Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 14: apakah dia cemburu?



Mobil itu melaju dengan nyaman. Jade berkali-kali melirik gadis di sampingnya dengan senyuman. Merasa di perhatikan, akhirnya Ara membuka suaranya.


Kenapa tiba-tiba datang?bagaimana kau tahu alamatku?


“Kau sudah sarapan?"


“Sudah"


“Benarkah? kalau begitu temani aku sarapan"


“Tidak, aku harus buru-buru ke kantor ada rapat penting pagi ini, jika aku terlambat aku bisa mati"


“Kalau begitu kita mati bersama"


Senyum Jade tak terelakkan, Ara tak henti melihat jam di tangannya dan wajah Jade bergantian. Mobil itu berhenti di sebuah food truck tak terlalu jauh dari kantor Ara.


Dengan mobil semewah ini, berhenti di sisi jalan untuk membeli sarapan, tak pelak membuat banyak mata terheran-heran. Termasuk Ara.


“Ayo turun, aku tunjukan makanan yang lebih enak dari restoran manapun"


Tanpa ragu Jade membuka pintu mobilnya, setengah berlari untuk membukakan pintu Ara. Angin lembut membuat rambut hitam panjang bergelombangnya terjatuh seketika Ara menurunkan kaki rampingnya dari mobil. Jade terpesona untuk kesekian kalinya.


Di saat yang sama, Kevan memacu mobil Bantley silvernya ringan, ia membuka atap mobilnya agar udara lebih bebas masuk. Rambut hitamnya berlarian mengikuti gelombang angin yang datang.


Sepanjang jalan ia hanya sibuk dengan pikiran rumit di kepalanya dan sebatang rokok di tangannya. Pandangan mata dinginnya tiba-tiba tertuju pada 2 sosok yang ia kenal duduk bercengkrama sambil menikmati makanan di atas meja. Tanpa sadar Kevan menghentikan mobilnya. Menatap 2 tubuh di depannya dengan tatapan dingin. Setiap kali matanya menangkap sebuah lengkungan lebar di bibir indah Ara, Kevan menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghempaskannya.


Cemburu?! kenapa ia harus cemburu?! sejak kapan mereka berdua begitu akrab?


Kevan berusaha membuang jauh pikirannya,dengan cepat tangannya menarik persneling dan pergi, ia tak ingin melihat mereka tertawa bersama lebih lama lagi.


Sesampainya di kantor, wajah Kevan benar-benar terlibat buruk. Sesampainya ia di ruangannya, tanpa ragu-ragu ia membanting tasnya di atas meja kerjanya.


Bunyi bantingan tas Kevan berhasil membuat jantung Gerry hampir copot.


Ada apa bos? apa ada masalah di rumah?


tanya Gerry, Kevan sekilas memandang Gerry dengan tatapan sedingin es, ia hanya mengerutkan alisnya.


“Dimana Ara?"


“Belum datang tuan"


“Cepat hubungi dia, katakan jika dalam waktu 5 menit belum datang, ia harus lembur sampai jam 12 malam!"


“Baik tuan"


Perintah Kevan kali ini terdengar sangat aneh di telinga Gerry, selama bekerja dengan Kevan tak pernah sekalipun ia bersikap seperti ini pada sekretarisnya, jam masih menunjukan pukul 8:30, artinya Ara belum terlambat datang ke kantor, tapi kenapa sepertinya bosnya begitu marah kepada Ara?


Kevan mengangkat ponselnya baru akan menghubungi Ara, namun sosok Ara sudah muncul dari balik pintu, dia tidak sendiri, ia bersama Jade di belakangnya.


“Kenapa baru datang?"


Pertanyaan Kevan seperti bongkahan es yang tiba-tiba jatuh di atas kepala Ara. Senyumnya yang mengembang sebelumnya seketika layu.


Ada apa ini?!


Ara mengerlingkan matanya menatap Gerry, Gerry menangkap tanda tanya di wajah Ara hanya sanggup mengangkat bahu tanda tidak tahu.


