
2 hari lalu, Tritan mengirimkan pesan gambar berisi gambar seorang gadis yang mirip sekali dengan Ara. Daniel tak henti-hentinya mondar-mandir di depan pintu menunggu Tritan kembali menjelaskan semua hal.
Sepulangnya Tritan, seperti yang di duga, Daniel menghujani pria itu pertanyaan yang tiada henti. Apalagi saat paman Zang memberikan hasil penyelidikan pada keluarga Li dan Tiara. Daniel seperti kehilangan akalnya karena terlalu senang
, 99% dia adalah Ara istrinya.
"Pantas aku tak bisa menemukanmu, keluarga Li menyembunyikan identitas mu dengan sangat rapih," Seru Daniel sambil melihat kertas di tangannya.
"Daniel, jika kau pergi sekarang menemui Ara, dia tidak akan mengingatmu, jika kau mengatakan kau suaminya juga pasti ia akan menghindari mu, bagaimana caramu mendekati dan menjelaskan masalahmu padanya?!"
"Jika dia hilang ingatan, maka tak perlu diingatkan"
"Hah?! maksudmu kau akan mengambil keuntungan dari amnesia nya?"
"Ini apa bisa di sebut mengambil keuntungan? aku akan menjawab jika dia bertanya tapi jika tidak, aku tidak akan mengingatkannya" Seru Daniel sambil kemudian menoleh pada Tritan yang keheranan. Mengetahui Ara masih hidup dengan sehat, Daniel ada rasa gembira yang teramat tapi juga ada rasa khawatir di hatinya.
Keluarga Li dan Qin berselisih paham selama ini karena hubungan ayahnya dengan Deasy. Jika ia datang pada keluarga Li, sudah di pastikan mereka tidak akan menyambut baik dirinya. Apalagi jika mereka tahu Daniel pernah seakan meninggalkan Ara ketika Ara hamil. Itu pasti akan menjadi masalah.
Selama dua hari terakhir, Daniel diam-diam menjadi Stalker Ara dari pagi hingga malam.
Ia bahkan menghubungi Yogi untuk mengantar Paw langsung datang ke kota G.
***
Sore itu sudah pukul 5, sudah waktunya menjemput Brandon di Day Care dan juga sudah tidak ada pelanggan yang datang. Sean sudah lebih dulu pulang dan saat ini Ara sedang sibuk menutup semua jendela dan mengunci pintu pet Shop itu.
Baru hendak akan mengambil sepedanya, ia melihat ban sepedanya kempes. Mau tidak mau, ia meninggalkan sepedanya di pet shop dan berjalan kaki ke Daycare.
Hari itu angin berhembus sangat dingin. Ia mendongak dan melihat langit begitu gelap, untung saja Daycare dengan tempatnya bekerja tidak terlalu jauh hanya berjarak beberapa ratus meter, jadi dengan berjalan pun tak terlalu jauh.
"Aku harus cepat, takut hujan turun" Ara melangkahkan kakinya cepat. Tapi terlambat, baru setengah jalan, hujan benar-benar turun. Ara berlari menerobos hujan, tapi siapa sangka di tengah pelariannya. Sebuah payung menghalau rintikan hujan di atas kepalanya, Ara segera menghentikan langkahnya da menoleh ke belakang tubuhnya.
"Kak Denis? Bagaimana kau bisa di sini?"
"Kenapa tak bawa payung? sejak pagi bukankah sudah mendung?"
"Mendung tak selalu turun hujan kan,Kak"
"Nyatanya hujan kan?" Denis tersenyum sambil mengusap lembut kepala Ara yang basah karena hujan dengan sapu tangannya. Ara ikut tersenyum. "Kau mau kemana?" sambung Denis.
"Jemput Brandon di Day Care dekat sini"
"Ayo, aku antar" Tanpa menunggu jawaban Ara, Denis sudah menarik tangan Ara untuk masuk ke dalam mobilnya.
Denis dan Ara tidak sadar seseorang di seberang jalan berada di dalam mobil dengan perasaan sedingin es menatap kebersamaan mereka. Daniel yang sedari tadi menunggu Ara keluar dari pet shop diam-diam mengikuti Ara dari belakang. Saat hujan turun dan Ara berlari menerobos hujan, Daniel sudah turun dari mobil dan hendak mengejar wanitanya itu dan memberikannya payung, namun ia kalah cepat dari Denis. Saat ia turun dari mobil, Daniel sudah melihat Denis memegang payung untuk Ara. Tangan Daniel segera mengepal karena kesal.
