Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 91: Brandon's day part 2



Daniel saat itu duduk di dekat Brandon sedangkan Ara duduk di depan mereka. Saat Daniel meminta Brandon duduk di sampingnya, anak itu sama sekali tak keberatan. Menurut Ara itu buka kebiasaan Brandon. Selain Xander dan Denis, Brandon selalu terlihat dingin dengan semua orang asing yang ia kenal, tetapi entah bagaimana pengecualian untuk Daniel.



Beberapa menit, Ara memperhatikan Brandon dan Daniel yang sibuk bercengkrama di depannya. Mereka terlihat seperti dua orang teman yang sudah lama tak bertemu. Dengan mudahnya Daniel terlihat akrab dengan jagoan kecilnya itu.


"Bu, om Daniel boleh tidak ikut kita main di taman dan beli mainan?" pertanyaan Brandon membuat Ara tiba-tiba tertegun dan melirik Daniel yang juga menatapnya saat ini.


"Brandon jangan begitu, om Daniel mungkin sibuk, kita main dan beli mainan berdua aja ya" pinta Ara, wajah ceria Brandon yang sudah membaik beberapa saat lalu, kini menjadi murung kembali. Daniel melihat perubahan wajah anaknya itu, ia pun tersenyum dan mencubit hidung Brandon lembut.


"Om tidak sibuk, ayo kita main bersama Brandon, pasti menyenangkan!!" seru Daniel.


"Benarkah om? yeaaaay asiiikkk" Ujar Brandon kegirangan


"Tu..tuanDaniel, kau tak perlu begitu. Jika kau ada kesibukan aku dan Brandon tak masalah pergi sendiri"


"Tak apa Ra, ini weekend aku juga tak punya kegiatan, sepertinya bermain bersama kalian terdengar menyenangkan", "Oh ya, kau tak perlu canggung dengan memanggilku tuan, panggil aku dengan namaku saja"


Setelah selesai, mereka bergegas menuju taman tak jauh dari kafe itu. Karena tak terlalu jauh, akhirnya mereka memutuskan untuk berjalan kaki.


"Ara, bolehkan aku bertanya?"


"Hemm,tanya apa?"


"Dimana ayah Brandon?" Daniel menoleh melihat wajah Ara yang tertegun dengan pertanyaannya barusan.


"Kami bercerai, dia pergi bersama wanita lain saat aku mengandung Brandon"


Mendengar alasan Ara, seketika ada rasa sakit di Daniel. Ia tak menduga sebelumnya kalau Ara yang hilang ingatan bisa mengatakan alasan ini. Ia pikir meskipun keluarga Li dan Qin tidak akur, Xander juga tak akan memberi tahukan alasan seperti ini pada Ara, ternyata ia salah. Dari awal, mereka memang ingin membuat Ara benci pada Daniel, sehingga tidak ada kesempatan Daniel bersama Ara lagi.


"Kau lihat sendiri dia pergi dengan wanita lain?"


"Tidak, aku mengalami amnesia dan tak ingat apapun tentang kejadian itu. Tapi itulah yang mereka katakan dan sepertinya memang seperti itu"


"Apa kau pernah ingin tahu siapa dan bagaimana mantan suami mu dulu?" Daniel kali ini menghentikan langkahnya dan menatap Ara. Ara pun juga menghentikan langkahnya, tersenyum dan menggeleng.


"Tidak, aku tak ingin tahu, sepertinya itu lebih baik. Aku sudah cukup bersyukur bisa menghapus ingatan buruk itu. Lagipula tanpa ingatan itu, aku dan Brandon tetap bisa hidup dengan baik"


Daniel melanjutkan langkahnya tanpa merespon ucapan Ara. Sebenarnya Daniel pun tak ingin mengingatkan Ara dengan semua kenangan buruk yang ia lalui di masa lalu. Tapi, tidak semua kenangan tentang mereka selalu buruk. Banyak kenangan indah yang juga hanya akan menjadi kenangan di ingatan dirinya saja dan itu membuat Daniel sedikit frustasi.


"Lalu, bagaimana denganmu? kau sepertinya terlihat sudah matang dan mapan, kenapa kau tak bersama pacarmu di weekend seperti ini?"


Pacar? bagaimana bisa aku memiliki pacar saat aku sudah memiliki anak dan istri? bahkan sekarang aku sedang bermain bersama kalian.


