Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 131: Jangan ceraikan aku



Di kediaman Qin tak kalah ributnya, apalagi Shamus yang baru saja mendengar berita tentang kerugian perusahaan keluarganya dari medina. Kepalanya seketika sangat berat, ia yang sedang berdiri angkuh tiba-tiba terduduk di sofa membuat Medina yang berada di dekatnya menjadi sangat khawatir.


"Tuan Marques.. anda tidak apa-apa?" tanya Medina khawatir, pertanyaan Medina hanya di jawab lambaian tangan Shamus. Ia duduk dengan mata terpejam dengan satu tangan memijat lembut keningnya. Lagi-lagi perusahaannya harus mengulang insiden 10 tahun lalu. Shamus merasa ia menyepelekan Daniel, ternyata Daniel bukan hanya bisa membangun perusahaan tapi dengan mudah juga meruntuhkannya. Bahkan ia tak memberikan sedikitpun celah untuk orang lain bertahan. Shamus akhirnya membuka matanya dan meminta Medina untuk menghubungi Sebastian.


"Suruh anak itu datang menemuiku sekarang!"


"Baik, Tuan" jawab Medina singkat.


Di sisi lain, Aldric yang saat ini berada di kantornya mendapatkan info yang sama dari Arion tak menampakkan wajah kagetnya. Ia tahu ini akan terjadi, ia pun juga sudah memperingatkan Shamus tentang hal ini namun ia tidak peduli.


"Seharusnya ayah sedang kebingungan, Satu-satunya kunci adalah Daniel. Jika ini di biarkan seperti ini terus dia akan benar-benar kehilangan semuanya"


Benar, bukan hanya Shamus yang akan kehilangan semuanya tapi juga keluarga Qin. Seluruh kekayaan keluarga Qin berasal dari Downgrup dan juga di bantu oleh TopHill. Jika dia perusahaan itu hancur maka sudah di pastikan mereka akan jadi gelandangan. Mungkin yang akan menerima imbas terbesarnya adalah Shamus karena Aldric masih memiliki perusahaannya sendiri.


Kriing... kring...


suara ponsel Aldric berbunyi di atas meja, Aldric menoleh dan mengangkat panggilan itu. Itu dari Meilyn istrinya. Ia mengatakan ada hal penting yang harus mereka bicarakan. Ia meminta Aldric untuk kembali dan membicarakan hal ini di rumah.


"Arion siapkan mobil, aku harus pulang"


"Baik" jawab Arion singkat kemudian undur diri.


Sesampainya di kediaman keluarga Qin, ia langsung berjalan menuju ruang kerja Shamus. Saat hendak membuka pintu, pintu sudah terbuka. Sebastian keluar dari ruangan itu dengan wajah kesal, ia hanya menyapa dingin Aldric kemudian beranjak pergi. Aldric tak menghubris hal itu, ia melanjutkan untuk masuk ke dalam ruangan Shamus. Disana sudah menunggu Meilyn dan juga Shamus. Wajah mereka sangat serius namun ketika Meilyn melihat suaminya datang wajah seriusnya berganti senyuman. Dengan segera ia mengambil tas kerja milik Aldric dan membawanya.


"Hal penting apa yang ingin kalian bicarakan?" tanya Aldric sambil duduk di salah satu sofa tak jauh dari Shamus.


Beberapa menit mereka tak bicara sampai akhirnya Shamus mengeluarkan kata pertamanya. Inti dari semua pembicaraan Shamus adalah mengenai TopHill dan Down grup yang sedang kritis. Ia ingin Aldric membantu Sebastian untuk menyelesaikan masalah perusahaan itu. Sepanjang pembicaraan Aldric hanya menanggapinya dengan tersenyum ketus.


"Mudah sekali Sebastian menyerah, belum ada satu bulan" ujarnya dingin, ingin sekali Aldric menertawai keadaan ini. Apalagi melihat ayahnya yang ketakutan kehilangan banyak uang membuatnya bahagia untuk Daniel. Seandainya anaknya bisa melihat ketakutan ini dari wajah kakeknya mungkin dia akan lebih puas.


"Tentu saja yah, bagaimana ini tidak lucu. Kau yang menabuh genderang perang dengan Daniel, dengan susah payah kau mengganti posisinya dan membekukan akunnya tapi ternyata kau salah predikisi. Benar-benar seumpama pribahasa senjata makan tuan. Bukankah sangat lucu?"


