
Sesampainya Ara di Pet Shop, ia segera masuk dan mengunci pintu, setelah itu ia segera kembali ke taman dimana Daniel dan Brandon bermain.
Sesampainya di sana, dari kejauhan Ara melihat Brandon dan Daniel bermain dengan riangnya bersama beberapa anak kecil lain. Dengan penampilan mereka, Ara merasa mereka terlihat seperti anak dan ayah. Tiba-tiba hati Ara menjadi kelabu.
"Seandainya saja, mantan suamiku tak mencampakkan aku. Brandon akan bahagia memiliki ayah dan aku tak perlu sibuk mencari pengganti ayah untuk Brandon", batin Ara sambil berjalan mendekat dan saat Brandon melihat Ara ia pun berlari memeluk ibunya.
"Ibuuuuu.. "
Ara tersenyum sambil memeluk anak semata wayangnya dengan penuh cinta. "Brandon tidak nakal kan?", tanya Ara, Brandon dengan cepat menggeleng.
" Daniel, terimakasih sudah menjaga Brandon"
"Tidak masalah, aku senang bermain dengan kalian" Jawab Daniel sambil mengusap lembut kepala Brandon.
Setelah puas bermain, Brandon mengajak Ara dan Daniel ke pusat perbelanjaan dan pergi ke toko khusus mainan. Hari itu Brandon terlihat sangat senang, Daniel membelikan banyak sekali mainan untuk anaknya itu.
"Permisi, nyonya kami sedang ada event lomba foto keluarga, kalian terlihat seperti keluarga bahagia, apakah kalian berminat untuk ikut?" Seorang pramuniaga tiba-tiba datang membawa selembar formulir lomba keluarga bahagia dengan tersenyum.
"Apa hadiah utamanya?" tanya Daniel.
"Berlibur ke pulau Wanalulu selama 3 hari 3 malam, Tuan"
"Ta.. tapi Nona kami bukkk... "
"Baiklah, kami akan ikut!!" dengan cepat Daniel menyela ucapan Ara, ia bahkan tersenyum lebar dan menggengam tangan wanita di sampingnya ini. Ia bahkan tidak peduli Ara menatapnya dengan wajah ketus, Ara bahkan berusaha melepaskan genggaman tangan pria jangkung di sampingnya itu.
Di dalam batinnya, Ini adalah sebuah kesempatan emas untuk Daniel bisa lebih dekat bersama Anak dan istrinya. Sebenarnya jika selama Daniel mau, ia bisa pergi kemanapun, tapi untuk bersama Ara yang tak mengingatnya sama sekali, tentu saja itu sangat sulit di lakukan, jangankan untuk berlibur keluarga, untuk mencari alasan agar bersama mereka 24 jam saja sungguh tidak mungkin.
"Daniel, kau ini apa-apaan? kita baru saja kenal dan kau baru saja dekat dengan Brandon! bagaimana bisa kita ikut dengan acara seperti ini?"
"Apa masalahnya? kau dan aku lajang, hadiahnya juga menggiurkan. Kenapa harus berpikir ulang?! Ayo.. "
Tanpa menunggu reaksi Ara, Daniel membawa anak dan ibu itu mengisi formulir pendaftaran setelah itu pramuniaga membawa mereka ke sebuah studio kecil untuk di foto dengan perasaan senang yang sulit di gambarkan.
Jika mereka masih mereka yang dulu, jangankan memaksa Ara untuk ikut acara seperti ini, untuk berpikir secara pribadi mengikuti acara ini pun tidak akan pernah terlintas di benaknya. Tapi tidak untuk kali ini, Ini adalah satu-satunya cara agar bisa bersama Ara dan Brandon selama 24 jam, meskipun harus mengikuti lomba konyol ini, Daniel tidak peduli, Ini bisa menjadi langkah emas untuk merebut hari Ara kembali.
"Kalian tak perlu canggung seperti itu. Tuan, kau bisa mencium pipi istrimu agar lebih terlihat romantis dan mencairkan suasana jika kau mau, " Ucap seorang fotografer pada Ara dan Daniel.
