Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
bab 42:Aku tahu kau akan datang



Selepas kepergian Daniel, Ara berusaha mengejar Daniel namun lengannya di tarik paksa oleh Kevan.


“Kevan lepas!!!!!"


“Untuk apa mengejarnya? kau juga tak mencintainya!"


“Tahu dari mana aku tak mencintainya? kalau bukan dia yang aku cintai juga pasti bukan kamu! jadi lepas!!"


“Ara, Ara, sudah tidak pedulikah dengan ibumu? dia hampir mati karena mu, cincin itu sudah tidak pentingkah? "


Mendengar ucapan Kevan, Ara tiba-tiba diam. Menatap wajah Kevan dalam-dalam dan mencoba menelaah kata-kata terakhirnya.


“Kau tahu apa tentang ibuku?"


“Apa yang aku tak tahu dari mu?"


“Kau tau dimana ibuku?"


“Tentu saja, masih tidak peduli?"


“Tidak, kau sedang mempermainakanku"


“Lihat saja siapa yang ada di foto ini”Seru Kevan sambil memberikan beberapa lembar foto ibunya yang berada di suatu tempat terpencil, di lihat dari background foto itu, ia seperti berada di sebuah hutan.


“I.. Bu..”Ara seketika menjatuhkan tubuhnya duduk di lantai. Air matanya terus berjatuhan. Kevan akhirnya dengan lembut memeluk Ara.


“Jika kau ingin bertemu dengannya, aku akan membawamu kesana"


“Kevan apa kau benar-benar tahu dimana ibuku???aku mohon bawa aku bertemu dengan ibuku, aku mohon”Isak Ara dalam pelukan Kevan.


“Ada satu syarat jika kau ingin aku membawamu kesana"


“Apa? katakan!?"


“Jangan berhubungan lagi dengan Daniel, berada lah di sisiku Ara!”Seru Kevan menatap Ara dengan dalam.


Ara bimbang, di hatinya tak ada lagi Kevan tapi satu-satunya orang yang tahu keberadaan Ibunya adalah Kevan. Meskipun Daniel pernah bicara untuk membantunya, sejauh ini ia tak pernah berbicara apapun tentang hasil pencariannya.


“Aku harus bagaimana?”Batin Ara.


“Kevan, aku tidak bisa! aku tidak mau jadi simpananmu"


Jawaban Ara diluar dugaan Kevan, ia pikir dengan memancing masalah ibunya, Ara akan bersedia melakukan apapun tapi justru demi Daniel ia menolaknya.


“Apa Ara jatuh cinta pada Daniel?”Batin Kevan.


“Terserah apa yang akan kau putuskan. Besok aku ada pertemuan dengan Klien di luar kota, tempat itu tak jauh dengan tempat dimana ibumu berada. Jika kau berubah pikiran, datanglah ke bandAra jam 10 pagi, aku akan menunggumu"


***


Daniel meninggalkan Apartemen Ara dengan hati kalut dan carut marut. Ia tak pernah berpikir semua yang ia lakukan ternyata tak berarti apapun untuk gadis itu. Bahkan hanya sekedar melupakan mantannya saja ia tak bisa. Daniel berkali-kali membanting tangannya di atas setir. Tuas kemudi nya membawanya pada rumah keduanya yaitu TopHill.


Sekarang, Ara sudah mengetahui siapa dirinya meskipun baru beberapa persen setidaknya ia sekarang tahu ialah pemilik dari club house terbesar di kota A. Tapi setelah ia tahu, ia tetap saja tak bisa membuat Ara mencintainya. Nyatanya uang mungkin bukan segalanya untuk Ara.


Daniel memasuki ruang VIP tempat dimana Tritan berada setiap malam. Ia memasuki pintu ruangan itu dengan hawa dingin yang menusuk, seakan temperatur ruangan disana semakin turun ke titik beku. Tritan melihat Daniel dengan mengerutkan keningnya. Setelah beberapa hari semenjak Ara memergokinya di ruangan ini, sampai hari ini mood bosnya itu tak pernah baik. Daniel berjalan mendekati Tritan dan duduk di sampingnya. Dengan cepat tangannya


menuangkan bir ke dalam gelas dan meneguk nya.


“Tritan, besok temani aku membeli seekor anjing”Seru Daniel pada Tritan.


“Hah? kenapa tiba-tiba ingin pelihAra anjing?"


Sepanjang malam, Daniel hanya sibuk menghisap berbungkus-bungkus rokok, tritan menatap Daniel dengan heran, Daniel hanya akan menghisab rokok jika ia sedang banyak pikiran.


“Daniel, apa yang terjadi padamu?"


“Apa yang kurang dari ku menurutmu?"


“Hemm, tidak ada"


“Lalu kenapa dia tak menyukaiku???"


“Owh ayolah Daniel, dia hanya gadis biasa, reputasinya juga tak baik, kenapa kau harus patah hati seperti ini, aku bisa mengenalkanmu lebih banyak wanita yang lebih baik"


Daniel tiba-tiba menoleh pada Tritan saat tritan berbicara tentang reputasi Ara. Tritan menangkap wajah marah Daniel, tiba-tiba ia merasa merinding.


