
"Jangan pergi Ara, tetaplah di sini" seru Daniel pada Ara yang menoleh kemudian mematung.
Ia melihat Daniel yang lemah di atas tempat tidur memohon padanya ia sampai tak tega, akhirnya ia duduk di sampingnya, namun kemudian Daniel membuatnya berbaring di pelukannya. Ara menemani Daniel tidur beberapa jam, saat mata Ara terbuka ia tak menemukan Daniel di sampingnya. Mata Ara mengedar ke sekeliling, namun tetap tak melihat Daniel. Ara kemudian memutuskan untuk turun dari ranjang dan berdiri di depan teras belakang kamarnya. Angin semilir, laut yang tenang, camar yang berterbangan di atas kepala membuat Ara menghela nafas seperti enggan untuk meninggalkan tempat ini. Terlalu indah untuk di lepaskan, pikirnya.
Lamunannya terhenyak saat mendengar suara pintu di ketuk. Ara segera membalikkan badannya berjalan untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka, seorang pria berbadan tegap berdiri di depan pintu membawa dan menyerahkan dua buah paperbag.
"Apa ini?"
"Tuan Daniel meminta saya untuk memberikan ini pada Nyonya, masalah isinya silahkan Nyonya Ara periksa,"
Kemudian Ara membuka masing-masing kantong baju itu, di dalam kantong itu berisi sebuah gaun dan juga tuxedo kecil untuk Brandon,
"Benar juga, sore ini akan di adakan pengumuman hasil perlombaan dengan formal dress code." batinnya kemudian mendongak lagi pada pria didepannya itu.
"Dimana Daniel?"
"Tuan Daniel sedang bersama Nona Medina"
"Hemm, baiklah terimakasih" Pria itu pun berlalu kemudian ia bergegas mandi dan merapihkan diri.
***
"Ara, apa kau sudah selesai?" tanya Daniel sambil mengetuk pintu kamar mandi, "30 menit lagi acara akan dimulai" sambungnya.
Klak... pintu akhirnya terbuka setelah lebih dari setengah jam Ara berada di sana. Saat pintu pelan-pelan terbuka, Ara keluar dengan ragu. Daniel yang berdiri di depan pintu bersama Brandon sedikit tertegun. Sudah lama sekali ia tidak melihat istrinya menggunakan gaun indah. Gaun panjang berleher rendah itu berwarna cokelat keemasan, potongan gaun itu seakan di buat sangat pas untuk tubuh Ara, begitu simple namun elegan. Daniel tak bisa menyembunyikan kekagumannya.
"Ibu kau cantik sekali seperti peri" ujar Brandon tak kalah terpesona,
"Benarkah? apa ibu secantik itu?" Ara tersenyum sedikit membungkukkan tubuhnya mengusap dan mencubit kecil pipi jagoannya itu.
"Yang di katakan Brandon benar, kau sangat cantik"
Ucapan Daniel sukses membuat jantung Ara lebih berdebar, "Sudah akan terlambat, ayo pergi"
***
Suasana pantai sore hari menjelang malam begitu indah, dekorasi yang di buat pun begitu elegan, dengan lampu kecil membentang begitu indah, meja-meja bulat tertata dengan sangat rapi. Daniel, Ara dan Brandon memasuki tempat acara. Baru menikmati sebentar keindahan sunset dan acara yang indah, keluarga Gu datang mendekat seakan ingin merusak suasana.
"Daniel, sepertinya kau sudah sehat lagi? kau tahu tidak wajahmu seperti mayat hidup siang tadi" ujar Liam
"Hemm, seperti yang kau lihat" jawab Daniel
"Baguslah, butuh tubuh yang fit untuk menerima kekalahan"
"Tuan Gu sepertinya sangat tidak sabar, acara pun belum di mulai, bagaimana sudah berbicara tentang kekalahan? " jawab Daniel ketus sambil memegang gelas anggur putih.
Tak lama kemudian MC meminta seluruh peserta duduk di meja masing-masing.
Satu persatu foto peserta di tampilkan di layar proyektor, satu persatu mereka mengangkat papan. Foto yang diambil juri adalah foto saat Daniel dan Ara berciuman saat terjun payung dan foto kedua saat mereka bermain bersama dengan Brandon dengan gembira di pinggir pantai. Foto itu begitu terlihat bahagia dan sempurna,
"Wahhh, romantis sekali..."
"Ya Tuhan, aku iri mereka terlihat sangat bahagia"
"Kebahagiaan mereka tak terlihat di buat-buat, sungguh keluarga sempurna"
Begitulah sebagian besar komentar orang-orang yang berada di sana. Daniel tersenyum pada Ara yang duduk di sampingnya. Genggaman tangan Daniel menguat pada Ara.
40/50 audiens mengangkat papan mereka. Ini menjadi jumlah terbanyak, hingga pada akhirnya mereka mendapatkan nilai tertinggi dan di nyatakan sebagai pemenang lomba.
