Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 46: panggil suamiku kesini, aku butuh dia bukan kamu



Akhirnya Ara masuk berjalan di samping Kevan. Ia tak memiliki pilihan lain karena setiap kali ia berjalan mundur, Kevan akan langsung menarik tangannya agar tetap berjalan di samping pria otoriter itu.


“Kevan, biarkan aku berjalan di belakangmu, semua orang akan membicarakan kita” Bisik Ara pada Kevan


“Aku tidak peduli, kaulah nyonya sesungguhnya”Jawab Kevan acuh pada Sisil yang juga mendengarkan mereka. Ingin sekali ia bereaksi dengan ucapan Kevan, tapi waktu seperti ini tidak tepat. Apalagi dengan banyaknya wartawan di luar, jika ia berdebat dengan Kevan tentang Ara, maka rumor akan tersebar. Sisil hanya bisa mengepalkan tangannya karena marah. Ia sebagai istri Kevan benar-benar tak bisa di sandingkan dengan simpanannya di hatinya. Ini benar-benar menginjak-injak harga dirinya.


Akhirnya langkah mereka sampai pada aula besar di kantor itu. Sudah banyak orang berkumpul di aula itu.


“Ara!! kau benar Ara kan?”Tanya seorang gadis yang tiba-tiba datang mendekati Ara. Ketika Ara melihat gadis itu, tiba-tiba matanya berbinar-binar.


“Elly!! ya Tuhan, bagaimana bisa kau di sini?”Tanya Ara sambil memeluk sahabat lamanya itu


“Tentu saja karena bosku juga di undang kemari, Ara kau semakin cantik!!"


“Kau juga Elly"


Elly adalah sahabat Ara sejak di bangku sekolah. Keluarganya bukan keluarga berada, sejak di bangku sekolah Elly harus kerja banting tulang seperti Ara untuk mencukupi kebutuhan sekolah dan keluarganya karena Ayahnya telah meninggal ketika ia berusia 12 tahun.


Sepanjang hidup Ara, Ara hanya memiliki 1 sahabat, yaitu Elly. Tapi sejak lulus sekolah dan gadis itu memutuskan untuk merantau, 2 sahabat itu kehilangan komunikasi. Ara tak tahu bahwa Elly merantau ke kota L. Ara sangat bahagia ketika melihat Elly kembali setelah beberapa tahun berpisah.


Di tengah obrolan rindu mereka, ponsel Ara berbunyi. Ara segera meraih ponsel di dalam tasnya dan melihat nama Daniel di layar ponselnya. Jantung Ara tiba-tiba berdegup kencang. Apa pria itu tahu keberadaan ku dimana? ah tak mungkin dia tak tahu, pasti dia akan memarahiku! batin Ara.


“Ara kenapa kau tak menjawabnya, siapa dia?”Tanya Elly


“Hemm dia, suamiku"


“Apa???! kau sudah menikah?"


“Benar, aku sudah menikah"


mendengar jawaban Ara, elly sedikit bingung. Meskipun ia tinggal di kota L dan tak pernah sekalipun berkomunikasi dengan Ara, tapi banyak rumor online yang beredar antara gadis itu dan bos muda keluarga Wingsley. Tak di sangka Ara justru sudah menikah tapi bukan dengan Kevan.


“Ha.. Halo”Jawab Ara setelah memutuskan mengangkat panggilan dari Daniel


“Nyonya Qin, kau dimana?”Tanya Daniel dengan suara dinginnya


“Aku ada di... “Klik tiba-tiba ponsel Ara mati karena kehabisan daya baterai.


“Ah sial! aku lupa mengisi daya ku”Seru Ara kesal pada ponselnya “Elly, apa aku boleh meminjam ponselmu sebentar?”Tanya Ara pada Elly


“Kau mau menghubungi suamimu?”Seru Elly sambil menyodorkan ponselnya


“Iya”Ara meraih ponsel Elly dan menekan nomor Daniel disana dan memanggil. Hanya saja, saat terhubung dengan Daniel, acara sudah di mulai, mau tidak mau Ara mematikan panggilan itu dan mengembalikannya pada Elly.


“Maaf Elly aku harus pergi"


“Hemm ya oke, aku juga"


“Oke catat nomorku, jangan lupa menghubungi ku oke"


“Baiklah, bye"


Setelah itu mereka segera duduk di bangku masing-masing yang sudah di sediakan.


Acara berjalan panjang dan awalnya sangat lancar, tapi saat hampir di penghujung acara. Para pelayan mulai menata makanan di atas masing-masing meja sebagai jamuan akhir. Makanan disana terlihat sangat elegan dan mewah. Beberapa saat Ara dan tamu lain berbincang ringan sambil menyantap makanan di atas meja.


