Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 30: aku sudah terbiasa memanjakan sekretarisku



Sepanjang hari Kevan tak membuatnya berhenti bekerja, menemaninya pergi dengan beberapa klien dan mengerjakan banyak sekali laporan untuk di terjemahkan membuatnya sibuk seharian.


Tanpa sadar matahari mulai terbenam. Sekilas Ara menatap layar ponselnya. Daniel benar-benar tak menghubunginya. Ara menghela nafas. Ia berusaha tetap fokus pada pekerjaannya, beberapa kali Ara memijat lembut kedua matanya. Hari pertama ini benar-benar melelahkan. Tanpa sadar sepasang mata memperhatikannya dengan senyuman.


“Lelah?"


“Tentu saja!"


“Baiklah, ayo kita pergi"


Dengan cepat Kevan meraih pergelangan tangan Ara, Ara bahkan tak sempat merapikan meja kerjanya.


Di dalam kantor hanya tinggal mereka berdua dan hanya beberapa karyawan lain yang lembur. Ara dan Kevan menuruni Lift dan keluar dari kantor. Namun saat berada di Lobby, Ara terkejut melihat Yogi berdiri di samping mobilnya dan menunggu Ara.


Yogi melihat Ara yang keluar dari kantor itu awalnya tersenyum manis namun saat ia melihat tangan Ara yang di genggam erat oleh Kevan, wajahnya mulai berubah. Yogi mendekati Ara dengan cepat.


“Yo..yogi, sedang apa kau di sini?"


“Sedang menjemput nona untuk pulang"


Kevan menatap pria muda di depannya itu dengan wajah tak bersahabat. Yogi tak merasa terintimidasi oleh tatapan itu. Bagaimanapun, tatapan Daniel saat marah lebih menyeramkan di banding wajah Kevan sekarang.


“Tak perlu, dia akan pulang bersamaku”Seru Kevan mengacuhkan Yogi, namun Yogi dengan sigap menghadang langkah Kevan. Kevan mengerutkan keningnya.


“Maaf tuan, saya harus membawa nona Ara kembali bersama saya, ayo nona Ara"


“Minggir!"


Suara Kevan mulai meninggi, tapi Yogi tak bergeming, ia terus berusaha menatap Ara, memintanya kembali bersamanya.


“Aku bilang minggir!!"


Yogi masih tak bergeming, Kevan tertawa sinis menatap Yogi, sebuah pukulan keras tiba-tiba menghantam wajah yogi, yogi seketika tersungkur ke lantai. Ara dengan panik mendekati Yogi.


“Kau baik-baik saja?”Tanya Ara. Yogi mengangguk “Yogi, aku akan pergi dengannya, kau tak perlu khawatir, jangan katakan apapun pada Daniel, katakan saja aku pergi bersama temanku, oke?"


“Ta..tapi,Nona, jika kau tak pulang bersamaku, tuan akan marah besar padaku"


“Nanti akan ku jelaskan padanya, percayalah padaku, oke?"


“Baiklah"


Dengan cepat Kevan meraih tangan Ara dan membawanya ke samping tubuhnya.


“Katakan pada bosmu, jika masih ingin hidup tenang, jangan menghalangi jalanku"


Dengan cepat Ara masuk ke dalam mobil Kevan. Setelah mobil berlalu, yogi mengikuti mobil Kevan dari jauh. Setelah beberapa lama mengikuti, mobil mereka berhenti di TopHill clubhouse. Yogi seketika mengerutkan alisnya.


mereka pergi ke TopHill, haha. Baguslah.


Yogi kemudian menghubungi Daniel untuk memberitahukan Ara berada di TopHill bersama Kevan. Daniel tersenyum sinis.


“Bagus, gadis itu tak merasa bersalah sama sekali, dia bahkan tak menghubungiku dan sekarang pergi bersama mantannya, benar-benar bagus"


Tophill adalah sebuah tempat untuk para eksekutive menghabiskan uang mereka. Sebuah clubhouse,hotel dan restoran paling elit di seluruh kota A. Untuk bisa masuk ke dalan Tophill saja butuh member khusus, artinya tidak semua orang dapat masuk ke dalam TopHill.


Ara dan Kevan memilih duduk di meja dekat dengan jendela besar. Mereka dapat dengan mudah melihat sibuknya kota A dari atas. Ya, benar-benar sibuk. Ara malam ini memilih menu daging asap dimasak dengan saus tomat.