Semua orang senang kecuali Liam dan Cintya. Liam kesal karena uang yang ia berikan pada para juri untuk membuatnya menang sia-sia dan pada akhirnya justru kehilangan jang 2M dari tangannya. Setelah acara itu berakhir, untuk pertama kalinya Daniel menghampiri Liam dengan angkuh dan memijat bahu Liam sesaat.
"Bagus, kau terlihat sehat Liam. Menanggung kekalahan memang harus fit, kerugian karena sebuah kebodohan ternyata berakibat fatal" Daniel terkekeh sinis, menepuk bahu Liam "Oh ya, aku sudah mengirimkan nomor rekeningku, aku tunggu kabar baik mu, Tuan Gu" sambung Daniel kemudian pergi mendekati Ara yang sedang berbincang dengan Cintya.
Liam mengepalkan tangannya dengan kesal, ia kemudian memanggil Daniel, awalnya Daniel tak peduli, tapi perkataan Liam selanjutnya membuatnya terbakar emosi,
"Daniel, kehilangan uang untukku bukanlah sebuah kerugian, kerugian yang sebenarnya adalah kau yang sudah mensia-siakan Windy Calder untuk bersama simpanan orang, itulah yang sebenar-benarnya suatu kebodohan" Ujar Liam dengan suara yang cukup bisa menarik perhatian sekeliling. Apalagi di sana banyak sekali wartawan yang meliput. Seketika semua orang menoleh dan menatap Ara dengan wajah aneh. Ara yang sedang asik berbincang dengan Cintya tak jauh dari Daniel dan Liam, tiba-tiba berhenti saat mendengar ucapan Liam barusan.
"Cintya, apa maksud suamimu?!" tanya Ara pada Cintya, Cintya memucat,"Siapa yang di sebut simpanan orang itu?" tanya Ara dengan wajah menyelidik, Ara yang amnesia tentu saja tidak tahu apa maksud Liam,
"Ara.. Ara.. maafkan suamiku.. ia pasti sudah kehilangan akalnya" ujar Cintya kemudian dengan kesal berjalan setengah berlari ke arah Liam.
Daniel yang sudah berjalan beberapa langkah di depan Liam mendengar pria itu bicara seperti itu akhirnya menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Aura mata Daniel sangat berbahaya. Dengan cepat ia mencengkram kerah kemeja Liam,
"Apa kau bilang tadi??! coba ucapkan sekali lagi!!!"
"Siapa yang tidak tahu istrimu adalah wanita simpanan Kevan Wingsley? apa bermain dengan simpanan orang lebih menantang?"
Buuuukkkkk... sebuah pukulan keras mengenai wajah Liam. Daniel kehilangan ketenangannya mendengar ucapan sampah dari mulut pria itu. "Dasar Brengsekk!! kau sebenarnya punya masalah apa denganku?? berani-beraninya kau sebut istriku seperti itu!!!" Daniel tak henti-hentinya memukul wajah Liam. Seketika keadaan di sekitar menjadi sangat riuh melihat dan membicarakan apa yang di katakan Liam barusan. Apalagi reaksi Daniel seakan memperjelas keadaan.
"Daniel, Daniel hentikann... " pekik Ara mencoba menggenggam kuat lengan Daniel mencoba menghentikan pukulannya. Medina di bantu dua orang pengawal juga berlari dan mencoba melerai. Sekuriti acara seketika berdatangan berusaha memecah kerumunan.
Setelah puas memukuli Liam, Daniel bangun dan berhenti. Tapi tanpa di duga Liam tak merasa bersalah justru malah tertawa ketus, Emosi Daniel yang sudah mereda kembali menunggi, ia kemudian maju dan melemparkan pukulannya lagi sambil mencengkram kerah pria itu untuk kedua kalinya seakan tidak peduli dengan wajah Liam yang sudah penuh dengan lebam dan ceceran darah di mana-mana.
"Aku akan membuat semua usaha keluarga kalian tidak terselamatkan, kita lihat seberapa keras kau bisa tertawa saat itu!" Daniel melepaskan cengkramannya dan berdiri. Cintya buru-buru membantu suaminya menyeka darah-darah yang mengalir dari wajahnya.
Daniel merangkul Ara dan mendekati Medina yang berdiri tak jauh darinya. "Medina, buat keluarganya kehilangan semuanya, jangan menyisakan sepeserpun dan buat mereka jadi gelandangan selamanya" ujar Daniel menoleh pada Medina,
"Baik, Tuan muda"
Cintya mendengar ucapan Daniel, ia langsung bangun, berlari mengejar Daniel. Dengan wajah memelas ia memohon ampunan karena kebodohan suaminya. Daniel tersenyum ketus.
"Tinggal bersama sampah apa kau pikir tidak akan ikut terkena kotoran dan bau busuknya??"