Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 16: Chateau Margaux 1787



Tamu undangan mulai berdatangan, dari dalam pagar terlihat banyak sekali mobil mewah berjajar mengantri untuk menurunkan penumpang VIP di dalamnya. Tak mengherankan, ini acara keluarga Wingsley dan Lee, 2 keluarga besar membuat acara tidak mungkin tidak ramai.


Mobil terus berjalan menyusuri malam. Ara tak berani membalas tatapan mata Jade yang sejak tadi tak pernah lepas menatapnya. Mengurangi kecanggungan itu, Ara hanya menatap kosong ke luar jendela. Berusaha berpikir apa yang harus dia lakukan untuk masuk ke dalam ruang penyimpanan wine itu.


Setiap kali memikirkan cincin itu entah kenapa jantung Ara begitu cepat berdetak. Tangan kecilnya mengepal di atas dadanya, terlihat sangat gugup. Sampai sebuah tangan lembut meraih kepalan tangan Ara, Ara segera menoleh menatap tangannya yang mengayun menjauh dari dadanya.


"Kenapa begitu gugup? ini bukan acara pernikahanmu, tak perlu segugup itu"


"Aku tidak gugup"


"Hentikan! aku tidak gugup"


"Benarkah? lalu kenapa tanganmu sangat dingin?"


Mendengar ucapan Jade, mata Ara mengerling menjauhi pandangan pria di depannya dengan canggung. Ia dengan segera melepaskan genggaman tangan Jade.


" Ac.. itu karena Ac mobilmu membuatku hampir mati membeku" Seru Ara dengan wajahnya yang kesal. Jade tak mengucapkan apapun, ia hanya tertawa kecil.


Sesampainya di Villa, Jade turun dan membukakan pintu untuk Ara. Ia meraih tangan Ara dan meletakannya di pergelangan tangannya yang besar.


Bak seorang putri yang memasuki istana, Ara berhasil mencuri semua mata tamu di dalam ruangan itu. Semua mata menatapnya terpesona, termasuk Kevan. Kevan pun seakan terhipnotis melihat Ara. Namun pandangannya buru-buru di alihkan seketika ketika Sisil menatapnya.


Terlalu banyak mata memandang membuat Ara semakin canggung, sekilas ia melirik mata Jade di sampingnya. Tatapan gadis itu di balas senyuman oleh Jade, seperti sedang bicara, tenanglah aku ada di sini.


Langkah kaki mereka terus mendekati Sisil dan Kevan yang berada di tengah ruangan. Mereka terlihat sedang sibuk bertukar senyum dengan para tamu undangan.


"Nona sisil, selamat hari jadi hubunganmu dengan direktur Kevan"


Tangan Ara menyodorkan sebuah hadiah yang di simpan di dalam kotak terbungkus dengan mewah. Sisil meraih hadiah itu dan memeluk tubuh Ara sambil mengucapkan terimakasih.


Saat Ara memeluk Sisil, tiba-tiba ia merasa sebuah pedang tajam menusuk masuk ke dalam kepalanya.


Wajah Kevan begitu mengerikan di belakang tubuh Sisil. Ia dengan sangat dingin menatapnya seakan ingin memotong-motong tubuhnya menjadi kotak-kotak kecil. Temperatur ruangan di sekeliling tubuh Ara tiba-tiba turun secara drastis. Saat pelukan Ara melonggar dan terlepas dari tubuhnya. Kevan datang mendekati Ara dengan aura mengintimidasi.


"Nona Ara kau benar-benar berani"


Ada sebuah ketakutakn luar biasa menyeruak masuk ke dalam hati Ara ketika ia mendengar perkataan Kevan. Perkataan itu sangat ambigu, memiliki banyak maksud. Ara berusaha mengendalikan dirinya.


