu sangat sedih sil?"
Sisil menarik lengan Ara, memintanya duduk di sampingnya. Tangannya sekali lagi memainkan lagu yang sama. Ara terdiam. Ia masih merasakan perasaan yang sama di dalam lagu itu, bahkan badai lebih terasa kali ini. Beberapa lama kemudian Sisil menatap Ara dengan pandangan sedihnya.
“Snow in summer, lagu ini aku ciptakan sendiri Ra"
Ara terus menatap wajah Sisil yang sendu, ia terus mendengarkan Sisil, jari gadis itu dengan lincah bergerak terus memainkan piano itu.
“Aku di besarkan di dalam keluarga Lee seperti yang kau tahu, di bawah tembok kastil aku tak banyak memiliki teman. Jade dan beberapa pelayan adalah temanku. Hidupku pasti sangat berbeda dengan hidupmu. Kadang, saat melihatmu ada perasaan iri masuk ke dalam hatiku. Kau memiliki yang aku tidak miliki"
Mendengar perkataan Sisil, Ara mengerutkan keningnya. Ia memiliki yang tidak Sisil miliki?
“Apa yang aku miliki tak kau miliki Sil?"
“Kau memiliki kebebasan yang aku tak punya, kau memiliki warna yang aku tak miliki Ra"
Ia menoleh menatap Ara dengan senyuman. Ara masih berusaha mencerna perkataan Sisil.
“Suatu hari, ayahku memintaku untuk menemaninya datang ke sebuah pertemuan saat aku berusia 18 tahun. Awalnya aku tak benar-benar menikmati acara disana. Acara yang selalu saja sama setiap kali diadakan. Membicarakan hal yang sama berulang-ulang. Tak ada yang menarik hingga aku memutuskan pergi dari kerumunan. Aku memutuskan duduk dan memandang langit malam hingga tak lama kemudian seorang laki-laki datang duduk di sampingku memberikan sebuah teropong bintang masuk ke genggaman tangan ku. Itu pertama kalinya aku bertemu dengannya. Dengan wajah dinginnya ia berkata “Ada jutaan bintang di langit, jika hanya sendiri mereka bukan apa-apa, mereka hanya akan istimewa ketika bersama dan membentuk sebuah gugusan rasi bintang". Aku menatap pria di samping ku, wajahnya sedingin es tapi bersinar seperti bulan. Itulah pertama kalinya aku menyadari aku menyukainya.
Cinta berkembang dengan cepat di hatiku.
Tapi,Aku tak pernah lagi melihatnya sejak saat itu. Musim panas kali itu begitu dingin, aku berusaha bertemu dengannya di setiap pesta. Tapi dia tak pernah muncul. Akhirnya lagu ini ku buat untuk mewakili perasaanku padanya.
Sampai suatu hari, aku melihat beritanya muncul di Tv. Anak Sulung keluarga Wingsley dalam kondisi kritis karena gagal Ginjal, seketika duniaku seakan runtuh.
Yang terpikirkan saat itu aku memohon pada ayahku untuk bisa bertemu Kevan dan mendonorkan Ginjalku untuk menyelamatkannya. Berdebat dengan keluargaku bhkan hal yang mudah. Aku seorang gadis tenang dan pendiam seketika berubah menjadi pemberontak untuk pertama kalinya. Itu kali pertama ayahku tahu aku memiliki hati untuk anak sulung keluarga Wingsley. Akhirnya mereka mengalah, operasi berhasil, aku akhirnya melihatnya tersenyum untuk pertama kalinya
Mulai saat itu aku tahu dialah duniaku dan semua warna di hidupku"
Air mata Sisil kembali terjatuh, melody di tangannya semakin sendu. Ara merasa sakit dan bersalah dalam satu waktu mengingat apa yang ia dan Kevan lakukan malam tadi. Itu jelas sebuah pengkhianatan.
Ia akan menjadi tersangka utama runtuhnya dunia Sisil jika ia tahu hubunganya dengan Kevan.
Lalu aku harus bagaimana?
Saat itu pikiran Ara berkecamuk hebat. Berada di rumah ini, ia bukan hanya akan mencuri cincin itu tapi juga sebuah hati untuk gadis lembut di sampingnya ini.
“Pria yang kau cintai sepenuh hati itu akan menikahimu cepat atau lambat, lalu apa yang membuatmu sedih?"
“Benar, aku hanya khawatir dia tak mencintaiku dan justru mencintai orang lain"
Kali ini tatapan Sisil mendalam pada Ara. Ara tak bereaksi berlebihan. Mungkin Kevan hanya ingin bermain dengannya, cinta baginya tidak mungkin.
“Jangan terlalu khawatir, aku bahkan bisa melihat dia sangat mencintaimu”Seru Ara tersenyum sambil tangannya mengusap lembut lengan Sisil. Sisil menangkap tubuh Ara. Memeluknya dengan lembut.
