
"Ayah, hentikan yang kau lakukan sekarang, kehilangan Daniel bukan hanya akan merugikan keluarga kita tapi juga kau akan kehilangan perusahaanmu kedua kalinya," Ujar Aldric, Shamus masih tidak ada reaksi.
Perdebatan mereka akhirnya berhenti ketika melihat Daniel berjalan masuk membawa sebuah album dan membantingnya di atas meja. Wajahnya di liputi awan hitam, wajahnya tidak menyenangkan sama sekali. Jantung Meilyn tersentak mendengar bunyi bantingan album di atas meja.
"Apakah album ini adalah perbuatan ibu?" tanya Daniel.
"Apa maksudmu? ibu tidak mengerti. Kau duduk dulu kita bicarakan pelan-pelan, oke?!" seru Meilyn berusaha membujuk anaknya
"Daniel, dimana sopan santunmu itu?ayah tak mendidikmu untuk bersikap seperti ini" timpal Aldric
"Etika hanya bisa di tunjukan untuk mereka yang juga memilikinya, Yah.. aku tegaskan, berhenti membujuk ku untuk hal yang tidak mungkin dan lagi.... " mata Daniel yang semula melihat bergantian pada Meilyn, Aldric dan Shamus kini hanya ia tujukan pada Shamus yang juga sedang menatapnya, "Dan lagi kau mengancam ku dengan cara yang salah Kek, aku ingatkan pemimpin Down grup yang baru tidak akan bisa melakukan apapun tanpa persetujuan ku meskipun ia telah menggantikan posisiku" Setelah Shamus, matanya kembali menatap Meilyn yang berdiri tepat di depannya," Dan kau ibu, berhentilah melakukan tindakan bodoh seperti ini, dendam masa lalumu akhirilah dan jangan libatkan aku, agar kau bisa melihat betapa anakmu ini sudah bahagia bersama Anak dan istrinya." ujar Daniel dengan sangat lugas. Untuknya orang-orang di rumah ini mungkin hampir kehilangan akal. Daniel pergi dengan perasaan marah dan lelah.
"Daniel kau harus tahu, ibu memang memiliki dendam pada ibu dari istrimu, tapi dari sisi mana pun dia tak memiliki kualifikasi untuk menjadi istrimu. Latar belakangnya terlalu buruk dan besok ibu sudah mengundang Windy dan pamannya datang"
Langkah Daniel berhenti di ambang pintu mendengar ucapan ibunya, tawa sinis nya mengembang.
"Lakukan saja sesukamu, selain Ara, siapapun tak akan bisa masuk dalam kualifikasi ku" jawab Daniel kemudian pergi menghilang dari balik pintu. Di susul dengan Aldric yang ikut bangun dari duduknya, berbisik pada Meilyn yang masih berdiri mematung.
"Aku kecewa padamu Mei" ujar Aldric kemudian ikut menghilang dari balik pintu.
Hati Meilyn seperti tersayat berulang kali, ia meremas kuat-kuat kepalan tangannya. Sebagai ibu, ia ingin anaknya mendapatkan seseorang yang layak untuk berdiri di samping anaknya yang hebat itu. Meilyn menghela nafas dan menoleh pada Shamus.
"Ayah, apa perlu kita hentikan semua ini?"
.
"Tidak, sampai kapanpun aku tak akan rela gadis itu menjadi bagian dari keluarga Qin"
***
Klak, pintu kamar mandi terbuka. Ara keluar dari kamar mandi memakai baju handuknya dan tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Di saat yang bersamaan Daniel juga baru memasuki kamar, melihat Ara di depan pintu tak menyadari kedatangannya dengan langkah besar ia memeluk Ara dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu Ara. Ara tersentak ketika tiba-tiba seseorang memeluknya, karena kaget ia berusaha berontak namun Daniel mencegahnya.
"Ara, biarkan aku memelukmu seperti ini sebentar"
Bagi Daniel, hanya Ara yang bisa menenangkannya saat ini. Baginya Ara bukan hanya seorang istri dan ibu dari anaknya, tapi juga sebuah "Rumah" untuk hatinya. Wangi sabun dan shampo di tubuh Ara seperti udara segar yang menenangkan Daniel.
"Ada apa? apa ada masalah?" tanya Ara.
"Tidak ada, hanya lelah" Daniel melepaskan pelukannya dan memutar pinggang Ara membalikkan tubuh mungil istrinya untuk menghadapnya.
