
“Gerry, cari tahu latar belakang pria yang bersama Ara sekarang, aku ingin tahu secepatnya"
Wajah Kevan sangat serius. Ia merasa seperti pecundang payah karena tak bisa membalas pukulan Daniel kala itu. Siapa yang berani memukulnya di kota ini. Mungkin hanya pria itu saja. Lancang sekali dia! Kevan dengan penuh amarah membanting tangannya ke atas meja. Gerry yang berada di sampingnya hanya mengangguk dengan wajah pucat. Segera mencari tahu tentang Daniel.
Wanita itu , benar-benar keterlaluan, dia dengan mudah berpindah ke hati pria lain, bahkan dengan cepat memintanya untuk menikahinya. Dia gila atau bagaimana? di kota ini siapa yang tidak tahu seberapa kaya keluarga Wingsley, dia mencari pelindung di bawah payung pria lain tidak akan berguna. Seharusnya menjadi simpanannya sudah bisa membuatnya bahagia. Ratusan gadis bahkan ingin berada di posisinya.
Kevan seperti ingin mencekik leher Ara saat ini. Ia teringat rekaman yang di berikan oleh Ara saat itu. Ia tak tahu, bahwa ia berkata seperti itu karena di sekelilingnya banyak tetua keluarga Wingsley dan Lee. Ia tak mungkin bicara jujur dengan perasaannya, tidak di sangka, ada orang yang menggunakan moment itu untuk merekam kata-katanya.
Orang yang mungkin merekam percakapan itu hanya Sisil atau Jade, antara mereka berdua pasti bersekongkol. Yang mengenal Ara dengan baik hanya mereka berdua. Sialan!! benar-benar sialan!! di dalam kesempitan mereka bisa menggunakan kelemahanya untuk menjauhkan dirinya dengan Ara.
Sejujurnya, apa yang Kevan rasakan pada Ara adalah perasaan yang tulus. Hanya saja, ia berada di posisi yang tidak menguntungkan. Ia tak bisa melepaskan Sisil begitu saja, untuk berada di posisi tertinggi ia tentu harus berkorban. Cinta tidak jadi pengecualiannya. Meskipun Ara adalah putri dari keluarga Romanof yang notabene keluarga terkaya di kota A, namun status buangan di nama Ara tidak akan menguntungkan sama sekali. Meskipun mencintai seperti apa, ia akan korbankan untuk mendapatkan kekuasaan yang ia mau.
Kabut hitam menyelimuti wajah Kevan saat ini. Tiba-tiba seseorang datang dari balik pintu. Dia Sisil. Wajah Kevan tidak semakin baik melihat istrinya datang membawa sekotak makan siang untuknya.
Semenjak ia tahu antara ia dan Jade yang merekam percakapan itu hingga Ara menjauhinya, Kevan bahkan tak menyentuh Sisil dari malam pengantinya sampai hari ini. Semua yang di tayangkan di TV tidak seperti kenyataannya. Yang terlihat adalah yang ingin orang lain lihat, di belakang itu, Kevan benar-benar menjauhi Sisil.
Sisil yang semula sangat bahagia bisa menikahi Kevan, justru setelah menikah merasa semakin menderita. Menyingkirkan Ara dari hidupnya justru membuat jarak antara dia dan Kevan semaki jauh. Kevan benar-benar menyukai Ara dan Sisil semakin tak menyukainya.
“Kevan, aku belajar membuat beberapa menu sushi di rumah, aku membawakannya untuk makan siangmu, aku menghubungi Gerry, ia bilang kau belum makan"
Kevan acuh tak acuh mendengar ucapan Sisil. Ia terus mengabaikan Sisil dengan sibuk dengan layar komputer di depannya.
“Kau sepertinya sangat sibuk, bagaimana jika aku menyuapimu?"
Sisil dengan semangat membuka satu per satu kotak makanan yang di bawanya. Saat ia membuka kotak-kotak itu, harum khas sushi merebak ke udara.
“Tak perlu menyuapiku, aku akan makan ketika aku lapar"
“Setidaknya cobalah sedikit, aku ingin tahu pendapatmu sekarang"
“Aku bilang aku akan makan ketika lapar, kau pergilah, aku sangat sibuk"
Seru Kevan mengabaikan mata Sisil yang mulai berkaca-kaca. Sisil tak pernah di perlakukan seperti ini sebelumnya. Kevan tak pernah sedingin ini.
