
Sepulang dari kantor Kevan, Daniel segera datang ke kantor Down Grup, duduk di singgasana yang sudah lama sekali tak ia duduki. Hanya di kantor itu ia bisa dengan mudah menemui Shamus, karena si tua itu sangat menyayangi kantor ini.
Yogi berdiri di depan Daniel dengan wajah yang gugup, ia tak pernah melihat wajah Daniel semengerikan ini dalam jangka waktu 1 tahun belakangan di tambah belakangan ini mood Daniel emang sedang tidak baik.
Seingat Yogi, Daniel pernah berwajah seperti ini adalah ketika mengetahui Ara berhubungan dengan Kevan dan saat ia menyerahkan foto -foto mesra gadis itu dengan Kevan. Daniel pernah sangat marah, hingga berbulan-bulan, moodnya baru berubah lebih baik ketika ia bertemu dengan Ara dan memutuskan untuk menikah dengannya. Saat itulah Singa itu berubah menjadi manis seperti seekor kucing.
"Yogi! kenapa kau menatapku seperti itu?" Seru Daniel tiba-tiba mengarahkan pandangannya pada Yogi dengan wajah ketus.
"Tidak..Tidak ada, Bos"
"Sekarang pergi, cari tahu dimana Ara berada dan cek siapa pemilik nomor ini dan dimana lokasinya sekarang" Seru Daniel kemudian memberikan secarik kertas berisi nomor telepon dari kontak ponselnya. Ia ingin tahu siapa yang berani-beraninya menyabotase ponsel miliknya. Meskipun sudah sangat jelas pelakunya, tapi menuduh seseorang tentu saja butuh bukti.
"Baik, bos" jawab Yogi kemudian meninggalkan Daniel sendiri. Sebenarnya Ia bersyukur tindakan melacak Ara ini tak ia lakukan sejak awal, jika ia lakukan sejak awal, ia tidak akan tahu apa yang terjadi sebenarnya dari mulut Kevan.
Setelah Yogi meninggalkannya, Daniel segera membuka blokir di ponselnya. Ia melihat laporan blokir dan semua pesan yang masuk dengan nomor tersebut. Totalnya ada lebih dari 200 panggilan dan 140 pesan di sana. Hati Daniel tiba-tiba terasa sakit, sebanyak ini Ara berusaha menghubunginya, lebih banyak dari yang ia lakukan pada Ara.
Satu persatu ia membuka isi dari pesan -pesan itu.
"*Daniel, aku sampai di kota G, apakah kau bisa datang atau menghubungiku?"
.
"Aku menghubungimu entah sudah berapa kali, kenapa kau tak membalas pesan ku? kau benar-benar berencana menceriakan ku?"
"Daniel, aku merindukanmu"
"Sayang, kau sudah makan? apa yang sedang kau lakukan?! hubungi aku"
"Aku jatuh pingsan dan sekarang di rumah sakit, apa kau bisa kesini dan menemaniku??"
"Daniel, aku hamil"
"Jangan marah lagi, aku tak ingin bercerai dengan mu, maafkan aku"
"Aku melihat konferensi pers mu dengan Windy ,apa kau benar akan menikah dengan Windy? apakah ini alasan kenapa kau ingin bercerai denganku? apakah sejak awal kau sudah berniat begini padaku? kau bilang kau tak akan melepaskan tanganmu, laku kenapa kau melepaskan tanganku dan berusaha keras mendorong ku pergi dari hidupmu? apakah semua hal yang kita lakukan dulu tak berarti? anak ini juga tak lagi berarti untuk mu?"
"Daniel, bisakah kau cari alasan lain untuk meninggalkan ku? aku pernah di campakkan seperti ini, lalu kenapa kau mencampakkan aku dengan alasan yang sama? ada ribuan keburukan dariku, jika kau memutuskan berpisah karena salah satu dari keburukan ku itu mungkin aku akan terima,aku sekarang sudah hamil, aku akan melahirkan anakmu, lalu kenapa kau masih memutuskan untuk berpisah denganku? apakah ini salah satu tujuanmu mempermainkan ku? Daniel ku mohon kembalilah"
"Daniel, aku baru menyadari kau begitu berarti, hati ku sesak melihatmu bersamanya. Aku mohon kembalilah padaku, kita besarkan anak ini bersama, ku mohon"
"Baiklah, jika keputusanmu sudah bulat, aku tak akan lagi mengganggumu, untuk yang terakhir kalinya aku hanya ingin mengatakan aku merindukanmu, aku mencintaimu*"
Itu hanya beberapa pesan yang sanggup Daniel baca. Pesan pertama yang masuk adalah 2 minggu lalu, saat gadis itu berangkat ke kota G. Itu artinya saat Ia memutuskan datang ke kota G, Ara sudah menerima pesan dari nomornya tentang perceraian itu. Dengan kondisi hamilnya, ia menerima sebuah kabar perceraian pasti sangat menghancurkan hatinya, ia tak bisa membayangkan perasaan istrinya pada saat itu.