"Berjanjilah padaku, kau tak boleh menghilang dan pergi lagi dari sisiku Ara"
"Hemm, baiklah" Ara tersenyum diikuti oleh Daniel kemudian perlahan-lahan mendekatkan wajahnya pada Ara. Matanya tertuju pada bibir dan bekas merah di leher istrinya yang kembali terlihat setelah sebelumnya tak terlihat karena tertutup riasan. Saat bibir mereka hampir bertemu, dengan cepat ara menutup bibir Daniel dengan telapak tangannya.
"Tanganmu terluka, kita obati dulu lukamu"
Daniel tersenyum dan menepis tangannya sambil menggeleng. Seakan mengabaikan ucapan istrinya Ia justru mengangkat tubuh Ara naik ke atas ranjang.
"Da.. Daniel.. apa yang kau lakukan? tanganmu harus di obati agar tidak infeksi" pekik Ara dengan wajah semerah buah persik.
"Aku tak butuh obat luar sayang, yang aku butuhkan obat dalam" ujar Daniel sambil melepaskan ikatan baju handuk wanita di bawahnya itu dan menikmatinya sepanjang malam. Untuknya ini adalah obat yang paling efektif menghilangkan semua beban di hatinya.
***
Keesokan harinya, Ara bangun dan merasakan ia sangat lelah. Namun pikirannya teralihkan saat mendengar samar-samar suara keseruan Daniel dan Brandon dari luar. Dengan segera ia turun dari ranjang dan melihat ke taman belakang rumah dari balik jendela balkon di kamarnya. Sudut bibir Ara tertarik saat melihat anak dan ayah itu sedang bermain kejar-kejaran di temani oleh beberapa pelayan wanita yang berdiri tak jauh dari mereka yang juga ikut tersenyum melihat keseruan ayah anak itu.
Saat ini pukul 8 pagi, ia menarik langkahnya dari balik jendela balkon menuju kamar mandi. Beberapa saat berdiri di depan cermin, melihat wajahnya dan juga tanda merah di tubuhnya seperti tumpang tindih, dengan cepat membuatnya teringat aktifitas mereka di atas ranjang 2 hari ini. Membuat Ara tersipu malu.
Setelah selsai mandi dan bersiap kemudian ia turun dari kamarnya mencari keberadaan Daniel dan Brandon yang sudah tidak ada di taman belakang rumah.
Rumah ini sangat mewah dengan banyak ruangan didalamnya. Untuk Ara yang tak familiar dengan rumah ini, jika berjalan mengelilingi rumah ini sendiri mungkin akan dengan mudah tersesat.
Ara menuruni tangga rumah itu dengan perasaan asing dan ragu. Rumah sebesar itu terlihat sepi dan sunyi, hanya ada beberapa pelayan yang sedang sibuk membersihkan perabotan. Ara pun mendekat dan bertanya keberadaan Daniel dan Brandon.
"Oh, Tuan muda dan Tuan kecil sedang berenang di taman barat Nona, mari saya antar" ujar pelayan itu dengan sopan menunjukkan arah. Baru setengah perjalanan, sebuah suara dingin terdengar di telinga Ara. Ara segera menoleh ke belakang suara dan melihat seorang wanita yang meskipun sudah paruh baya namun masih terlihat muda dan cantik mengenakan pakaian indahnya yang berwarna coklat, lehernya di hiasi kalung mutiara indah dan anting bermata ruby dan kipas tangan yang elegan berjalan menuju kearahnya dengan angkuh. Wajahnya tak bersahabat sama sekali, hanya aura dingin yang muncul di sekelilingnya. Awalnya Ara tak yakin siapa yang berada di depannya ini, namun setelah pelayan memanggilnya Nyonya, ia baru mengerti dia mungkin adalah ibu mertuanya.
"Baru bangun?" tanya Meilyn ketus.
Ara mengangguk ragu berusaha tersenyum dan menyapa ibu mertuanya itu,"Selamat pagi bu."
Mendengar sapaan dari Ara, Meilyn tak mengganti wajah angkuh dan dinginnya
"Seorang istri dan menantu bagaimana bisa bangun paling terakhir di rumah mertuanya? apakah kau tidak di ajari untuk menjaga muka suamimu di depan keluarganya?"
Ini adalah kali pertama ia bertemu dengan ibu mertuanya. Di lihat dari sifat dan karakternya yang dingin dan angkuh, Ara seketika tahu mungkin karakter itu menurun pada Daniel. Baru bertemu, Meilyn sudah berhasil membuat Ara berkeringat dingin.
"Maafkan aku, Bu"