Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 51: Benar, anda sedang mengandung nyonya



Sisil dan Kevan akhirnya kembali ke kota A dengan perasaan tak enak. Deru mobil berhenti di pelatAran Villa kediaman Kevan. Mereka akhirnya turun, namun saat membuka pintu, Kevan di sambut oleh Paman Gu, asisten pribadi Arya Lee, ayah mertuanya. Dengan melihat asisten Gu di sini, Kevan seakan tahu apa yang akan ia hadapi sekarang. Arya tidak akan datang tanpa alasan, kedatangannya kali ini pasti karena masalah yang berhubungan di kota L kemarin. Ia berusaha tenang.


“Selamat datang tuan Kevan dan Nona Sisil. Tuan besar sudah menunggu anda di ruang tengah”Seru paman Gu pada Sisil dan Kevan.


“Baiklah”Kevan menjawab singkat. Sisil melangkah menyelAraskan langkah Kevan dan tangannya melingkar di lengan Kevan. Kevan melirik Sisil, begitu juga Sisil.


“Aku tak ingin ayah tahu kita sedang bertengkar”Bisiknya pada Kevan. Kevan tak menjawab apapun hanya anggukan kecil.


Memasuki ruang tengah, Kevan melihat Arya dengan santai mengisap sebArang rokok dari tangannya. Melihat Kevan dan Sisil muncul dari balik pintu, wajah Arya semakin berat dan dalam. Aura tidak bersahabat terpancar kuat dari sorot matanya.


“Ayah!! tumben sekali ayah pergi berkunjung kemari, ada apa? kenapa tidak menghubungi kami sebelumnya?”Seru Sisil melepaskan tangan Kevan dan berlari memeluk Arya. Arya tersenyum.


“Aku datang kesini kenapa harus bilang? apa ada yang di sembunyikan? “Ujar Arya melirik Kevan sinis.


“Sisil kau pasti lelah kan, beristirahatlah di kamar, ayah mertua biar aku yang menemani”Titah Kevan pada Sisil. Sisil dengan cepat mengangguk dan meninggalkan ruangan dengan perasaan ragu.


“Ini tidak benar, pasti akan ada masalah”Seru Sisil dalam hati.


Setelah Sisil berlalu, arya menyodorkan sebungkus rokok pada Kevan. Kevan pun menerimanya. Tangannya dengan terampil menyalakan api dan membakar putung rokok itu dan menghisapnya. Ia duduk tak jauh dari Arya duduk.


“Ayah mertua sampai datang kesini, apa ada yang penting? “Tanya Kevan to the point


“Kau sangat to the point Kevan, aku suka”Seru Arya sambil menghembuskan asap putih ke udara. “Kalau begitu aku akan bicara intinya saja, aku mendengar kejadian kemarin di kota L, di depan Sisil kau berusaha menyentuh mantan gadis simpanan mu, apa kau bisa membayangkan perasaan anakku saat itu?”Sekali lagi Arya menghisap rokok kuat-kuat dan menghembuskan asap putih ke udara. Wajah pria 56 tahun itu begitu berat dan manik matanya jelas memperlihatkan kekecewaan.


“Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membantunya "


“Brakkkkkk”Suara vas bunga jatuh menbentur lantai dan hancur berkeping-keping. Arya membanting nya tanpa ampun mendengar ucapan Kevan. Bahkan didepan ayah mertuanya ia berani mengakui perbuatannya. Arya di buat tak habis pikir.


“Kevan! kau pikir anakku apa? bisa kau permainkan sesuka mu? "


“Tuan Arya, kalian lah yang mempermainkan anak kalian"


“Kevan!!!!"


“Sejak awal kalian lah yang bersikeras menjodohkan akun dengan Sisil, berapa kalipun aku menolaknya kalian tetap bersikeras"


“Kau tidak akan hidup tanpa bantuannya"


Tiba-tiba Kevan tertawa sampai Arya mengerutkan alisnya merasa heran. Apakah ini sungguh lucu hingga bisa-bisanya dia tertawa begitu.


“Lagi-lagi alasan itu, kalian sungguh lucu, aku tak pernah minta di selamatkan olehnya, semuanya karena inisiatif nya sendiri dan sekarang kalian minta aku bertanggung jawab atas hatinya, kalian minta aku menikahinya sudah ku lakukan dan sekarang kalian meminta hatiku untuknya. Apakah ini lelucon? apakah ini opera sabun? kenapa begitu lucu? "


“Kevan! beraninya kau mengatakan itu pada ayah metuamu???! “Ujar Sisil yang tiba-tiba keluar dari balik pintu. Sejak tadi Sisil tak kembali ke kakamarnya, tapi ia bersembunyi berdiri di balik dinding untuk mencuri dengar pembicaraan Kevan dan ayahnya itu. Seperti yang di takutkan Sisil, Kevan akhirnya benar-benar mengatakan apa yang ia dengar barusan. Dengan mengumpulkan segenap semangatnya, ia masuk dan mendekati Kevan.


“Plaaakkkk”Sebuah tamparan keras jatuh di pipi Kevan. Meninggalkan warna merah di kulit putih Kevan.


“Kali ini aku pasti sudah gila! “Batin Sisil.


“Kau bisa bicara apapun pada ku Kevan tapi kau tak bisa bicara tak masuk akal seperti itu pada ayah!! bagaimanapun dia adalah mertuamu!"