"Aldric! apa yang sedang kau katakan itu?dia ayahmu kenapa kau bicara begitu" ujar Meilyn.


"KAU DIAM!!" bentak Aldric pada Meilyn, tubuh Meilyn tiba-tiba bergetar dan jantungnya seperi akan loncat dari tubuhnya. Ini pertama kalinya suaminya membentak nya dengan keras seperti ini.


Mata Aldric beralih lagi pada Shamus.


"Jadi kau sudah takut miskin yah? jika aku tahu kalian memintaku datang hanya untuk membantu Sebastian, aku pasti tak akan datang. Kalian yang merencanakan ini semua dari awal, maka bereskanlah sendiri. Aku tak makan mengkhianati anakku sendiri. Aku sudah tua, aku ingin hidup bahagia dengan anak,menantu dan juga cucuku" selesai bicara Aldric kemudian beranjak pergi setelah mengambil tas dari tangan Meilyn dengan kasar.


"Ayah Daniel, kau jangan membela anakmu terus! cucu yang mana? cucu yang wanita itu bawa bukan anak kandung Daniel! ini buktinya!" ujar Meilyn mengangkat sebuah amplop putih. Aldric yang sudah berada di ambang pintu membalikan badan dan melangkah mendekati Meilyn. Ia mengambil surat itu dan membacanya. Meilyn tersenyum ketus, Aldric menatap Meilyn dengan wajah sedingin es dan tanpa di duga sebuah tamparan jatuh di pipinya.


"Kau benar-benar membuat kesabaranku habis Mei" ujar Aldric marah. Mendapatkan tamparan keras di wajahnya, seketika air mata jatuh di pipinya. "Arion! berikan hasil DNA Brandon padaku!" ucap Aldric pada Arion yang berdiri tak jauh dari pintu, ia segera mengangguk dan memberikan amplop putih yang ia keluarkan dari dalam mantelnya. Wajah Meilyn tak bisa di lukiskan sekarang. Rasa takut menyergap masuk sampai ke dasar tulangnya.


"Ini! ini adalah hasil DNA Brandon yang asli! kalian pikir aku akan percaya begitu saja dengan hasil tes darimu? kau pikir aku tidak pernah mencurigai mu! berhentilah menfitnah anak, cucu dan menantuku Meilyn. Jika kau memang membenci mereka, maka bencilah aku tak akan melarang! tapi jangan tinggal lagi di sini!" ujar Aldric dengan marah melemparkan hasil DNA itu ke wajah Meilyn. Meilyn seketika mengejar langkah Aldric dan berlutut sambil memeluk kaki Aldric.


"Sayang, jangan, jangan begini! aku salah maafkan aku! jangan ceraikan aku!" air mata Meilyn benar-benar membanjiri pipinya.


"Meilyn, Lebih baik kau atasi dulu penyakit di hatimu itu. Aku tak akan tinggal diam kau seperti ini pada anak semata wayang ku! Dia berhak bahagia, kebahagiaan yang hampir tak pernah aku dapatkan karena keegoisan seseorang.." Aldric menoleh dingin pada Shamus kemudian kembali menatap Meilyn di depannya. "Karena kau terlalu sibuk dengan kebencian di hatimu kau jadi lupa bagaimana cara membahagiakan keluargamu"


Aldric kemudian pergi meninggalkan Meilyn. Meilyn semakin terisak di lantai.


"Kakek, kenapa kakek diam saja melihat Aldric sepeti itu? kenapa tak membelaku???! aku sudah membantumu tapi sekarang apa? suamiku justru mengusir ku dan kau diam saja!" Pekik Meilyn setelah menoleh kecewa pada Shamus yang hanya terdiam melihat perdebatan mereka.


Mulai saat itu, Meilyn menyadari satu hal. Selama ini yang Shamus pikirkan hanya keuntungan dirinya sendiri. Ia tak akan mau terlibat pada bencana yang menimpa orang lain meskipun bencana itu di karenakan dirinya sendiri. Meilyn dengan kecewa meninggalkan Shamus dan mengejar Aldric. Namun terlambat, mobilnya sudah pergi menghilang dari balik pintu gerbang.


"Deisy aku benar-benar membencimu! aku berdoa jika kau sudah mati, Tuhan membiarkanmu hidup di neraka!"