Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 134: Aku mau kamu dan anak ini!



"Tritan, aku hamil" ujar Elly pada Tritan yang sedang asik duduk di atas sofa sambil memegangi segelas wine di tangannya. Tritan yang sedang tertawa karena acara komedi di salah satu stasiun televisi tiba-tiba berhenti tertawa kemudian menoleh pada Elly yang berada di ambang pintu kamar mandi sambil memegangi sebuah testpack, di alat itu terlihat dua garis merah.


Melihat reaksi Tritan yang tiba-tiba diam, Elly kemudian berjalan mendekati Tritan dan duduk di sampingnya sambil menyandarkan kepalanya di dada pria itu dengan manja. Tritan menggoyang-goyangkan gelas wine memutar di tangannya tanpa reaksi apapun. Elly mendongak kemudian mencubit kedua pipi tritan dengan satu tangannya mencoba mengalihkan pandangan wajahnya untuk menatapnya. Pandangan mata mereka beradu, Elly tersenyum manja sambil mendekatkan bibirnya pada bibir Tritan.


"Aku bilang, aku hamil dan kau akan menjadi ayahnya" ujar Elly kemudian tersenyum.


Tritan memegang tangan Elly dan melepaskan tangan wanita itu dari wajah Tritan. Pria itu masih tidak bereaksi apapun, Elly sedikit gelisah melihat Tritan tak bereaksi seperti ini.


"Biasanya pria ini begitu manis dan manja padanya tapi setelah mendengar kehamilannya bukankah itu berita bagus dan ia seharusnya bahagia?" batin Elly sambil mengerutkan alisnya bingung.


"Gugurkan" jawab Tritan ringan,


Sebuah dentuman meras masuk dari telinga menancap tajam mencengkram jantung Elly. Air matanya mulai membendung di pelupuk matanya.


"A.. apa kau bilang? coba ulangi?!"


"Aku bilang gugurkan kandunganmu" Ucap Tritan kemudian meneguk wine ditangannya sambil mengganti chanel televisi di depannya, Elly masih tercengang tapi Tritan justru sesekali tertawa melihat acara televisi yang ia tonton, tidak ada beban, tidak ada kesan. Ia justru sangat santai mengucapkan hal mengerikan barusan.Hal ini membuatnya sangat kesal.


"Apakah kehamilanku hanya lelucon yang dia bilang gugurkan maka bisa dengan mudah di gugurkan?!" batin Elly kesal, ia kemudian merebut remot TV dari tangan Tritan, mematikan TVnya kemudian melemparkan remotnya ke sembarang tempat. Tritan sempat terkejut namun mencoba tenang.


"Apa yang kau lakukan? aku sedang menonton TV"


"Kenapa kau minta aku menggugurkan kandungan ini? ini anakmu, darah dagingmu kenapa kau setega itu?!" tanya Elly dengan penuh rasa kesal di hatinya.


Tritan menoleh pada Elly, "Kau tak berpikir untuk memiliki anak dariku kan Elly? lagi pula aku sudah memberikanmu obat pencegah hamil lalu kenapa kau bisa tetap hamil? apa obat itu kau benar-benar meminumnya?


Kaki ini Elly benar-benar tak bisa lagi membendung air matanya, semakin lama semakin deras. Tritan yang berada di depannya jadi serba salah. Di kota A ini sudah puluhan wanita juga mengatakan hal yang sama pada Tritan, mereka hamil dan minta pertanggung jawaban, Tritan akhirnya memeluk Elly yang terisak sendu itu.


"Kau jahat Tritan kau jahat!" ujar Elly sambil memukul-mukul dada bidang Tritan. "Kau bilang cinta aku, tapi kenapa kau minta aku menggugurkan kandunganku?" sambungnya.


"Aku mencintaimu Elly tapi tak berpikir untuk memiliki anak, sejak kecil pernikahanku sudah di atur oleh keluargaku Elly. Besok kita ke dokter ya, kita bisa terus bersama tanpa anak itu, oke?"


"Tidak!!"


"Jangan keras kepala Elly"


"Aku mau kamu dan anak ini!"


"Pilihlah salah satu, aku atau anak itu! kau tak bisa memiliki keduanya, datang padaku jika kau sudah menutuskannya" Ujar Tritan bangun dari duduknya, memakai mantel dan mengambil kunci mobil kemudian menghilang dari balik pintu apartemen mewah itu, meninggalkan Elly tanpa perasaan.


"Tritan, kau benar-benar brengsek!" teriaknya sekeras mungkin, mengutuk pria yang telah hilang itu.


