Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 29: baiklah, itu mudah



Setelah beberapa saat meratapi kebodohannya atas Daniel, Ara bersiap berangkat ke kantor. Saat membuka pintu, Ara melihat seorang pria muda berdiri di depan pintu Apartemennya. Saat ia melihat Ara dari balik pintu, ia tersenyum manis.


“Apa aku mengenalmu?"


“Hai selamat pagi nona Ara, saya Yogi, tuan Daniel meminta saya untuk mengantar nona pergi bekerja, apakah nona sudah siap?"


“Tuan Daniel? jadi pria itu adalah seorang Tuan? Tuan apa?”Ara tersenyum canggung menatap Yogi. “Dia meminta bawahannya mengantarku, apa artinya dia tak marah padaku?benarkah? apa aku harus menghubunginya? ah tidak, ini memalukan”Batin Ara.


“Dimana Daniel sekarang?"


“Tuan Daniel sedang ada keperluan mendadak, ia juga mengatakan akan menghubungi nona setelah ia kembali"


Ara tak menjawab apapun, ia hanya mengangguk dan mengikuti langkah Yogi menuju mobilnya.


Yogi beberapa kali melirik Ara dari kaca Spion. Ia melihat istri bosnya ini memang sangat cantik. Di lihat dari sudut manapun tetap cantik. Tak heran, bosnya menolak banyak gadis hanya untuk bisa bersamanya.


“Yogi, beritahu aku Daniel bekerja dimana?"


“HD Investment, Nona"


Sepanjang yang Ara tahu saat bekerja dengan Kevan, ia tak pernah mendengar perusahaan dimana Daniel bekerja. Perusahaan Wingsley adalah perusahaan besar, hampir semua perusahaan berlomba untuk bekerja sama dengannya, namun tak sekalipun ia mendengar nama perusahaan Daniel. Mungkin Daniel benar, ia bekerja hanya di perusahaan kecil. Ara menghela nafasnya. Bagaimana bisa bersaing dengan Kevan, jika ia tak memiliki kekuatan yang cukup. Daniel hanya akan bunuh diri sendiri jika terus begini.


Tak lama setelahnya, mereka sampai di lobby kantor Wingsley. Ara di sambut banyak mata yang memandangnya dengan wajah heran, seakan bertanya-tanya, bagaimana dia masih memiliki muka untuk bekerja di perusahaan ini. Batin Ara berteriak-teriak, jika bukan karena kontrak kerja itu, ia tak akan datang kemari lagi untuk bekerja.


“Ara!!"


Tak lama setelah ia turun dari mobil, ia menyusuri lorong Lobby denga ragu, beberapa lama kemudian terdengar suara yang tak asing di telinganya. Itu suara Gerry. Ia menoleh ke asal suara di belakang kepalanya. Saat melihat Gerry yang tersenyum padanya, ia membalasnya dengan senyuman.


“Hai Gerry"


“Wah, beberapa minggu tak melihatmu kau semakin cantik"


“Wah wah beberapa minggu aku tak melihatmu kau semakin pandai merayu ya Ger, ckckc"


Tawa mereka berhenti ketika mereka melihat mobil Kevan berhenti di pelatAran Lobby. Jantung Ara berdegup kencang.


Kaki panjang Kevan menuruni mobil Maybach hitam mewahnya. Setelan jas berwarna cokelat susu dan kaca mata hitamnya seperti biasa, ia tampak begitu tampan dengan Aura dinginnya.


Mata Kevan terus memandangi Ara dari ujung kaki hingga kepala di balik kaca mata hitamnya. Langkahnya mengayun melewati Ara dan Gerry tanpa senyuman sama sekali. Benar-benar dingin.


Ara melewati lorong-lorong kantor seperti seorang *******, banyak mata dab mulut yang diam-diam memakinya dalan hati. Ara tak henti-hentinya mengerutkan alisnya. Menunduk dan menghela napas berkali-kali.


Kevan yang berjalan di sampingnya, melirik Ara dengan aneh. Ia mengeluarkan tangannya dari dalam saku jasnya dan meraih jemari Ara untuk di genggam. Seketika Ara mengangkat wajahnya dan menatap Kevan yang ada di sampingnya, ia berusaha melepas genggaman Kevan namun percuma. Kevan tak memperdulikan mata Ara yang membulat marah.


Gerry melihat tangan Ara yang di genggam oleh Kevan hanya bisa mengerutkan kening dan menggelengkan kepalanya.


Bosnya benar-benar tak peduli rumor apa yang akan tersebar jika ini terus berlanjut.


Sesampainya di depan pintu ruangan Kevan. Langkah Kevan berhenti. Ia menoleh ke Arah Gerry dan memintanya tetap berada di luar. Sementara itu ia menarik tangan Ara untuk masuk ke dalam ruangannya.


Ini hari pertamanya bekerja dan Kevan apa yang mau dia lakukan?