“Makan yang banyak, pura-pura bahagia butuh tenaga ekstra"


“Benarkah? aku bahagia dengan hidupku, kaulah yang tak bahagia sampai harus merebut istri orang"


“Haha, benar juga"


Ara tersenyum licik pada Kevan. Bisa-bisanya manusia ini tertawa seperti itu. Jika bukan karena cincin itu mana mau ia berada di sini menemaninya makan.


“Uhuukkkk"


Ara tiba-tiba tersedak melihat sosok Daniel memasuki restoran. Melihat Daniel memakai setelan jas biru ruby begitu elegan ia hampir tak berkedip. Ia enggan untuk mengakui tapi dia memang pantas di sebut gagah. Jika di bandingkan Kevan, tubuhnya 2 tingkat lebih baik dari Kevan. Mata Ara mengikuti kemana Daniel pergi, ia sepertinya bertemu dengan seseorang yang penting, kemudian menghilang di balik pintu VIP.


“Kenapa dia di sini?ah ya Tuhan, lalu kenapa aku panik?”Batin Ara


“Ada Apa Ra?"


“Tidak ada, Kevan aku sudah kenyang, bagaimana kalau kita pulang saja"


Mata Kevan melihat ke atas piring Ara. Makanannya bisa di bilang masih utuh dan wajahnya tiba-tiba panik. Kevan kemudian menoleh ke belakang kepalanya, ia tak melihat siapapun. Wajahnya semakin heran.


“Kau sudah kenyang tapi aku belum!"


Ara menghela nafas panjang.


Setelah mengantar pria paruh baya itu pergi, Daniel melangkahkan kakinya mendekati meja Ara. Ara melihat Daniel mendekat, ia seperti ingin bersembunyi di bawah meja atau ingin berubah menjadi amoeba.


Matilah, aku benar-benar tamat!!


“Wah, kebetulan sekali bertemu istri di sini"


Daniel menatap wajah Ara dengan senyuman misterius. Ara bisa menangkap di balik ketenangannya tersimpan emosi yang meluap-luap. Ara tak sanggup menjawab Daniel saat ini. Entah kenapa ia menjadi gugup. Setelah yang ia lakukan semalam, sekarang ia justru tertangkap basah bersama pria lain. Entah apa yang di pikirkan Daniel saat ini. Mungkin cacian di dalam hatinya berteriak-teriak memanggil-manggil namanya.


Kevan seketika menoleh pada Daniel. Mata mereka bertemu, seperti sebuah pedang yang sama-sama siap menyerang. Ara bahkan bisa merasakan aura dingin mereka sama-sama mematikan.


“Tuan Daniel, kebetulan yang menyenangkan bisa bertemu anda di sini"


Daniel Acuh pada ucapan Kevan. Tanpa persetujuan, Daniel menarik bangku di samping tempat duduk Ara dan duduk, ia bahkan mengacuhkan Kevan yang sejak tadi memandangnya.


“Sudah makan?”Tanya Daniel pada Ara


“Hemm, kau sudah makan?"


“Belum"


“Kebetulan, tuan Daniel bisa makan bersama kami, kau bisa memesan makanan termahal di sini jika kau mau"


Ara menatap Kevan dengan kesal, Ara tahu arti kata-kata Kevan, ia sedang berusaha mempermalukan Daniel. Daniel menatap wajah Kevan dengan tenang.


“Baiklah, jika kau memaksa, mari kita makan malam bersama"


Daniel malam itu memesan makanan yang sama dengan Ara. Kevan terlahir dengan sifat sombong yang mengakar kuat di dirinya. Ia memesan banyak sekali makanan dan wine termahal di TopHill.


“Ini adalah minuman termahal di sini, baiknya tuan Daniel mencobanya"


“Hemm, tapi sayang sekali aku sedang tak ingin minum wine"


“Minumlah sedikit, entah kapan lagi kau bisa mencobanya”Seru Kevan dengan wajah jahatnya, Ara mendengus kesal.


“Kevan hentikan, Daniel baiknya kita pulang saja”Seru Ara pada Daniel.


“Bosmu sedang menjamuku, bagaimana bisa pulang begitu saja”Daniel tersenyum pada Ara.


