Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 65: Ara kau keterlaluan!



Ara sampai di rumah dengan wajah kesal. Elly melihat sahabatnya sedang tak dalam kondisi yang kondusif ia memutuskan untuk kembali ke kantor. Ara merebahkan dirinya di atas sofa dan mulai menyalakan televisi.


Hampir seluruh stasiun TV menyiarkan berita tentang Windy, bahkan salah satu berita gosip menampilkan gambar punggung seorang pria tinggi sedang memasuki rumah sakit, melihat punggung pria itu Ara yang tanpa meneliti lebih jauh pun ia sudah tahu itu adalah punggung suaminya Daniel. Yang lebih membuat Ara kesal adalah saat ia melihat judul headline berita gosip itu.


“Seorang pengusaha muda tampan yang diduga calon tunangan Windy Calder tertangkap kamera menjenguk calon tunangannya"


“Tunangan Windy Calder akhirnya muncul"


“Si misterius kekasih Windy Calder akhirnya muncul"


Dan masih banyak lagi berita serupa, dengan kesal Ara mematikan TV dan mulai bermain dengan Paw.


Tak lama kemudian Ara mendengar suara deru mesin mobil berhenti di depan rumah, Ara tahu itu pasti Daniel. Ia dengan cuek terus bermain dengan Paw. Pintu terbuka. Daniel meletakkan buah-buahan dari ruangan Windy di atas meja dapur kemudian dengan emosi berjalan mendekati Ara. Mendengar langkah berat Daniel, Ara pun menoleh. Daniel segera melemparkan obat pencegah kehamilan yang baru di belinya itu ke atas meja. Mata Ara membulat terkejut saat ia melihat obat yang di lempar Daniel barusan. Ara kemudian menoleh pada Daniel, ia melihat wajah suaminya menghitam, ia sampai merasakan emosi pria ini sangat tinggi, sampai membuat Ara ketakutan. Belum sempat ia membuka mulutnya, Daniel dengan cepat mendekat dan menutup bibir Ara dengan bibirnya.Ara terkejut dan berusaha menghindar dari tubuh Daniel yang terus mendorong tubuhnya agar berbaring.


Tangan Daniel dengan kasar menarik kemeja Ara hingga kancingnya berjatuhan, kini tubuh putihnya terpampang jelas di hadapan Daniel. Nafas Daniel memberat, antara hasrat dan emosinya beradu menjadi satu. Daniel tak memberikan kesempatan sedikitpun untuk Ara membela diri. Ciumannya tak selembut biasanya, bahkan Daniel dengan gemas menggigit leher putih Ara hingga membuat Ara berteriak kesakitan.


“Ahhhh sakiiiittt... Daniel, apa yang sedang kau lakukan, hentikan!! "


Daniel tak mempedulikan keluhan dan teriakan Ara, dengan paksa ia membuka kaki Ara, memposisikan tubuhnya di tengah pergelangan kaki Ara dan mulai menekan bagian bawah gadis itu.


“Hmmph.. Daniel hen.. tikan.. sakit.. pelan... ku mohon, sakit"


“Tak perlu memohon, kaulah yang cari mati Ara, aku benar-benar akan menyiksa dan memaksamu melahirkan anakku meski kau tak mau!"


Ucapan dan apa yang Daniel sedang lakukan sekarang benar-benar menyiratkan ia sedang marah besar, Ara bahkan sampai merasa seperti kehabisan nafas. Entah karena Daniel terlalu kuat melakukannya atau karena hal lain, ia merasakan sakit yang tak tertahankan dari perutnya. Ia mencoba mendorong tubuh Daniel menjauh namun tenaga pria yang ada di atasnya saat ini jauh lebih kuat.


Ara: “Daniel.. Hentikan, sakit sekali ah.. "


“Masih berani meminum obat itu lagi? “Seru Daniel mengacuhkan rintihan Ara


Ara :”Hmmph.. Daniel. Hentikan..ku mohon...shh."


“ARA JAWAB!! masih mau minum obat itu lagi? “Bentak Daniel, dengan kasar Daniel mencengkram kedua pipi Ara dengan jari telunjuk dan ibu jarinya sambil terus pada gerakannya ia memaksa Ara menatap mata Daniel yang marah itu. Daniel yang sekarang di atasnya ini tak seperti Daniel yang ia kenal, ia justru terlihat seperti orang lain. Ia jadi seperti seekor kelinci kecil yang sedang menjadi santapan seekor Harimau. Tubuh Ara gemetar karena takut. Daniel terus memaksa Ara berganti-ganti posisi, ia seperti tak peduli rasa sakit yang sedang Ara rasakan.


“Kenapa tak jawab? kau masih berencana meminum obat itu? kau tahu apa resiko meminum obat itu jangka panjang?"


“Tidak! tidak! tidak berani, jadi Daniel aku mohon hentikan, aku kesakitan"


“Aghhhh, siall!!! kau benar-benar keterlaluan Ara!!"


Dengan cepat ia menuntaskan hasratnya kemudian meninggalkan tubuh Ara yang berantakan Di sofa kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah Daniel puas dan berhenti, Ara berbaring meringkuk merasakan sakit yang teramat sangat di bagian bawah tubuhnya, bahkan sedikit darah keluar dari organ intimnya itu. Dengan menahan rasa sakit, Ara mencoba merapihkan bajunya yang berantakan dan naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar. Ia membersihkan diri dan naik ke atas ranjangnya dan membenamkan wajahnya dengan bantal, ia menangis sejadi-jadinya.