"Bermain bersama kalian sepertinya lebih menyenangkan daripada bermain bersama seorang pacar" Daniel menoleh dengan senyuman kecil di sudut bibirnya. Ara sebenarnya tidak terlalu yakin dengan maksud perkataan Daniel. Bak dua mata di sebuah belati, perkataan Daniel barusan bisa bermakna ganda. Setiap kalo berbicara dengannya, ia harus sedikit memutar otak untuk memastikan maksud ucapannya.


"Pria ini kenapa sangat misterius sih?" batin Ara.


"Om, Ayo kita main ayunan!!" Seru Brandon sambil menarik tangan Ara dan Daniel saat memasuki area taman. Senyum Brandon begitu lebar, ia seperti merasa bermain dengan ayah dan ibunya.


Di saat tengah bermain, Ara mendengar ponselnya berdering. Itu telfon dari Sean.


"Halo Sean, ada apa?"


"Ara bisalah kau ke Pet Shop sekarang, aku lupa mengunci pintu belakang pet shop, aku tadi terburu-buru harus pergi ada urusan mendadak, bisakah kau membantuku menguncinya Ara?!"


"Ara tolonglah, kau tahu kan belakangan banyak kejahatan yang terjadi belakangan?!" Sela Sean


"Ya, oke baiklah. Aku akan kesana"


" Baik, terimakasih Ara"


Setelah panggilan berakhir, Daniel menatap Ara setelah wajah wanita di depannya ini berubah.


"Ada apa Ra? ada masalah?"


"Aku sepertinya harus pergi ke pet shop, Sean lupa mengunci pintu belakang"


"Apa perlu aku antar? aku bisa mengantarmu?"


"Om, aku ingin main! tak mau pulang" sela Brandon setelah mendengar percakapan Ara dan Daniel barusan. Ara dan Daniel kompak menoleh pada Brandon.


"Sayang, kita pergi ke tempat kerja ibu dulu ya, nanti habis itu kita main lagi,oke?"


"Tidak!! aku tidak mau!!"


"Sudah, sudah, kau pergi saja Ara, Brandon biar bermain bersamaku" Daniel mencoba menjadi penengah. Ara tak lantas setuju dengan tawaran Daniel, bagaimanapun di pikiran Ara, Daniel hanyalah orang asing yang baru ia kenal. Bagaimana bisa menitipkan anaknya pada Daniel, ia khawatir terjadi sesuatu yang tak inginkan, penculikan misalnya.


"Tenang saja, aku tak akan berbuat jahat pada Brandon, kau bisa menyimpan nomor ponsel ku" Daniel mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam dompetnya dan menyodorkannya pada Ara. Ara mengambil kartu nama itu dan membaca tulisan di atasnya dengan sedikit kaget.


"Daniel Qin, CEO Down Grup?!" batin Ara kaget, Tiba-tiba sebuah ingatan asing muncul dan bergerak cepat di kepalanya, terlalu asing, terlalu tiba-tiba dan rasa sakit yang sama seperti setiap kali ia memimpikan seorang pria yang mirip dengan Daniel tiba-tiba dia rasakan. Meskipun sangat samar, tapi figur pria di kepalanya barusan sangat mirip dengan Daniel. Seketika Ara merasa pusing dan limbung. Dengan cepat Daniel meraih lengan Ara dengan wajah khawatir.


"Ara!! apa kau baik-baik saja? kau kenapa?!"


Ara menggelengkan kepalanya mencoba menyadarkan dirinya. Ia menatap wajah Daniel beberapa saat.


"Ingatan apa itu barusan? kenapa aku seperti melihat pria ini di ingatan ku? Ada apa denganku? Apa aku seperti merasa dia adalah orang itu?"


"Ara???! ada apa sebenarnya?"


Ara masih diam seribu bahasa. Ia masih menatap wajah Daniel tanpa bicara.


"Ara? hei.. "


"ah.. iya.. aku tidak apa-apa"


"Apa kita perlu ke rumah sakit?"


"Tidak, tidak perlu. Baiklah Daniel aku titip Brandon sebentar ya, maafkan aku merepotkan mu"


"Tidak masalah Ara, pergilah, hati-hati, jika terjadi sesuatu cepat kabari aku, oke?"


"Oke, terimakasih" jawab Ara, kemudian ia menolehkan wajahnya pada Brandon yang sedang asik bermain ayunan.


"Brandon kau tidak apa-apa kan bersama om Daniel dulu, ibu harus ke pet shop sebentar, nanti ibu kembali lagi, Oke? " seru Ara pada Brandon. Brandon tersenyum dan mengangguk tanda setuju.


"Anak pintar"