Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
bab 37: aku tak mau kau hilang!



Angin dingin memasuki dalam mobil, Ara sengaja membuka kaca jendela. Pikiranya terbang jauh. Beberapa kali Ara melirik Daniel yang juga sedang menopang kepalanya pada satu tangannya dan tangan satu lagi mengendalikan kemudi.


Mungkin Daniel juga sedang berpikir bagaimana cara membantu Ara. Wajahnya begitu serius, dingin dan datar. Tak butuh berapa lama mereka sampai di apartement.


Mobil mereka berhenti, Ara dan Daniel turun dari mobil itu. Tapi ketika Ara turun, matanya menangkap mobil yang familiar terparkir di pinggir jalan. Mobil dari seeeorang yang ia kenal. Anton mendekati mereka berdua. Daniel melihat reaksi khawatir di wajah Ara, bahkan seketika ia menarik lengan Daniel menjauh tapi Daniel menghentikan Ara.


“Daniel, ayo pergi cepat!”Seru Ara panik, matanya tak lepas dari melihat langkah Anton yang mendekat. Daniel pun menoleh pada Anton.


“Selamat malam nona Ara”Seru Anton mengabaikan Daniel.


“Ada apa pak Anton datang malam ini? jika ada yang penting kita bicarakan besok saja!"


seru Ara sambil menggenggam tangan Daniel. Daniel dengan wajah tenangnya tak bereaksi sama sekali. Ia hendak melangkah meninggalkan Anton tapi Anton buru-buru menghentikan langkah Ara.


“Tuan Higa ingin nona kembali ke kastil malam ini"


“Tidak, katakan pada Higa aku lelah"


“Maaf nona, ini perintah"


Perintah adalah perintah, masih seperti biasa, ia tak memiliki hak untuk bicara. Ara menatap wajah Daniel sekilas, ia mengehela nafas panjang.


“Baiklah"


Anton akhirnya membuka jalan dengan tubuhnya mempersilahkan Ara masuk menuju mobil, tapi saat ia akan melepaskan genggamannya pada jemari Daniel. Daniel justru menggenggam erat tangannya.


“Aku akan pergi bersamamu"


“Tidak Daniel, ini urusanku dengan mereka, tak ada sangkut pautnya denganmu, tunggulah dirumah, aku akan kembali secepatnya, oke?"


Dari Kalimat yang di ucapkan Ara, Daniel terlihat sangat tidak senang. Ia merasa seperti Ara sedang berbicara dengan anjing pelihAraan kecil penunggu rumah. Wajahnya tiba-tiba menghitam. Sorot matanya bahkan terlihat membakar menatap Ara.


“Aku bukan anjing penjaga rumah”Suara Daniel meninggi. Ara tersentak.


“Pak, biar dia pergi bersamaku, aku akan mengikuti mobilmu dari belakang”Seru Daniel pada Anton.


Anton menatap wajah Daniel sekilas.


“Baiklah tuan, silahkan"


Akhirnya mereka pergi ke kediaman Higa. Sepanjang jalan Ara terlihat kesal pada Daniel. Ia tak menoleh sekalipun pada Daniel. Pria di sampingnya ini bahkan tak melepaskan genggaman tangannya. Beberapa kali ia mencoba melepasnya tapi nihil.


“Kenapa? marah lagi?"


“Daniel, kenapa kau harus ikut? entah hal gila apa yang bisa Higa lakukan jika dia mengetahui masalah kita"


“Kita tak punya masalah, jadi apa yang perlu di khawatirkan, aku hanya ingin melindungimu”Senyum Daniel, wajahnya tak terlihat raut khawatir, justru membuat Ara semakin khawatir.


“Melindungi apa? aku bisa melindungi diri ku sendiri, kau bisa berhenti di sini sekarang Daniel"


“Kenapa harus berhenti?"


“Aku tak mau kau hilang"


ups... Ara tiba-tiba menyesali kata terakhir di dalam kalimatnya. Matanya berputar seakan mencari tempat bersembunyi, pipinya merona merah. Apa itu sebuah kekhawatiran atau ungkapan perasaan? pikirnya. Daniel yang mendengar perkataan Ara, ia semakin tersenyum senang.


“Sebesar ini, bisa hilang kemana? hemm senangnya di khawatirkan istri”Jawab Daniel yang tertawa kecil sambil mengusap kepala Ara. Ara merasa kesal dan menepis usapan tangan Daniel.


