Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 102 : 3 buah tiket pesawat dan 1 buah voucher menginap



Setelah percakapan itu, ara tak kembali ke rumah sakit, Xander meminta Ara untuk pulang dengan suara yang sedikit berat. Sepertinya pamannya itu sedang dalam kondisi mood yang tidak baik. Daniel menatap Ara seperti sedang bertanya ada apa?


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Daniel cemas karena melihat wajah Ara yang tidak tenang.


"Aku tidak tahu, aku harus pulang"


"Baiklah aku antar kau pulang, masalah Cliff kau tak perlu khawatir, aku akan menjaganya"


Ara tersenyum dan mengangguk, mereka pun akhirnya kembali ke kediaman keluarga Li.


Sesampainya di rumah, Xander sudah menunggu Ara di ruang keluarga. Saat Ara masuk, Pria paruh baya itu sudah menghujani Ara dengan tatapan tajam dan dingin. Ara kemudian duduk.


"Ada apa, Paman?"


"Apa yang kau lakukan di rumah sakit hari ini, Ara?" tanya Xander menatap Ara tajam.


"Kakek Peter tiba-tiba terkena serangan jantung, aku membawanya ke rumah sakit dengan Dr Mia, hanya itu paman"


"Lalu sekarang apa kau sudah tahu siapa sebenarnya Peter, Ara?"


Ara:"...."


"Ara, apa kau sekarang benar-benar memutuskan untuk kembali pada mereka? benar-benar memutuskan mengulang semua luka mu?"


"Paman, apa aku harus terus lari dari kenyataan hanya karena ingatanku tidak juga kembali?Sekarang, Peter hanya memiliki aku dan Daniel di sisinya, ia kehilangan semuanya lalu apa aku tega membiarkannya sendiri? Darahku bukan hanya darah Li saja tapi juga Romanof, Paman? katakan aku sekarang harus bagaimana?"


"Tapi mereka selalu menyakitimu, tak terkecuali dengan Daniel! Ara sudahlah, lepaskan masa lalumu, Denis mencintaimu! bukalah hati untuknya Ara."


"Paman, aku sudah memutuskan untuk menolaknya, ini bukan karena Daniel atau siapapun, aku telah menolak Kak Denis karena hatiku sendiri. Jadi tolong hargai keputusanku, masalah Peter aku akan pikirkan, sekarang aku akan menemui Brandon dulu paman"


Kemudian Ara berbalik meninggalkan Xander. Langkah Ara gontai di iringi pikiran beratnya tentang masalah yang sedang terjadi. Masalah ini kenapa semuanya datang bertubi-tubi. Dua tahun belakangan ini hidupnya seakan tak memiliki masalah berarti, sekarang sejak ia bertemu dengan Daniel, satu persatu cerita masalalunya semakin terungkap. Ucapan Denis dan Daniel berputar -putar di kepalaknya.


Denis meminta Ara meninggalkan masalalunya sedangkan Daniel meminta Ara mencari tahu kebenaran masalalunya. Aku harus bagaimana? aku harus pilih yang mana?


Ara masuk ke dalam kamar Brandon, melihat Brandon tengah terlelap tidur. Ia duduk di sisi ranjang tempat tidur sambil mengusap lembut kepala anaknya itu. "Brandon,kaulah satu-satunya kebahagiaan yang selalu aku syukuri"


Tok.. tok... tok.. Sebuah ketukan di pintu membuat Ara tersentak dari lamunannya. Ia menoleh ke belakang dan melihat Meira masuk ke dalam mendekati dirinya. Ia sekarang berdiri di hadapan Ara dengan senyuman lembutnya menatap Brandon.


"Tak terasa ia tumbuh begitu cepat, ia terlihat sangat bersemangat dan ceria. Sangat bagus"


"Hemm kau benar bi, aku bersyukur memiliki kalian di sisiku, jika bukan karena kalian dan kak Denis, mungkin aku tak akan tertolong lagi"


Meira kemudian duduk di depan Ara, menyodorkan sebuah amplop dan meletakkannya di tangan Ara. Ara mengerutkan alisnya kemudian membuka isi amplop itu. Itu di kirim oleh panitia lomba keluarga bahagia yang beberapa hari lalu ia ikuti bersama Daniel dan Brandon. Isi dari surat itu, mereka terpilih dan diundang pergi ke pulau Wanalulu untuk mengikuti babak seleksi selanjutnya. Di dalam amplop itu juga berisikan 3 buah tiket pesawat dan 1 buah voucher menginap di salah satu resort di pulau itu. Ara seketika mendongak dan menatap Meira.