"Denis, ternyata kau sudah tahu Ara di sini?!Atau mungkin kau juga ada di balik menghilangnya Ara? " batin Daniel geram.
Sesampainya di Day Care, Denis dan Ara masuk ke ruangan. Mereka melihat Brandon sedang tertawa bersama Sisy, pengasuhnya. Brandon melihat Ara dan Denis, ia segera bangun dan berlari mendekat, tapi anehnya ia memeluk Denis bukan Ara.
"Yeaay ommm Denis!" Seru Brandon memeluk Denis dengan wajah senang. Denis pun ikut tersenyum dan membungkuk untuk menggendong Brandon, "Halo, pageran kecil"
Ara melihat pemandangan itu segera mencubit pipi Brandon dengan lembut.
"Aku bisa memeluk ibu setiap saat di rumah,tapi om Denis tidak"
Denis tertawa mendengar perkataan pria kecil itu dan membelai kepala Brandon gemas. Brandon dan Denis memang sangat dekat. Sejak ia lahir, Denis sering datang bermain dengannya. Brandon bahkan hampir menganggap Denis sebagai ayahnya.
"Brandon mau tidak tinggal sama om?" Brandon tak langsung menjawab ucapan Denis, ia menoleh pada Ara.
"Bu, aku mau tinggal sama om"
Ucapan Brandon membuat Ara salah tingkah, apalagi saat ia melirik Denis yang tersenyum menatap Ara. Ara semakin salah tingkah.
"Brandon sudah, sudah, ayo kita pulang saja yuk" Ara kemudian berdiri. "Sisy terimakasih ya sudah menjaga Brandon, maaf merepotkan mu" seru Ara menoleh pada Sisy yang berdiri tak jauh dari mereka. Sisy tersenyum, " Tidak merepotkan Ara, aku senang bermain dengan Brandon, dia anak yang lucu".
"Baiklah, Brandon say goodbye pada kak Sisy!" titah Ara pada Brandon.
"Sampai jumpa besok kakak cantik" seru Brandon sambil melambaikan tangan kecilnya.
"Sampai jumpa, Brandon" Jawab Sisy sambil mencubit lembut hidung Brandon. Akhirnya mereka segera keluar dari Day Care dan masuk ke dalam mobil Denis.
Sesampainya di kediaman Li, mereka segera turun. Denis melangkah berdiri di samping Ara dan Brandon dengan semangat berlari masuk ke dalam rumah dan memeluk Danny.
"Hai paman Danny, aku pulang"
"Selamat datang tuan kecil" sapa Danny membalas pelukan Brandon, kemudian ia menoleh pada Ara dan Denis.
"Selamat datang nona Ara dan tuan muda Han"
"Terimakasih paman" Setelah membalas sapaan Danny, Denis menoleh pada Ara.
"Pangeran kecil mu itu anak yang sangat bersemangat Ara"
"Hemm benar kak, dia hiburan di keluarga ini" Ara tersenyum.
"Ara, bisakah kau pertimbangkan keinginan Brandon saat di Day Care tadi?"
Ara menoleh seketika pada Denis, ia melihat sebuah harapan besar di dalam matanya. Ini buka pertama kalinya pria itu menyatakan perasaannya.
"Kak, kenapa kau bersikeras ingin bersamaku? apa para gadis lajang tak cukup menarik perhatianmu di banding aku wanita yang pernah di campakkan suaminya sekaligus ibu beranak satu sepertiku?"
"Tak peduli statusmu, tak peduli berapa banyak gadis lajang di depanku, bagiku mereka tak lebih layak dari mu Ara, jadi aku mohon pertimbangankan permintaan Brandon tadi ya, aku mohon"
"Ya, baiklah kak.. Akan aku pertimbangankanya"
"Baiklah, aku pergi dulu ya"
"Terimakasih tumpangan mu kak"
"Dengan senang Hati"
Ara masih terpaku menatap pintu gerbang dimana mobil Denis menghilang. Pikirannya berkecamuk hebat. Mengingat perkataan Brandon, sepertinya memang ia sangat menyukai Denis. Satu sisi Anaknya membutuhkan figur ayah untuk menemaninya dan disisi lainnya, Ara hanya menganggap Denis sebagai kakaknya selama ini.
"Apa yang harus ku putuskan? perasaanku atau Brandon?"