Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 66 : Daniel jangan kekanak-kanakan



Ara sedang bersiap pergi ke kota G bersama Elly. Seorang supir kantor datang menjemput Ara dan membawanya ke bandAra setelah menitipkan Paw ke tempat penitipan anjing.


Ara terus menatap layar ponselnya. Ia terus bimbang akan menghubungi Daniel atau tidak. Akhirnya ia putuskan untuk menghubungi Daniel. Beberapa detik nada sambung terdengar namun tiba-tiba panggilan terputus.


“Daniel menolak panggilan?”Dengan rasa penasAran ia mencoba lagi menghubungi Daniel, respons yang sama terulang lagi. Ara mengerutkan keningnya. Bukan kebiasaan Daniel menolak panggilan, jika pun marah ia hanya tidak akan mengangkat teleponnya. “Mungkin dia sedang meeting atau sibuk bekerja, berpikirlah positif Ara “Batin Ara mencoba tak berpikir yang bukan-bukan. Akhirnya ia mengirimkan pesan pada Daniel. Namun sampai ia akan take off pun Daniel tak membalasnya. Ara benar-benar kecewa.


***


4 hari sudah Daniel tak kembali ke rumah dan 4 hari sudah ia tak bisa tidur dengan nyenyak, wajah Ara terus terbayang-bayang di pikirannya. Ia terus bertanya-tanya gadis itu sedang apa? sudah makan atau belum dan masih banyak lagi. Ia berkali-kali mengangkat ponselnya dan menekan nomor Ara namun selalu ia urungkan.


“Tak bolehkah aku egois sekali saja Ra? kenapa kau tak juga menghubungiku? aku terus bertanya-tanya, sebenarnya seberapa penting aku di hatimu?"


Hari ini Daniel duduk di meja Bar clubhouse TopHill dengan perasaan carut marut. 2 jam berlalu Ia hanya duduk memutar-mutar gelas bir di depannya, ia sudah menghabiskan beberapa gelas. Yogi dan Tritan yang berada di sampingnya pun tak bisa meringankan perasaan buruknya sahabatnya itu. Silih berganti wanita-wanita cantik datang menggoda Daniel namun semuanya berakhir dengan menelan kekecewaan. Jangankan tergoda, melirik saja pun tidak. Melihat kelakuan sahabat di samping nya ini. Yogi dan Tritan saling memandang heran, mereka sama-sama tahu pasti bosnya ini sedang bertengkar dengan istrinya. Hanya seorang Ara yang bisa membuat Daniel seperti ini. Tapi kali ini sepertinya masalah mereka tak main-main.4 hari sudah Tritan berusaha membujuk Daniel bicara bahkan ia juga menghubungi Elly untuk bertanya pada Ara, namun 2 orang ini sama-sama kerasa kepala. Hingga hari ini ia kesabArannya mulai habis.


“Kau ini kenapa? bertengkar dengan nyonya bos boleh tapi jangan seperti ini, jangan kau rubah tempat mewah ini menjadi macam neraka, ceritalah pada kami, kami akan mendengarkan dengan senang hati".


Awalnya Daniel enggan bercerita namun akhirnya ia membuka mulutnya.


“Kami bertengkar”Yogi dan Tritan mulai serius mendengarkan Daniel.


“Lalu? "


“Aku melihatnya membeli obat pencegah kehamilan di apotik, wanita itu benar-benar tak ingin mengandung anakku kah? “Mendengar cerita Daniel, yogi dan Tritan tertawa bersamaan. Daniel dengan kesal melotot pada 2 orang di samping nya itu. “Hei! apakah ini lucu? ini sama sekali tak lucu!! kalian masih berani tertawa? cari mati? “Seru Daniel geram, seketika tawa Tritan dan Yogi berhenti namun wajah mereka masih menahan keinginan untuk tertawa.


“Daniel, Daniel, kau 4 hari tak pulang dan setiap hari mabuk-mabukan seperti ini hanya karena nyonya bos tak ingin hamil? kau becanda?”Tritan kembali tertawa merangkul bahu Daniel. Daniel semakin kesal dan menepis rangkulannya dengan kasar. “Dengar, dia cantik dan umurnya masih sangat muda, kenapa terburu-buru memiliki anak? lagi pula kalian akan menikah seumur hidup, mungkin dia bukan tak ingin mengandung anakmu tapi ia belum mau dan Sementara ingin menunda nya beberapa tahun lagi, apa masalahnya?? "


“Masalahnya aku ingin dia bersedia melahirkan anakku, bukan justru menolaknya dengan meminum obat berbahaya seperti itu, apa dia ingin tak bisa hamil selamanya?"


“Oke, berapa usia nyonya bos sekarang ?"


"22"


“Berapa usiamu?"


"28"


“Apa yang kau pikiran dan lakukan saat kau seusia istrimu? "


Daniel "....."


“Apa kau bertanya kenapa dia tak ingin hamil?"


