
Ara terbangun ketika mencium harum sebuah masakan yang benar-benar tercium sangat lezat. Ia membuka matanya, hari sudah gelap ia melihat jam di dinding menunjukan pukul 8 malam, harusnya waktunya makan malam. Siapa yang sedang memasak? apakah kak Denis? batin Ara. Baru hendak bangun, terdengar suara pintu terbuka, Daniel datang membawa semangkuk bubur dan susu hangat masuk.
Suaminya datang menatap Ara dengan senyuman. Ia kemudian meletakkan susu itu di atas nakas dan ia duduk di samping Ara. Ia meletakkan punggung tangannya di kening Ara, memastikan kondisi demam Ara.
“Masih sedikit demam, aku suapi bubur untukmu ya”Seru Daniel sambil menyendok bubur dan mengArahkannya pada mulut Ara. Ara menggeleng hendak menolak, namun mata tajam Daniel memaksanya untuk membuka mulut. Sebenarnya Ara tak ingin makan, mulutnya benar-benar pahit, akhir-akhir ini perutnya juga tak nyaman. Setiap kali habis makan ia merasa mual dan akhirnya ia harus memuntahkannya di kloset.
Mungkin karena penyakit lambungnya yang kronis dan juga akhir-akhir ini ia makan tak teratur.
Seperti yang di duga, baru beberapa sendok, Ara merasa sangat mual dan buru-buru berdiri kemudian masuk ke kamar mandi. Daniel dengan wajah khawatir hendak menyusul ke kamar mandi, namun Ara menutup pintu kamar mandi segera.
“Daniel jangan masuk, ini sangat menjijikan”Serunya dari dalam
“Ara apa kau baik-baik saja?”Teriak Daniel dari luar dengan sangat cemas. Tak lama kemudian Ara membuka pintu kamar mandi dengan wajah pucat. Daniel membawanya berbaring lagi di atas tempat tidur.
“Ara, kita harus pergi ke rumah sakit, kondisimu tidak baik”Seru pria di depannya itu. Ara menggeleng, ia kemudian duduk dan memeluk Daniel dengan erat. Daniel sedikit terkejut dengan pelukan tiba-tiba Ara tapi kemudian ia tersenyum dan membalas dekapan Ara.
“Beberapa hari ini, aku berusaha membiasakan diri tanpamu, aku berusaha tak mendengar suaramu, membiasakan diri untuk tidur meski tanpamu, membiasakan diri untuk tak bertemu denganmu, tak makan dengan mu, tak menghubungi mu, aku sangat berusaha Daniel lebih dari yang kau bisa bayangkan, aku berusaha menyiapkan diriku kalau-kalau kelak kau akan benar-benar meninggalkan aku, aku berusaha, aku berusaha tak ingin menderita tapi justru lebih menderita, aku harus bagaimana?”Isak tangis Ara pecah di pelukan Daniel. Daniel dengan lembut membelai rambut Ara yang masih dalam pelukannya itu. “Daniel tidak kah kau merasa aku masih terlalu muda untuk merasakan sakit seperti ini?"
Benar, Ara masih terlalu muda, ia masih berusia 22 tahun, tapi ia sudah harus menanggung banyak hal sendiri. Daniel mendekap tubuh Ara dengan erat.
“Aku tak pernah meminta mu melakukan itu semua lalu kenapa kau terus bersikeras? aku terus berusaha meyakinkan mu aku tak akan meninggalkanmu lalu kenapa justru kau yang meninggalkanku?”Daniel melepaskan pelukannya dan menyeka air mata Ara yang terus mengalir “Aku tak akan melepaskan tanganku padamu jadi berhentilah mencoba melepaskannya dan berhentilah keras kepala karena aku tak akan membiarkannya.. Sudahlah, jangan menangis lagi, sekarang makan, kemudian kita kembali ke Star lake, oke?"
“Hemm baiklah "
3 hari kemudian....
setelah kondisi tubuh Ara membaik, Ara kembali ke kantor melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Saat ia kembali ke kantor, clara sudah menunggunya di ruangannya.
“Apa yang kau lakukan 3 hari ini? seenaknya saja meninggalkan pekerjaanmu”Seru Clara dengan ketus.
“Apa Elly tak memberitahumu kalau aku sakit? "
“Aku tahu itu hanya alasanmu agar tak bertemu dengan Windy kan? jangan kau kira aku tak tahu kalau Windy adalah tunangan dari suamimu, hahha kau benar-benar hobi merusak hubungan orang lain"
“Jika tidak ada yang lebih penting untuk di bicarakan aku pergi dulu”Seru Ara sambil melangkah pergi. Baru sampai di depan pintu Elly datang mengatakan bahwa Presdir Cliff (kakeknya) sudah menunggunya di ruangan. Dengan langkah cepat Ara menuju ruangannya, saat pintu terbuka terlihat Cliff sedang berdiri kemudian menoleh ke Arah Ara tersenyum.