"Maaf, tapi orang yang seharusnya kau marahi bukan aku, tapi kakak iparmu, aku tidak kembali karena dia menyeretku untuk ada di sini, jadi jangan salahkan aku"


Ara mengucapkan kalimat itu dengan sangat ringan. Beberapa detik setelahnya ia bahkan terkejut ia bisa dengan mudah bicara seperti itu pada Kevan. Senyum sinis Kevan berkembang, gadis ini bahkan dengan santai menekankan kata kakak ipar di dalam ucapannya. Maksudnya jelas, ia sedang berlindung pada Jade.


Jade menangkap wajah marah Kevan, ia menarik lengan Ara berjalan mundur ke belakang tubuh tingginya.


"Adik ipar, selamat hari jadi, semoga kau cepat memutuskan tanggal yang tepat untuk menikahi adik kesayanganku, tos?" Seru Jade tersenyum dengan menyodorkan gelas wine ke depan Kevan.


Ada tatapan ketidak sukaan Kevan pada Jade saat ini. Di balik kata-katanya tersimpan maksud yang jelas.


"Jangan ganggu Ara, dia miliku, cepatlah menikah dengan adiku!"


Kevan melunakan pandangannya dan tersenyum pada Kevan


"Tentu saja, terimakasih kakak ipar"


2 jam berlalu, semua orang sibuk berbincang. Kecuali Ara. Bukan tak ada yang ingin menemaninya tapi Ara terus mencari kesempatan untuk pergi ke tempat penyimpanan itu. Ketika semuanya sibuk dan ia pastikan tak ada yang memeperhatikannya. Perlahan-lahan ia melangkah melangkah keluar, menuruni sebuah tangga untuk masuk ke ruang penyimpanan Wine.


Ruangan cukup luas itu didominasi warna cokelat dengan pencahayaan yang minimalis, disana ada banyak sekali botol-botol Wine tersusun rapi di atas Rak-rak. Sebuah mini bar cantik di letakan di sudut tengah ruangan. Mata Ara langsung tertarik melihat satu-satunya lukisan di sana.


lukisan itu lukisan yang sama dengan yang berada di kantor Kevan bahkan di ruang tengah villa ini. Ara mendekati lukisan itu. Lukisan itu menggambarkan seekor bangau yang mati tertusuk sebilah pedang tepat di kepalanya, darah yang mengalir seakan berubah menjadi sebuah naga merah menyala yang terbang membelah langit malam.


Ara berjalan mengabaikan lukisan itu. Ia melangkahkan kakinya menyusuri setiap rak di sana. Setiap rak memiliki label tahun yang berbeda-beda. Matanya terus mengelilingi setiap rak. Hingga matanya berhenti di sebuah wine bertuliskan Chateau Margaux 1787. ini dia. Aku menemukannya!


Tangan Ara seperti tidak sabar ingin mengangkat botol wine itu, tiba-tiba sebuah tangan kuat, membalikan tubuh Ara dengan kasar kemudian Genggaman tangannya berpindah ke leher Ara. Cekikan itu tak kuat tapi cukup menakutkan. Seketika Ara melihat wajah dingin Kevan hang menatapnya seakan ingin membunuhnya. Rasa takut membuat tubuh Ara bergetar.


"kenapa dia bisa di sini? kenapa dia semarah ini? apa aku ketahuan? apa dia tahu siapa aku?" Batin Ara.


"ke..Kevan.."


Seru Ara dengan wajah luar biasa takutnya.


"Kenapa? takut?" cengkraman di leher Ara semakin menguat, kali ini Kevan benar-benar seperti akan membunuhnya


"A..apa yang mau kau lakukan? lepaskan aku!!"


"Sudah ku peringatkan sebelumnya, kenapa kau masih berani bersamanya???!"


Perkataan Kevan menyadarkan Ara, Kevan marah bukan karena identitasnya, tapi karena ia berhubungan dengan Jade,Bagus. Meskipun bagaimanapun, setidaknya ia tak akan terbunuh karena identitas aslinya. Lagipula jika hanya karena dekat dengan Jade, Kevan takan mungkin membunuhnya. Senyum kecil melengkung di sudut bibir Ara. Kevan menyadari lengkungan senyuman Ara, semakin tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Kau masih bisa tersenyum?kau tak takut aku membunuhmu?"


