Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 129: Pulang



Dari luar Ara mendengar semua obrolan mereka yang di dalam, pikiran Ara jadi sedikit rumit.


"Bukankah dia bos TopHill dan lagi ia pernah memberikan ku kartu nama dengan namanya dan dia adalah CEO Down Grup, lalu kenapa dia bilang bgtu? apa dia kehilangan semuanya karena bersamaku?"


"Ara.. " Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang kepalanya membuatnya tersentak kaget dan langsung berbalik. Aldric berada di belakang tubuhnya dengan wajah bingung, "Sedang apa kau di sini?" tanyanya pada Ara yang masih berdebar karena kaget.


"Aku, sedang mencari Brandon"


"Di depan ruang kerja Kakek? apa Brandon di dalam?" tanya Aldric.


"Tidak ada, aku pergi dulu" senyum aneh Ara buru-buru membawa langkahnya berusaha menjauh dari Aldric,


"Ara tunggu" Ujar Aldric pada Ara yang mulai melangkah, langkah Ara terhenti kemudian menoleh, "Aku ingin bicara padamu," ujar Aldric masih berada di depan pintu ruang kerja Shamus. Beberapa detik mereka hanya diam.


"Apa yang paman ingin bicarakan?"


Aldric menatap Ara dalam-dalam, pandangan matanya lembut melihat wanita muda di sampingnya itu.


"Kau adalah menantuku, sebaiknya panggil aku Ayah. Aku menganggapmu seperti putriku sendiri" ujarnya. Ara mendengar ucapan Aldric tak berbicara sepatah katapun. "Kau pasti sudah mendengar apa yang mereka bicarakan di dalam bukan?"


"Aku tidak mendengar apapun"


Aldric tersenyum kecil seakan Ara bisa membohongi dirinya, "Tentang prasangka mu pada Daniel, itu tidak benar. Daniel mencintaimu Ara, jika tidak dia tidak akan berkorban sebesar ini untukmu"


"Berkorban besar? berkorban apa?"


"Kakeknya marah besar padanya, ia bahkan memberikan posisi dan jabatannya pada sepupunya yang Daniel benci. Bukan hanya itu semua akun keuangannya di bekukan karena ia menolak menikah dengan Windy untuk bersamamu. Dia kehilangan segalanya untukmu Ara. Aku sudah berulang kali membujuknya tapi dia sendiri yang menolak dan tetap ingin bersamamu. Aku harap kau jangan meragukannya"


Akhirnya jawaban di hatinya terjawab sudah, Daniel kehilangan kerja kerasnya karena ingin bersamanya dan menolak bersama Windy. Bahkan ia tega memenjarakan seorang Artis ternama internasional demi dirinya.


"Sebenarnya, aku bertemu dengan ibumu untuk membujuknya kembali pada keluarga Li,aku tahu seperti apa Higa. Aku pikir ibumu sudah ditelantarkannya dan melihat ibumu menderita aku sangat merasa bersalah padanya. Tapi aku tak menyangka ayahmu diam-diam memperhatikan ibumu hingga semakin mempersulit kalian. Aku minta maaf"


Ara melihat wajah Aldric, ada sebuah keputus asaan di sana. "Apa kau masih mencintai ibuku?" tanya Ara.


"Ibumu adalah cinta pertamaku Ara," Jawab Aldric singkat.


Ara menghela nafas, Ara merasa di kepalanya begitu banyak beban dan kenangan pahit yang tiba-tiba dia ingat membuatnya sakit kepala.


"Ayah mertua, kau tak tahu seberapa aku membencimu sekarang. Kenangan pahit itu sungguh tak bisa aku lupakan tapi ada banyak hal yang lebih penting untuk ku yang harus aku selesaikan. Jadi sementara waktu aku ingin melupakan masalah ini, lagipula mungkin ibuku sudah tenang di surga, permintaan maaf mu juga pasti sudah tidak ada gunanya"


Di sela obrolan mereka, tiba-tiba pintu terbuka, Ara dan Aldric langsung menoleh ke arah pintu. Daniel yang keluar dari ruangan sedikit kaget melihat Ara dan ayahnya berada di depan pintu.