“Gak lucu ih! nanti saat disana tak perlu bicara apapun, aku yang akan menjawab semua pertanyaan untukmu, oke?"


"....”Daniel tak menjawab hanya lagi-lagi tertawa melihat ekspresi Ara yang kesal. Di mata Ara, Daniel pasti tidak memiliki kemampuan apapun sampai istrinya harus berkata seperti itu.


“Kau bahkan masih bisa tertawa, kau tak tahu seperti apa ayahku, istri dan anaknya saja bisa ia buang apalagi hanya seorang pria asing tanpa latar belakang yang jelas dan hanya sebagai direktur perusahaan kecil, bagaimana ia bisa setenang ini?”Batin Ara kesal.


Beberapa menit berlalu, mobil mereka mulai memasuki pintu gerbang mewah yang di dalamnya terlihat taman luas. Rumah itu benar-benar mewah di lihat dari sudut manapun.


“Silahkan ikuti saya nona”Seru pak Anton sesaat setelah Daniel dan Ara turun dari mobil.


Waktu menunjukan pukul 10 malam. Langkah mereka memasuki sebuah ruang keluarga. Memasuki ruangan itu, awalny terlihat Higa beserta istri dan anak-anaknya mengobrol hangat dengan di selingi tawa senda gurau, tapi setelah melihat sosok Daniel dan Ara muncul dari balik pintu, senyuman mereka berubah menjadi sorotan tajam.


Belum apa-apa Ara sudah merasa seperti akan di kuliti hidup-hidup. Tangan Ara mulai bergetar, Ara melirik Daniel, alih-alih membayangkan ekspresi wajah Daniel yang juga khawatir atau canggung, justru pria yang berjalan di sampingnya ini terlihat tenang seperti seorang Raja yang dingin, wajah tenangnya menoleh pada Ara seperti sedang berkata “Tenanglah, ada aku”Sambil tangannya semakin menggenggam erat jemari Ara.


“Bisa setenang ini, pria ini pasti pernah ikut pentas Opera international”Batin Ara menghela nafas panjang.


“Kami sudah datang”Sapa Ara pada semua orang disana dan dengan santai melangkah duduk di sofa yang kosong.


Pandangan mata mereka sungguh aneh, apalagi pandangan mata ibu tiri dan kakak-kakak tirinya. Memandang Ara dengan jijik tapi saat melihat Daniel pandangan mata mereka seperti *******. Aralah yang balik merasa jijik pada mereka.


“Tak puas menjadi simpanan Kevan, sekarang kau bahkan datang memamerkan teman tidurmu yang tampan itu pada kami, untuk apa? kami tak akan terkesan haha”Ejek Clara, membuat semua orang tertawa selain Higa.


“Terima kasih pujiannya kak Clara, pria ku ini memang sangat tampan”Seru Ara mengejek Clara balik, mendengar ucapan Ara, wajah Clara seketika berubah tidak enak.


“Dasar tidak tahu malu!!”Seru Clara jengkel


Ara membuang matanya dari Clara, berbicara padanya hanya akan membuang waktu, akhirnya ia menoleh pada Higa.


“Tak perlu basa basi lagi, apa tujuanmu memintaku datang?"


“Ara!!! jaga sopan santunmu saat bicara pada ayah!”Seru Clara,


“Tenang lah Clara, adikmu baru kembali jangan mempersulitnya"


“Ma..maaf yah"


“Jangan terburu-buru Ara, ayah tahu kau lelah, lagipula kau membawa bersama pacarmu, bagaimana aku kehilangan etika untuk menyambutnya, apa kau juga tak ingin mengenalkannya pada kami?”Higa menatap Daniel dengan senyuman dingin sambil terus menghisap sebatang rokok di sela jarinya.


“Untuk apa dikenalkan, di kenalkan pun tak berguna, ia hanya pria sembArangan dari club malam, meskipun tampan aku tetap tak sudi yah”Kali ini anak ke 3 dari istri kedua Higa, meisye yang berdiri di samping Clara berbicara dengan nada merendahkan Daniel.


Ara mendengus kesal mendengar Daniel benar-benar di permalukan seperti ini. Entah apa yang di makan oleh istri-istri Higa saat hamil sampai melahirkan anak-anak dengan mulut sampah seperti ini.