“Dia bilang dia masih terlalu muda dan masih ingin bekerja", “Tapi, ayolah bro, kau paling tahu berapa banyak uang yang aku hasilkan perbulan, bahkan untuk memberi makan 1 kota A pun uangku tak akan habis. Lalu untuk apa dia bersusah payah bekerja dan lagi permintaanku hanya aku ingin ia melahirkan anak untukku, itu juga bukan hal yang berlebihan, kami menikah sudah 1 tahun apa salahnya aku berpikir seperti ini? "


Sebenarnya masalahnya bukan hanya ia menginginkan anak. Hanya dengan memiliki anak dengan Ara, kakeknya akan melunak dan menyerah untuk menjodohkannya dengan Windy


“Sudahlah Daniel jangan kekanak-kanakan kau ini pebisnis ulung, kau bisa memecahkan banyak masalah dengan mudah, kau tak pernah seperti ini bahkan saat berhadapan dengan masalah bisnis yang pelik, lalu kenapa hanya masalah seperti ini membuatmu kacau? jujur saja aku benar-benar kagum pada kemampuan gadis itu, benar-benar luar biasa"


“Sudahlah, pergi sana kau membuatku tambah pusing"


Tak berapa lama ponsel Daniel berbunyi, kakek meneleponnya memintanya datang menjenguk Windy. Daniel menolak namun kakeknya lebih keras akhirnya mau tidak mau ia datang ke rumah sakit.


Sesampainya disana. Ia di sambut dengan senyuman manis Windy dan kakeknya terlihat duduk di samping nya.


“Daniel kau sudah datang “Seru Windy tersenyum senang.


“Ada apa kakek memintaku kesini?"


“Tidak aku berdiri saja"


“Duduk kakek bilang”Dengan terpaksa Daniel menuruti kakeknya, baru kemudian kakeknya bicara.


“Bagaimana bisa Windy sakit seperti ini kau tak pernah datang menjenguk? "


“Dia tak sakit, dia baik-baik saja kenapa harus di jenguk?


“Daniel kau pikir aku pura-pura sakit? "


“Windy ayolah, sebelum aku kesini, tempo hari aku datang pada dokter mu dulu untuk bertanya keadaanmu, ia berkata kau hanya luka dengan 3 jahitan kecil, bahkan seharusnya kau tak perlu opname, lalu kenapa sudah selama ini masih belum keluar juga?"


“Daniel jangan keterlaluan, Windy benar-benar sakit, apa kau tak lihat itu?"


“Lalu kakek pikir dokter buta?"


“Kau... “Belum selesai kakeknya bicara, ponsel Daniel bergetar, ia kemudian mengangkat panggilan itu, tak berapa lama mematikannya dan meletakkan ponselnya di meja.


“Kakek sudah putuskan, minggu depan kalian akan bertunangan”Mendengar ucapan kakeknya, Daniel naik pitam.


“Kakek!! aku sudah menikah, bagaimana mungkin bisa bertunangan dengan dia"


“Tapi kau sudah 4 hari tak kembali ke rumah, memang sebaiknya tak perlu kembali, kau harus berpisah dengannya"


“Kalian tak masuk akal sama sekali”Daniel pun segera bangkit dari duduknya dan pergi. Shamus mencoba memanggilnya kembali namun sia-sia.


Tak berapa lama selang kepergian Daniel. Ponsel Daniel bergetar. Shamus yang duduk paling dekat dengan ponsel itu pun menoleh melihat nama yang tertera di layar “Cotton Candy is Calling". Shamus mengerutkan alisnya melihat nama kontak yang tertera.


“Sejak kapan dia jadi kekanak-kanakan? “Batin Shamus. Tentu saja bukan Daniel yang merubah nama kontak itu, Aralah yang malakukannya. Awalnya Daniel pun merasa risih dengan nama kontak itu tapi Ara mengancam jika nama di ganti ia akan marah besar, akhirnya Daniel mengalah pada istrinya itu.


Shamus akhirnya mengabaikan nama kontak itu, ia langsung tahu itu adalah Ara. Buru-buru Shamus menolak panggilan itu, lalu ponsel itu berdering lagi, ia pun menolak panggilan itu untuk kedua kalinya. Tak berapa lama notifikasi pesan masuk, shamus membukanya lagi-lagi dari Ara, ia membaca pesan itu, Ara mengatakan ia akan pergi ke kota G untuk bekerja dan berharap Daniel menghubunginya. Shamus tertawa kecil dan membalas pesan Ara. Setelah terkirim, pesan itu ia hapus beserta riwayat panggilan Ara barusan.


“Kau seharusnya kau tak pernah bermain-main dengan seekor singa”Batin Shamus dengan senyum licik.


***


3 jam berlalu sejak keberangkatannya, akhirnya ia sampai di kota G. Ia dan Elly masuk ke dalam hotel dan beristirahat sejenak. Ara masih merasa tak enak badan. Berat badannya bahkan mungkin sudah turun karena ia terlihat lebih kurus.


“Elly meeting dengan Win grup jam berapa?"


"1 jam lagi"


“Baiklah, siapkan dokumennya”Seru Ara sambil merogoh isi tasnya untuk mengambil ponsel.


Ia mencoba mengaktifkan ponselnya karena seperti yang kalian tahu di dalam pesawat ponsel harus dalam keadaan tidak aktif. Setelah aktif nada dering notifikasi pesan ponselnya berbunyi, tertera nama Daniel disana. Ara tersenyum. Akhirnya pria itu membalas pesannya. Ia buru-buru membuka pesan itu.


From: My Daniel 🖤


“Aku sudah putuskan untuk bertunangan dengan Windy, surat cerai akan segera ku kirimkan padamu"


Bak tersambar petir, wajahnya yang semula senang, tiba-tiba berubah. Matanya segera berkaca-kaca. Dengan cepat ia mencoba menghubungi no Daniel, tetapi no itu tidak aktif. Berkali-kali mencoba hasilnya tetap sama. No tidak aktif. Air matanya menetes deras, ia segera meringkuk di lantai.


“Tak ku sangka Windy berhasil merebut mu. Aku kira kau tak akan berpaling, ternyata aku salah dan kau tetap pergi"