Pintu tertutup. Jantung Ara bedegup sangat cepat. Kilatan mata Kevan seperti akan membunuhnya saat ini. Tiba-tiba ia menyesali keputusannya untuk kembali. Tangannya melingkar di pinggang Ara hingga tubuhnya menempel kuat di tubuh Kevan. Ara sekuat tenaga menjauhkan wajahnya dari wajah Kevan yang terus mendekat.


“Tidak ada"


“Kalau begitu lepaskan aku!"


“Kau tahu melepaskanmu itu mustahil"


“Kau sudah menikah dan aku juga sudah menikah, harusnya kau tahu batas"


“Tidak ada batasan untuk dua orang yang saling mencintai Ara"


Tiba-tiba Kevan mencium bibir Ara, tangannya melingkar kuat di pinggang gadis itu ia bahkan sampai tak bisa bergerak.


“Plak!!!"


Sadar atau tidak, tangannya menampar keras pipi Kevan. Karena tamparan itu, Kevan melepaskan pinggang Ara. Mata Kevan seketika menghitam menatap Ara. Pandangan itu pandangan yang tak pernah ia lihat sekalipun. Ada perasaan takut tak bisa di jelaskan di dalam hati Ara. Ia tahu ia berlebihan, tapi Kevan tak bisa di biarkan. Rasa sakit mendengar rekaman itu masih terasa dan sekarang dengan mudah pria itu menciumnya. Ara benar-benar tak ingin merasa seperti gadis murahan untuk kedua kalinya.


“Aku secara profesional datang untuk bekerja denganmu karena kontrak kerja itu! jika kau tak bisa bekerja sama dengan baik, aku akan pergi"


Kevan tertawa sinis mendengar ucapan Ara. Ia masih memegangi pipinya yang merah karena tamparan Ara. Langkahnya terus mendekati Ara.


“Bekerja sama dengan baik?kaulah yang harusnya melakukan itu, jika tidak, masa depan seseorang akan hancur karena mu"


Mata Ara membulat. Sekali lagi Kevan mengancamnya dengan ancaman murahan seperti ini. Ara melengkungkan senyuman sinisnya pada Kevan. Kevan tak bisa menyembunyikan wajah herannya.


“Jika kau ingin hancurkan dia, maka hancurkan lah, aku tak peduli"


“Kau tak peduli padanya tapi kau menikah dengannya? wah wah, hanya untuk membalasku kau harus susah payah menikah dengan pria itu? aku hampir berpikir kau benar-benar menyukainya, tapi ternyata di hatimu masih ada aku”Kevan tertawa puas, wajahnya terlihat berbeda dengan beberapa saat lalu. Mendengar kenarsisan dirinya Ara benar-benar merasa mual.


“Cih!! jikapun aku tak menyukainya aku pun tak ingin bersamamu lagi!!"


“Sudah ku katakan, meskipun kau tak ingin, kau tak punya pilihan lain!! ceraikan dia dan kita akan bersama"


Mendengar perkataan Kevan, Ara tersenyun licik. Ara mendekati Kevan dan menyentuh lembut pipi Kevan yang masih merah. Dengan tatapan menggoda ia menatap Kevan. Melihat perubahan di wajah Ara, Kevan mengerutkan keningnya.


“Baiklah, aku akan menceraikannya dan kembali padamu, dengan satu syarat, berikan cincin itu padaku dan aku akan jadi simpananmu selamanya, bagaimana?"


Tanpa di duga mendengar ucapan Ara, Kevan melepaskan tangan gadis itu dan tertawa terbabak-bahak, ia melangkahkan kakinya mundur dan membawa tubuhnya duduk di belakang mejanya dengan santai.


“Baiklah, itu mudah"


Jawaban Kevan sangat bisa di tebak. Kevan bukanlah pria sembArangan, ia adalah pebisnis ulung di kota A, ini hanya negosiasi murah untuknya. Ara tak berpikir Kevan akan benar-benar menepatinya. Jika semudah itu, sejak dulu Romanof sudah merebut cincin itu dari Wingsley. Tapi kali ini, Kevan sepertinya tak main-main, ia berhasil membuat Ara kaget dan tak percaya ketika ia membuka sebuah kotak perak dari dalam laci meja kerjanya. Dari dalam kotak itu, ia mengeluarkan sebuah cincin bermata biru, itu adalah cincin keluarganya.


Kevan bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Ara yang masih terpaku melihat cincin di tangan Kevan. Saat ia mendekat, dengan cepat Ara berusaha merebut cincin itu dari tangan Kevan, namun tentu saja tak semudah itu. Ara menatap Kevan dengan kesal.


“Cincin di tukar dengan tubuh, kau pikir tubuhmu semahal itukah?


Meskipun Ara tak berpikir ingin menjadi simpanannya untuk kedua kalinya, tapi cincin itu masih penting untuknya, hanya cincin itu yang bisa membawa ibunya kembali ke sisinya.


“Tentu saja, kalau tidak, kau tidak akan memintaku bercerai, jadi berikan cincin itu padaku dan kau akan mendapatkan apa yang kau mau"


“Semuanya tergantung seberapa baik kau bekerjasama denganku"