“Kakek! “Seru Ara berjalan cepat memeluk kakeknya itu “Seperti sudah lama aku tak bertemu denganmu, bagaimana keadaanmu kek? “Tanya Ara
“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja, bagaimana perkerjaan mu? aku dengar kau sangat berusaha melakukan yang terbaik "
“Tentu saja, aku tak ingin mengecewakanmu kek"
“Ara, apa kakak-kakakmu bersikap baik padamu?"
Ara tertegun ketika Cliff tiba-tiba menanyakan hal ini pada Ara, beberapa minggu ada di perusahaan ini, kakaknya memang tak pernah membantunya sama sekali, ia bisa berjalan hingga hari ini mengurus segalanya meskipun tak memiliki pengalaman sama sekali itu karena Daniel yang mengajarinya. Ara memang tak memiliki background pendidikan untuk mengatur perusahaan tapi memiliki guru seperti Daniel sudah sangat cukup membuatnya belajar, lagi pula ia juga pintar hingga dengan cepat menguasai masalah perusahaan.
“Mereka baik, ada apa kakek tiba-tiba bertanya seperti itu?"
“Ara, di perusahaan ini aku memiliki telinga dan mata yang ku percaya, aku ingin kau berhati-hati pada 4 kakak mu, terutama kakak dari istri pertama ayahmu, mereka pasti tak akan membuatmu dengan mudah bertahan di sini dan belakangan ini aku mendapat laporan janggal tentang keuangan perusahaan, terlebih lagi keadaan Higa saat ini terus memburuk"
“Keadaan Ayah memburuk? terakhir kali di pesta ulang tahun kakek ia masih baik-baik saja”Ara kaget
Sudah lebih dari setengah tahun dari terakhir kali ia melihat ayahnya, terakhir kali ia masih baik-baik saja, kenapa tiba-tiba jatuh sakit? Ara merasa bingung, begitu juga dengan Cliff.
“Entahlah, sejak dari pesta ulang tahunku, tiba-tiba banyak sekali keanehan yang terjadi, kau tak ada disana jadi kau tak akan paham, tapi mata dan telingaku ada disana, aku sedang menyelidikinya dan Sementara aku mencurigai salah satu dari istri ayahmu. Aku ingin kau berhati-hati dengan kakak-kakakmu, meskipun mereka 1 darah denganmu, tapi uang tak memiliki hati"
“Baiklah kek, aku akan mendengarkanmu"
“Bagaimana dengan kau dan Daniel, apa semua baik-baik saja?”Tanya Cliff, dari wajahnya menyelidiki seakan ia mengetahui sesuatu tentang ia dan Daniel.
“Kami baik-baik saja kakek jangan khawatir"
“Cepatlah memberikanku cucu, aku takut tak sempat melihatnya "
“Kakek kau sedang bicara apa???! kau akan berumur panjang berhenti berkata yang tidak-tidak”Seru Ara dengan wajah kesal pada kakeknya. Cliff yang melihat wajah kesal cucunya ia pun tertawa.
“Saat kau kesal seperti ini pun kau terlihat sangat cantik, kau memang cucuku yang paling cantik Ara”Seru Cliff kemudian memeluk Ara. “Baiklah baiklah, aku harus pergi kau jangan terlalu keras bekerja, jika kau butuh bantuan ku, kau bisa menghubungiku"
“Hemm, baiklah kek, hati-hati lah di jalan"
Cliff kemudian pergi menghilang di balik pintu, Ara kembali duduk di belakang mejanya. Mencoba memikirkan yang di katakan kakeknya barusan. Jika benar maka kata-katanya selAras dengan yang di katakan Daniel beberapa hari lalu saat ia memintanya membantu mengecek dokumen perusahaan. Daniel juga mengatakan laporan perusahaannya. Begitu aneh dan ada yang janggal.
“Saat pulang nanti akan ku tanyakan lagi pada Daniel"
Saat sedang serius berpikir, elly datang meminta Ara untuk segera pergi ke studio pemotretan, Windy sang brand ambasador perusahaan yang baru menolak melakukan melakukan pemotretan dan bersikeras ingin bertemu dengan Ara sebagai manager penanggung jawab.
Ara menghela nafas, tentu saja wanita itu tak akan membuat pekerjaannya berjalan dengan mudah. Ia akan terus mencari-cari alasan untuk membuat pekerjanya sulit.
“Baiklah, aku akan kesana"