“Maaaf pak Kevan, sepertinya saya belum terlambat, kenapa anda terlihat marah?"


“Kau terlambat, mulai besok 30 menit sebelum aku datang, kau sudah harus berdiri di samping mejaku!! jika tidak,setiap hari gajimu akan terus berkurang karena terlambat "


Wajah Ara benar-benar memendam kekesalan tiada tAra, sepagi ini manusia di depannya ini sudah menemukan cara menghancurkan moodnya, ia bertanya-tanya apakah setiap sebelum tidur ia sudah merencanakan cara licik untuk menyusahkan dirinya besok hari? benar-benar licik!?


“Haishhhh, kau ini kenapa Van? sepagi ini sudah menemukan cara menyusahkan bawahanmu, apakah Sisil membuatmu marah pagi ini?"


Jade melihat wajah Ara yang kesal, akhirnya ia berjalan mendekari Kevan dan merangkul bahunya. Merasa tidak nyaman ia menepis tangannya dari bahunya.


“Ada apa kau kemari sepagi ini? ada masalah?"


“Aku datang untuk mengantar nyonya Lee pergi bekerja"


Mendengar itu, wajah Ara tak bisa di deskripsikan. Heran, bingung, aneh dan marah menjadi satu. Dengan segera ia melepaskan genggaman tangan Jade dan menatap wajah Kevan.


Hal ini terdengar jelas di telinga Gerry, wajahnya seperti menangkap sebuah jawaban dari pertanyaan sebelumnya. Ia tak kuasa menahan senyum di bibirnya.


Bosnya sedang cemburu?!


“Jika tak ada yang lebih penting, baiknya kau pergi sekarang!"


“Tidak ada yang lebih penting dari mengantar calon istri bekerja, baiklah istri sampai jumpa sepulang kerja nanti"


“Terimakasih tuan Jade, saya bisa pulang sendiri"


Mengabaikan jawaban Ara, Jade hanya mengedipkan 1 matanya pada Ara. Hal itu membuat Ara semakin tidak nyaman. Setelah Jade menghilang dari balik pintu, wajah Kevan semakin mengerikan menatap Ara. Ara membalas tatapan Kevan dengan wajah bingung.


“Gerry, infokan ke semua manager divisi rapat di tunda 2 jam ke depan"


“Ba..baik, Bos"


Dengan langkah cepat, Kevan melewati Gerry dengan angkuh. Tangannya dengan cepat menyeret tubuh Ara keluar ruangan.


Semua mata diam-diam tertuju pada genggaman tangan Kevan pada Ara. Kevan berjalan begitu cepat. Langkah Kaki jenjang Kevan menyulitkan Ara untuk mengikutinya. 1 langkah Kevan artinya 2 langkah untuk Ara.


Kevan membuka pintu mobilnya kasar dan membanting tubuh Ara masuk. Ara benar-benar di buatnya bingung. Mobil mewah itu berjalan cukup kencang. Kevan seperti tidak peduli mata Ara yang mengerucut setiap kali Kevan menyalip mobil di depannya. Beberapa lama berjalan, mobil itu akhirnya berhenti.


Suasana di dalam mobil begitu hening, temperatur mobil turun drastis. Dengan tangan gemetar,Ara memberanikan diri menatap pria es di sampingnya. Tatapan matanya tajam memandang manik mata Ara.


“Sebenarnya ada apaa... I..ni..?!"


Ucapan di mulut Ara terhenti, mata Ara membesar ketika merasakan bibir lembut Kevan mengenai bibir manisnya. Ciuman itu terasa sangat kuat. Sangat kuat hingga membuat nafas Ara tersengal-sengal. Ciuman Kevan seperti sedang meluapkan emosinya pada bibir Ara. Ara berkali-kali berusaha mendorong dada Kevan menjauh, tapi jari-jari tangan Kevan semakin mengikat leher Ara untuk semakin mendekat.


