
"BERHENTI!!! kalian ingin menolong seorang kriminal?" Daniel mengedarkan tatapan tajamnya ke sekeliling menatap para kru yang hendak menolong Jenny. Semua orang menatap Daniel dengan wajah bingung. Bahkan salah satu wartawan memberanikan diri bertanya apa maksud perkataan Daniel.
"Kau ingin tahu? akan ku beritahu!" Daniel tersenyum ketus pada Wartawan itu.
"Daniel!! hentikan, Apa yang akan kau lakukan?!Menghancurkan karir ku?!" Windy membentak Daniel dan masih berusaha melepaskan cekikan tangan Daniel dari leher Jenny. Daniel kemudian melepaskan cekikan itu, kemudian melemparkan pandangan tajam pada Windy.
"Bukankah harusnya kau berpikir tentang karirmu dulu sebelum menyabotase ponselku dan mempermainkan perasaan Ara?! kau benar-benar berpikir aku akan diam saja seperti yang selama ini aku lakukan padamu?!"
"Kita bicara di mobil!" Windy berusaha menarik lengan Daniel masuk ke dalam Van-nya namun di tepis Daniel.
"Tuan Daniel sebenarnya ada masalah apa ini?" Wartawan itu kembali bertanya pada Daniel.
"Kalian harusnya mulai mencari idola baru! gadis licik ini tak pantas menjadi idola kalian!" Jawab Daniel.
"DANIEL!!!!"
Plakkk.. sebuah tamparan keras jatuh di pipi Daniel, Daniel tersenyum ketus. Ia terus mendekati tubuh Windy dan mencengkram kerah bajunya.
"Kau Windy!! darimana kau memiliki keberanian mempermainkan hubunganku dan Ara? Jika bukan karena mu, aku dan Ara tak akan berpisah seperti ini dan juga aku tak akan setuju bertunangan dengan gadis picik seperti mu! harus kau ingat di otakmu itu, yang bisa mengisi posisi nyonya Qin hanya Ara, jika dia tak ada, kau juga tak akan bisa menggantikannya! mengerti?!" Daniel melepaskan kerah Windy kemudian hendak pergi, namun langkah Daniel terhenti mendengar jawaban Windy.
"Jika bukan dengan cara seperi ini kau tak akan sadar hanya aku yang akan di akui kakek sebagai istrimu!!"
"Sudah ku katakan, aku tak butuh pengakuan kalian, bahkan aku bersedia meninggalkan semuanya demi Ara, aku hanya butuh Ara mengakui ku sebagai suaminya, itu sudah cukup. Oya, Windy! Ara saat ini sedang mengandung anakku, karena kalian, ia banyak menderita karena kesalahpahaman ini, kau tahu pasti kan aku siapa? kau mencelakakan anakku, hukuman apa yang menantimu kau paling tahu!! selamanya kau tak akan hidup tenang jika terjadi sesuatu dengan anak dan istriku! Aku tak akan melepaskan mu!" Daniel kemudian melangkah pergi meninggalkan Windy.
"Daniel!! tapi aku mencintaimu!! teriak Windy pada Daniel yang semakin menjauh.
" Tapi aku tak mencintaimu!!" Daniel menjawab ketus dan dingin, bahkan ia mengatakannya di depan pada wartawan. Selepas Daniel berlalu, Windy segera di kerumuni para wartawan-wartawan itu.
"Apa benar semua yang di katakan Tuan Daniel? benarkah kau menghancurkan hubungan Tuan Daniel dan istrinya agar bisa bertunangan dengannya?" tanya seorang wartawan.
"Diam!!!" bentak Windy kemudian masuk ke dalam Van-nya dengan berlinang air mata.
"**Wah, kita mendapatkan berita besar. Ini akan menjadi trending topic!"
"Benar, kita bahkan bisa mendapatkan promosi jabatan karena ini! "
"Tak ku sangka Windy Calder bisa melakukan hal semacam itu, aku jadi penasaran siapa istri Tuan Daniel yang sempurna itu?!"
"Benar, sebaiknya kita cari tahu siapa istri Bos TopHill itu"
"Jadi, pertunangan mereka batal?"
"Hei tentu saja, kau tak lihat bos TopHill bilang ia tak mencintai Nona Windy?"
"Siapa juga yang akan mencintai gadis jahat yang tega merebut suami orang seperti itu*"
Begitulah obrolan para wartawan-wartawan itu sepeninggal Windy. Seperti dugaan, baru beberapa jam, masalah ini bahkan sudah menjadi trending topic di sosial media. Mereka seperti tak percaya Windy melakukan hal seperti yang di bicarakan. Bahkan mereka mulai mencari tahu siapa istri dari Daniel sebenarnya.
Daniel melajukan mobilnya dengan cepat, sebuah panggilan masuk memecahkan lamunan Daniel.
"Bos, aku menemukan lokasi Nyonya Ara!"
"Benarkah? dimana dia?" Daniel tiba-tiba menghentikan mobilnya mendadak.
