Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 81: Kalian ingin menolong kriminal?



"Ara, bangun!!!" Ara tersadar dari pingsannya seketika ketika segelas air membasahi wajahnya, seseorang menyiramnya kasar .


Ara membuka matanya perlahan, pandangannya kabur dan berputar, butuh beberapa detik agar pandangannya lebih jelas. Ia merasa tengkuknya begitu sakit, ia ingat seseorang memukul tengkuknya hingga tak sadarkan diri. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ia melihat Clara di depannya, tapi itu tak membuatnya terlalu terkejut. Ini memang sudah di perkirakan Ara, tapi gadis di belakang Clara yang membuat Ara sulit percaya, bahkan ia lebih berharap ia salah lihat. Elly ada di belakang Clara.


"E.. Elly?! kau.. kenapa?!" Ara benar-benar tak percaya Elly juga ada di belakang ini semua.


"Kenapa sekaget itu? semua orang bisa berubah Ara, seperti suamimu yang berubah dan berpaling ke lain hati" seru Clara


"Clara diam kau!! aku bertanya pada Elly!!" bentak Ara pada Clara, "Elly tak ingatkah kau kita bersahabat sudah sangat lama?siapa yang menyelamatkanmu dari Alan? siapa yang memberimu pekerjaan, tempat tinggal selama ini? tak ingatkah? begini caramu membalas kebaikanku? kenapa harus kau Elly? kenapa harus kau? kau satu-satunya sahabat ku!!", Ara tak bisa membendung air matanya. Kenapa semua orang yang ia cintai justru mengkhianatinya? bahkan Elly yang sama sekali tidak ia kira akan mengkhianatinya pun diam-diam menyiapkan belati di balik senyum dan perhatiannya, kenapa?


"Karena aku benci melihatmu di kelilingi banyak orang yang menyayangimu Ara, mereka sempurna, kau memiliki latar belakang keluarga terhormat, memiliki perusahaan luar biasa, sedangkan aku? aku hanya gadis miskin dari kota kecil di kota C. Aku ingin memiliki apa yang kau miliki sampai kakakmu menjanjikan semua yang ku inginkan, maafkan aku Ara, tapi aku tak ingin selamanya hidup seperti ini"


"Elly, mana yang kau bilang aku di kelilingi orang-orang yang sempurna? suamiku sempurna tapi dia meninggalkanku, keluargaku sempurna tapi lihat bagaimana mereka menjebak ku dan sekarang sahabatku sempurna tapi sekarang dia mencelakakan ku, lalu dimana letak sempurna di diriku yang kau lihat?!!! kau tega sekali padaku Elly" Ucap Ara terisak.


"Maafkan aku Ara"


"Menyenangkan sekali ya melihat drama sahabat mengkhianati sahabatnya" ujar Clara tertawa sambil bertepuk tangan kecil. "Tenang saja Elly, akulah pemegang kekuasaan tertinggi FireGate, aku tak akan mensia-siakan apa yang kau korbankan" Clara menoleh pada Elly dan menepuk-nepuk bahu Elly.


"Elly, kenapa kau tak berada di sisiku? kau berada di sisi yang salah Elly, cepat atau lambat Clara akan ku jebloskan ke penjara, jika kau berada di sisinya kau juga akan berakhir sama, sekarang belum terlambat Elly untuk membantuku" Ara memandang Elly dengan wajah memelas, Elly tak bergeming. Ada raut keraguan dengan apa yang ia lakukan sekarang, Ara berusaha meyakinkan tapi sia-sia. Ia tetap bertahan pada pendiriannya.


Clara perlahan mendekati wajah Ara, tangannya mencubit dagu Ara dengan kasar.


"Ara, katakan dimana dokumen keuangan perusahaan yang kau simpan?"


"Kenapa? kau takut? seharusnya jika kau pintar, kau tak akan memberiku banyak pekerjaan di masa lalu, apalagi pekerjaan itu seharusnya bukan tugasku, apa sekarang kau menyesal?"


"Benar, aku menyesal, tak ku kira kau sepintar itu hingga bisa menganalisis keuangan perusahaan, sungguh meremehkan dirimu, jadi jika kau ingin selamat, katakan dimana dokumen itu"


"Kau tak berpikir aku akan mengatakannya kan, Clara? kau benar-benar bodoh!!"


"Baiklah, aku akan memberikan kesempatan 2 hari untuk mu memikirkan kesempatan ini, ingatlah keselamatan anak di kandungan mu itu Ara, kecuali dia tak berarti apa-apa untukmu, kau boleh terus keras kepala seperti ini" Clara kemudian melangkah pergi, Elly mengikuti di belakang tanpa menoleh sama sekali pada Ara.