"Ara kenapa kau ada di sini?" tanya Daniel dingin.


"Tidak ada, aku mencari Brandon dan tidak sengaja bertemu dengan ayahmu" jawab Ara, Daniel tentu saja tidak percaya. Tapi ia berusaha mengabaikan perasaannya dan matanya tertuju pada Aldric.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan istriku, kami permisi dulu yah" ujar Daniel pada Aldric, Aldric hanya mengangguk dan kemudian ia menarik tangan Ara membawanya ke kamar meninggalkan ayahnya sendiri.


"Apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Daniel pada Ara sesampainya di kamar.


"Daniel, apa benar kau kehilangan jabatan dan akunmu di bekukan karena aku? " Tanya Ara mengabaikan pertanyaan Daniel.


Daniel mengerutkan Alisnya, "Kau tahu dari siapa? ayahku?" tanyanya menyelidik.


"Aku mendengar obrolan kalian di ruang kerja kakekmu, apa yang tadi kau katakan itu benar?"


"Benar,"Ujar Daniel dengan santai.


"Lalu kenapa? apa kau tidak mau bersamaku jika aku benar-benar pengangguran dan tak punya uang?" tanya Daniel dingin sambil berjalan mendekati Ara hingga tubuhnya membentur tembok.


"Tentu saja tidak" jawab Ara tersenyum sinis, "Kalau kau tak bekerja, bagaimana bisa menghidupi aku dan Brandon?" sambungnya membuat Daniel tertawa.


"Haha, tenang saja istriku kan direktur FireGate," tawa Daniel semakin pecah.


Setelah mendengar ucapan Daniel, wajahnya berubah menjadi sangat serius. Bagaimana bisa di sebut direktur kantor besar itu jika untuk bisa melewati pintu gerbangnya saja hampir tidak mungkin. Clara mem-blacklist nya 3 tahu lalu, lalu bagaimana caranya bisa merebut kembali Fire gate dan juga bagaimana caranya untuk membalas Clara dan Elly yang sudah tega mencelakakan dirinya? wajah Ara seketika muram. Melihat Ara tak ikut tertawa, Daniel mengerutkan alisnya dan tawa di bibirnya seketika menghilang.


"Apa aku bisa merebut posisi dan juga perusahaan itu dari Clara? tiba-tiba aku ragu" ujar Ara memejamkan matanya dan menghela nafas dalam-dalam.


Melihat nada keputusasaan dan keraguan darin istrinya, Daniel segera memeluk tubuh wanita di depannya itu.


"Aku percaya istriku bisa, aku akan membantumu. Data mereka masih di tanganku"


Mata Ara seketika membelalak kaget, ia mendorong tubuh Daniel dengan Satu tangannya melepaskan pelukan suaminya itu,


"Daniel, apa kau masih menyimpan data keuangan Fire Gate yang pernah kita curigai itu?!" tanya Ara tiba-tiba bersemangat.


"Tentu saja" jawab Daniel tersenyum sambil membawa tubuh Ara masuk lagi ke dalam perlukannya.


"Daniel,Kita harus segera kembali ke kota A"


"Hemm, iya sayang"


***


Keesokan harinya, Daniel, Ara dan Brandon akhirnya kembali ke kota A bersama menggunakan helikopter pribadi milik keluarga Qin.


Sesampainya mereka di Starlake, Daniel dan Brandon turun dari mobil di susul Ara. Mereka di sambut oleh Yogi dan seorang Nanny untuk Brandon yang sudah sejak tadi menunggu mereka. Di tangan Yogi memegang 2 ekor tali anjing, siapa lagi kalau bukan Paw dan juga Happy. Mereka berputar-putar mengelilingi tubuh Yogi, seakan senang akhirnya melihat dia orang majikannya kembali. Brandon segera turun dari gendongan Daniel dan bermain dengan Paw dan Happy. Ia terlihat sangat senang.