“Aku ingat di rumah ini kekurangan piring saat aku dan ibuku datang, tapi sekarang aku tahu, selain kekurangan piring, rumah ini kekurangan tong sampah! busuknya sampai keluar dari mulut-mulut kalian, hah, menjijikan!!"


Daniel menoleh ke Arah Ara, ia melihat wajah putih gadis itu bahkan terlihat merah padam menahan emosi.


“Dasar gadis rendahan!! jika kami sampah kau itu seumpama apa???? kau itu lebih rendah tahu!!


“SUDAH KALIAN CUKUP!! aku tak mengundangmu untuk membuat gaduh rumah ini! lagipula dimana etikamu di depan pacarmu, membuat keluarga ini malu saja!”Seru Higa dengan nada tinggi.


Ara baru akan menjawab Higa namun Daniel mencegahnya dengan genggaman tangannya.


“Ayah mertua tak perlu sungkan, maafkan ketidak sopanan Ara, aku mungkin terlalu memanjakannya hingga kadang ia lupa dengan etikanya”Seru Daniel pada Higa dengan santai, bahkan ia sempat-sempatnya duduk menopangkan kakinya sambil menyeruput teh yang di sediakan di depan meja.


Jika ia tak kenal dan tinggal dengan Daniel, mungkin Ara akan percaya bahwa yang ia nikahi adalah aktor film international.


“Ayah mertua? sepertinya panggilan itu terlalu cepat. Aku tak berpikir memiliki menantu tak berlatar belakang sepertimu”Seru Higa ketus.


Mendengar nada bicara Ayahnya yang ketus, Ara menyoroti mata Daniel untuk mencegahnya membuka suara lagi.


“Kau terima atau tidak aku tak peduli, aku mencintainya dan kenyatanya kami sudah menikah”Jawab Ara


Jantung Daniel tiba-tiba seakan-akan ingin berhenti, seketika ia menoleh pada Ara, mencerna beberapa kalimat di dalam ucapannya barusan. “Ara mencintainya?"


“Ara!! jangan keterlaluan! keluarga Romanof bukan keluarga sembArangan, kau juga tak bisa menikah dengan pria yang kau temui di Bar begitu saja!”Seru Wulan menyela.


“Jangan berlagak memperdulikanku! sejak kapan kalian menganggapku dan ibuku bagian dari kalian?! lalu kenapa sekarang kalian pura-pura peduli dengan siapa aku menikah?!"


“CUKUP! Ara permasalahan ini tak perlu di perpanjang, aku memintamu kesini karena kakek meminta mu datang di hari ulang tahunnya besok, kembalilah ke kamarmu dan istirahatlah!”Seru Higa


“Anton, tunjukan kamar tuan Daniel untuk beristirahat”Titah Higa


“Maaf ayah mertua, aku rasa, tidak ada pasangan pengantin baru yang senang tidur terpisah, jadi aku akan tidur bersama istriku dalam satu kamar dan satu ranjang”Setelah berkata dengan nada yang elegan dan acuh tak acuh itu, Daniel memalingkan wajahnya dari Higa dan segera menyodorkan tangannya pada Ara, ia menatap Ara dengan senyuman lembutnya. Ara tanpa ragu meraih tangan Daniel.


“Kami permisi dulu, selamat malam”Dengan dengan langkah tegas Ara dan Daniel melangkah pergi keluar ruangan dan pergi menuju kamar.


Suasana di ruangan itu seketika riuh, perempuan-perempuan itu bahkan memprovokasi Higa untuk membela harga dirinya, bagaimana bisa kepala keluarga Romanof di rendahkan seperti itu namun Higa tak bereaksi apapun. Ia hanya terus menatap sosok Daniel yang memegang tangan Ara hilang di balik pintu besar.


Higa yang memperhatikan Daniel merasa Daniel bukan hanya sekedar pria asing yang Ara temui di meja Bar. Penilaian Higa jArang meleset. Dengan aura keangkuhan di diri Daniel ia pasti bukan orang sembArangan.


Sama seperti Kevan, Higa sedang terjebak pads informasi rumit tentang sosok Daniel. Ia tak mungkin meragukan firasatnya, tapi informan kepercayaanya juga tak mungkin salah ataupun berani berbohong padanya.


Higa tersenyum sinis.