
Mendengar semua penjelasan Deisy, ada sedikit ganjalan di hati Ara. Daniel hanya menyelamatkan Higa, lalu hilang kemana kakeknya Cliff? tanya Ara dalam hati. Untuk masalah ini, ia hanya bisa bertanya pada kakeknya untuk lebih jelas.
Tok... tok.. tok.. suara pintu terketuk. Deisy membuka pintu kamar dan terlihat seorang pria kecil tersenyum di temani oleh Lisa. Deisy mengerutkan alisnya bingung. Ia segera menoleh pada Ara dan Ara pun tersenyum melambaikan tangannya pada Brandon karena ia masih belum bisa bangun karena kakinya masih terasa sakit.
Brandon melihat lambaian tangan Ara, ia segera masuk dan memeluk ibunya.
"Ara, siapa ini?" tanya Deisy.
"Dia adalah anakku bu, namanya Brandon" ujar Ara kemudian meminta Brandon menyapa Deisy. " Brandon, dia ini nenekmu namanya Deisy" ujar Ara tersenyum lebar. Brandon pun tersenyum kemudian mengangkat tangannya untuk berjabat tangan pada Deisy. Deisy meraih tangan kecil itu kemudian memeluknya tak percaya bahwa Ara sudah memiliki anak sebesar ini.
"Lalu, dimana Daniel?" tanya Deisy yang tidak melihat Daniel sejak tadi. Pertanyaan Deisy, seketika membuat Ara muram.
"Aku tidak tahu bu, aku sempat kecelakaan karena Clara dan Elly, saat aku bangun hingga sekarang aku tidak tahu dimana, tapi saat terakhir aku....aku.... " Tiba-tiba Ara terisak, Deisy segera memeluk anaknya. Kata yang seharusnya terucap justru sangat berat. Bunyi nyaring panjang bedside Daniel ketika itu adalah ingatan terakhir sebelum ia benar-benar hilang. Di sela isakannya, ia tiba-tiba teringat Tritan. Tritan pasti tahu keberadaan Daniel.
"Ibu, bantu akun turun", " Lisa apa Tuan Muda Hong masih ada di sini?" tanya Ara pada Lisa yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka.
"Masih Nona, ia ada di lantai bawah sedang berbincang dengan Tuan Higa, Tuan besar dan juga Tuan Han" jawab Lisa. Kemudian turun ke lantai bawah menemui Tritan. Jantungnya berdegup kencang, berharap ada sebuah pencerahan untuknya. Jika mati ia harus tahu dimana ia di kubur dan jika hidup ia sangat ingin bertemu.
Klakk.. suara pintu terbuka, semua mata langsung tertuju ke arah pintu masuk. Sebelumnya mereka sedang berbincang serius namun saat melihat Ara masuk mereka tiba-tiba hening.
"Tritan, apa kita bisa bicara?" tanya Ara langsung pada Tritan. Tritan yang sedang duduk di sofa mengedarkan pandangnya ke sekeliling kemudian mengangguk dan berjalan mendekati Ara.
Mereka berjalan pergi ke taman luas tak jauh dari paviliun utama.
"Aku tahu apa yang kau ingin tanyakan Ara" ujar Tritan tersenyum pada Ara. Ara menoleh dengan wajah penasaran. "Kau pasti ingin tahu dimana Daniel kan? aku juga tidak tahu Ara"
"Bohong, jangan bohongi aku Tritan! kau itu sahabatnya mana mungkin tidak tahu"
"Di antara aku dan Daniel memang teman baik, tapi ada kalanya jarak antara kami sangat jauh Ra, keluarga Qin adalah keluarga yang sangat private. Tidak semua orang termasuk aku sahabatnya saja tidak mendapatkan informasi apapun. Tapi aku harap baik-baik saja" ujar Tritan.
***
Sejak percakapan nya dengan Tritan sampai hari ini, Ara tidak menemukan informasi apapun tentang Daniel. Daniel hidup atau mati ia sama sekali kehilangan jejaknya.
1 tahun berlalu...