Daniel terlihat senang namun tidak dengan Ara. Ara melirik Daniel dengan tatapan tajam. Sebuah penolakan tergambar pada raut wajahnya. Daniel tersenyum dan mendekatkan bibirnya pada telinga Ara. Jarak wajah mereka begitu dekat membuat nafas Ara sesak tiba-tiba, wajahnya terasa panas dan pipinya bahkan semerah tomat saat ini
"Bekerja samalah denganku Ara, setidaknya berikan kesempatan pria lajang yang kesepian sepertiku merasakan rasanya memiliki keluarga" Bisik Daniel sambil tersenyum setengah menggoda dengan suara rendah yang hanya bisa di dengan oleh mereka berdua. Daniel meraih pinggang Ara di tangan kirinya sedangkan tangan kanannya menggendong Brandon. Tanpa ragu Daniel mengecup pipi Ara dengan bahagia. Kejadian itu hanya beberapa detik namun Daniel merasa ia mendapatkan seluruh kebahagiaan bumi seisinya.
"Oke, selesai" sang fotografer terlihat begitu senang setelah mengambil gambar Daniel, Ara dan Brandon itu, "Kalian terlihat sangat bahagia dan serasi, aku harap kalian bisa menang dan berlibur bersama" seru sang Fotografer sambil mengambil cetakan foto dari mesin cetak foto yang kemudian di berikan pada Daniel.
"Terimakasih, aku juga berharap begitu" Daniel tersenyum sekilas pada fotografer dan kemudian menoleh pada Ara, " Benar begitu kan, istriku?" sambung Daniel menggoda Ara, Ara tersenyum aneh saat mendengar ucapan Daniel. Dengan segera ia menarik lengan Daniel untuk keluar dari studio itu.
Sesampainya di luar, Ara menatap wajah Daniel dengan wajah kesal bercampur malu,,"Tuan Daniel mohon jangan terlalu Ge'Er, aku memberimu kesempatan hanya karena kasihan padamu karena kau lajang dan kesepian, jangan berpikir terlalu jauh" jawab Ara dengan wajah merah dan segera meninggalkan Daniel yang tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.
"Setidaknya aku berhasil mencium mu meskipun dengan alasan menyedihkan seperti itu, Ara" batin Daniel tersenyum puas sambil mengejar langkah Ara di depannya. "Setelah dua tahun tak bertemu, kau masih sama manisnya saat marah Ara. Hufh, rasanya aku ingin segera membawamu dan Brandon pulang ke rumah kita, membangun keluarga kita tapi bagaimana melakukannya?" Daniel tiba-tiba muram.
Hujan deras turun menggugur kota G saat mereka keluar dari pusat perbelanjaan itu. Daniel membawa banyak kantung belanja berisi mainan untuk Brandon.
"Aku akan mengambil mobil, kalian tunggu di sini, oke?!"
"Tidak perlu, aku dan Brandon bisa kembali naik taksi"
"Setidaknya kau masih berhutang ucapan terimakasih padaku"
"Kalau begitu terimakasih Tuan Daniel!" seru Ara ketus pada Daniel, Daniel pun tertawa.
"Aku khawatir ucapan terimakasih mu barusan tak sanggup untuk membayar hutang mu padaku, jadi lebih baik tunggu di sini, aku segera kembali" Dengan langkah panjangnya hendak menerobos hujan karena mereka memarkir mobil di lahan parkir outdoor. Langkah Daniel berhenti ketika Ara tiba-tiba mencubit lengan sweeternya, Daniel menoleh ke belakang dan mengerutkan alisnya.
"Ada apa?!" tanya Daniel.
"Pakai ini.." dengan ragu Ara memberikan sebuah payung lipat pada Daniel yang sebelumnya ia ambil dari dalam tasnya, "Jangan hujan-hujanan, aku tak mau berhutang lebih banyak jika kau jatuh sakit nantinya", pandangan mata Daniel mengarah pada payung di tangan Ara, ia tertegun beberapa saat setelah itu ia mengambil payung dari tangan Ara, lagi-lagi Daniel tersenyum dan tangannya membelai kepala Ara dengan lembut sambil berkata,
"Terimakasih, istriku"