Beberapa menit tidak ada masalah, tapi di menit selanjutnya Ara merasa tubuhnya begitu tidak enak, hawa panas terus menjelajahi tubuhnya. Rasa mabuk yang kuat mengaburkan pandangan mata Ara. Ara seketika tahu ada yang tidak beres dengan makanan atau minuman yang ia makan dan minum.


ia langsung menatap Sisil di seberang tempat duduknya, senyum Sisil menyeringai bagai serigala yang menemukan seekor mangsa. Ara seketika tahu siapa dalang dari semua ini.


Dengan kesadaran yang tersisa, Ara tahu harus cepat keluar dari aula itu agar tidak terjadi masalah. Ara dengan gontai berdiri dari tempat duduknya dan berusaha keluar ruangan, Kevan memperhatikan ada yang tidak beres dengan Ara. Ia kemudian ikut berdiri dan meraih tubuh Ara yang gontai. Ara menepis tubuh Kevan.


“Kau minggir!!!”Teriak Ara


“Ara ada apa denganmu?”Tanya Kevan khawatir sambil tetap berusaha meraih tubuh Ara.


“Kevan!!! aku bilang lepas!!!”Teriak Ara sekali lagi. Membuat suasana menjadi sangat ribut. Para wartawan yang meliput disana langsung menyorot kamera mereka pada Kevan dan Ara.


Suasana menjadi sangat kacau karena langkah Ara yang gontai menabrak banyak meja dan bahkan tangannya mencengkram alas meja dan menariknya hingga apapun yang berada di atas meja pun berhamburan ke lantai. Ara merasakan sakit luar biasa dari tubuhnya. Kevan dengan cepat mengangkat tubuh Ara dan membopongnya keluar ruangan, meninggalkan banyak pasang mata yang heran.


Di pelukan Kevan, Kevan melihat wajah Ara yang memerah, keringat bercucuran di wajah dan tubuhnya. Ia tahu apa yang terjadi pada Ara.


“Gerry, hapus semua rekaman yang ada di kamera wartawan, aku tak mau masalah ini tersebar, dimana ruangan ku?"


“Baik tuan, ruangan anda di lantai 15"


“Oke, kau urus media, aku akan ke kantorku membawa Ara"


“Baik tuan"


Sisil melihat suaminya membopongnya Ara, ia pun mengejar Kevan dari belakang.


“Ara, bertahanlah”Bisik Kevan


“DING”Suara pintu Lift terbuka, dengan setengah berlari Kevan menuju ruangannya, di dalam ruangannya ada sebuah kamar untuk beristirahat. Kevan menidurkan Ara di atas tempat tidur single di tengah ruang istirahat itu.


“Ara, aku bisa membantumu”Seru Kevan


“Tidak, jangan Kevan aku tidak mau!!"


“Lalu siapa yang bisa meringankan sakitmu ini?suami mu tak di sini”Seru Kevan sambil berusaha membuka resleting gaun Ara.


“Kevan, aku mohon, tinggalkan saja aku di sini sendiri, aku tak mau.. Aku tak mau.. Jangan sentuh aku!!!”Teriak Ara. Ara benar-benar butuh seseorang tapi ia tak ingin lagi melakukannya dengan Kevan, ini akan sangat menyakitkan untuk Daniel jika ia sampai tahu.


Ara menggigit bibirnya hingga mengeluarkan darah segar. Kevan mengerutkan alisnya, kenapa Ara menolaknya? bukankah ia tak ingin tidur dengan Daniel karena menjaga tubuhnya untuk dirinya, sekarang ada kesempatan dan ia merasa sakit sampai seperti ini, masih berusaha menghindar darinya hingga ia lebih memilih melukai bibirnya.


“Ara, jangan keras kepala"


Gaun Ara sudah hampir terlepas dari tubuhnya, suara ketukan pintu dari luar pun ramai terdengar. Baik Sisil atau Gerry semuanya mengetuk karena khawatir.


“Kevan!!! buka pintunya!! “Teriak Sisil “Gerry cepat ambil kunci duplikat ruangan ini!! cepat!!! “Titah Sisil dengan penuh emosi.


“Tidak ada yang boleh masuk!!!”Suara Kevan menggelegar dari dalam sama emosinya dengan Sisil.


“Kevan!! tapi aku istrimu!! bagaimana bisa aku melihatmu menyentuh gadis lain!! aku tidak peduli, aku akan membuka pintu ini!! "


“Coba saja jika kau berani!! jika terjadi kau tak akan lagi jadi nyonya Wingsley!!"


Jantung Sisil seperti akan berhenti, untuk seorang Ara bahkan Kevan mengancam untuk menceraikannya.


Kevan masih berusaha menenangkan Ara dengan ciuman dan sentuhannya, tapi gadis itu benar-benar menolaknya. Kevan tak peduli. Ia terus memaksa Ara.


“Kevan, aku mohon aku tak mau, panggil Daniel kesini, aku mohon!!


“Plak!!”Kevan refleks menampar pipi Ara hingga pipinya memerah.


“Diam Ara!!!


Mendengar Ara terus memohon dan menyebut nama Daniel! Kevan begitu emosi hingga kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Air mata Ara semakin mengalir.


