
Setelah 2 hari di rawat Ara dan Daniel membawa Cliff bertemu dengan Brandon di salah satu taman kota. Cliff tampak sangat senang apalagi saat ia mengetahui Brandon benar-benar cicitnya.
Brandon pun sangat bersemangat saat bertemu Cliff , ia dengan lucunya membawa Cliff bermain bersamanya. Ara dan Daniel duduk di sebuah kursi panjang di taman itu memperhatikan Brandon dan Cliff yang bermain bersama.
"Aku belum pernah melihat Peter tertawa selebar itu, ia tampak sangat bahagia hari ini"
"Tentu saja bahagia, kau tau tidak? sudah sejak lama Cliff menginginkan cicit dari kita, terakhir kali saat beberapa minggu sebelum kau menghilang namun saat aku juga menginginkannya kau justru menolak ku. Siapa sangka mungkin saat itu kau sudah hamil anakku tanpa kau sadari" Daniel menoleh pada Ara tersenyum dan melihat wanita di sampingnya begitu menawan. Angin lembut mengayunkan rambut panjangnya seperti menyamarka wajah Ara terlihat sedikit memerah dan salah tingkah mendengar ucapan Daniel barusan.
"Kakek, Ayo beli es krim!!" Pekik Brandon yang tiba-tiba ingin membeli Es krim ketika melihat mobil es krim terparkir di seberang jalan. Cliff dengan semangat mengiyakan permintaan cicitnya itu. Brandon berlari sambil memegangi tangan Cliff dengan erat. Ara dan Daniel ikut berdiri dan mengejar mereka dari belakang.
"Brandon, jalan pelan sedikit!" teriak Ara berusaha mengingatkan Brandon yang terlihat tak sabar untuk membeli es krim.
Sampai di sisi jalan mereka menunggu beberapa saat sampai lampu pejalan kaki menyala, Brandon dengan tidak sabar terus menarik tangan tua Cliff menyebrang jalan dan menuju mobil truk penjual es krim. Saat itu kondisi jalan tidak terlalu ramai, yang menyebrang pun hanya mereka. Saat Brandon dan Cliff menyebrang, sebuah mobil tiba-tiba muncul dengan kecepatan tinggi seperti berusaha mencelakai kakek dan cicit itu.
"Kakek, Brandooooonn!! Awaaaaaassss!" Teriak Ara yang menyadari sebuah mobil datang dengan cepat, saat mobil sudah sangat dekat Ara yang terlalu takut kemudian menutup matanya dan Buuuuk!!! mendengar suara itu, kaki Ara seketika lemas. Di dalam pikirannya ia tahu jelas suara itu datang dari mana, buru-buru ia membuka matanya dan mendapati Daniel, Brandon dan Cliff sudah terjatuh di tepi trotoar, mereka selamat.
Sebenarnya sebelum Ara, Daniel telah menyadari lebih dulu ada mobil yang melaju cepat mendekati Brandon dan Cliff, dengan langkah lebarnya Daniel segera mendorong Cliff dan Brandon menghindar dari mobil itu.
Beberapa saat setelah membuka mata, Ara seperti melihat sosok Elly berdiri sedikit jauh dari tempat mereka berada namun hanya sekilas kemudian ia menghilang dari balik dinding gedung.
"Ara!!! Awaasss!!"
Ara terlalu serius memperhatikan sudut gedung tempat dimana Elly menghilang hingga tak memperhatikan sebuah motor dengan cepat menuju kearahnya. Sekali lagi Daniel segera bangun dan berlari ke arah Ara. Daniel memeluk Ara menjauh dan Saat motor mendekat dengan cepat Daniel menendang badan motor itu hingga motor oleng dan terjatuh. Dengan penuh emosi Daniel mendekati pengendara motor yang terlihat kesakitan dan mencekiknya kuat-kuat dengan tangan besarnya setelah membuka helm pria itu.
"Siapa yang menyuruhmu mencelakakan kami??!! Katakan!!!"
Pria itu terbatuk-batuk dan Baaaam, pria itu tiba-tiba mengerang kesakitan dengan tangan meremas dadanya. Daniel mengerutkan alisnya dengan paksa membuka jaket dan kemeja pria itu.
"Dia mati" seru Daniel. Saat jaket dan kemeja pria itu terbuka, di dada pria itu telah diberi alat seperti pelatuk pistol menempel tepat di jantungnya. Rencana untuk mencelakai mereka ini sungguh terencana, dilihat dari kotak di dadanya ini berfungsi seperti pelatuk pistol yang bisa di kendalikan dari jarak jauh, gunanya untuk membunuh orang ini agar tak membuka mulutnya jika ia gagal melaksanakan tugas.
"Benar-benar brengsek! siapa orang di belakang mereka?" batin Daniel geram. Daniel mengedarkan matanya, tanpa di sadari, banyak orang datang dengan mata ingin tahu, kemudian menoleh pada Ara yang memeluk Brandon dan berdiri di samping Cliff. Tak berapa lama polisi berdatangan, Daniel akhirnya menghubungi pengacaranya untuk membereskan masalah ini.
"Ayo, aku antar kalian pulang sekarang" seru Daniel pada Ara dan Cliff. Tanpa banyak bicara mereka mengiyakan Daniel dan masuk ke dalam mobilnya.
"Tapi kalian tidak bisa meninggalkan tempat ini sebelum kami periksa" ujar salah satu polisi.
"Pengacara ku yang akan menjelaskannya" jawab Daniel dengan dingin dan tanpa meme pedulikan polisi itu ia masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi.