Ia juga berpikir Jika saja semua pesan itu di ketahui nya sejak awal, jangan menjelaskan tentang kehamilan dan cintanya itu, jikapun hanya sebuah pesan bertuliskan ia merindukanmu saja sudah bisa membuat hatinya luluh dan segera berlari untuk menariknya lagi ke dalam pelukannya. Air mata Daniel tak kuat terbendung lebih lama.
"Pantas saja wajahmu sesendu itu Ara, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku!! Berapa tololnya aku meninggalkan ponselku di rumah sakit kala itu, jika aku tak seidiot itu, kita tidak akan seperti ini" Gumam Daniel menguruk dirinya tanpa henti. "Sekarang kau dimana?" Tangan Daniel tak henti menekan nomor asli Ara di dalam ponselnya. Ponsel Ara tidak aktif. Hal itu membuat Daniel semakin gusar. "Aku harap kau tak melakukan hal-hal bodoh yang mengancam nyawamu dan anak kita Ara"
Tak berapa lama kemudian Yogi datang membawa 1 lembar kertas dan di serahkan pada Daniel. Kertas itu berisi data dari nomor yang ia berikan tadi. Seperti dugaannya, nomor itu milik Windy.
"Gadis itu benar-benar brengsek!" seru Daniel kesal, matanya beralih menatap Yogi, cukup membuat Yogi bergetar," Lalu, apa kau sudah tau lokasi istriku?"
"belum ada bos,"
"Oke", Dengan langkah cepat Daniel keluar dari ruangannya menuju ruangan Shamus. Saat sudah sampai di depan ruangan Shamus, Medina asisten pribadi Shamus menghalangi langkahnya.
" Maaf tuan muda, Tuan Marquis sedang ada tamu, Anda tidak bisa masuk"
"Medina, minggir!"
"Maaf Tuan, tidak bisa"
Daniel benar-benar kehilangan kesabaran, ia menyingkirkan tubuh Medina kesamping dan tetap membuka pintu ruangan Shamus. Ia melihat kakeknya sedang duduk di ruangan bersama beberapa orang, melihat wajah Daniel yang tajam, ia kemudian meminta semua orang untuk pergi.
"Ada angin apa hingga kau datang ke kantor?"
Daniel menahan semua emosi di dadanya, ia duduk di sofa tak jauh dengan Shamus.
"Kakek, apakah perusahaan ini sangat penting bagimu?" Tanya Daniel dingin.
"Kau paling tahu"
"Bagaimana jika kira-kira aku mengundurkan diri dari Down grup mulai hari ini?"
Wajah Shamus tiba-tiba berubah dingin, ia menyatukan alisnya bingung. Daniel adalah satu-satunya penerus Down Grup dan juga penerus silsilah Edmund nya. Tidak ada yang secakap Daniel yang bisa meneruskan perusahaannya. Setelah beberapa tahun lalu Aldric memutuskan berhenti dan keluar dari perusahaan dan di gantikan dengan Daniel, perusahaan berkembang sangat pesat. Dalam beberapa tahun saja ia bisa merubah Down grup menjadi perusahaan raksasa di Eropa, dialah si jenius dari keluarga Qin. Jika Daniel berhenti siapa yang akan meneruskan?
"Apa maksudmu?" tanya Shamus, Daniel kemudian memberikan lembaran kertas yang di berikan Daniel tadi. Shamus langsung tahu apa yang sedang terjadi.
"Kakek, apa yang membuatmu berani menyabotase ponselku?"
"Apa yang sedang kau katakan? aku tak melakukan apapun"
Daniel tersenyum ketus," Aku tahu kau mengirimkan pesan pada Ara untuk menceraikannya dan menikah dengan Windy, di dunia ini yang paling menginginkan Windy menjadi istriku hanya kau dan wanita brengsek itu saja, untuk apa? untuk memisahkan aku dan Ara? kau tak akan berhasil , Kek! katakan dimana Ara sekarang? dia sedang mengandung keturunan dariku, jika terjadi apapun padanya dan janin di dalam perutnya, kau pikir Aku akan diam saja?" ujar Daniel dengan ketus. Meskipun dengan nada suara yang relatif datar, tapi Shamus bisa merasakan kemarahan yang luar biasa dari cucunya itu. Ia belum pernah melihat Daniel semarah ini.
" Daniel, aku masih kakekmu, bagaimana bisa kau mengancam ku seperti ini?"
"Akulah pewaris tertinggi Edmund setelah Ayah mengundurkan diri dari silsilah Edmund karena mu. Jika aku adalah seorang Raja, maka anak yang di kandung Ara adalah putra mahkota kelak, mengancam keselamatannya maka kau yang paling tahu hukuman apa yang pantas untuk Windy!,"
"DANIEL!!" Shamus membanting tangannya geram di atas meja, "Kau sudah melewati batas kesabaranku!! kau... "
"Kau pikir aku takut dan akan lari seperti pengecut? Kek, aku Daniel bukan Aldric, caramu mungkin akan berhasil pada ayahku, tapi tidak padaku! ! kau pikir aku akan melepaskan nya dengan mudah meskipun dia anak dari keluarga Calder? pilihanmu hanya ada 2, berhenti dan katakan dimana Ara atau kau benar-benar akan kehilangan semuanya" sela Daniel.