"Elly kenapa kau jadi seperti ini? apa salahku sebenarnya?"


***


Daniel keluar dari ruangan Shamus dengan wajah geram. Ia tak habis pikir, kenapa kakeknya sampai melakukan hal di luar batas seperti ini hanya untuk memisahkannya dengan Ara. Ia kemudian mengangkat ponselnya dan menghubungi Windy. Ia ingin pastikan sendiri nomor itu adalah nomor Windy yang lain.


"Windy kau dimana?"


"Bolehkah aku kesana?"


Mendengar pertanyaan Daniel, hati Windy seperti di penuhi dengan bunga-bunga indah. Ia begitu senang akhirnya Daniel perhatian padanya. Ia bahkan tak tahu apa maksud kedatangan Daniel nantinya.


"Tentu saja, kau calon suamiku, bagaimana bisa aku menolaknya"


"Bagus, kirimkan aku alamatmu sekarang"


"Baiklah, sayang"


Akhirnya Daniel segera datang ke lokasi pemotretan Windy, wartawan bahkan meliput dan menyambut kedatangan bos besar TopHill itu. Aura dingin Daniel benar-benar bisa membekukan tempat itu seketika. Tak ada gurat senang atau senyum meskipun hanya basa-basi pada wartawan. Langkahnya bahkan tak berhenti sedikitpun, yang ia pikirkan hanya memastikan kejahatan Windy.


Windy sedang melakukan pemotretan di ruang terbuka di pinggir pantai sebelah selatan kota A. Melihat kedatangan Daniel, Windy segera berlari memeluk Daniel.


"Daniel kau sudah datang, aku senang kau datang" ujar Windy sambil memeluk Daniel.


"Nona Windy sepertinya bahagia sekali Tuan Daniel datang menemani Nona" seru salah satu wartawan


"Tentu saja senang, akhirnya aku akan menikah dengannya" jawab Windy masih memeluk lengan Daniel, kemudian berjalan ke tempat lokasi pemotretan, Jenny memberikan sebuah kursi untuk Daniel, namun Daniel mengacuhkan wanita itu, ia bahkan menatap Jenny dengan ketus.


"Ada apa kau datang Daniel? apa kau merindukanku?" tanya Windy.


Daniel mengabaikan pertanyaan Windy, ia mengangkat ponselnya dan menghubungi nomor palsu atas nama Ara di ponselnya. Windy masih sibuk berbicara panjang lebar, entah apa yang di ceritakan gadis itu, ia tidak mendengarkan sama sekali, ia hanya fokus dengan panggilan yang terhubung. 3 detik pertama tak ada tanda apapun, tapi detik selanjutnya Jenny merogoh tasnya karena ponselnya berbunyi. Daniel mulai mengarahkan pandangannya pada Jenny.


Mengetahui Daniel yang menghubunginya, Jenny segera menoleh pada Daniel, Daniel sudah melihatnya dengan mata tajam. Ia buru-buru hendak menghindar tapi tangannya segera di cengkram Daniel,Ia bahkan merebut ponsel di tangan Jenny. Ia kemudian mengecek semua pesan masuk dan keluar di ponsel tersebut. Ternyata benar, semua pesan itu adalah pesan yang sama dengan pesan yang ada di ponsel Daniel.


"Kenapa nomor ini ada di tanganmu? bagaimana bisa, aku menghubungi istriku justru tersambung ke nomor mu? KATAKAN!!!" Bentak Daniel membuat gadis itu semakin ketakutan. Kali ini Daniel memindahkan tangannya ke leher Jenny, Ia mencekik Jenny dengan kuat, wajah Jenny sepucat mayat saat ini, dengan ganas mencekik leher Jenny tanpa ampun.


"Aku benar-benar dibodohi wanita-wanita licik ini, benar-benar bodoh!" gerutu Daniel memaki dirinya sendiri. Arah pandangan mata Daniel beralih pada Jenny, senyum kecut Daniel mengembang lebar.


Melihat Jenny semakin pucat kesulitan bernafas, Windy berusaha melepaskan cekikan Daniel, Windy meminta bantuan semua kru di sana untuk melerai Daniel dan Windy. Saat semua orang hendak mendekat. Daniel membentak.


"BERHENTI!!! kalian ingin menolong seorang kriminal?" Daniel mengedarkan tatapan tajamnya ke sekeliling menatap para kru yang hendak menolong Jenny. Semua orang menatap Daniel dengan wajah bingung. Bahkan salah satu wartawan memberanikan diri bertanya apa maksud perkataan Daniel.


"Kau ingin tahu? akan ku beritahu!" Daniel tersenyum ketus pada Wartawan itu.