“Baiklah kita bersulang tuan Kevan”Ia mengangkat gelas winenya pada Kevan.


Sepanjang malam itu, Kevan tak henti-hentinya menyombongkan dirinya. Daniel tak bereaksi seakan dirinya lebih rendah dari Kevan. Meskipun ada tatapan emosi di matanya, tapi ia begitu tenang. Ia bisa mengimbangi setiap pembicaraan Kevan, Kevan sedikit heran dengan pria di samping Ara. Seharusnya, dengan statusnya yang lebih rendah, ia akan sulit mengimbangi pembicaraannya, namun tampaknya pria ini memiliki harga diri yang sangat tinggi.


Semakin lama mendengarkan pembicaraan Kevan dan Daniel, Ara semakin pusing. Tak banyak yang ia pahami, selain mereka sedang beradu argumen tentang bisnis


“Aku dengar, kau bekerja di perusahaan kecil di kota A, jika kau mau kau bisa bekerja di perusahaan ku, aku akan menggajimu berkali-kali lipat"


“Kau sungguh murah hati, tapi maaf aku sudah merasa cukup dengan penghasilanku sekarang, jika istriku mau bahkan ia tak perlu bekerja lagi"


“Ia masih bekerja itu artinya penghasilanmu belum cukup, lagipula aku menggajinya dengan sangat layak, aku yakin dia akan berat meninggalkan pekerjaannya"


“Benarkah begitu istriku?”Daniel seketika menoleh ke Arah Ara dengan tatapan Aneh. Ara hanya bisa tersenyum canggung.


“Aku rasa.. Kita sebaiknya pulang sayang, malam semakin larut”Seru Ara menatap Daniel penuh harap. Daniel tersenyum dan mengusap lembut kepala Ara. Melihat kemesraan Daniel pada Ara, wajah Kevan menghitam.


“Baiklah, ayo kita pulang, terimakasih jamuanya direktur Kevan,maaf merepotkan anda tapi istriku pasti senang memiliki bos yang baik seperti anda"


“Kau berlebihan, aku sudah terbiasa memanjakan sekretarisku, betulkan nona Ara?"


Lagi-lagi Kevan memprovokasi Daniel dengan kata-katanya, pria ini benar-benar brengsek! Ara hanya tertawa canggung. Mereka akhirnya berjalan bersama menuju lobby utama. Mobil Daniel dan Kevan berhenti bersamaan di depan pintu lobby, Kevan dan Ara sedikit terkejut. Seperti sebuah pameran mobil mewah, mobil Maybach hitam dan Bantley silver berhenti di lobby TopHill.


Daniel dengan anggun membukakan pintu mobil maybach hitam edisi terbatasnya. Mobil itu lebih mahal beberapa milyar dari milik Kevan. Jadi wajar harga diri Kevan terluka melihat mobil Daniel.


“Wah, tak ku sangka kau memiliki kemampuan untuk mendapatkan mobil semewah ini tuan Daniel"


Mendengar ucapan Kevan, Ara yang hendak masuk ke dalam mobil tiba-tiba berhenti dan menoleh ke Arah Kevan dengan tatapan jengkelnya. Ara melirik Daniel. Ara berharap Daniel tak mengatakan bahwa itu mobil pinjaman.


“Hanya mobil pinjaman, aku tak semampu itu tuan Kevan”Seru Daniel dengan tenang.


mendengar jawaban Daniel, seketika Ara menghela nafas panjang. Ara melihat wajah puas di mata Kevan. Puas sekali dia merendahkan Daniel malam ini. Entah Pria yang menjadi suaminya ini idiot atau pura-pura bodoh, ia benar-benar tak membela diri saat Kevan berusaha mempermalukannya. Ara benar-benar kesal sampai ubun-ubun. Ia lantas buru-buru masuk dan membanting pintu mobil mewah itu.


“Mobil pinjaman, ya tentu saja sudah ku duga"


Kevan tersenyum bangga, mobilnya mungkin tak semahal Daniel tapi setidaknya itu miliknya sendiri. Ada seribu ejekan yang siap ia lontarkan pada Ara besok. Ia benar-benar tak sabar.


“Baiklah, kami duluan”Seru Daniel pada Kevan. Kevan hanya mengangguk tak menjawab.


“Ara, pecundang macam apa yang kau nikahi itu? benar-benar tak sebanding denganku"