"Itu tak mungkin terjadi, apakah kau sedang cemburu pak direktur?"


Sekali lagi senyuman Ara melengkung. Mendengar perkataan Ara, manik matanya melebar, ia melepaskan genggamannya di leher Ara dan sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Ara seketika menatap Kevan dengan pandangan Aneh. Apa aku salah? batinya


"Cemburu? atas dasar apa kau begitu yakin aku cemburu?"


"Jika bukan cemburu, lalu kenapa kau semarah ini? aku rasa dengan siapapun aku dekat itu bukan urusan mu, permisi"


Ara dengan mantap mendorong tubuh Kevan menjauhi tubuhnya, baru hendak pergi, tangannya di tarik, tubuhnya membentur rak wine di belakang tubuhnya. Sebuah ciuman kuat mendarat di bibir manis Ara. Ciuman itu terasa begitu kuat, rasa yang sama seperti kejadian di dalam mobil tempo hari.


Ara mencoba menghindar dari ciuman panas Kevan, ia memalingkan wajahnya,tangannya mendorong tubuh tinggi besar di hadapannya. Tapi ia tak juga berhenti, ia justru merasa Kevan semakin berhasrat, ciumannya turun ke atas leher dan tulang selangkanya yang putih.


"Kevan, kau brengsek!! berhenti!!"


Kevan seakan tak peduli dengan ucapan Ara. ia terus melakukannya, justru ciumannya semakin kuat dan dalam. Klak! tiba-tiba terdengar suara di belakang kepala Ara. Beberpaa detik kemudian Kevan mendorong Rak wine di belakang kepala Ara. Mata Ara seketika membesar.


Ruang rahasia!


Kevan seperti tak mengizinkan Ara terkejut terlalu lama, Kevan dengan cepat mendorong tubuh Ara masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan itu terlihat seperti ruang kerja rahasia. Dengan cepat Kevan mendorong tubuh Ara memasuki ruangan itu, tangannya menarik jatuh kait resleting gaun Ara. Gaun Ara akhirnya terbuka, memperlihatkan lekuk tubuh indah Ara lebih jelas. Kevan dengan tidak sabar menjatuhkan tubuh cantik itu di atas sebuah sofa besar di ruangan itu. Tubuhnya terus menekan tubuh Ara. Tak ada kesempatan untuk Ara bergerak menghindar Tangannya terus membuka satu persatu helaian benang di tubuh Ara tanpa Ampun.


"Ke..Van.. Hentikan"


"Tidak akan!"


Lama kelamaan Ara mulai terhanyut oleh Kevan. Kevan mulai melunakan ciumannya pada Ara. Tak lama kemudian Ara merasakan sesuatu yang asing memasuki tubuhnya dengan kasar. Seketika tubuhnya bergetar hebat. Ia merasakan sakit luar biasa di bagian bawah tubuhnya itu. Terasa sesuatu mengalir dari bagian bawah perut Ara. Air matanya jatuh bersama rintihan dari mulutnya. Melihat wajah kesakitan Ara, Kevan segera berhenti. Ia baru menyadari, ini pertama kalinya untuk Ara. Dengan wajah khawatir Kevan menatap Ara.


"Ara, kau tidak apa-apa?" Seru Kevan, Matanya turun melihat bagian bawah Ara, darah segar mengalir dari sana.


"Ke..van.. sakit sekali, terasa sakit sekali"


Air matanya terus jatuh. Kevan memeluk tubuh mungil Ara dan menciumnya dengan penuh kelembutan.


"Tahan sebentar Ra, ini hanya sakit sebentar"


Perlahan Kevan melanjutkan gerakannya, Awalnya Ara terus menghindar dan menolak namun lama kelamaan rasa itu berganti menjadi kenikmatan.


Mereka melakukannya berjam-jam hingga Ara lemas dan tertidur.