Entah sudah berapa menit Kevan menikmati bibirnya. Ciuman kuat itu perlahan-lahan berganti menjadi semakin dalam dan dalam. Penolakan Ara melemah, ia mulai terhanyut dalam sebuah sensasi hangat yang di tularkan Kevan.


Melihat reaksi Ara yang mengendur, ciuman Kevan semakin turun pada leher Ara yang seputih susu, tangan Kevan mulai tak terkendali, ia mulai membuka satu per satu kancing kemeja Ara, tanganya membelai punggung putih gadis itu, ciumannya hampir turun ke dua bulatan dada Ara, belum sampai kesana, sebuah ketukan di luar mobil mengehentikan aksi tak senonoh itu.


Untungnya mobil mewah yang di kendarai Kevan memiliki keamanan yang cukup. Kaca film mobil yang sangat gelap, membuat orang di luar tidak akan mungkin bisa melihat kejadian di dalam mobil.


Melihat 2 orang polisi lalu lintas di luar mobilnya, Kevan seketika melepaskan ciumannya. Mata mereka beberapa detik bertemu, Ara segera tersadar dan ia segera merapikan kemejanya dengan panik.


Kevan membuka pintu mobilnya dan menghampiri polisi itu. Ara tak bisa mendengar apapun dari dalam. Ia hanya melihat Kevan membuka dompetnya dan memperlihatkan SIM dan KTPnya. Setelah itu polisi mengangguk dan pergi, Kevan kembali berjalan memasuki mobil.


Jantung Ara berdegup begitu kencang. Ia bahkan tak berani menatap wajah Kevan di sampingnya. Perlahan sebuah tangan menyentuh pipi Ara dan mengArahkannya untuk menatap wajah Kevan. Wajah Kevan kali ini tak seperti wajahnya beberapa saat lalu. Wajahnya saat ini seperti sebuah permen marshmellow yang sangat lembut dan manis.


“Jika kau berani berhubungan lagi dengan Jade, aku tidak akan segan lagi padamu"


“Apa urusanmu, aku dekat dengan siapapun itu bukan urusanmu!"


Kevan tak menyangka akan mendengar jawaban Ara yang seperti ini. Sorot mata lembutnya kembali berubah sedingin es.


“Baik, kau ingin menguji kata-kataku barusan, lakukanlah sesukamu"


Sedetik kemudian Kevan menarik tangannya dari pipi Ara dengan angkuh, ia menarik tuas persneling dan menginjak gas untuk menjalankan mobilnya. Mata Ara masih kosong. Batinnya berteriak-teriak.


“Apa yang manusia licik ini pikirkan sebenarnya? apakah dia sedang cemburu? hah dasar playboy, sudah memiliki tunangan masih berpikir menggoda wanita lain, cih"


Tak di sangka saat sekilas Kevan melirik Ara, ia menangkap senyum licik tersungging di sudut bibir Ara, ada perasaan bingung di hatinya, apa yang sebenarnya gadis bodoh ini pikirkan sekarang? kenapa masih bisa tersenyum? berharap aku membuktikan kata-kataku barusan? hah, baiklah”Batinnya.


“Rapikan bajumu dengan benar, jika tak ingin semua orang tahu kejadian barusan"


Ara seketika menoleh ke Arah Kevan sambil sibuk merapikan kemejanya. Mata Kevan fokus pada jalan di depannya sambil tersenyum acuh tak memperdulikan wajah Ara yang kesal. Seribu nama hewan hendak keluar dari mulutnya, namun tidak terjadi. Ara dengan cepat menghela napas menurunkan emosinya.


Sesampainya di kantor, Ara berjalan canggung di belakang Kevan.


Belum 2 bulan ia bekerja di perusahaan ini, gosip panas sudah menerpa dirinya. Bisik-bisik dari dalam kubikel karyawan bahkan sedikit masuk ke dalam telinga Ara. Ara tidak terlalu peduli, jika ini adalah satu-satunya jalan masuk ke kediaman Wingsley, ia mau tidak mau harus menghadapinya.