Ara sudah benar-benar pulih, setiap hari ia sibuk dengan pekerjaan kantornya. Ia begitu sangat sibuk. Lisa yang sebelumnya menjadi Babysitter Brandon, sesuai janji Ara, Ara membantunya kembali masuk kuliah melanjutkan kuliah sebelumnya kemudian Ara membuat Lisa menjadi Asistennya. Ara juga menepati janjinya untuk membantu kesembuhan ibu Lisa.
"Lisa, besok tanggal 28, apa sudah kau kosongkan jadwal ku beberapa jam??" tanya Ara pada Lisa sambil memperhatikan dokumen di tangannya tanpa menoleh pada Lisa yang berdiri tak jauh darinya.
"Sudah nona, saya juga sudah menyiapkan tiket pesawat"
"Oke, jam berapa aku berangkat??" tanya Ara
"Jam 9 pagi, Nona"
"Oke, Terimakasih" jawab Ara sambil tersenyum menatap Lisa sambil memberikan dokumen yang sudah ia tanda tangani. "Berikan dokumen ini pada manager pemasaran" Sambungnya.
"Baik nona,"
Tanggal 28 adalah tanggal pernikahan Ara dan Daniel. Setiap bulan tanggal 28 ia menyempatkan diri untuk pergi ke kediaman Qin. Dulu 3 bulan sejak ia pulih, hampir setiap minggu Ara pergi ke rumah besar itu, ia selalu membawa sebuket bunga mawar. Setiap kali ia datang ia menekan tombol intercom tidak ada yang menjawab. Rumah mewah itu seperti kehilangan nyawanya. Ia hanya akan meletakkan bunga itu di selipan pagar dan seminggu kemudian saat ia kembali bunga yang pernah ia tinggalkan masih ada di tempatnya dan tentu saja sudah layu dan kering. Setelah itu, Ara hampir kehilangan semangatnya. Ia tidak lagi datang setiap minggu tapi setiap bulan di tanggal yang sama, tanggal 28.
Setelah beberapa jam kemudian, Lisa dan Ara sampai di kediaman keluarga Qin. Masih dengan kebiasaan yang sama. Lisa membukakan pintu mobil untuk Ara. Ara turun dan lagi-lagi berdiri di depan pintu gerbang besar dan menekan tombol intercom yang lagi-lagi tak ada jawaban dari dalam. Wajah Ara sangat getir, terlihat jelas air mata di pelupuk matanya yang ia susah payah bendung.
"Aku baik-baik saja" ujar Ara sambil meletakkan buket bunga itu di tempat biasanya kemudian melangkah pergi dan kembali ke kota A, ia juga tak lupa datang ke StarLake dan tinggal 1 hari di rumah mewah itu. Biasanya, ia akan memasak dan meminum beberapa gelas Wine sendiri di rumah itu. Entah sudah berapa banyak air mata menemaninya ketika ia berada di sana.
Rumah masih sangat terawat, Ara meminta beberapa pelayan datang setiap 3 hari sekali untuk membersihkan rumah itu dengan harapan ketika Daniel kembali, mereka bisa tinggal lagi di rumah itu seperti dulu.
Hari mulai gelap, kesunyian menyapu hati Ara. Saat ini pukul 8 malam, karena bosan ia berinisiatif untuk pergi ke bar TopHill. Sesampainya disana ia duduk di salah satu kursi kosong di belakang meja bar memesan koktail. Suara bising musik di sana tak sanggup membisingkan hati Ara, Ara masih merasa sepi dan sunyi di tengah keramaian. Tangannya masih sibuk memenangi ponselnya dan matanya masih memandangi foto terakhir bersama Daniel sebelum kecelakaan itu terjadi.
"Selamat tanggal 28, Daniel" bisik Ara sambil mengangkat gelas koktail dan meminumnya sekali tegukan kemudian ia memesan lagi.
"Ara" suara seseorang tiba-tiba terdengar di samping tubuhnya, Ara segera menoleh dan dengan rasa kaget ia melihat Kevan duduk di sampingnya dan juga memesan minuman yang sama dengannya.