“Ah.. Maaf maaf.. Aku salah bicara.. Lebih baik aku panggil gadis-gadis cantik untuk menemani kita”Tritan akhirnya memanggil 4 gadis tercantik di TopHill, 2 untuk menemaninya dan 2 untuk menemani Daniel. Saat gadis-gadis itu datang. Mereka tanpa basa basi duduk menempel dengan tubuh Daniel.


Siapa yang tidak berharap bisa menjadi wanita Daniel, mungkin sejauh ini hanya Ara yang tak tertarik untuk berdekatan dengannya. Mengingat Ara, Daniel semakin marah. Dengan emosi ia mencoba meladeni gerakan gadis-gadis di sampingnya. Ia mulai mencium bibir salah satu gadis di sampingnya. Berusaha melepaskan apa yang ingin dia lepaskan pada Ara beberpa hari lalu.


***


Beberapa jam sepeninggal Daniel dan Kevan. Ara duduk di sofa panjang di depan TV. Ia berusaha berpikir bagaimana ia harus bersikap. Untuk bertemu ibunya ia harus bersama Kevan dan datang ke badAra besok, tapi jika ia pergi, ia akan menyakiti Daniel., bagaimanapun Daniel sudah begitu baik dan manis. Jika ia pergi dengan Kevan, Daniel akan mengira ia kembali bersama Kevan lagi.


“Aku harus bertemu dengan Daniel, bagaimanapun aku harus menjelaskan ini semua"


Akhirnya dengan buru-buru Ara memutuskan untuk menyusul Daniel pergi ke Topnhill.


Sesampainya disana, Ara terus melangkah menuju ruang VIP biasa dimana Daniel berada. Belum sempat benar-benar masuk. Ara sudah melihat sosok Daniel dari celah pintu sedang mencumbu seorang gadis cantik sekilas begitu terlihat intim. Jantung Ara berdegup kencang. Entah bagaimana melihat pria itu mencumbu seorang gadis cantik begitu intim ia merasa sesak di hatinya.


“Kenapa sesak sekali? apa aku sedang cemburu? apa aku harus masuk atau itu justru menganggu?”Tanyanya dalam hati. Ara perlahan melangkahkan kakinya mundur meninggalkan ruangan itu. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk.


Ara tahu meskipun ini kesalahannya, meskipun ini berawal dari kesalahpahaman Ara merasa tak berhak marah. Daniel berhak berpaling darinya. Banyak hal yang menguatkan alasannya, mungkin salah satunya hingga hari ini ia belum mau benar-benar memberikan hak Daniel sebagai suaminya.


“Daniel adalah sosok impian semua gadis, dia Kaya, pintar, tampan, mencari 100 gadis sepertinya mungkin tidak sulit. Tapi kenapa ada rasa tak rela dalam hatiku?”Ara benar-benar mengayunkan langkah cepat meninggalkan TopHill.


Sepanjang perjalanan menuju apartemennya hanya wajah Daniel mencumbu gadis tadi yang terbayang, bahkan membuatnya sampai menangis.


“Kenapa aku bisa menangis? apa aku jatuh cinta padanya? ayolah Ara, bukankah ini yang selalu kau inginkan dia pergi darimu? lalu kenapa kau sedih?”Tanya Ara dalam hati. Ia berusaha tak menangis tapi justru air matanya lebih deras mengalir.


***


Jam menunjukan pukul 9:15 pagi. Ara sedetikpun tak bisa menutup matanya untuk tidur. Insomnia nya kambuh semalaman. Ia terus saja memandangi layar ponselnya, berpikir untuk menghubungi Daniel atau berpikir Daniel akan menghubunginya. Di kepalanya hanya Daniel.


“Sudahlah, dia tak akan menghubungimu Ara, kau benar-benar mengecewakan"


Akhirnya dengan langkah gontai, Ara memasukan pakaiannya ke dalam sebuah koper, ia bersiap-siap menuju bandAra. Ia akhirnya memutuskan untuk pergi bersama Kevan untuk bertemu ibunya. Entah itu benar atau tidak, berada di sini saat ini justru membuatnya lebih tertekan.


Sesampainya di bandAra pukul 9:53. Dengan setelan blouse berwarna maroon di padukan dengan rok span hitam,heels dan tak lupa kacamata hitam untuk menutupi lingkar hitam di matanya, lekuk tubuh langsing Ara terlihat mempesona. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri Kevan yang sedari tadi sudah menunggunya.


“Aku tahu kau akan datang”Seru Kevan


“Hemm”Jawab Ara singkat


“Oke, ayo kita berangkat”Seru Kevan sambil meraih tanga mungil Ara masuk ke genggamananya, membuat Ara kikuk.


“Kita akan kemana?"


“Kota L"


Mendengar nama kota L, mata Ara membulat. Kota L kota maju ketiga di China. Tapi seingatnya, ia tak pernah tahu disana ada hutan atau semacamnya, seperti kota A, industri dan perusahaan di kota L begitu maju pesat, Ara mulai berpikir serius. “Apakah kali ini Kevan mempermainkan nya lagi?”Tanya Ara dalam hati “Baiklah, kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya"