Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 68: Aku sendirian



Beberapa lama berselang, Di tengah perjalanannya kembali ke TopHill, ia baru menyadari ponselnya tertinggal di rumah sakit. Akhirnya ia memutar balik mobilnya dan kembali ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Daniel langsung menuju bangsal Windy.


"Daniel, kau kembali?" Tanya Windy tersenyum menyambut Daniel. Wajah Daniel begitu dingin. Bahkan ia tak menggubris Jenny yang menyapanya.


"Di mana ponselku?"


"Ini, kenapa kau begitu ceroboh meninggalkan ponselmu" Windy menyodorkan ponsel pada Daniel, Daniel menerima ponsel itu kemudian tanpa sepatah katapun pergi meninggalkan Windy dan Jenny.


"Kenapa kau ingin sekali menikah dengan bongkahan es seperti itu Win?" tanya Jenny sambil menggelengkan kepalanya.


"Tentu saja karena tampan dan dia kaya raya, apa kau tak bisa melihatnya"


***


Selama perjalanan menuju TopHill, Daniel tiba-tiba ingin menghubungi Ara. Beberapa kali is mencoba menghubungi istrinya itu namun tak ada jawaban. "Apa dia masih marah?" tanya Daniel dalam hati. Ia kemudian memutuskan untuk pulang ke StarLake.


Sesampainya di StarLake, ia masuk ke dalam rumah dan tak menemukan Ara ataupun Paw di sana. Daniel berjalan menuju kamarnya, sambil tanganya tak berhenti menghubungi Ara, masih tak ada jawaban. Saat ia membuka pintu dan secara tak sengaja melihat ke dalam walk in closet, ia tak menemukan koper dan baju Ara. Matanya menghitam seketika.


"Kemana perginya dia? benar-benar berniat pergi?" tanya Daniel dalam hati. Ia kemudian menghubungi Yogi. Ia meminta Yogi mengecek semua penerbangan kemanapun atas nama Ara. "Tak mau hamil dan sekarang pergi tanpa memberitahuku. Bagus sekali, Nyonya Qin! "


*


Setelah kerjasama dengan Xander selesai, Ara masih berada di kota G untuk menyendiri. Bahkan ia meminta Elly untuk meninggalkannya sendiri. Awalnya Elly menolak, mana mungkin ia meninggalkan Ara sendiri di saat seperti ini. Tapi Ara memaksa, akhirnya mau tidak mau ia kembali ke kota A seorang diri.


Ara terus memikirkan kenapa hidupnya menjadi seperti ini. 1 tahun lalu meskipun ia bekerja di perusahaan kecil dengan gaji kecil sekalipun, ia bahagia hidup bersama Ibunya. Tak berpikir takdir merubah hidupnya dengan cepat. Sekarang hidupnya menjadi seperti sebuah lelucon konyol.


"Kenapa Tuhan seperti tak adil padaku? satu senyuman harus aku bayar dengan ratusan tangisan. Kenapa harus begitu?" Ara tak kuasa membendung tangisnya.


Beberapa saat menangis, Ara memutuskan untuk keluar menghirup udara malam. Ia berjalan di pelataran kota G. Kota G, seperti kota-kota lainnya. Sibuk, meskipun tak sesibuk kota A. Langkah kaki Ara mengayun tanpa tujuan. Beberapa saat kemudian, langkahnya terhenti mendengar sebuah Alunan lagu dari dalam sebuah kafe.


