
“Daniel, bolehkah kau menepi sebentar, tiba-tiba aku ingin membeli sesuatu"
Ara menoleh pada Daniel yang sedang sibuk dengan kemudinya. Daniel menoleh sekilas pada Ara dan menghentikan mobilnya di sebuah pasar malam di pinggir kota. Malam itu pukul 8 malam, situasi di sana memang ramai dengan pedagang.
“Beli apa?"
“Mau menemaniku? kau akan tahu"
Senyum Ara pada Daniel, akhirnya Daniel mengangguk dan turun bersama Ara. Ara dengan semangat menyeret tangan Daniel menuju sebuah kedai kaki ayam pedas yang penuh sesak dengan pembeli.
Wajah Daniel sekali lagi mencuri banyak pasang mata. Bahkan terang-terangan beberapa gadis memuji ketampanannya. Ara menoleh pada Daniel sekilas. Ara tahu Daniel menyadari perhatian dari sekeliling pada dirinya, tapi wajahnya benar-benar tak berekspresi sama sekali. Ia hanya terus menggenggam tangan Ara yang berjalan di depannya.
Sekilas melihat gadis muda di depannya menarik tangannya dengan wajah senang, membuatnya mengerutkan keningnya.
“Hanya untuk kaki ayam pedas dia begitu senang?,”Batin Daniel heran.
“Kau belum kenyang?,”Tanya Daniel heran
“Belum, makanan malam di restoran mewah benar-benar memboroskan uang, semahal itu hanya untuk seporsi kecil makanan, kau mau? aku traktir"
“Tidak, terimakasih, ”Senyum Daniel dingin. Ia tak pernah berpikir Ara mau membeli makanan pinggiran seperti ini. Hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.
Ara tak hanya membeli 1 porsi kaki ayam pedas, tapi 5tusuk ayam panggang dan 1 buah kembang gula.
Setelah itu Ara membawa Daniel duduk dibawah lampu-lampu lampion warna-warni. Ia meletakan makanan-makanan itu di atas meja dan mulai tersenyum menatap wajah Daniel yang melihatnya dengan tatapan heran.
“Kenapa melihatku begitu Ra?"
“Apa kau tak pernah ke pasar malam sebelumnya?"
“Belum"
Ara mengangguk tersenyum sambil terus menggigit kaki ayam pedas di tangannya.
“Makan pelan-pelan, aku tak akan merebutnya,"
seru Daniel sambil menyeka saus di sudut bibir Ara dengan tissue, gerakannya sukses membuat Ara kikuk dan memundurkan beberapa senti tubuhnya karena kaget tapi kemudian kembali ketempat semula dengan cepat.
“Daniel, cobalah!,”Dengan cepat Ara memasukan kaki ayam pedas ke mulut pria tampan di depannya itu.
Beberapa saat terlihat perubahan wajahnya menjadi terkejut, beberapa detik seperti akan memuntahkannya, tapi tak di sangka detik selanjutnya ia tampak menyukainya.
Ada wajah lucu di wajah Daniel yang bisa membuat orang tertawa, bahkan gadis-gadis SMA yang masih memakai seragam yang duduk tak jauh dari Ara dan Daniel Pun tak sanggup menahan tawa gelinya.
“Bagaimana, enak kan? haha"
“Lihat, siapa yang seperti orang kelaparan sekarang, sudah setua itu kau bahkan belum pernah mencoba makanan enak seperti ini, sungguh sia-sia"
“Jadi aku sepertinya harus berterima kasih padamu,“ seru Daniel dengan senyuman.
“Hemm harus, ”Jawab Ara tersenyum. Tapi senyuman itu hanya sepintas lalu. Kabut di wajahnya tiba-tiba turun.
Ara tiba-tiba teringat sosok ibunya yang selalu membawanya pergi ke pasar malam di kota C. Tidak seramai ini, tapi cukup membuat hati Ara senang. Setiap kali pergi ke Pasar malam, ibunya selalu membelikan beberapa porsi makanan kesukaan Ara, termasuk kaki ayam pedas seperti ini. Ara melamun.
