Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 59: maafkan aku Ara



Setelah kejadian itu, Daniel berkali-kali meyakinkan Ara tentang perasaannya. Sebenarnya Ara percaya, tapi selalu merasa di tolak keluarga orang yang di cintai nya membuatnya merasakan sakit yang sulit dijelaskan, seketika membuatnya putus asa.


Dan juga untuk kesekian kalinya Ara merasa Daniel terlalu banyak memberinya kejutan tak terduga, entah rahasia apa lagi yang menunggunya, ia hanya tidak siap dengan itu. Ia meminta waktu Daniel untuk menjaga jarak dengannya dan dengan terpaksa Daniel membiarkan Ara dengan sikapnya Sementara waktu.


Beberapa hari berlalu, Ara menyibukkan dirinya dengan kertas kerja dan kantornya, kantor serasa adalah rumah utamanya sekarang. Ia benar-benar tak ingin memikirkan masalah perasaannya, pernikahannya dan semua yang berhubungan dengan Daniel dan masa lalunya.


Setiap sore dari jendela ruangannya, ia akan mendapati sebuah mobil maybach hitam selalu berhenti di depan kantornya di jam yang sama dan akan pergi juga di jam yang sama, hampir setiap hari. Ara tahu, itu adalah mobil Daniel. Setiap panggilan, setiap pesan dari Daniel tak pernah ia balas. Setiap kali Ara merasa dirinya begitu jahat pada Daniel, ia akan menepis pikiran itu dan kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan. Mencoba lupa bagaimanapun caranya.


Pagi itu Elly masuk ke dalam ruangan Ara dengan wajah sebal, ia mendapati sahabatnya itu sepagi ini sudah berada di belakang meja kerjanya. Wajahnya pucat, sudah persis seperti mayat hidup.


“Ara, kau mau bunuh diri perlahan atau bagaimana? pulanglah dan beristirahatlah!!”Seru Elly berdiri di depan meja kerja Ara, Ara melirik Elly dengan senyuman kecil kemudian menatap lagi layar komputer di depannya.


“Elly, ambilkan file kerjasama dengan ambassador yang baru"


“Tidak, aku ingin kau pulang dan istirahat"


“Tidak, pekerjaanku masih banyak sekali Elly, jadi sekarang ambilkan file itu”Titah Ara, namun Elly tetap tak bergeming dari tempatnya, akhirnya Ara memutuskan mengambil sendiri file itu, baru beberapa langkah ia bejalan, pandangannya kabur dan ia hampir terjatuh, jika bukan karena Elly segera menopang nya, ia akan benar-benar jatuh ke lantai.


“Ara! kau kenapa?? sudah ku katakan untuk tidak bekerja berlebihan, kenapa kau tak mendengarkan ku, ayo kita ke rumah sakit!!”Seru Elly dengan nada khawatir.


“Tidak, aku tak mau ke rumah sakit, biarkan aku berbaring sebentar di sofa"


“Biar ku panggil Dr Denis kemari oke"


“Baiklah"


Tak berapa lama setelah Elly menghubungi Denis, dr muda itu langsung bergegas datang ke kantor Ara, padahal saat itu, ia baru saja akan menghadiri rapat dengan beberapa dewan rumah sakit. Tanpa banyak pikir ia meninggalkan rapat itu.


Setelah sampai di kantor ia langsung bertemu dengan Elly yang membawanya masuk menemui Ara yang masih terbaring lemas di atas sofa. Dengan teliti Denis memeriksa tubuh Ara.


“Ara, kau demam dan kelelahan, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang, jika tidak kau akan semakin parah"


“Dr Denis, jika aku tetap harus ke rumah sakit lalu kenapa kau harus jauh-jauh kemari?"


“Baiklah kalau begitu aku akan antar kau pulang ? "


“Tidak kak, aku sebentar lagi akan baik-baik saja setelah meminum obat darimu"


Dengan terpaksa Ara menyetujui permintaan Denis, denis awalnya akan mengantarkan Ara menuju Starlake namun Ara buru-buru menolak, ia tak ingin pergi kesana, akhirnya Denis membawa Ara ke apartemen.