🎶 I know I'm not the only one


Who regrets the things they've done


Sometimes I just feel it's only me


Who never became who they thought they'd be


I wish I could live a little more


Look up to the sky, not just the floor


I feel like my life is flashing by


And all I can do is watch and cry


I miss the air, I miss my friends


I miss my mother, I miss it when


Life was a party to be thrown


But that was a million years ago


Lagu itu begitu sendu, seperti lagu itu, ia merindukan ibunya. Ingatan tentang perkataan Daniel waktu itu tentang ibunya tiba-tiba membuat Ara semakin sesak. Lagi-lagi air matanya jatuh. Ia terus berjalan, menemuka sebuah taman di tengah kota dengan banyak air mancur warna warni menari. Ia putuskan untuk duduk di bangku panjang memperhatikan anak-anak kecil dengan tawa bahagia mereka bermain dengan air mancur itu. Sesekali mereka mendekati ayah dan ibunya untuk berbagi tawa, terlihat begitu bahagia. Ara duduk memperhatikan keceriaan mereka. Kadang ia tersenyum, kadang juga ia menitikkan air mata.


"Aku berada di tengah-tengah keceriaan sebuah keramaian, tapi aku di sini memeluk es sendiri, hidup betapa tak adil untukku" batin Ara.


"Ara?" sebuah suara familiar masuk ke dalam pendengaran Ara. Seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya. Ara segera menoleh, seorang pria memakai mantel hitam dan di tangannya memegang sebuah permen kapas berbentuk bunga sedang tersenyum padanya dan tangannya menyodorkan permen kapas itu pada Ara. Ara menerima permen itu dengan tatapan terkejut.


"Ke.. Kevan.. bagaimana kau bisa di sini?"


Sejak kejadian di kota L beberapa bulan lalu. Ara tak pernah lagi mendengar tentang Kevan. Ia tak juga mencari tahu tentangnya, ia terlalu sibuk dengan pekerjaan belakangan ini. "Lagipula untuk apa mencari tahu tentang Kevan, Daniel juga tak akan senang" pikir Ara.


Kevan berada di kota G juga sedang menjalani bisnis dengan salah satu perusahaan besar di kota ini. Saat itu dalam perjalanannya kembali menuju hotel, ia tak sengaja melihat Ara bersama Xander keluar dari sebuah gedung, saat mereka sedang meninjau lokasi untuk kerja sama dua hari lalu. Melihat sosok Ara, Kevan segera menghentikan laju mobilnya. Awalnya ia tak yakin itu Ara, namun saat beberapa lama ia perhatikan ternyata benar dia Ara. Sejak siang itu, Kevan mencari tahu keberadaan Ara di kota G, dimana ia tinggal dan sedang apa ia di sini.


" Aku sedang perjalanan bisnis, jangan salah paham padaku, Ra. Aku tak sedang mengikutimu" ucapnya sambil menatap ke depan tanpa menoleh pada Ara. Perkataan Kevan tadi juga menjawab tanda tanya di hati Ara.


"Hmm, begitu" jawab Ara singkat.


Beberapa saat mereka diam, mata mereka hanya terpaku pada anak-anak kecil yang masih tertawa bermain-main dengan air mancur. Sesekali Ara melirik pada Kevan. Ia tak menangkap tatapan aneh dari Kevan seperti terakhir kali mereka bertemu. Tatapan mata Kevan lebih lembut.


"Apa kau baik-baik saja?" Kevan menoleh pada Ara.


"Aku?memangnya aku kenapa?" Ara berusaha menyembunyikan semua hal.


Meskipun ia tak pernah bertemu dengan Ara, buka berarti ia menutup mata tentang wanita yang sampai hari ini masih memenuhi beberapa ruang di hatinya itu. Pemberitaan tentang Windy, Fire Gate, bahkan tentang suaminya, Daniel. Terkadang ada perasaan ingin menghubungi Ara, namun itu akan menjadi masalah besar untuk gadis itu dan dirinya. Sudah terlalu banyak skandal yang terjadi, hal itu mempengaruhi kondisi perusahaannya. Lagipula sejak kejadian di kota L, perusahaan Wingsley sempat drop, sampai hari ini ia masih berusaha menstabilkan kembali perusahaannya.