Kevan: "...... "


“Ayah maafkan Kevan, mungkin ia terlalu lelah hingga bicara tak masuk akal”Ucap Sisil mendekati tubuh ayahnya dan memegang lengannya berusaha menenangkan kemarahan Arya. Arya menoleh pada Sisil. Sebagai ayah, melihat putrinya yang ia besarkan sepenuh hati dan berharap mendapatkan kebahagiaan seperti yang selalu ia usahakan adalah sebuah impian. Tapi hari ini, ia menerima kenyataan, putrinya tak mendapatkan pernikahan yang ia impikan. Cinta yang ia harapkan 3 tahun lamanya hingga menikah pun tak ia dapatkan. Ada air mata yang hendak jatuh saat Arya menatap putrinya itu.


“Sisil purtriku yang malang”Batinnya


“Benar, kembalilah ke keluarga mu, kita akhiri ini mungkin lebih baik”Ujar Kevan yang tiba-tiba, ia kemudian melangkah pergi.


Perkataan Kevan mengejutkan Sisil dan juga Arya.


“Kevan.. Tung.... Gu....”Sisil hendak mengejar Kevan, tapi kesadarannya melayang dan ia jatuh pingsan.


****


“Tut.. Tut.. Tut... Suara dari bedside monitor terdengar sayup-sayup di telinga Sisil. Suara itu adalah suara pertama yang membuatnya tersadar dari pingsannya. Saat membuka mata, sisil melihat sekeliling, jelas ini bukan kamarnya, ini pasti di bangsal rumah sakit, ia dengan mudah mencium aroma khas rumah sakit segera tercium di hidung Sisil.


Matanya membulat saat ia melihat kepala Kevan bersandar menunduk di atas ranjang pasien tempat ia berbaring. Ia duduk persis di samping dimana Sisil terbaring.


“Kevan?!”Serunya dengan suara berbisik. Kevan yang mendengar suara lemah Sisil, ia pun segera membuka mata dan mengangkat kepalanya.


“Kau sudah bangun?”Dengan suara cemas ia bertanya pada Sisil. Tanpa menunggu jawaban Sisil dengan cepat Kevan berdiri dan menekan tombol untuk memanggil suster dan dokter untuk datang ke ruangan. Petama kalinya setelah ia menikah dengan Kevan ia melihat lagi wajah Kevan yang mencemaskan nya. Rasanya, ini seperti mimpi. Ia bisa melihat lagi wajah selembut itu pada Kevan.


Tak butuh waktu lama, dokter dan suster pun datang memeriksa keadaan Sisil.


“Bagaimana keadaannya dok? apakah dia baik-baik saja?! “Tanya Kevan


“Sepertinya tidak ada yang perlu di khawatirkan tuan, kondisi nyonya Sisil dan janinnya stabil, tapi saya harap tuan bisa menjaganya agar tidak stress"


“Janin?? kau bilang apa dokter? apa aku hamil?”Tanya Sisil sambil mencengkram kuat lengan Dokter itu. Dokter itu pun menoleh pada Sisil dengan senyuman.


“Benar, anda sedang mengandung nyonya”Entah harus bahagia atau sedih saat Sisil mendengar kabar kehamilannya ini. Memiliki anak dari Kevan adalah mimpinya selama bertahun-tahun, tapi mengetahui kenyataan bahwa mungkin ayah dari bayinya tak mencintainya, juga mengingat kata perpisahan sebelum ini dan juga mungkin tak menerima anak ini membuat hatinya terasa seperti tertusuk pisau. Sakit sekali.


Memikirkan itu, tiba-tiba perutnya terasa sangat linu dan sakit. Hal itu membuat Kevan tiba-tiba panik.


“Sisil, kau kenapa? apa yang sakit?! dokter dia kenapa?! “Tanya Kevan gusar. Dengan segera Dokter memeriksa perut Sisil.


“Tidak perlu panik tuan, semuanya baik-baik saja, saya akan memberikan obat untuk meredakan sakit dan menenangkan anda nyonya, saya permisi dulu”Dokter itu tersenyum dan pergi menghilang di balik pintu. Sisil dan Kevan kini saling berpandangan.


“Berapa lama aku tak sadarkan diri?”Tanya Sisil dengan wajah sendu.


“Hampir 3 hari"


" 3 hari? aku sakit apa sampai tak sadarkan diri 3hari?! "


“Stress"


“Benarkah hanya karena stress? "


“Tak perlu memikirkan hal itu, kau harus menjaga kandungan mu, kau harus sehat agar ia juga sehat”Seru Kevan sambil memberikan selimut untuk Sisil. Perlakuan Kevan seakan berubah padanya 180°.


“Aku akan menghubungi orang tuamu, tungguin di sini”Ujar Kevan kemudian melangkah pergi, tapi Sisil dengan cepat meraih lengan Kevan.


“Sangat jArang aku bisa melihatmu selembut ini padaku, bisakah kau tetap di sini? karena aku khawatir, jika aku membiarkan mu pergi, kau akan berubah saat kau kembali nanti”Ucap Sisil dengan suara memohon, suaranya terdengar lemah, bahkan lebih tepatnya terdengar menyedihkan.


Kevan dengan lembut tersenyum dan memegang tangan Sisil dengan 1 tangannya.


“Sisil maafkan aku, bagaimanapun perasaanku padamu tetap saja bayi yang kau kandung itu adalah anakku, mulai sekarang aku akan berusaha untuk mu, jadi berhentilah khawatir, aku hanya sebentar”Seru Kevan tersenyum dan perlahan melepaskan tangan Sisil kemudian pergi.


“Jika ini hanya mimpi, tolong jangan bangunkan aku Tuhan, aku ingin dia tak berubah dan tetap seperti ini”Ujar Sisil dalam hati.