
Tadi setelah pelayan mengatakan bahwa Meilyn memanggilnya, ada raut wajah khawatir di wajah Ara, ia seperti enggan sekali melepaskan genggaman tangan Daniel di sampingnya. Daniel menangkap kecemasan Ara, ia menoleh tersenyum dan berbisik padanya,
"Jangan khawatir, aku akan berdiri di tempat dimana kita bisa saling memperhatikan. Jika terjadi sesuatu padamu aku akan langsung datang" seru Daniel mencoba menenangkan Ara. Ara mengangguk, ia mulai melepaskan tangan Daniel, melangkah mendekati Meilyn dan duduk di samping ibu mertuanya.
Di tengah obrolan mereka tentang pujian untuk kalung berlian nya, mata Ara tertuju pada Daniel yang berdiri lumayan jauh dari tempatnya duduknya. Seperti janjinya ia berdiri di tempat dimana Ara bisa leluasa melihatnya. Daniel saat ini sedang berdiri dengan beberapa pria paruh baya yang sepertinya jika di lihat dari setelan pakaian yang dikenakan mereka bukan hanya kolega biasa umur mereka mungkin malah tak jauh berbeda dengan Shamus. Di wajah Daniel ataupun lawan bicaranya itu, Ara tak melihat senyuman sama sekali. Sepertinya mereka sedang membicarakan hal serius, dari jarak mereka yang cukup jauh, Ara tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan tapi dari wajah mereka sama-sama melemparkan aura dingin. Tak lama kemudian Daniel mengangkat gelas wine di tangannya, seperti mengajak pria-pria paruh baya itu bersulang. Siapapun yang melihat mereka sekarang, mungkin akan dengan mudah menebak selain Daniel, tidak ada satupun yang terlihat ingin mengangkat dan meminum wine nya, tapi ternyata mereka tetap meminum wine di dalam gelas masing-masing bahkan sampai habis. Setelah itu Daniel baru tersenyum kecil di sudut bibirnya kemudian menoleh pada Ara. Daniel yang semula tak menyadari Ara sedang memperhatikannya ketika ia menoleh dan mendapati mata Ara tertuju padanya, ia pun tersenyum dan berkata tanpa suara, "Ada masalah?" tanya Daniel, Ara tersenyum kemudian segera menggeleng.
"Berlian ini palsu, " ujar Robert mematahkan keangkuhan Meilyn dan Windy.
Ara yang sedang melempar senyum dan pandangan matanya pada suaminya, mendengar Robert yang mengatakan hal barusan tiba-tiba menoleh dan menatap Robert dengan tatapan bingung seakan ia salah mendengar apa yang pria itu bicarakan barusan.
"Hah palsu?" ujar hampir semua yang mendengar ucapan Robert membuat mereka seketika tertegun. "Ba..bagaimana mungkin kau menggunakan berlian palsu Meilyn?" tanya Merry mewakili hampir 16 orang sosialita di sana. Dengan keangkuhan seperti yang sering di perlihatkan Meilyn dan juga kekayaan keluarga Qin yang tiada tara itu mana mungkin menggunakan berlian palsu, apalagi di acara seperti ini. Mereka seakan tak percaya tapi Robert adalah ahli dan kolektor terkenal di Asia mana mungkin ia salah. Mata mereka dan Meilyn termasuk Ara seketika beralih pada Windy, baik dari mulut Meilyn atau Windy mereka dengan bangga mengatakan itu adalah hadiah dari Windy untuk Meilyn.
"Anda jangan sembarangan bicara, Tuan. Secara tidak langsung kau menuduh ku dan keluargaku memberikan berlian palsu pada bibi Meilyn" ujar Windy melotot pada Robert. Robert tersenyum ketus kemudian meminta Asistennya mengeluarkan alat seujuran remot AC berwarna hitam dari dalam tasnya.
"Ini adalah alat penguji keaslian berlian, aku akan buktikan bahwa aku tidak salah" ujarnya dengan sangat percaya diri.