Melihat air mata Ara semakin deras. Kevan seketika merasa bersalah dan memeluk tubuh Ara yang kemudian di tepis oleh Ara.


“Maafkan aku Ara, aku tak bermaksud menamparmu”Ucap Kevan, Ara tak mengucapkan sepatah katapun. Air matanya terus mengalir, satu sisi menahan sakit di hatinya, satu sisi menahan rasa sakit di tubuhnya.


“Kenapa kau terus menyebut nama Daniel? kenapa? dia tak ada di sini dan tidak akan peduli padamu lagi"


“Dia akan selalu peduli padaku, jadi aku mohon panggil suamiku kesini, aku butuh dia bukan kamu”Seru Ara, air matanya berjatuhan, ia terus menggigit bibirnya, darahnya terus mengalir.


Kondisi di luar ruangan, begitu riuh, banyak orang yang datang ke atas untuk berkerumun. Elly yang melihat keributan itu dan melihat kondisi Ara yang buruk, ia berinisiatif untuk menghubungi suami Ara, untung saja Ara sempat menghubungi suaminya dengan menggunakan ponselnya. Ia pun segera menekan nomor Daniel dari log panggilan di ponselnya. Nada sambung terdengar, butuh beberapa saat baru terhubung. Suara Daniel terdengar dari seberang.


“Halo, apa benar ini suami Ara?"


“Benar, kau siapa?”Tanya Daniel tegas


“Tuan apa kau sedang di kota L? Ara dalam masalah"


mendengar ucapan Elly, Daniel yang baru sampai di kota L, langsung pergi ke alamat yang di sebutkan Elly, untungnya jarak posisi Daniel tak jauh dari tempat Ara berada.


Sesampainya di kantor Kevan. Daniel bertemu dengan Elly dan Elly pun menunjukan dimana Ara kira-kira berada. Dengan cepat langkah Daniel masuk ke dalam Lift naik ke lantai 15 bersama Yogi dan juga Elly.


Sesampainya di lantai 15 dan pintu terbuka, Daniel melihat di lantai itu berkerumun banyak orang yang seakan ingin tahu apa yang terjadi. Melihat Daniel datang, sisil dan Gerry nampak kaget.


“Kau! bagaimana kau menjaga istrimu? bagaimana bisa dia menggoda suami ku terus menerus???!”Bentak Sisil pada Daniel. Daniel acuh


“Diam!! dimana istriku?”Tanya Daniel


“Di dalam!! "


“Tuan! kau tidak bisa masuk, tuan Kevan melarang siapapun masuk!!”Seru Gerry menghadang Daniel


“Minggir jika kau sayang nyawamu”Seru Daniel menahan marahnya, tanpa persetujuan Gerry, Daniel menghempaskan tubuh Gerry hingga terjatuh ke lantai, ia pun segera mendobrak pintu ruangan itu hingga rusak. Saat pintu terbuka Daniel dan Sisil segera masuk dan Yogi mencegah banyak mata memandang ke dalam ruangan. Daniel segera menutup pintu ruangan itu lagi.


Saat masuk, Daniel melihat Kevan sedang berusaha menyentuh Ara, tapi Ara berusaha menepis nya, saat pintu terbuka Ara melirik sekilas dari Arah pintu masuk. Senyumnya mengembang ketika melihat Daniel. Di depan pintu.


“Daniel, kau datang,, aku sakit, sakit sekali tolong aku”Rintih Ara. Daniel mendekat dan menarik tubuh Kevan menjauh dari Ara.


“Minggir! kau sungguh berani menyentuh istriku tuan Wingsley, kau akan menyesalinya!”Seru Daniel menatap Kevan sangat tajam.


Kevan sampai terdiam tak berkutik, Kevan terdiam bukan karena ancaman Daniel, di dalam pikirannya ia tak habis pikir dengan Ara. Ia terlihat begitu kesakitan tapi bahkan ia tak rela tubuhnya di sentuh Kevan. Melihat reaksi Ara saat melihat Daniel, seketika pikirannya mengenai hubungan buruk sepasang suami istri itu runtuh. Mereka saling mencintai, alasan Ara belum tidur dengan Daniel bukan untuk dirinya, tapi mungkin ada alasan lain. Pertama kalinya Kevan merasa hatinya hancur karena seorang wanita.


Kemudian Daniel menoleh dan melihat kondisi tubuh Ara begitu menyedihkan, bajunya terkoyak hampir terbuka, ia terlihat sangat kesakitan, terlihat wajahnya pucat dan keringat membasahi sekujur tubuh Ara. Daniel segera membuka jasnya dan menutupi tubuh Ara dengan jasnya. Kemudian ia membawa tubuh Ara keluar.


Sisil melihat kondisi Ara dadanya terasa sangat sesak. Ia melihat Kevan berdiri diam di belakang Daniel. Tak melakukan apapun, sisil belum pernah melihat wajah Kevan sekosong itu sebelumnya.