***


Beberapa hari, Ara dan Daniel sibuk menganalisa semua dokumen serta laporan keuangan yang pernah Ara bawa ke rumah beberapa tahun lalu, di lihat dari manapun laporan itu semuanya janggal. Tapi hanya dokumen ini saja itu tidak akan mendukung apapun, alibinya tidak cukup kuat tapi cukup membantu. Untuk pertama kalinya, Daniel juga membahas tentang apa yang sebenarnya terjadi saat 3 tahun lalu, Ara akhirnya mau tidak mau menceritakan hal yang membuatnya menghilang. Semakin di ceritakan, wajah Daniel semakin terlihat dingin. Kadang terdengar suara gertakan giginya dan juga ia terlihat mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Clara dan Elly benar-benar dalang dari semua ini, kalian akan merasakan sakit lebih banyak dari yang Ara rasakan, aku jamin itu" ujar Daniel dalam hati kemudian memeluk Ara.


"Maafkan aku Ara, jika aku tak meninggalkanmu kau tak harus melalui hal buruk itu" Ujar Daniel sambil membelai lembut helaian rambut Ara, Ara tersenyum.


Tak lama kemudian, suara deringan ponsel Daniel berbunyi, Daniel melepaskan pelukannya pada Ara dan merogoh ponselnya yang berada di dalam kantong. Daniel segera menjawab panggilan itu.


["Ada apa?"]


["Baiklah, aku akan kesana"] ujar Daniel kemudian menutup panggilannya. Matanya kemudian beralih pada Ara lagi.


"Ara, aku harus pergi, ini sudah malam, kau jangan keluar rumah ya"


"Iya, oke"


Daniel beranjak dari hadapan Ara setelah mengambil kunci mobil di atas meja kerja dan mencium kening Ara.


Setelah kepergian Daniel, Ara pergi ke kamar Brandon. Brandon baru saja tertidur, hari ini ia sepertinya sangat kelelahan karena berenang dan bermain dengan Paw dan juga Happy.


"Brandon baru saja tertidur, Nyonya" ujar Lisa tersenyum.


Ara mengangguk dan membalas senyuman Lisa.


"Lisa, apa kau mau temani aku minum teh di taman belakang?" tanya Ara dan langsung di setujui oleh Lisa.


Lisa pergi ke dapur kemudian membuat dua cangkir teh dan memberikannya pada Ara yang duduk di teras belakang rumah. Beberapa saat, Ara memperhatikan gadis di sampingnya ini. Wajahnya lumayan cantik dan dia juga masih sangat muda.


"Lisa, berapa umurmu?" tanya Ara.


"21 tahun, Nyonya"


Ara mengangguk sambil menyeruput tehnya, "Usiamu masih sangat muda lalu kenapa mau jadi Babysitter? banyak lowongan pekerjaan di luar yang memiliki jenjang karir, kenapa kau tak mencobanya??"


Beberapa saat Lisa terdiam, pandangan matanya ia lempar jauh ke atas langit yang cerah dan berbintang. Ara memperhatikan wajah gadis di sampingnya, "Ada apa?" sambung Ara bertanya pada Lisa, Lisa menunduk dan tersenyum pada Ara.


"Di dunia ini, tak banyak orang yang memiliki nasib yang bagus Nyonya," Ujarnya sambil tersenyum getir, Ara semakin mencondongkan tubuhnya menghadap Lisa seperti ingin mengetahui lebih banyak tentang dia. "Nyonya, sebenarnya aku adalah mahasiswi semester akhir, aku harus berhenti kuliah karena harus membiayai ibuku yang sakit dan aku tidak sanggup untuk membayar kuliahku. Aku sudah mencari pekerjaan selama satu bulan tapi tidak ada yang menerimaku sampai akhirnya aku bertemu dengan seniorku kak Yogi saat ia berlibur. Saat itu dia bilang Bosnya sedang mencari Babysitter untuk anaknya dan ia menawariku, aku tanpa pikir panjang langsung menerimanya karena ia bilang kalian orang yang baik dan bayaran yang di tawarkan juga bagus"


Ara mendengarkan dengan seksama, benar yang di katakan Lisa. Ara pernah mengalaminya sendiri. Saat ia lulus dari bangku SMA ia juga sempat melamar ke berbagai perusahaan, tapi jaman sekarang mencari pekerjaan dengan hanya memegang ijazah SMA sangat sulit, saat itu ia juga beruntung masih ada yang mau menerimanya bekerja meskipun hanya sebentar karena ayahnya saat itu memintanya ke kota A.


"Aku rasanya ingin sekali membantu mu Lisa, tapi saat ini Daniel kehilangan perusahaannya dan aku baru akan merebut kembali perusahaanku" batin Ara dalam hati.


"Lisa, semangat!! aku akan berdoa untuk kebahagiaanmu" ujar Ara menyemangati Lisa, seketika senyum Lisa berkembang.


"Trimakasih, Nyonya"