Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 110: Apa kau ingat?



Setelah hari yang panjang, matahari mulai meredupkan sinarnya berganti malam. Setelah makan malam dan berjalan-jalan sebentar, Ara dan Brandon kembali ke kamar, Medina dan 2 orang pengawal lainnya yang berjalan beberapa meter di belakang mereka terus mengikuti kemanapun mereka pergi membuat Daniel benar-benar tak nyaman. Sesekali Ara menoleh ke belakang, memperhatikan 3 orang di belakang mereka dengan wajah yang aneh.


"Daniel, sebenarnya mereka itu siapa? kenapa mengikuti kita?" tanya Ara pada Daniel yang berjalan satu langkah di depannya sambil meggendong Brandon dan memegang tangannya. Beberapa detik Daniel tak menjawab, ia terus berjalan tak menanggapi pertanyaan Ara sampai Ara menggoyangkan tangannya isyarat ia menunggu jawaban, ini sudah pertanyaan ke sekian kalinya setelah mereka bertemu di tepi pantai Wanalulu barusan.


"Mereka utusan kakekku"


"Kakekmu? kenapa ia mengirim mereka kemari? apa ada masalah?"


"Iya" jawab pria itu singkat


"Masalah apa?" tanya Ara semakin di buat


penasaran, apalagi saat ini ekspresi Daniel sungguh sulit di tebak. Raut wajahnya sedingin es jika bukan sesekali Brandon bercanda dengannya sangat tidak mungkin ia menarik senyum di bibirnya itu. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap Ara dalam-dalam, tiga orang di belakang mereka pun ikut berhenti.


"Aku ceritakan nanti di kamar, biar ku pikirkan bagaimana cara terbaik memberitahumu, oke?" Seru Daniel dengan wajah sedikit memohon, Ara pun segera mengangguk tak memaksa Daniel menjawab keingintahuannya yang sudah ia tahan sampai ubun-ubun itu.


Sesampainya di kamar, Daniel masih bermain bersama Brandon di kamarnya sedangkan Ara masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu ia membuka pintu balkon kamarnya dan duduk di lantai, merendam pergelangan kakinya masuk kedalam air laut.


Pemandangan balkon kamar mereka adalah yang terindah, dari balkon ini Ara bisa dengan mudah bermain Air laut di bawah juga bisa berenang jika kau mau. Ara tersenyum memejamkan matanya berusaha menikmati suara desiran air dan dinginnya angin yang terus menyapu wajah putih dan rambut panjang bergelombang miliknya.


Mata Ara terbuka, ia mendongak dan melihat langit penuh bintang. Rasanya syahdu sekali pemandangan malam ini, rasanya seperti memiliki dua nyawa setelah hampir mati jatuh dari ketinggian seperti tadi. Jika ia teringat akan hal tadi, rasanya masih merinding dan tak percaya ia bisa selamat dan yang lebih tak bisa di percaya lagi sekarang ia bisa duduk menikmati indahnya malam ini.


Di tengah lamunannya, tiba-tiba sebuah tangan melingkarkan selimut hangat di bahunya, Ara seketika mendongak dan menoleh ke belakang kepalanya dan melihat sebuah senyuman dari wajah tampan Daniel. Ia memakai kaus putih longgar dengan short pants selutut berwarna coklat susu. Di lihat dari rambutnya yang basah masih menitikkan titik-titik air dan juga handuk putih kecil yang melingkar di lehernya, sepertinya ia baru saja mandi tanpa ia sadari. Mata Ara mengikuti gerakan Daniel yang kemudian ikut duduk disampingnya.


"Kau tak merasa dinginkah?" tanya Daniel menoleh pada Ara.


"Dingin,"


Ara menggeleng tersenyum, arah pandangan matanya ia lempar menatap jauh ke batas laut gelap didepannya. Pikirannya menerawang melayang mengingat jutaan memori yang membekas di dalam pikirannya. Kadang terlintas di benaknya, ada jutaan ingatan yang ada di kepalanya, tapi kenapa hanya ingatan beberapa tahun ke belakang saja yang hilang? Seperti Tuhan sedang memilah dan membuang ingatan buruk untuk di gantikan dengan ingatan baru yang lebih baik. Sekali lagi Ara tersenyum menggeleng kecil dan Daniel yang duduk di sampingnya masih memandanginya dengan wajah lembut.


