
Ara bergegas berjalan menuju studio pemotretan, sesampainya disana ia melihat Windy sedang duduk di atas kursi santainya bak seorang ratu, ia mengenakan mantel bulu hitam lengkap dengan kacamata hitam di wajahnya. Ara tersenyum sinis.
“Apa kau manager penanggung jawab proyek ini? “Tanya Jenny asisten Windy dengan ketus.
Jenny menatap Ara dari atas hingga ujung kakk, ia tak menyangka manager penanggung jawab proyek ini masih begitu muda, ia merasa aneh untuk perusahaan sebesar FireGate memiliki manager penanggung jawab semuda Ara, akan ada 2 pandangan yang muncul, ia sangat brilian atau FireGate tak cukup cakap memilih karyawan di Perusahaannya, jika di lihat dari wajahnya ia bisa berada di posisi ini pasti dengan bantuan orang lain, karena tidak mungkin ia ada di posisi ini karena bakatnya. Jenny benar-benar meremehkan Ara.
“Benar,ada masalah apa hingga artis mu tak mau melakukan pemotretan?”Tanya Ara pada Jenny, Windy hanya diam dengan wajah sinis ia hanya melirik sekilas kemudian ia sibuk dengan ponselnya lagi.
“Lihat ini!!!”Jenny melempar sebuah gaun dan tepat mengenai wajah Ara. Elly yang berada di samping Ara tak bisa menahan emosinya.
“Hei!! kau sudah gila ha???”Teriak Elly pada Jenny yang emosi melihat Ara di perlakukan seperti itu. Ara memegang lengan Elly berusaha menenangkannya.
“Nona Jenny, jika ada masalah bisa katakan padaku, apa yang membuat nona Windy tak mau melakukan pemotretan?". Ara berusaha sekuat tenaga menahan emosinya yang sudah ada di ubun-ubun, ia harus profesional, jika tidak akan mempermalukan diri sendiri dan perusahaan.
“Kau lihat tidak artisku adalah artis papan atas international yang tak sekalipun menandatangani kontrak dengan perusahaan dalam negeri, ia dengan rendah hati mau menerima perusahaan ini karena reputasinya baik tak di sangka menyediakan pakaian yang layak pun kalian tak bisa! "
Ara kemudian memperhatikan gaun yang sebelumnya di lempar oleh Jenny dengan teliti, namun ia merasa tidak ada masalah disana, akhirnya Ara meminta Elly untuk memanggil staff wardrobe yang bertanggung jawab menyiapkan pakaian Windy.
Tak beberapa lama kemudian staff itu datang dan menjelaskan rincian kualitas pakaian Windy, ia menyebutkan pakaian itu adalah pakaian keluAran designer ternama dengan kualitas terbaik. Ara kemudian menoleh pada Jenny dengan ketus.
“Nona Jenny sudah dengar, pakaian ini lebih dari kata layak untuk nona Windy, lalu tak layaknya dimana? "
“Kau bodoh atau bagaimana???? apa kau tak tahu nona Windy alergi dengan kain berbahan linen? apa kau tak mencari tahu terlebih dahulu sebelum kau memberikannya pada orang lain??! tak heran kau tak banyak tahu, aku heran perusahaan sekelas FireGate bisa memiliki manager yang bukan hanya masih bocah tapi juga tidak profesional"
“Plaaakkkkk”Tamparan keras mengenai wajah Jenny, Elly sudah tak tahan lagi. Emosinya meletus seperti gunung mendengar mulut jahat asisten Windy itu. Bagaimanapun Jenny dan Ara tak bisa di samakan derajatnya secara profesional, jenny hanya seorang Asisten Artis sedangkan Ara adalah manager FireGate. Meskipun secara usia Ara memang masih muda namun seharusnya Jenny lebih menghargainya.
“Jaga ucapanmu nona Jenny! Aku juga lebih heran pada nona Windy, sekelas artis international sepertinya, ia bahkan tak mampu membayar Asisten yang lebih beretika dan berpendidikan darimu, aku benar-benar merasa prihatin"
Windy melihat kejadian itu, ia pun bangkit dari duduknya, baru hendak bicara Ara sudah menghentikannya.
“Elly diam!!”Seru Ara dengan wajah marah pada Elly, ia kemudian menoleh pada Jenny yang sedang memenangi pipinya yang merah karena tamparan Elly.
“Nona Jenny, maafkan asisten saya yang berlebihan, masalah ini memang kesalahan kami yang tidak mengecek sebelumnya, aku akan meminta orang untuk segera menggantinya dengan yang baru”Kemudian Ara melangkah pergi, setelah agak jauh, Ara sudah tak dapat lagi menahan pusing yang sejak tadi ia tahan, refleks ia menyandarkan 1 tanganya di dinding menopang tubuhnya. Elly yang tadinya hendak marah karena sahabatnya itu diam saja direndahkan jenny justru menjadi khawatir.
“Ara, kau baik-baik saja kah? “Tanya Elly sambil memegangi tubuh Ara khawatir Ara jatuh.
“Aku tidak apa-apa, mungkin aku belum benar-benar sembuh, elly cepat hubungi manager wardrobe untuk mengganti baju Windy tadi”Titah Ara, elly pun mengangguk.