Daniel yang duduk di depan Ara tak kuasa melambaikan tangannya di depan wajah cantik Ara. Membuat Ara tersentak kaget dan air mata tiba-tiba jatuh mengalir dipipinya. Buru-buru Daniel menyeka air mata Ara.
“Kenapa tiba-tiba menangis?,”Tanya Daniel heran
“Aku tiba-tiba teringat ibuku"
“Kau ingin menemuinya? aku bisa mengantarmu"
Ara menggeleng, wajahnya lebih sendu dari sebelumnya.
“Seandainya aku tahu dimana dia sekarang, aku akan berlari keArahnya dan memeluknya"
Mendengar jawaban Ara, Daniel mengerutkan keningnya. “Apa maksudnya?"
“Aku tak mengerti maksudmu Ra, apakah dia meninggalkanmu?,”Tanya Daniel.
Ara menatap Daniel dengan tatapan dalam. Terlihat sebuah bongkahan es membekukan hatinya dari dalam. Sepanjang ia hidup bersama gadis itu, tak sekalipun ia melihat ekspresi ini dari wajah Ara. “Apa ini perasaannya yang sebenarnya?,”Batin Daniel.
“Tidak, dia tidak pernah meninggalkanku, mungkin akulah yang meninggalkannya. Kau tahu aku di buang ayahku sejak kecil, beberapa bulan lalu ayahku akhirnya membawaku kemari bersama ibuku, aku pikir setelah belasan tahun di buang, ayahku sadar telah menelantarkan kami, tapi aku salah, ayahku membawaku kesini hanya sebagai alatnya saja, aku kira alasannya kau juga sudah tahu sebelumnya"
“Cincin?"
“Hemm, benar, karena marah dulu aku mengatakan padanya jika aku berhasil membawa cincin itu aku minta dia melupakan kami, dia tak menolak, sebaliknya jika aku gagal ibu ku taruhannya. Betapa bodohnya aku menyetujuinya. Aku pikir ini mudah, tapi ternyata aku gagal, ayahku menepati janjinya, ia menyembunyikan ibuku entah dimana. Hidup atau mati aku tak tahu. Aku sudah mencarinya kemanapun, tapi nihil. Setiap kali memikirkan ini, hatiku seperti di sayat-sayat, aku sudah berusaha sampai mengorbankan masa depanku sendiri tapi pada akhirnya aku tetap kehilangan ibuku, bukankah ini tak adil untuk ku Daniel?"
Air mata Ara mengalir, Daniel beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Ara.
“Tenanglah, aku akan membantumu"
“Tak perlu, kau tak tahu siapa ayahku, lagipula yang dia pedulikan hanya cincin itu dan cincin itu di tangan Kevan saat ini dan untuk mendapatkannya dia minta aku......"
Belum sempat ia meneruskan ucapannya, bibir lembut Ara sudah tertutup rapat oleh bibir tipis Daniel. Daniel seakan tak peduli puluhan pasang mata menatap mereka, sebagian menatap dengan jijik karena tak tahu malu dan sebagian lagi iri. Ara berusaha melepaskan ciuman itu tapi justru jarinya memegang erat pipi Ara, ia tak membiarkan Ara melepaskan ciuman itu. Ciuman hangat itu berlangsung beberapa menit, ketika terlepas sorotan mata Daniel masuk ke dalam mata Ara.
“Tak peduli apa yang dia minta padamu, aku tak mau dengar, jika aku bilang aku akan membantumu, maka jangan meragukan ku, oke?"
Perkataannya begitu tegas dan dingin, di wajahnya tak terlihat keraguan sepersen pun. Sejujurnya Ara tak tahu bagaimana Daniel akan membantu, tapi melihat wajahnya yang begitu yakin Ara pun mengangguk setuju. Setelah itu, mereka kembali untuk pulang.