Keringat dingin segera menyerang Windy, jika benar ini adalah berlian palsu, maka tamatlah riwayatnya jangankan menjadi menantu keluarga Qin bahkan masuk ke dalam rumah mereka pun sudah pasti tidak akan di perbolehkan lagi. Windy tau jelas bagaimana sifat Meilyn yang pendendam, jika berlian ini terbukti maka ia adalah satu-satunya orang yang akan di salahkan bahkan di benci Meilyn karena telah mempermalukan harga dirinya yang tinggi.
"Jika alat uji ini di tempelkan pada berlian asli, alat ini akan berbunyi dan di layar alat ini akan langsung mendeteksi berapa karat yang di miliki berlian ini, tapi jika palsu maka tidak akan terjadi apapu juga tidak akan berbunyi, mari kita coba test" ujad Robert kemudian menempelkan alat uji nya itu pada cincin Merry yang berada di sebelahnya dan alat itu tidak lama berbunyi dan menampilkan jumlah karat yang cincin Merry gunakan. Tidak berhenti disana, ia juga mengetes satu persatu berlian yang di kenakan para sosialita itu dan semuanya berbunyi. Sekarang tinggal milik Meilyn, beberapa alasan sudah Windy kerahkan agar Meilyn mengurungkan niatnya mengetest berlian itu, tapi Meilyn sudah kadung malu, ia harus membuktikan sendiri bahwa berlian di tangannya saat ini buka barang palsu tapi asli. Ia tidak akan percaya bahwa Windy akan tega untuk memberikan barang palsu padanya yang bisa mempermalukannya di depan umum seperti ini.
"Windy aku tak percaya kau berani menipu dan mempermalukan ku seperti ini?!!" Ujar Meilyn kemudian dengan cepatn bangun dari duduknya dan hendak melangkah pergi, tapi tahan Meilyn di cegah oleh Windy.
"Bibi, dengarkan aku! aku tidak tahu apa-apa masalah ini. Ini pasti jebakan Bi atau kami juga ikut tertipu" ujar Windy menghalangi jalan Meilyn. Mendengar perdebatan Meilyn dan Windy, Ara yang semula duduk di samping Meilyn diam-diam tertawa dalam hati.
"Tuhan selalu berkerja dengan cara yang tak di duga. Bahkan saat aku tak melakukan apapun untuk membalas wanita itu, Tuhanlah yang melakukannya untukku. Baguslah, kali ini aku ingin lihat apa kau masih bisa masuk melewati pagar keluarga ini atau tidak Win" Batin Ara.
"Jebakan apa maksudmu? disini akulah yang kau jebak dan permalukan! setelah ini jangan harap kau bisa masuk dan datang ke rumah ini lagi! mengerti?!" Ujar Meilyn dengan suara yang terus ia tekan agar tak berteriak karena emosinya di level tertinggi. Ia dengan kesal keluar dari ruangan pesta meninggalkan bisikan-bisika teman-temannya.
"Windy, kali ini kau benar-benar kerelaluan. Bagaimana bisa artis kelas internasional sepertimu memberika barang palsu pada nyonya besar keluarga Qin, kau benar-benar cari mati"
"Benar kau sedang cari mati, lagipula kau begitu mendekati Meilyn apa sedang berpikir untuk menggoda Daniel? Daniel telah memiliki anak dan istri, kau sebagai wanita malu lah!" ujar salah satu sosialita di sana. 16 sosialita tak bereaksi apapun mendengar kata-kata barusan seakan mereka semua setuju Ara kemudian berdiri tepat di depan wajah Windy uang terlihat rumit itu. Dengan senyum ketusnya ia berkata,
"Sayang sekali ya Nona Windy, niat menyalakan api tapi justru terbakar sendiri. Barang palsu memang bisa lebih cantik dan memikat tapi meski begitu palsu tetaplah palsu, tidak ada harganya dan juga tidak berguna" seru Ara ketus kemudian meninggalkan Windy yang sudah kuat-kuat mengepalkan tangannya.
"Brengsek kau Ara!" bisiknya dalam hati