"Kevan?kau kenapa disini?" tanya Ara dengan bingung.
"Aku ada janji dengan salah seorang temanku tak di sangka melihatmu duduk sendiri di sini. Ia belum datang jadi aku sementara bisa menemanimu" ujar Kevan. Matanya tertuju pada layar ponsel Ara yang masih menyala dengan foto Daniel di dalamnya. Kevan mengangkat gelasnya dan meminum koktail perlahan. Kevan tahu dan mendengar bahwa Daniel kecelakaan bersama Ara dan setelah kecelakaan itu Daniel menghilang hingga hari ini.
"Ia belum kembali?" tanya Kevan menoleh pada Ara, wanita di sampingnya hanya tersenyum dan menggeleng sambil memandangi layar ponselnya dari atas meja tanpa bicara apapun juga tampan menoleh pada Kevan. "Berhentilah seperti ini" sambungnya.
"Kenapa harus berhenti?aku tahu dia akan kembali suatu hari nanti" ujarnya tetap tanpa menoleh.
"Kau akan menyakiti dirimu sendiri Ara"
"Tidak perlu mengkhawatirkan aku Kevan, aku baik-baik saja. Dia menungguku 2 tahun dan aku baru menunggunya 1 tahun, masih ada 1 tahun lagi dan aku masih sabar menanti"
"Bagaimana jika dalam satu tahun kedepan ia juga tak kembali?"
"Selamanya aku akan terus menantinya"
"Bagaimana jika sebenarnya dia sudah mati?"
Ucapan Kevan kali ini membuatnya langsung menoleh dengan mata tajam. Ada aura kemarahan dari pancaran matanya. Meskipun ia tak tahu dimana Daniel, ia juga tak cukup berani berpikir bahwa pria itu sudah mati. Selama ia tak pernah melihat dimana makamnya atau dimana abunya di simpan, Ara tidak akan percaya bahwa Daniel sudah meninggal. Ia tak ingin percaya bahwa Daniel meninggalkannya dengan cara seperti itu.
"Dia masih hidup!"
kringgg.... tiba-tiba suara ponsel Kevan berbunyi. Setelah panggilan di akhiri Kevan kembali menatap Ara dengan putus asa.
"Jika masih hidup, seharusnya ia sudah kembali dari dulu. Aku harus menemui temanku dulu Ara, aku akan kembali dan kau jangan banyak minum" ujarnya membelai lembut kepala Ara kemudian beranjak pergi. Ara tersenyum ketus, "Kau lebih lebih baik tak usah kembali Van" bisiknya setelah Kevan berlalu dari hadapannya.
Jam demi Jam berlalu, entah sudah berapa banyak gelas ia minum. Pipinya sudah memerah karena mabuk tapi matanya masih memandangi foto Daniel di layar ponselnya. Entah berapa banyak ucapan yang terucap di bibirnya.
"Kau pasti sangat mencintai pria itu ya nona?" tanya salah satu bartender yang sejak tadi memperhatikan Ara tak lepas menatap pria di layar ponselnya itu. Ara sambil tertawa kecil ia menjawab ucapan bartender itu dengan aksen khas seseorang yang sudah mabuk berat.
"Tentu saja, dia ini nyawaku dan dia belum mati! ingat.. dia belum mati"
"Nona, kau sudah sangat mabuk. Apa kau ingin aku bantu menghubungi seseorang menjemputmu?" tanyanya lagi.
Ara melambai-lambaikan tangannya dengan lemah isyarat tidak perlu. "Kau salah, aku baik-baik saja dan tidak mabuk!"
Tiba-tiba seseorang meraih ponsel Ara dari belakang. "Hei!! ponselku" ujarnya dengan susah payah mengangkat kepalanya yang mulai berputar itu. Ara mengerutkan alisnya mencoba memperjelas pandangannya,
"Da... Daniel.. " bibirnya bergetar, saat ia mengangkat tangannya meraih ponselnya seketika pandangannya gelap dan tak sadarkan diri.