
Melihat Video itu, itulah kehancuran besar di hari Ara. Harapannya, seketika hancur, Daniel benar-benar memutuskan untuk berhenti. Ia bahkan tak peduli pada anak yang ia kandung saat ini.
"Inikah alasan kenapa kau tak membalas semua pesan dan panggilan ku Daniel? kenapa kau bisa setega ini padaku? bagaimana bisa kau mengacuhkan anakmu sendiri Daniel?"Batin Ara meringkuk menangis sejadi-jadinya.
"Sisil, apa kau puas sekarang??! kau tahu, Ara sedang hamil 2 bulan dan itu anak biologis dari Daniel. Kondisinya sangat lemah saat aku menolongnya dan sekarang kau membuat kondisinya semakin buruk! jika terjadi apapun pada Ara, aku tak akan membiarkanmu" Bisik Kevan pada Sisil dengan wajah yang mengerikan. Mendengar ucapan Kevan, Sisil tak bergeming, sedikit rasa bersalah di hatinya. Ia tak tahu Ara sedang mengandung dan sekarang ia di tinggalkan oleh Daniel. Ia bisa membayangkan betapa menyakitkan perasaannya saat ini.
"Ara, kau tak apa-apa?! ayo aku antar kau ke kamarmu" ujar Kevan sambil berusaha membuat Ara berdiri. Namun Ara menepis nya. Ara kemudian berdiri dan menyeka air matanya. Melepas mantel Kevan yang ada di tubuhnya dan memberikannya pada Kevan.
"Van, Sisil sedang hamil, kau harusnya lebih memperhatikannya daripada hanya memperhatikanku. Aku baik-baik saja. Sebaiknya kau ajak Sisil kembali, aku bisa menjaga diri ku sendiri, terimakasih kau sudah menolongku. Mulai sekarang, jangan temui aku lagi, biarkan aku sendiri." Ara kemudian memalingkan wajahnya pada Sisil dan tersenyum "Sisil, aku tak pernah berniat merebut Kevan darimu, mulai saat ini jangan lagi salah paham padaku. Jaga baik-baik anak di kandungan mu" Sebuah senyuman getir tertarik di bibir Ara.
"Ara, kau tak sendiri, Xander dan istrinya mereka adalah paman dan bibimu! Xander adalah adik kandung ibumu,! " Sebuah suara dari Kevan berhasil menghentikan langkahnya. Ia kemudian menoleh lagi pada Kevan dengan wajah bingung. Kevan mendekati Ara, " Mereka benar-benar keluargamu, aku seharusnya tak mendahului mereka mengatakan ini, mereka baru akan mengatakannya saat kondisimu lebih baik, tapi karena ulah seseorang..."Kevan menoleh ketus pada Sisil, "aku jadi khawatir padamu, tapi kau harus tahu bahwa kau tak sendiri, jadi kembalilah pada mereka, kau akan baik-baik saja" sambung Kevan.
Ara masih tak percaya dengan perkataan Kevan. Tapi yang di katakan nya masuk akal, dengan perlakuan Xander dan Meira selama ia di rumah sakit, memang tak seperti kolega biasa, mereka seperti keluarga. "Apakah yang di katakan Kevan itu benar?".
" Lelucon apa lagi ini Van?,"
"Itu bukan lelucon Ara! mereka benar-benar keluargamu, bahkan Xander diam-diam memperhatikan mu dari jauh"
Ara diam, berusaha berpikir apa yang terjadi. Kepalanya seperti tak bisa lagi menampung semua informasi mengejutkan ini. Terlalu banyak , terlalu mendadak. Kepalanya seketika berputar-putar. Ia pingsan dan saat terbangun ia sudah berada di bangsal.
Ia melihat Meira dan Xander berdiri di samping tempat tidurnya dengan wajah cemas. Ara memegangi kepalanya yang masih sedikit pusing. Meira melihat Ara membuka matanya langsung menekan tombol di atas nakas untuk memanggil dokter. Tak berapa lama dokter datang dan memeriksa Ara. Untungnya tak ada yang mengkhawatirkan. Ara hanya sedikit stress, tubuhnya belum bisa menerima terlalu banyak adrenalin sehingga jatuh pingsan. Tapi hari ini Ara diperbolehkan untuk pulang, ia memberikan beberapa vitamin dan obat untuk memperkuat janin Ara. Mendengar ucapan dokter, Xander dan Meira tersenyum lega.