Banyak hal yang ia pikirkan dan renungkan beberapa bulan ini. Baik tentang Ara dan Sisil. Setelah kejadian di kantor itu, Kevan mulai mengerti. Ara sudah memiliki dunianya sendiri, hatinya sudah terisi penuh oleh Daniel. Sedangkan Sisil, ia sedang mengandung anaknya. Awalnya ia terpaksa menerima Sisil, namun berada di sampingnya, melihat pertumbuhan bayi yang di kandungnya, lama kelamaan perasaan pun tumbuh dan perlahan melupakan Ara.


"Aku banyak mendengar tentang Daniel dan Windy, aku pikir kau datang kesini untuk menghindar, ternyata untuk bekerja"


"Aku tak selemah itu Van"


Meskipun Ara berkata begitu, ia tahu pasti ia sedang lemah saat ini. Hal itu terlihat dari matanya yang masih terlihat sedikit sembab. Jika ia baik-baik saja, ia tidak akan berada di sini sendiri.


"Kau memang tak lemah, tapi juga tak baik-baik saja sekarang"


"Oh ya, Bagaimana kabar Sisil?" tanya Ara mengalihkan pembicaraan.


"Dia baik, ia sedang hamil 4 bulan sekarang"


"Benarkah itu?aku ikut senang. Jagalah dia baik-baik Van, dia begitu mencintaimu. Akan lebih baik merasa di cintai daripada hanya mencintai," Ara tersenyum pada Kevan. Ada sedikit perasaan aneh datang di hati Ara setelah mendengar kehamilan Sisil. Bagaimanapun juga, Kevan adalah orang pertama yang membuatnya "merasakan" pengalaman itu.


"Ah sudahlah, sudah malam Van, baiknya aku kembali ke hotel" ujar Ara sambil bangun dari duduknya. Namun langkahnya tertahan, Kevan menarik tangan Ada hingga membuat Ara kembali duduk. Ia kemudian merogoh kantong mantelnya. Ia mengeluarkan sebuah cincin. Itu cincin keluarganya. Mata Ara terbelak.


"i.. ini.. "


"Benar, ini aku kembalikan padamu," Kevan meraih tangan Ara dan meletakan cincin itu di dalam genggaman Ara. Ara masih tak percaya dengan apa yang ia genggam sekarang ini. Tapi, apa gunanya sekarang? Awalnya ia mencari cincin itu untuk menyelamatkan ibunya, tapi ibunya kini sudah tiada, apa gunanya lagi cincin ini?


"Van, aku ingin kau jawab jujur padaku, dimana ibuku? apa ibuku masih hidup?," Ara menoleh pada Kevan, matanya berkaca-kaca begitu sendu. Kevan menatap mata Ara, tak pernah sesendu ini, bahkan ketika ia datang di acara pernikahannya dulu. Kevan menghela nafasnya.


"Ara, maafkan aku pernah berbohong padamu tentang ibumu, ibumu.... " Ara menatap wajah Kevan dengan hati yang carut marut. Ia berharap Kevan mengatakan hal yang ingin ja dengar bahwa ibunya baik-baik saja meskipun hanya sebuah kebohongan, namun kenyataan tetap kenyataan,"Ibumu kemungkinan besar sudah meninggal, aku berusaha mencari tahu dimana ibumu berada tapi fakta yang ku temukan ia melarikan diri dari tempatnya di asingkan, banyak anak buah dari ayahmu mengejarnya hingga ke tepi jurang, karena panik ia pun jatuh terperosok ke dalam jurang. Tapi hingga kini tubuh ibumu tidak bisa di temukan karena dalam dan curamnya jurang itu Ara, aku rasa Daniel juga sudah mengetahuinya. Aku tahu dia juga mencari tahu tentang ibumu. "


Ara terdiam setelah mendengar ucapan Kevan. Ia berusaha menenangkan dirinya, menguatkan hatinya. Nyatanya, memang kata menakutkan itu yang keluar dari bibirnya.


"Sekarang tidak ada lagi yang tersisa, aku sendirian"