"Bos, dia adalah Lisa, Dia yang nantinya membantu mengasuh bos kecil"


"Selamat siang Tuan Daniel, Nyonya Ara dan juga Brandon, nama saya Lisa, " sapa Lisa pada Ara, Daniel dan Brandon.


"Siang Lisa, semoga kau betah ya bekerja di sini" ujar Ara ramah pada Lisa. Lisa mengangguk dan tersenyum.


Dengan perlahan mereka memasuki rumah itu. Pandangan mata Ara segera mengedar seperti menyiratkan rasa rindu. Sudah 3 tahun lamanya setelah kejadian itu, terakhir kali ia pergi ke rumah ini untuk meletakkan surat cerai di atas meja rias kamarnya. Tak di sangka ia datang lagi bukan bercerai tapi justru rujuk dan juga membawa putranya Brandon.


"Rumah ini, masih seperti dulu" ujar Ara.


"Tentu saja, kau tau tidak bu bos kalau Bos Daniel hampir tidak pernah kembali ke rumah ini selama kau tidak ada. Dia menjadikan TopHill sebagai rumahnya. Membuatku menderita setiap hari" seru Yogi memasang wajah sedihnya. Daniel seketika melotot pada Yogi tapi Ara justru tertawa dan membuat Yogi pun ikut tertawa.


"Mungkin seharusnya kau liburan selamanya saja Yogi," ujar Daniel ketus pada asisten setianya itu. Membuat tawa Yogi seketika berhenti dan menggerakkan tangannya seakan mengunci mulutnya.


"Benarkah kau tidak pernah pulang Daniel?" tanya Ara menoleh pada Daniel di belakangnya.


"Tidak ada kamu maka rumah ini bukan rumah Ara" ujarnya singkat.


"Lagi-lagi gombal" ucap Ara pada Daniel memalingkan wajahnya.


Beberapa jam berlalu, setelah makan siang bersama Lisa membawa Brandon pergi ke kamarnya, sebuah kamar yang sudah di persiapkan Daniel untuk anak semata wayangnya sejak mereka masih ada di rumah keluarga Qin. Sedangkan Daniel bersama Yogi berada di ruang kerja Daniel. Sudah hampir satu jam mereka ada di dalam, sepertinya mereka sedang serius membicarakan perkerjaan mereka. Ara akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mereka.


"Klak" pintu terbuka. Ruangan itu masih sama, selalu bersih dan sangat rapi. Tangan Ara menyentuh setiap apa yang di lewatinya dan langkahnya terhenti di depan meja rias. Di atas meja rias itu tidak ada apapun selain sebuah kotak perhiasan kecil berwarna biru navy yang ia ingat itu adalah kotak cincin kawin yang pernah Daniel berikan untuknya dan ia kembalikan 3 tahun lalu. Dengan ragu, ia membuka kotak itu. Sebuah cincin bermata berlian dengan model yang terlihat sama persis dengan kalung yang ia gunakan sekarang. Melihat cincin itu masih berada di tempatnya, hati Ara bergetar dan air matanya jatuh. Antara sedih, sakit dan juga bahagia kembali hadir di hatinya. Ia pernah sangat bahagia mendapatkan cincin ini dari Daniel, tapi ia mengenakannya hanya satu minggu setelahnya ia harus melepasnya lagi. Jika di ingat-ingat, betapa dirinya begitu bodoh dan aneh.


"Jika aku tak pernah menolak memiliki anak bersama Daniel, Daniel pasti tidak akan marah dan mungkin kami tidak akan berpisah seperti dulu dan juga mungkin Brandon akan merasakan kasih sayang ayahnya sejak ia berada di dalam kandungan" bisik Ara dalam hati tiba-tiba merasa sesak dan bersalah pada anak semata wayangnya itu.