"Dia ada di perbatasan kota A, di sebuah rumah tua, aku khawatir Nyonya tidak dalam kondisi baik, Bos"
"Kau bawa beberapa orang, tunggu aku di sana!"
***
Sudah hampir 2 hari Ara di sekap di ruangan itu. Berkali-kali Ara mencoba kabur, tapi selalu tak berhasil, mereka tidak akan segan memukul wajah Ara berkali-kali bahkan tubuhnya. Yang selalu ia lindungi hanya bagian perut nya saja. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada anak di dalam kandungannya. Bagaimanapun ini adalah darah daging pria yang ia cintai, meskipun ia tak lagi mencintainya.
Malam itu, tali yang mengikat tangan Ara di lepas saat ara hendak makan. Ia sengaja berlama-lama untuk mengukur waktu. Saat siang tadi ia melihat kaca jendela di kamar itu rapuh dan sepertinya mungkin untuk di buka. Sampai satu kesempatan datang. Pria yang menjaga dirinya, tiba-tiba di panggil salah satu kawannya dan ia pergi meninggalkan Ara. Dengan cepat Ara membuka tali di kakinya dan membuka paksa jendela yang rapuh di belakang tempatnya duduk. Seperti dugaannya, jendela itu terbuka. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Ara naik ke atas jendela dan ia tertegun ketika melihat ke luar jendela. Ternyata ruangan Ara berasa di lantai 2, untuk bisa ke bawah ia harus loncat, itu bukan pilihan untuk Ara. Jika ia loncat, ia tahu apa yang akan terjadi, benturan bisa saja membahayakan anak di kandungannya. Ia mencoba mengedarkan pandangannya. Ada sebuah pohon tak jauh dari jendela itu.
"Mungkin dengan naik ke pohon itu aku bisa pelan-pelan turun ke bawah" pikirnya.
Tanpa pikir panjang, Ara naik ke atas jendela dan berusaha meraih ranting pohon tak jauh dari jendela itu. Dengan susah payah ia berusaha, tak di sangka pria yang tadi menjaganya berteriak saat melihat Ara tak ada di ruangan itu. Ara mempercepat gerakannya. Jantungnya berdegup sangat cepat. Ia mendengar pria itu memanggil-manggil teman-temannya dan langkahnya terdengar menuju jendela yang terbuka.
"Hei!! mau kabur kemana kau???!" teriak seorang pria yang kemudian ikut menaiki jendela dan berusaha meraih ranting pohon yang sama dengan Ara.
Sudah setengah jalan Ara menuruni pohon itu, namun karena terlalu panik dan lumut yang membuat pohon itu licin, Akhirnya ia pun jatuh ke bawah dengan kepala membentur sebuah batu. Ara bisa mencium bau anyir darah mengalir dari atas kepalanya. Pandangan Ara gelap beberapa detik, Ia terus menggelengkan kepalanya untuk mengembalikan pandangannya, pandangannya kembali namun ia merasa pusing tak tertahankan, dengan langkah terhuyung ia masih berusaha kabur dengan masuk ke dalam hutan yang gelap.
Suara teriakan pria-pria di belakang Ara membuat Ara mempercepat langkahnya, namun sekali lagi, ia terpeleset dan jatuh berguling ke dalam jurang, lagi-lagi benturan demi benturan mengenai kepala dan tubuh Ara. Saat tubuhnya berhenti berguling, ia masih sadarkan diri namun tak lagi bisa bangun untuk melarikan diri. Ia memilih pasrah dan matanya mulai menatap langit malam yang bertabur bintang di atasnya. Bau anyir darah dan basahnya tanah terus masuk kedalam penciumannya. Air matanya mengalir, ia sudah tak bisa lagi merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya, hanya samar-samar suara teriakan pria-pria itu terdengar di telinga Ara. Beberapa detik sebelum semuanya gelap, samar ia melihat seorang pria mengulurkan tangannya, tersenyum dan mengangkat tubuhnya yang tak berdaya itu kemudian ia tak sadarkan diri.
*Aku tak akan melepaskan tanganku padamu jadi berhentilah mencoba melepaskannya dan berhentilah keras kepala karena aku tak akan membiarkannya..
Kata itu adalah kata terakhir yang aku ingat dari mulutmu, aku berusaha percaya itu akan terjadi, tapi akhirnya aku mengerti..
Dalam urusan cinta ini, akan ada saatnya
Seberapapun kau menahannya,
Tangannya tetap akan terlepas dari mu,
Seberapapun kau memohon padanya, Tubuhnya justru terus menjauh darimu..
Seberapapun kau tak merelakannya
Ia akan terus meninggalkanmu..
Pada akhirnya kau akan sadar..
Ada sesuatu yang sulit menjadi milikmu bukan karena tak bisa, tapi itu karena dia tak mau..
Pada akhirnya kau tau kau harus menyerah bukan karena kau menginginkannya tapi karena kau sadar kau bukan lagi hal yang membuat poros hatinya berputar dan bergetar.
dan sekarang aku terlalu lelah untuk tak menyerah padamu..