Kedua orang dewasa itu sama-sama dalam kondisi yang kalut dan sama-sama merasa menjadi korban. Daniel merasa Ara egois, ia tak habis pikir Ara tak menginginkan anak darinya sampai rela meminum obat jahanam itu meskipun tahu efek samping terburuknya. Sedangkan Ara merasa Daniel egois karena sangat menginginkan seorang anak hingga tega menyiksanya seperti tadi. Hubungan intim nya tadi dengan Daniel, tak bisa di katakan seperti hubungan suami istri tapi lebih seperti hubungan dengan seorang *******. Hati Ara tiba-tiba sakit. Entah siapa yang benar dan salah. Kali ini keributan yang terjadi sepertinya sangat sulit dipadamkan.


****


Daniel keluar dari kamar mmandi, pikirannya masih sangat berantakan. Setelah membuang pil pencegah kehamial dan kAntong buah yang ia bawa tadi ke tong sampah. Ia hendak pergi namun saat ia melewati tangga, langkahnya terhenti. Kepalanya mendongak ke Arah pintu kamar mereka. Dengan ragu Daniel satu per satu menaiki anak tangga dan membuka pintu kamar mereka. Ia melihat tubuh ramping Ara yang mengenakan baju tidur tipis sedang lelap tertidur.


Daniel mendekati Ara dengan perlahan. Di lihatnya wajah istrinya, mata gadis itu sedikit bengkak dan sembab, bahkan ada sebuah lingkar hitam di bawah matanya. Ia pasti habis menangis tersedu-sedu hingga tertidur. Dengan lembut membelai rambut Ara yang menutupi pipi nya. Pandangan lembut Daniel tak bertahan lama, emosinya kembali naik saat ia teringat obat itu.


“Di saat 80% gadis di kota ini akan dengan senang hati untuk mengandung anakku, kau justru menolaknya, aku rasa permintaanku seharusnya tak sulit, tapi kenapa kau membuatnya menjadi rumit? aku pikir setelah kemajuan hubungan kita, kau akan bersedia mengandung anakku tapi justru kau membuatku kecewa”Wajah Daniel berubah nanar, kemarahannya yang sempat mereda itu justru kembali naik. Kemudian Daniel bangun dari duduknya dan kemudian pergi meninggalkan Ara.


Beberapa jam berlalu, hari semakin larut. Saat Ara bangun, ia tak melihat Daniel di sampingnya. Tentu saja tidak akan ada Daniel, ia sedang marah besar mungkin juga tak akan pulang.


Ara masih merasakan sakit di sekujur tubuhnnya terlebih lagi bagian bawah perutnya. Sudah tidak ada darah yang keluar Ara pikir pasti karena terlalu kasar hingga melukai oragan intimnya itu. Ia juga hampir lupa bahwa hari ini ia hanya memakan sepotong roti pemberian dari Elly tadi pagi. Ara dengan segera pergi ke dapur dan memasak apapun yang ada disana. Kulkas itu penuh terisi bahan-bahan organik. Ia mengambil bahan makanan yang ia butuhkan kemudian mulai memasak. Beberapa menit berlalu akhirnya makanan matang. Kemudian ia membawanya ke meja makan.


Makanan yang semula membuatnya sangat lapar, sekarang tiba-tiba saja ia kehilangan nafsu makannya. Ia benar-benar tak bersemangat. Ia hanya memakan beberapa suap, selain karena perutnya akhir-akhir ini membuatnya tidak nyaman, makan seorang diri juga menjadi alasan lainya. Tiba-tiba Ara rindu pada Daniel.


4 hari berlalu, sejak saat itu Daniel tak pernah pulang. Keegoisan dalam dirinya mencegahnya untuk menghubungi Daniel meskipun ia sangat ingin menghubunginya. Ia juga tak pergi ke kantor karena Elly dan Clara mencegahnya. Ia terpaksa memindahkan semua pekerjaannya ke rumah.


Kecelakaan Windy yang terjadi di FireGate membuat heboh dunia pemberitaan. Sejak saat itu Ara di minta tidak datang ke kantor karena banyak wartawan menunggunya. Bahkan Clara meminta Ara Sementara mengambil Alih proyek yang sedang di tanganinya di luar kota. Ara sempat curiga, namun memang belakangan Clara sangat sibuk mengklarifikasi masalah Ara kepada para wartawan. Masalah pemberitaan Windy dan Ara belum mereda, masalah lain muncul Kali ini bukan tentang kecelakaan nya, tapi tentang sosok tunangannya yang notabene adalah suami sah Ara.


“Bukankah ini waktu yang bagus untuk Windy merebut suamiku? Daniel berhari-hari tak kembali juga mungkin saja bermalam dengan wanita itu,. Ah sudahlah, tak perlu memikirkan hal-hal bodoh"


Pikirannya buyar saat mendengar ponselnya berdering. Nama Clara tertulis di layarnya.


“Halo kak, ada apa? "


“Cepat bersiap-siap lah, kau harus pergi ke bandAra menghandle proyek di kota G, penerbangan mu jam 11 siang, pastikan tak terlambat”Kemudian tampa menunggu jawaban Ara, clara menutup panggilannya.


“Baiklah, anggap saja sekalian liburan, sepertinya aku memang harus berlibur"