"Waktu aku kecil, aku tinggal di pedalaman kota C. Setiap hari Kamis malam, aku akan menonton saluran TV yang khusus membahas rumah-rumah indah yang memiliki pemandangan indah, aku masih ingat aku begitu terpukau dengan indahnya pemandangan di rumah-rumah itu, salah satunya rumah yang menghadap langsung ke laut seperti kamar di resort ini. Aku yang hidup miskin, berkhayal jika suatu hari nanti kelak aku tumbuh dewasa apa aku bisa pergi ke sebuah tempat atau rumah yang memiliki pemandangan seperti di TV itu? kala itu aku seketika tertawa dan terbangun dari lamunanku, aku bergumam dalam hati mana mungkin? kota C sangat jauh dari pantai, butuh waktu 3 jam lamanya untuk berada di sana dan ibuku tinggal sendiri, aku tak pernah di izinkan pergi. Tapi siapa sangka, semesta saat ini sedang mengaminkan doa masa kecilku, sekarang aku benar-benar duduk di tempat ini dan menatap pemandangan luar biasa seperti ini, yang lebih mengejutkan aku berada di sini bersama anakku dan juga pria asing yang mengaku-ngaku sebagai suamiku" Ara tertawa kecil menoleh pada Daniel yang merubah wajahnya menjadi sangat aneh,


"Saat ini aku baru menyadari bahwa Tuhan bekerja mengabulkan doa dengan cara unikNya, meskipun lambat tapi selalu di waktu yang tepat" sambungnya.


Daniel tertegun dengan kalimat terakhir yang Ara ucapkan barusan, Ara mengatakan hal yang benar. Tuhan selalu mengabulkan doa dengan 3 cara, langsung di kabulkan saat itu juga atau membuat kita menunggu lebih lama dan menyimpannya sebagai sebuah kejutan yang tak di sangka-sangka atau mengganti doa itu dengan sesuatu yang lebih baik.


Seperti cerita cintanya yang sudah 10 tahun lebih mencintai wanita cantik di sampingnya ini. Jika Ara membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun untuk menikmati pemandangan indah lautan seperti hari ini, maka Daniel menghabiskan lebih dari 10 tahunnya untuk bisa bersama gadis impiannya yang ia temui tak sengaja di acara malam itu. 10 tahun lebih bermimpi, 10 tahun lebih berdoa menanti kapan waktu itu terjadi. Sampai Tuhan memberinya jawaban dan juga hampir kehilangan. Tapi, setelah 2 tahun lebih menunggu dengan hampir putus asa ternyata akhirnya mimpi itu kembali dan ia tidak sendiri, Brandon hadir menjadi bonus dari doa-doanya bertemu Ara. Bukankah itu sangat luar biasa?


"Ara, apa kau masih ingat pesta pernikahan keluarga Kang di kota C? usiamu mungkin masih 16 tahun dan menjadi pelayan saat itu? " tanya Daniel,


Ara mengangguk ragu setelah mencoba memanggil ingatannya hari itu dan tertegun menyadari sesuatu yang aneh dari pertanyaan Daniel barusan." Ya aku ingat


, tapi Kau tahu darimana aku pernah menjadi pelayan di acara itu? " Ara penasaran dan lebih mencondongkan tubunya menghadap Daniel.


"Kau ingat pria yang kau temui di balkon belakang rumah pada pesta kali itu?" tanyanya lagi, Ara menggeleng.


"Kau ingat setiap hari minggu saat kau SMA dulu, kau akan datang mengunjungi toko seorang nenek tua yang menjual bunga di pinggir jalan dekat dengan sekolahmu dulu? kau akan membantunya berjualan, setiap hari minggu. Kau akan keluar rumahmu menaiki sepeda di jam 10 pagi pergi ke toko nenek itu. Toko itu akan selalu ramai pembeli tapi ada satu hari minggu di setiap bulan tidak ada seorangpun yang datang kecuali ,satu pria yang selalu membeli habis bunga disana dan selalu memberikan satu tangkai bunga matahari padamu. Apa kau ingat?"


Kata-kata Daniel barusan membuat


hati dan tubuhnya tiba-tiba bergetar, ingin menanyakan satu pertanyaan yang baru saja terus menelisik di hati dan pikirannya, tapi keberanian itu tenggelam dan timbul bergantian, ia takut untuk berpikir pria itu adalah pria yang sedang duduk di depannya saat ini. Ara terdiam,


"Apa kau ingat, seorang pria memakai sweater hitam yang memberikanmu sebuah payung berwarna biru ketika kau berjalan di bawah hujan sore itu, tapi tanpa perasaan kau justru menggunakan payung itu berjalan bersama pria lain, pria itu Denis yang kau temui sesaat setelah pria tadi memberikanmu payung. Apa kau ingat?"