"Ara, apa yang terjadi padamu? kenapa kau tiba-tiba pingsan? Kevan menghubungi kami semalam, kami panik dan langsung datang" Seru Meira tersenyum dan menggenggam tangan Ara.
"Dimana Kevan sekarang?"
"Ia kembali ke kota A, ia memintaku mewakilinya untuk meminta maaf padamu tak bisa pamit secara langsung karena tiba-tiba perusahaannya dalam masalah"
"Oh begitu," Beberapa detik Ara terdiam. Ia menatap Xander yang berdiri, menatapnya terdiam. Wajahnya sungguh seperti menyembunyikan banyak hal. "Tuan Xander, apakah tidak ada yang ingin anda jelaskan padaku?" Tanya Ara. Meira yang duduk di samping Ara, seketika menoleh pada Xander. Xander menghela nafas panjang dan mendekati tubuh Ara.
"Sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan, Tuan?" Sela Ara dengan nada sedikit meninggi.
"Aku adalah pamanmu, kami adalah keluargamu Ara" Mendengar ucapan Xander, Air mata Ara mengalir.
"Jika kau benar keluargaku dan pamanku, kenapa baru datang sekarang??? aku dan ibu sudah begitu menderita dan sekarang ibuku sudah tiada, kalian baru datang? Apakah kalian pikir ini tak cukup terlambar?"
"Ara dengarkan kami, kami selalu datang pada ibumu tanpa kau tahu, kami berulang-ulang memintanya kembali ke keluarga Li, tapi ia selalu menolak. Ia begitu mencintai Higa hingga kami dengar ia menghilang, berbagai cara kami pikirkan untuk bisa menemuimu tapi orang Higa selalu ada di sekitarmu, entah kau sadar atau tidak. Higa melarang kami menemuimu, hingga akhirnya kami mendengar Higa dan Cliff koma di rumah sakit, kami baru bisa menemuimu" Seru Meira.
"Ka.. kakek koma? sejak kapan? benarkah?" Sekali lagi Ara terkejut.
"Yang Meira katakan benar Ara. Kau jangan salah paham pada kami, kami sudah cukup berusaha. Jadi kembalilah ke keluarga Li, kita besarkan anakmu bersama. kau dan anakmu akan aman bersama kami nantinya" Ara menatap Meira dan Xander dengan bimbang. Jika benar yang mereka katakan, kemana lagi ia harus datang pada akhirnya, tentu saja harus datang pada keluarganya. Romanof sudah pasti bukan keluarganya, Daniel pun sudah akan menikah dengan Windy, satu-satunya keluarga adalah keluarga Li, setidaknya itu keluarga ibunya.
"Baiklah, aku setuju. Tapi aku harus menyelesaikan masalahku di kota A dulu, baru aku akan kembali ke sini untuk tinggal bersama kalian."
"Ara, apa lagi yang ingin kau selesaikan di sana? bertemu dengan Daniel? ini akan lebih membuatmu sakit hati. Atau perlu aku temani? " Wajah Meira terlihat begitu khawatir.
"Tak perlu bi, aku bisa sendiri. Aku tak akan bertemu dengan Daniel, hanya ingin bertemu dengan kakek Cliff, kalian tak perlu khawatir"
"Baiklah, tapi jika ada masalah kau harus segera menghubungi kami" Seru Xander. Ara pun mengangguk setuju.
***
Sekembalinya Ara ke kota A. Ara langsung menuju apartemennya. Ia tak mungkin kembali ke StarLake, itu sudah bukan rumahnya lagi. Saat sampai di depan pintu, ada sebuah amplop putih di dalam kotak suratnya, ia mengambil surat itu dan membuka pintu apartemennya.
Beberapa detik, Ara berhenti di depan pintu. Sisa kenangannya bersama Daniel segera menyambutnya. Di setiap sudut ruangan apartemennya, Ara seperti melihat bayangan Daniel sedang berdiri dan tersenyum padanya. Air mata Ara kembali jatuh. Ara menutup pintu apartemennya dan berjongkok meringkuk di depan pintu.
"Daniel, aku merindukanmu" bisiknya sambil terisak.