***
“Jika tidak di rumah ini, hanya ada satu kemungkinan, pasti di kastil utama keluarga Wingsley"
Ara tahu itu tempat yang tak mungkin ia datangi, bahkan jika ia datang bersama Kevan, ia juga pasti tak akan bisa mencari tahu keberadaannya. Aku harus bagaimana sekarang? Ara meringkuk di tepi balkon kamar di villa itu. Ia begitu merindukan ibunya. Jika terus seperti ini ia akan terus membuang waktu sia-sia, semua yang ia usahaka sia-sia.
“Ibu, aku merindukamu, entah kapan aku bisa bertemu denganmu"
Air mata Ara berjatuhan. Ia menangis sampai serasa air matanya habis. Ia mulai bersandar pada sudut pintu balkon, menatap cahaya bulan dari dalam ruangan. Membiarkan angin malam masuk membelai wajahnya. Ia begitu lelah hingga tanpa sadar tertidur.
***
Sejak awal mereka sampai di kota L, Kevan tak sedetikpun ia tak teringat sosok Ara. Merasa sesuatu berkembang terlalu cepat di hatinya. Ia menghela nafas panjang. Bagaimanapun caranya menghindari perasaan gila itu, perasaan itu tidak menghilang. Ia merindukan Ara.
Di tengah pesta, Kevan berdiri di samping Jade, mencoba menikmati acara malam itu. Tapi pandanganya tetap kosong. Pikirannya berlarian kesana kemari. Tanpa di sadari Jade menangkap pandangan kosong itu dari wajah Kevan.
“Van, apa ada masalah?"
“Tidak ada masalah"
“Mengkhawatirkan Sisil? tenang lah, Ara pasti menjaganya dengan baik"
Kevan menoleh pada Jade sekilas dengan senyumannya yang dingin. Seandainya saja yang ia pikirkan adalah Sisil mungkin ia tak akan segusar ini sekarang. Semua orang berharap ia membuka hati untuk Sisil. Anehnya, ia telah menghabiskan waktu 3 tahun berusaha mencintai Sisil namun selalu gagal dan sekarang ia jatuh cinta pada Ara dalam jangka waktu hanya dengan waktu beberapa bulan saja. Ada perasaan bersalah tapi tak menyesal dalam hati Kevan. Tapi perasaanya untuk Ara, sudah pasti adalah perasaan yang salah.
“Aku akan kembali malam ini juga"
Jade tiba-tiba menoleh pada Kevan. Ia tak bisa menyembunyikan wajah herannya.
“Kau sedang memikirkan Sisil kan van?
"..."
Kevan terdiam, ia mengabaikan pertanyaan Jade yang dengan serius menatapnya menunggu jawaban. Beberapa saat menunggu tapi Kevan tetap diam. Jade tidak bodoh, tiba-tiba tersenyum sinis.
“Apa dia Ara?"
"...."
Keheningan Kevan kali ini benar-benar membuat tertawa dingin. Ia sungguh di buatnya terheran-heran. Kenapa harus Ara? tapi benar juga, tidak ada seorang priapun yang tak terpesona dengan penampilan natural Ara.
“Membalas perasaan adikku apa sesulit itu?"
“Jika mudah, sudah ku lakukan sejak dulu"
“Mempermainkan hatinya sampai selama ini apakah begitu mengasyikan?"
“Bukkk”Tiba-tiba pukulan keras mendarat di wajah Kevan. Pukulan Jade membuat tubuhnya mundur beberapa langkah. Kevan merasakan rasa darah masuk melalui lidahnya. Jade tak berhenti sampai disana, ia menarik kerah kemeja Kevan dengan kasar. Mata mereka beradu. Kevan bisa melihat kemarahan Jade dari sorot matanya yang tajam. Seluruh mata tiba-tiba tertuju pada mereka.
“Pukulan tadi anggap saja mewakili kesedihan yang di rasakan Adikku selama ini. Kau harus sadar, kau berhasil hidup sampai detik ini karena pertolongan siapa?! perusahaan keluargamu menguat sampai seperti ini berkat dukungan siapa?! pikirkan baik-baik, jangan sampai Sisil tahu perasaanmu pada Ara, jika itu terjadi, aku akan menghabisimu, meskipun harus menyeretmu dari dasar neraka akan aku lakukan! mengerti???!!"
Jade melangkah pergi setelah melepaskan genggamannya dan menepuk beberapa kali bahu Kevan.
Sepeninggal Jade, rose datang menghampiri Kevan. Wajahnya begitu khawatir, ia menyeka darah yang mengalir dari sudut bibir Kevan.
“Ada apa dengan kalian? kenapa kalian tiba-tiba bertengkar?"
“Tidak apa-apa bu, hanya salah paham, jangan khawatir"
“Hemm baiklah"
Wajah Rose akhirnya lebih tenang. Kevan terus memandangi punggung Jade yang semakin menghilang. Pikirannya lebih kacau sekarang.