Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 83: Maaf Tuan! aku memang pantas mati!



2 tahun kemudian..


"Kak Denis, Hai!" Sapa Ara pada Denis yang tiba-tiba masuk ke dalam pet shop nya.


"Selamat pagi nona-nona, lihat aku membawakan makanan kesukaanmu Ara" Denis meletakan sekotak brownies coklat dengan taburan choco chips di atasnya. Mata Ara berbinar, ia menoleh pada sean dan tersenyum.


"Wahhhh, kak Denis kau luar biasa, tahu saja kami belum sarapan" ujar Sean.


"Hah?belum sarapan? Dr. Sean yang terhormat, kau sudah menghabiskan pancake ku dan sekarang bilang belum sarapan? sulit di percaya, huh" Celetuk Ara pada wanita gempal di sampingnya. Sean adalah seorang dokter hewan pemilik pet shop dan klinik hewan tempat dimana Ara bekerja.


"Pancake hanya bisa mengisi seperempat bagian lambung ku, tidak bisa di sebut sarapan tahu!" jawab Sean sambil mengambil Satun potong brownies di atas meja. Ara melihat tangan Sean merangkak naik ke atas potongan kue, ia pun dengan cepat menepuk punggung tangan Sean.


"Ini milikku! sebagai ganti pancake yang kau makan! enyahkan tangan gendutmu, huh"


"Hei!!! body shaming! kau bisa ku tuntut!!"


Denis melihat perdebatan dua wanita di depannya hanya bisa tertawa kecil. Bagaimanapun ia masih terus bersyukur Ara sampai hari ini masih baik-baik saja. Setelah kejadian 2 tahun lalu, ia hampir saja berpikir Ara tidak akan selamat.


"Sudah-sudah, kue ini kan banyak, kalian bisa makan sampai habis berdua" senyum Denis


"Pagi-pagi kau sudah kemari kak, apa ada sesuatu?"


"Tidak ada, aku hanya kebetulan lewat toko roti kesukaanmu, kemudian berpikir kau akan suka jadi aku memberikanmu brownies ini"


"Wah, kak Denis kau perhatian sekali pada Ara, aku jadi iri" sela Sean tersenyum dengan melirik Ara di sampingnya.


"Oh begitu, terimakasih kak, seharusnya kau tak perlu repot begini"


"Aku tak repot kok, aku senang bisa melihatmu sebelum aku bekerja, ini seperti mood booster" Mendengar ucapan Denis, Ara tak bisa menyembunyikan wajah merahnya, Denis memang selalu manis di depan Ara, pria itu bahkan merasa bersyukur Ara kehilangan ingatannya, setidaknya ia bisa dengan mudah mendekati Ara tanpa terganggu pikiran tentang masa lalunya dengan Daniel."Baiklah aku harus kembali ke rumah sakit, Ara jaga dirimu baik-baik, oke!" sambung Denis sambil menyentuh lembut pipi Ara.


"Hemm, baiklah kak, Hati-hati di jalan" Ara tersenyum melambaikan tangannya pada Denis yang keluar dari pintu klinik. Sean menyenggol lengan Ara sesaat setelah Denis keluar dan menghilang dari balik pintu. Ara menoleh.


"Apa lagi?"


"Ra, kau masih belum menerima cinta kak Denis? dia begitu tulus padamu, tak bisakah kau berikan dia kesempatan?"


"Sean, sudah ku katakan berulang kali, Kak Denis terlalu baik untukku, sebaiknya dia mencari wanita lajang seperti Dr. Mia misalnya. Dia cantik, muda dan lajang, sedangkan aku, aku adalah ibu dari satu anak laki-laki yang di tinggalkan suaminya, bersamaku dia tidak akan bahagia" ujar Ara sambil merapihkan beberapa lembar kertas faktur di atas meja kerjanya.


"Ara, kau masih belum ingat siapa dan bagaimana wajah suamimu itu? aku penasaran pria seperti apa yang tega sekali meninggalkanmu dan anakmu"


"Entahlah, aku malah berharap ingatanku tak pernah kembali selamanya, sepertinya hidupku di masa lalu sangat sulit"


"Baiklah, mungkin itu lebih baik"


"Sean!! kau ini gila ya??! setelah pancake ku, kau juga mau menghabiskan brownies ku? dasar rakus!! kembalikan!!" Wajah Ara yang beberapa saat lalu sendu karena pertanyaan Sean, setelah menoleh pada isi kotak brownies yang sudah hilang setengah isinya, wajah Ara pun berubah kecut. Dengan cepat ia merebut kotak brownies yang berada di pelukan Sean.