“Apa yang membuatmu marah padaku? sebelum menikah kau sangat memanjakanku, kenapa setelah menikah kau berubah dingin padaku? jika ada masalah bisakah kau bicarakan?"
Kevan kemudian mulai melirik Sisil yang berada di hadapannya. Ia melihat sepasang mata itu berkaca-kaca, air mata seperti akan jatuh dengan cepat. Wajahnya sesendu badai hujan, begitu gelap.
“Aku tahu kau memberikan Ara pena perekam untuk menjauhkannya dariku, kenapa? menikah denganku tidakah cukup untukmu?"
Wajah Sisil semakin menghitam. Ternyata Kevan berubah karena ia menjauhkan gadis itu dengan dirinya. Ini benar-benar lelucon. Hanya demi seorang gadis yang baru ia kenal, ia menghilangkan kebaikannya yang telah menyelamatkan hidupnya.
“Kau berubah dingin karena aku menjauhkanmu dari gadis seperti Ara? kau bencanda?"
“Gadis sepertinya? seperti apa yang kau maksud?"
“Dia merebutmu dari ku, apa aku tak pantas marah? aku menyelamatkan hidupmu, apa kau lupa?"
"..."
“Dia bahkan mendekatimu karena sesuatu dan jelas tidak tulus padamu, sedangkan aku rela mengorbankan nyawaku untukmu dan sekarang kau memarahiku karena hal ini? dimana pikiranmu itu van?"
“Aku tak melupakan jasamu menyelamatkan nyawaku, tapi cinta apa bisa di paksakan hanya karena kau berhutang budi?"
“Tapi tidak bisakah kau membuka sedikit hatimu untuku? bisakah kau bayangkan jadi aku?"
Kevan menghela nafas panjang. Ia bukan hanya hutang budi tapi juga hutang nyawa. Itu bukan hal yang mudah. Kevan dengan berat hati mendekati Sisil dan memeluknya. Ia menghela nafas panjang dan menurunkan Egonya.
“Baiklah, baiklah, maafkan aku, kita makan sekarang, oke? jangan sedih lagi"
“Kau itu suamiku, kau hanya miliku, jangan lagi memikirkan gadis lain selain aku"
Seru Sisil menatap Kevan. Kevan mendengar itu hanya mengangguk dengan wajah datar. Mana mungkin ia bisa tak memikirkan gadis lain. Di hatinya hanya ada Ara. Setiap malam ia harus menderita membayangkan Ara harus tidur dengan suaminya, melakukan apa yang dilakukan suami dan istri, berpikir tubuh indah Ara harus di nikmati pria lain, membuatnya benar-benar frustasi. Yang ia tak bisa berikan untuk Ara hanya pernikahan. Selebihnya ia bisa menjamin hatinya hanya untuk gadis itu. Tapi sayangnya itu tak cukup.
Sesuatu pecah di hatinya. Kevan memandang Sisil yang sepenuh hati menemaninya makan siang dengan wajah gembira. Perasaan bersalah juga masuk ke pikiran dan hatinya. Gadis di depannya ini juga berhak bahagia, tapi kenapa ia tak bisa memberikannya meskipun hanya pura-pura?
***
Beberapa hari di dalam rumah, Ara merasa sangat jenuh, setiap hari ia hanya akan menonton Tv, jika siang datang sering kali Daniel pulang hanya untuk makan bersamanya. Jujur, itu sedikit menghibur, Daniel seakan selalu membuat waktu untuk bersamanya. Ara pikir mungkin itu salah satu caranya mendekati dirinya. Ara juga tak keberatan, ia justru merasa apa yang di lakukan Daniel begitu manis, berbulan-bulan bersama Kevan, tak sekalipun ia mendapatkan perhatian seperti itu.
Sore itu dengan penuh keraguan, ia mengirimkan pesan pada Kevan bahwa besok ia akan mulai bekerja hanya hingga masa kontraknya habis 2 bulan lagi.
Kevan saat itu sedang rapat dengan beberapa manager bagian, 30 menit berlalu mendengarkan laporan setiap manager, ia mwrasa tidak puas, entah karena pekerjaan mereka yang gagal atau karena pikirannya sedang bercabang kesana kemari.