Sepanjang jalan Daniel tak mengatakan apapun, hanya diam. Begitu juga dengan Ara dan Cliff. Beberapa lama sibuk dengan pikirannya, akhirnya Ara jengah dengan pikirannya sendiri akhirnya memberanikan membuka mulutnya dan bertanya pada Daniel.
"Daniel, apa ini ada hubungannya dengan Clara atau Elly?" Ara menoleh melihat kepada Daniel yang hanya diam dan fokus pada kemudinya.
"Ya mungkin saja"
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Ara,
"Benar, kita harus pergi dari sini dan sementara bersembunyi sambil menyelidiki masalah ini, tapi bagaimana denganmu Kek?" tanya Daniel.
"Pergilah, aku sudah tua, masih bisa hidup berapa lama lagi? kalian harusnya lebih memikirkan nasib kalian sendiri, terutama cicit ku Brandon, kalian tak boleh dalam bahaya"
Ucapan Cliff membuat pikiran Ara dan Daniel semakin rumit.
Ara yang awalnya tak ingin mengorek masalalunya dan masih ragu dengan pemikiran membantu Cliff, sekarang justru berubah pikiran.
Mereka orang yang ada di balik kejadian hari ini sudah jelas pasti ingin mencelakakan dirinya dan Cliff namun jika ini di biarkan, Brandon juga pasti dalam bahaya.
"Mungkin seharusnya aku meluruskan dan menyelidiki siapa di balik semua ini! apa Elly dan Clara ada di belakang semua ini??" Batin Ara. "Apa yang mereka cemaskan sebenarnya? aku amnesia dan Cliff tak berusaha membalas mereka. Lalu kenapa mereka masih khawatir?" Ara semakin larut dalam pikirannya sendiri.
Setelah mengantar Cliff hingga bangsalnya, Ara dan Daniel kembali ke mobil. Saat Daniel hendak menarik tuas persneling, lengannya di tarik Ara dan ia menempelkan sebuah plester di lengan Daniel yang ia dapatkan saat melindungi kepala Brandon agar tak terbentur ke trotoar.
"Daniel, terimakasih" Ucap Ara menunduk tak berani menatap Daniel. Daniel pun tersenyum dan mendongakkan kepala Ara untuk menatapnya.
"Tak perlu berterimakasih Ara, aku akan selalu berusaha melindungi kalian dan tak akan membiarkan kalian dalam bahaya jadi kau tak perlu khawatir dan tak perlu terlalu keras berpikir, aku akan mengurus semuanya" Daniel tersenyum.
"Hemm baiklah" Ara membalas senyum Daniel, "Dan ini.. " Ara menyodorkan amplop bersisi tiket ke pulau Wanalulu, Daniel mengambil amplop itu dan membukanya memperhatikan isi dari amplop itu. "Aku menerimanya kemarin dan aku tak yakin apakah disana tempat yang aman, tapi selain kesana apa kau ada ide lain?" tanya Ara. Daniel kemudian menoleh pada Ara.
"Ini ide bagus" jawab Daniel tersenyum lebar.
***
Sesampainya di kediaman keluarga Li. Daniel dan Ara berbicara pada Meira dan Xander dengan kejadian yang menimpanya hari ini, Xander dan Meira sangat terkejut, setelah hidup damai dua tahun belakangan, untuk pertama kalinya hari ini ada lagi yang berusaha mencelakai keluarganya. Xander marah besar pada Daniel dan Ara, ia menyesalkan kenapa pria ini harus datang dan membuat kekacauan sampai sejauh ini dan juga kesal pada Ara yang tak mau mendengarkannya untuk menjauhi Romanof dan juga Qin. Ia sekali lagi seperti melihat Deisy di mata Ara, pandangan yang sama saat kakaknya tak mau menuruti keluarganya untuk meninggalkan Higa.
"Aku tak mau kau dalam bahaya, Ara! aku tak ingin kehilangan anggota keluarga Li untuk kedua kalinya" seru Xander menatap Ara dengan tatapan putus asa.
"Kalian tidak akan kehilangan siapapun, Aku yang akan melindunginya, paman tak perlu khawatir!" Daniel menarik mundur Ara dan berusaha memasang badan untuk istrinya itu. Untuk Daniel, mana mungkin membiarkan Ara dan anaknya dalam bahaya. Xander tertawa ketus, ia melangkah lebih dekat dengan Daniel. Tatapan mereka bertemu sangat tajam.
"Bagaimana kau bisa melindunginya? pertanyaan ku sampai hari ini belum bisa kau jawab bagaimana aku bisa melepaskan keponakanku padamu?"
"Diantara kita posisiku lah yang paling kuat, aku memiliki dukungan besar di tanganku, selain kekuasaan dan kekayaan, Brandon adalah penerus Edmund kau harusnya sudah tahu itu! jikapun kakekku bodoh dia tidak akan mencelakai cicitnya sendiri!" .
Beberapa saat Xander diam dan berpikir, setelah pembicaraan alot itu akhirnya Xander dan Meira setuju melepaskan Ara dan Brandon meskipun dengan setengah hati.
Ara mengantar Daniel sampai pintu keluar, kecemasan di raut wajah Ara tak bisa di sembunyikan.
"Besok aku tunggu di Bandara, jangan sampai terlambat. Oke?" seru Daniel pada Ara sambil membelai pipi istrinya. Ara hanya tersenyum dan mengangguk. Kemudian Daniel masuk kedalam mobilnya dan pergi.
"Semoga keputusanku ini benar"