***
Waktu menunjukan pukul 6:12 pm. Ara masih belum juga berencana untuk pulang. Ia masih harus mengerjakan banyak pekerjaan yang di berikan oleh Clara. Clara tau akhir-akhir ini Ara tidak dalam kondisi fit, dengan sengaja ia memberikan banyak pekerjaan untuk Ara agar ia lebih kelelahan dan memutuskan untuk berhenti dari perusahaan, tapi bukan Ara jika tak tahan banting.
Daniel mencoba menghubungi Ara mencoba bertanya kenapa ia belum juga kembali, masih dengan jawaban yang sama, ia masih harus mengerjakan pekerjaannya, hal itu membuat Daniel marah. Ia pun segera menjemput Ara di kantornya.
Saat itu Fire Gate sudah tak banyak pegawai, hanya sisa beberapa pegawai yang masih lembur. Sesampainya di lobby Daniel menunggu Ara, selagi menunggu seorang wanita datang menghampiri nya, Daniel yang sedang sibuk mencoba menghubungi Ara segera menoleh. Wanita itu tersenyum ketus, dia Clara.
“Menunggu Ara? "
Daniel mengabaikan Clara yang berada di depannya itu.
Clara menyebut MD ia jadi mulai tertarik dengan ucapan wanita licik di depannya itu, dengan wajah tampannya ia menatap Clara sedingin Es, ia penasAran apa yang akan ia katakan selanjutnya. Yang Clara tahu Daniel hanya Direktur di MD, perusahaan kecil tak berarti apa-apa. Ia benar-benar meremehkan adik iparnya ini.
“Benar, kami masih berusaha bangkit dan tidak ketergantungan dengan bantuan Down Grup"
“Aku kenal dengan CEO Down Grup, jika aku mau, dengan mudah aku membuat perusahaan kecil itu bangkrut"
Mendengar ucapan Clara sungguh Daniel hendak tertawa, tak berpikir ia akan berbohong dengan menggunakan namanya sebagai ancaman.
“Kakak ipar tak perlu mengancam, apa yang sebenarnya kakak ipar inginkan?"
“Aku mau Ara mengembalikan saham miliknya kepada perusahaan dan pergi menjauh dari keluarga ini, jika kau membantuku, aku bisa membantu perusahaanmu"
“Benarkah? baiknya kau lebih memperhatikan langkah bidak catur mu sendiri kakak ipar, jika kau bermain dengan orang yang salah, kau lah yang akan mati pada akhirnya”Wajah dingin nan sombong Daniel membuat Clara geram.
“Pria ini sangat miskin tapi kesombongannya patut di acungi jempol"
“Baiklah, kita lihat kesombongan mu itu bisa sampai berapa lama, aku akan membuatmu datang memohon padaku cepat atau lambat"
“Berusahalah dengan baik kakak ipar, aku menunggumu”Senyum ketus Daniel mengembang di ujung bibirnya, Ara yang saat ini sedang berjalan keluar Lift melihat ekspresi Daniel pada kakaknya membuat hatinya penasAran. “Ada apa dengan mereka? kenapa ekspresi mereka seperti itu?”Batin Ara.
“Sayang, maaf baterai ku habis, kau menunggu lama? “Tanya Ara pada Daniel yang tersenyum padanya.
“Tidak, ayo kita pulang”Jawab Daniel membelai lembut kepala istrinya itu.
“Kak, kami duluan”Seru Ara pada Clara, clara tak menjawab, pandangannya masih tertuju pada Daniel dengan kesal. Daniel dan Ara kemudian berlalu.
Saat di dalam mobil, Daniel hanya diam fokus memperhatikan jalan di depannya. Wajahnya benar-benar dingin, Ara. Sulit sekali menebak apa yang ada di pikiran suaminya itu sekarang.
“Apa yang sedang kau pikirkan Daniel"
“Aku memikirkan kamu"
“Aku?? kenapa? "
Tiba-tiba Daniel menepikan dan memberhentikan mobilnya, ia kemudian menoleh pada Ara dan menatap gadis itu dalam-dalam.
“Bisakah kau jadi istriku saja dan berhenti bekerja?"
“Kenapa tiba-tiba kau memintaku berhenti? “Ara menatap Daniel dengan wajah heran
“Aku akan memberikan seluruh penghasilanku dan semua kekayaanku padamu jika kau mau, tapi tinggalah di rumah dan jadilah istriku yang baik"
“Bukankah aku bekerja juga sudah mendapatkan persetujuan darimu sebelumnya ? lalu kenapa kau berubah pikiran? "
“Ara, setiap hari aku sibuk bekerja, lelah sepanjang hari di kantor, aku ingin saat aku kembali ke rumah ada seseorang yang menyambut ku dan membantuku melepaskan semua lelah pekerjaanku, tugas itu hanya bisa di lakukan oleh seorang istri, kau istriku, aku ingin setiap hari kau menyambut ku pulang dengan senyuman cantikmu itu, lagipula uang yang ku hasilkan lebih dari cukup, kau tak perlu bekerja dan juga aku ingin memiliki anak darimu Ara, bisakah kau mengabulkannya?”Permohonan Daniel membuat Ara diam tak tahu harus berkata apa, ini pertama kalinya Daniel membicarakan masalah serius tentang pernikahannya, tentang tugas nya sebagai istri. Biasanya, Daniel tak banyak menuntut, permohonan nya kali ini juga tak bisa di sebut tuntutan. Bagaimanapun cara mereka menikah dulu, pada kenyataannya permintaan Daniel itu memang tugas seorang istri.
“Tapi kenapa tiba-tiba? "