Jarinya tak henti mengetuk-ngetuk meja ruangan itu, mendengarkan dengan wajah datar, matanya tertuju pada layar proyektor. Semakin di dengarkan, ia semakin ingin memaki orang. Aura dingin itu sampai ke setiap manager. Mereka tahu, mood bosnya tidak baik belakangan ini. Lebih tepatnya, semenjak pernikahan, moodnya tak pernah baik.
Ponselnya berbunyi, ia melirik sekilas ke layar. Nama Ara muncul di layar itu. Ia buru-buru membuka pesan, itu kabar baik. Seperti matahari yang tiba-tiba muncul dari gelapnya langit saat badai, hanya 1 pesan dari Ara mampu menghangatkan ruangan rapat itu.
Setelah mengirimkan pesan pada Kevan, Ara menatap jam di dinding, pukul 4:45 sore. Ia merasa bosan dengan acara di Tv. Semua stasiun seperti berlomba-lomba menayangkan iklan tak berkualitas. Ia kemudian mematikan Tv dan melangkah ke dapur.
Seharusnya sebentar lagi Daniel akan pulang. Kali ini ia berpikir untuk memasakan makan malam untuk Daniel. Biasanya, pagi atau malam, Daniel lah yang membuatkan makanan untuknya. Bukan pura-pura tidak tahu bahwa ia sedang di manjakan oleh Daniel, tapi ada sesuatu di hatinya yang masih belum bisa menerima Daniel meskipun Daniel begitu baik padanya.
Jarinya perlahan membuka kulkas dan melihat apa saja yang bisa ia gunakan, beberapa hari tak melihat isi dalam kulkasnya, saat ia melihat isi kulkasnya hari ini matanya seperti sedang melihat isi supermarket pindah ke dalam kulkasnya. Semua sangat lengkap. Daniel sekali lagi membuat Ara terkesan.
Di dalam hatinya, jika saja ia bertemu dengan Daniel lebih cepat, mungkin ia tak pernah menyukai Kevan. Senyum di bibir Ara melebar.
Setengah jam berlalu, ia sibuk dengan kegiatannya di dapur. Seperti dugaan Ara, Daniel kembali tepat waktu. Daniel tanpa ragu masuk ke dalam dan melihat sosok Ara sedang sibuk di dapur, senyumannya mengembang. Gadis itu memasak untuknya. Perasaan hangat tak bisa di jelaskan masuk ke dalam hatinya. Ia mendekati Ara dan melingkarkan tangannya di pinggang Ara. Ara terkejut, ia hendak menghindar tapi tubuh besar Daniel lebih kuat menahan tubuhnya. Pipi Ara seketika merona.
“Ka..kau sudah pulang?"
“Hemm"
“Apakah kau lelah?"
“Hemm"
“Kalau begitu, kau bisa pergi mandi dulu sambil menunggu masakanku matang"
Jawaban singkat Daniel membuat jantungnya berdesir hebat. Itu hanya pelukan, tapi ia merasa udara memanas di sekelilingnya, hingga ia sulit bernafas. Ia berusaha melepaskan tangan Daniel dari tubuhnya namun justru Daniel membalikan tubuh Ara menghadap dirinya.
Saat mereka berhadapan seperti ini, pandangan mata mereka bertemu. Melihat senyuman tampan dari pria di hadapannya ini, mata Ara seperti sedang melihat sebuah lukisan mahakarya dari wajah Daniel. Setiap kontur wajahnya tanpa cela. Begitu lembut dan tegas dalam satu waktu. Harum parfum chanel dari tubuhnya begitu maskulin, siapapun yang berdekatan dengannya pasti akan dengan mudah terpikat.
“Jadi, hari ini kau sedang bosan atau sedang menggodaku dengan masakanmu?"
“Daniel, jangan seperti ini"
Ara mengabaikan pertanyaan Daniel dan mencoba keluar dari lingkAran tangan Daniel. Melihat wajah Ara yang merah, Daniel melepaskan tangannya dari pinggang Ara sambil tersenyum mengejek.
“Baiklah,baiklah, aku pergi mandi dulu, ngomong-ngomong wajahmu merah persis kepiting rebus, selamat memasak nyonya Daniel”Seru Daniel berlalu dengan telunjuknya menyentuh lembut ujung hidung Ara.
“Kau!! huh!!
Seru Ara kesal melihat Daniel yang berlalu dengan tawanya yang penuh dengan kesan mengejek.
“Mahakarya apanya? huh!!"