"Ingin menyelesaikan yang belum selesai atau pilih melupakan dan maju ke depan. Jawabannya ada di sini"


Meira tersenyum kemudian meletakkan tangannya di dada Ara.


***


Di rumah sakit..


Daniel duduk tak jauh dari tempat Cliff terbaring. Ia sibuk dengan laptopnya sepanjang malam, terlalu sibuk dengan masalah pribadi ia tak menyadari banyak laporan perusahaan yang Yogi sudah kirimkan via email. Bahkan beberapa kali dalam Emailnya, Yogi memintanya segera kembali ke kota A untuk menyelesaikan beberapa tugas yang tak bisa ia selesaikan sendiri.


"Bos, cepat kembalilah!! aku tak sanggup menghadapi semua ini, menggantikan posisimu selama ini apa kau sedang berpikir untuk memberikan semua perusahaanmu padaku?" ujar Yogi dengan banyak emote menangis di dalam email itu, membuat Daniel sedikit terkekeh. Yang di katakan Yogi ada benarnya, Ara mengalihkan semua perhatian Daniel kepadanya. Banyak pekerjaan yang tertunda karena sudah hampir satu minggu Daniel pergi ke kota G.


"Baiklah, tunggu sebentar lagi aku akan kembali dan membawa nyonya bos kalian" balas Daniel dengan sebuah emote senyum di akhir kalimat.


Saat Yogi mendapatkan email dari bosnya itu, Yogi hanya menggelengkan kepalanya. "Jika aku jatuh cinta nanti, apa aku akan segila dirinya sampai menelantarkan kerjasama bernilai ribuan dolar hanya untuk wanita? benar-benar gila" batin Yogi yang sedang duduk di mejanya yang penuh dengan berkas kerja sama yang tertunda. "Menyebalkan!!" gerutu Yogi.


Lama memeriksa beberapa lembar pekerjaannya, seseorang tiba-tiba masuk ke dalam bangsal mengenakan jubah dokter. Daniel menoleh pada Denis.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Denis dengan kedua tangan masuk ke dalam kantung jubah dokternya. Daniel tak menjawab hanya berdiri kemudian berjalan ke luar di ikuti Denis di belakang. Mereka berjalan menuju kafetaria rumah sakit. Setelah memesan cappucino dan teh hangat, Denis dan Daniel saling men lempar tatapan dinginnya.


"Ada masalah apa? silahkan bicara, Dr. Denis"


"Kenapa kau kembali,Daniel?apa kau tak bisa melihat Ara yang sudah bahagia dua tahun ini, lalu kenapa kau mencoba merusak kebahagiaannya?"


Daniel tak bereaksi apapun, hanya senyum ketusnya sedikit tertarik di bibirnya. Dengan santai ia duduk bersandar. Daniel masih belum berubah, karakter elegan dan tenangnya benar-benar menghanyutkan. Ia seperti tak memperdulikan Denis yang menatapnya penuh dendam, dengan santai ia menyeruput cappucino-nya.


"Aku datang untuk membawa istriku pulang, apa masih belum terlihat jelas?"


"Membawa istri mu pulang dan kembali ke kehidupan rumitnya? apa kau tak lihat ia tak bahagia bersamamu? jika kau mencintainya maka pergilah dari sisinya"


Daniel meletakkan cangkir kopinya di atas meja dan mulai menatap Denis dengan serius.


"Sepertinya ada kesalahpahaman di sini Dr. Denis. Ara adalah istriku dan aku adalah suaminya,sekarang apa kau bisa katakan padaku sebagai apa statusmu di antara kami? "


Denis:"...."


"Jadi sekarang sudah jelaskan? bukankah di antara kita yang harus pergi seharusnya adalah kau sendiri?" usai mengatakan ucapannya Daniel tersenyum ketus dan bangun meninggalkan Denis yang tertegun.


"Benar, selain status sahabat dan kakak di mata Ara, aku bisa menjadi apa lagi?" batin Denis tersenyum getir sambil menyeruput teh yang sudah tak hangat lagi di depannya.