Sesampainya di apartement Ara, denis membaringkan tubuh Ara diatas tempat tidur, gadis itu tertidur tak lama setelah meminum obatnya, kondisinya memang sangat lemah.


Akhir-akhir ini selain sibuk bekerja Ara memang tak terlalu memperdulikan kapan ia makan dan istirahat.


Denis masih duduk di sisi tubuh Ara, ia menatap Ara yang tertidur dengan wajah cantiknya. Ia hendak meninggalkan Ara namun Elly meminta ia tetap tinggal sebentar sampai ia datang setelah menyelesaikan tugasnya di kantor. Ia pun menyetujuinya.


Denis kemudian melangkah menuju dapur dan ia menggulung lengan kemejanya dan segera membuatkan bubur untuk Ara. Saat Denis tengah memasak, terdengar suara pintu terbuka yang ia kira adalah Elly, namun saat ia menoleh ke Arah pintu masuk ternyata bukan Elly melainkan Daniel. Denis sedikit kaget, pria di depannya itu kini menatapnya dengan tatapan dingin dan ketus. Ia tahu ini tidak akan baik, ia pasti mengira terjadi sesuatu antara ia dan Ara.


“Tuan Qin, anda datang”Sapa Denis terpaksa tersenyum sambil tetap mengaduk bubur di dalam panci.


“Sedang apa kau di sini?"


“Aku mengantar Ara yang sakit dan membuatkannya bubur sambil menunggu Elly, aku harap kau tak salah paham"


“Aku sudah di sini, jadi kau boleh pergi”Ujar Daniel sangat ketus. Wajahnya benar-benar tak bersahabat menatap Denis.


“Biarkan aku menyelesaikan bubur ini lalu aku akan pergi"


“Tidak perlu, aku yang akan memaksakan bubur untuknya lagipula suaminya adalah aku bukan kau"


mendengar ucapan Daniel, denis tiba-tiba menyunggingkan sedikit tawa kecil di sudut bibirnya. Melihat Denis tertawa Daniel mengerutkan keningnya heran.


“Apa ada yang lucu hingga membuatmu tertawa? "


“Aku sedikit aneh dengan pernikahan kalian, pertama kau bilang kau suaminya tapi aku tak melihat cincin kawin melingkar di jari kalian berdua, yang kedua, kenapa ia memilih di antar ke apartemen yang sederhana ini daripada pulang ke rumah mewah mu? dan yang terakhir, suami mana yang membiarkan istrinya bekerja sampai kelelahan hingga sakit seperti ini? pernikahan macam apa yang kalian sedang jalani sebenarnya?”Tanya Denis sambil melangkah mengambil tas dan jasnya di atas sofa kemudian ia berdiri lagi di depan Daniel dengan wajah yang tak kalah dingin.


“Kau tak perlu menjawab pertanyaan ku barusan, itu bukan urusanku dan aku juga tak perlu tahu, hanya saja jaga dia baik-baik, ia terlalu stress dan kurang nutrisi jika begini terus, kondisinya akan terus memburuk”Ujar Denis kemudian berlalu dari hadapan Daniel. Daniel tak mengucapkan sepatah katapun. Ia kemudian melangkahkan kakinya ke dalam. Kamar dan duduk di samping tubuh Ara yang terbaring. Wajahnya yang putih terlihat sangat pucat dan lingkar hitam di bawah matanya terlihat jelas.


“Kenapa kau jadi seperti ini Ara? kenapa kau menghindari ku? “Bisiknya.


Tangan Daniel menggenggam tangan Ara, ia baru menyadari yang di katakan Denis benar, sudah 1 tahun menikah, tapi tak terpikirkan sekalipun tentang cincin kawin. Selama ini bukti pernikahan mereka hanya buku merah yang mereka dapatkan dari biro catatan sipil kala itu. Selebihnya tidak ada.


“Ara, apakah banyak yang mempertanyakan masalah ini padamu sebelumnya? aku begitu malu sebagai suamimu, aku membuat orang lain mempertanyakan pernikahan kita hanya karena sebuah cincin pernikahan yang belum sempat aku berikan padamu, kenapa hal kecil seperti ini saja aku melewatkannya, maafkan aku Ara"