"Ini milikku!!"


***


*Flash back on*


2 tahun lalu..


"Tuan Xander, gawat tuan!!"


Sander saat itu sedang duduk di meja kerjanya menatap layar komputer di depannya dengan serius. Keseriusan di wajahnya bertambah setelah Danny masuk dengan langkah tergopoh-gopoh.


"Ada apa?!"


"Nona Ara di culik dan saat ini berada di perbatasan kota B"


"APA???!!!! bagaimana keadaannya sekarang?! "


"Sepertinya nona sudah beberapa hari di sana, aku sudah mengumpulkan beberapa orang untuk menyelamatkan Nona, Tuan"


Brraaaakkkk..


Xander dengan penuh emosi membanting tangannya diatas meja. Matanya melotot tajam menatap Danny. Danny adalah Ajudan pribadi Xander. Dia adalah ajudan Higa yang pernah di tuduh berselingkuh dengan Deisy. Xander yang selalu diam-diam memperhatikan keluarga Romanof. Emosinya semakin menjadi ketika ia mengetahui apa yang di lakukan Higa pada kakaknya itu. Xander mengutus banyak orang untuk mencari keberadaan Deisy, tapi siapa sangka justru yang berhasil di selamatkan adalah Denny, sedangkan Deisy hingga kini keberadaannya masih menjadi misteri.


"Kau!! bagaimana kau bekerja sebenarnya Danny!!! aku menyuruhmu jaga baik-baik Ara, jangan sampai dia terluka!! kenapa dia bisa di culik? dan yang lebih tidak masuk akal, kalian baru tahu keberadaan Ara setelah beberapa hari? Danny apa kau benar-benar ingin kehilangan nyawamu di tanganku, huh?" Bentakan dan suara tinggu Xander membuat siapapun yang berada di sana akan merasakan suatu kengerian yang luar biasa. Xander tidak pernah semarah ini dalam beberapa tahun terakhir.


"Ma.. maaf Tuan! aku memang pantas mati! maafkan saya"


"Cepat selamatkan kemenakan ku itu! jika terjadi sesuatu padanya, siapkan saja kepalamu untukku"


"Baik, Tuan"


Danny akhirnya bergegas datang ke tempat dimana Ara di sekap.


***


Dimalam saat Ara mencoba melarikan diri, sebenarnya, di sekeliling gedung itu sudah menanti banyak sekali orang Xander yang sedang mengintai. Malam itu, Danny sebenarnya mencoba masuk ke dalam gedung itu. Gedung itu tak terlalu besar namun bertingkat. Danny menugaskan dia anak buahnya untuk mencoba mencari jalan masuk ke dalam. Namun karena tidak berhati-hati salah seorang dari anak buahnya tak sengaja menjatuhkan sepotong kayu yang kemudian memancing orang-orang dari dalam gedung berhamburan keluar. Pada saat itulah Ara di tinggalkan sendiri dan menjadi kesempatannya untuk melarikan diri.


Danny tak berpikir di dalam gedung itu bisa menyembunyikan banyak orang, akhirnya mau tidak mau Danny meminta setengah dari orangnya untuk membantunya di dalam termasuk dirinya dan mulai baku hantam dengan orang-orang yang ada di dalam gedung. Posisi Danny saat itu tak jauh dari pintu keluar. Tak berapa lama baku hantam di dalam gedung, Danny mendengar sebuah suara teriakan kecil dari samping gedung itu. Suara itu familiar, Danny mempercepat gerakannya menghabisi salah satu pria yang sedang menyerangnya. Setelah selesai, ia melihat Ara masuk ke dalam hutan. Ia berusaha memanggil nama Ara, ia berteriak sekeras mungkin agar Ara setidaknya menoleh padanya. Ia yakin Ara masih mengenalinya.


Dulu saat Ara kecil, Danny sering sekali bermain dengan Ara. Ara mengingatkannya pada anaknya yang meninggal karena kanker darah. Jika ia masih hidup, ia akan seumuran Ara waktu itu. Hal inilah yang membuat Danny begitu dekat dengan Deisy, tak di sangka karena hal ini lah justru menjadi boomerang untuk dirinya dan Deisy.


"Ara!!!! Berhenti Araaaaaa!!" Teriakan Danny tidak menghentikan langkah Ara namun justru Ara berlari terhuyung semakin cepat. Hingga akhirnya ia melihat gadis itu terjatuh dan berguling ke dalam jurang.