
hari mulai terik, Ara baru tersadar akibat mabuk semalam. Ia bangun dan duduk di atas tempat tidur dengan wajah bingung merasa asing dengan kamar ini tapi untungnya tak ada yang terjadi dengan dirinya. Ia masih menggunakan baju yang ia kenakan semalam tapi yang jelas dimanapun kamar itu, itu pasti bukan rumahnya ia kemudian teringat semalam ia mabuk dan ia seperti melihat Daniel. Seseorang pastinya membawanya ke kamar ini, siapa? Kevan? atau benar-benar Daniel? Tiba-tiba ia tesentak sepeti menyadari sesuatu. Hari ini adalah hari Brandon pentas di playgroup nya. Ia buru-buru melihat jam, juga meraih ponselnya di dalam tas yang tanpa ia sadari sudah berbunyi dari tadi. Ia melihat nama yang tertera adalah nama Lisa. Ada 20 misscall darinya sejak pagi, hingga sekarang jam 11 siang.
"Nona kau Ada dimana? Brandon sejak tadi menanyakanmu" tanya Lisa, di belakang Lisa terdengar suara Brandon yang sedang merengek untuk bisa bicara pada ibunya itu.
"Ah iya iya, aku dalam perjalanan. Bilang padanya aku akan segera sampai" ujarnnya sambil berjalan buru-buru memakai mantel, kaluar kamar dan pergi ke sekolah Brandon.
Sesampainya di sana, semuanya sudah berkumpul di gedung theater sekolah itu, Ara bergegas ke belakang panggung menemui jagoannya dengan wajah cemas. Cemas jika jagoannya itu sudah merajuk, ia akan sulit di bujuk.
Ara memasuki ruang rias, di sana sudah terlihat Brandon dan Lisa juga banyak anak-anak lain yang sedang bersiap di temani orang tua masing-masing kebanyakan ibu-ibu.
"Ibu kau terlambat!" ujar Brandon sambil menekuk wajahnya dan melipat kedua tangannya di dada.
"Maaf.. maafkan ibu ya.. ibu terjebak macet tadi dan... "
belum sempat ucapannya selesai, sebuah tangan menepuk baju Ara. Ara, Lisa dan Brandon segera menoleh.
"Dan ibumu pasti ketiduran Brandon" ujar Annchi dari belakang tubuh Ara sambil tersenyum mengejek. Ara setengah melotot melihat Annchi sahabatnya itu.
"Ann, bisa diam tidak?!" seru Ara sedikit mencubit lengan Annchi. Annchi hanya meringis kecil. "Dimana Huanran? bukannya dia juga ikut pentas?" tanya Ara.
"Itu, sedang bersama Liu, jadi karena Liu sibuk dan terlambat, Ran juga sedang marah seperti Brandon" ujar Annchi membelai kepala Brandon dengan senyum dan Ara hanya mengangguk sedangkan Brandon menatap pahit ke arah Huanran yang sedang di gendong oleh ayahnya. Ada perasaan iri di dalam hatinya. 1 tahun sudah seperti seabad untuk Brandon. Diam-diam ia sangat merindukan Daniel ayahnya.
"Dimana Jimmy? kenapa tidak ikut?" tanya Ara.
"Jimmy sedang ikut dengan ayah dan ibuku ke Jepang jadi dia tidak ikut"
"Oh begitu" jawab Ara singkat.
"Ayah, lihat itu Brandon yang aku ceritakan waktu itu" ujar Ran pada Liu. Liu sedikit mengerutkan alisnya, ia mencoba mengingat cerita yang di maksud putri kecilnya itu. "Aku pernah cerita kan kalau aku menangis karena Adolf jahil padaku kan? Brandon yang tolong aku yah"
Liu seketika ingat kemudian menoleh pada Ara, Brandon juga Annchi yang sedang mengobrol. Ia tersenyum kemudian mendekati Brandon.
"Brandon, Om dengar kau menolong Huanran ya? terimakasih yaa.. Ran beruntung sekali punya teman baik sepertimu" ujar Liu tersenyum pada Brandon.
"Tentu saja om, aku jagoan hebat selalu membela yang lemah" ujarnya sambil mengepalkan tangannya. Brandon terlihat sangat percaya diri dan kata-katanya yang lucu membuat semua orang di sana terkekeh geli.
Tak lama kemudian, seorang guru memberikan aba-aba untuk semua anak muritnya mulai bersikap dan para orang tua di minta segera duduk di depan panggung di tempat duduk yang sudah panitia sediakan. Setelah mengecup kepala Brandon, Ara kemudian berjalan bersama Annchi, Liu, Jimmy dan Lisa ke tempat duduk kosong di depan panggung.
Satu persatu acara di pentaskan. Saat Brandon dan Huanran pentas, Annchi yang duduk di samping Ara terlihat sangat bersemangat. Ara menatap Annchi sambil menggelengkan kepalanya.
"Dasar ibu-ibu satu ini, kau itu sudah berulang kali menghadiri acara begini kenapa masih antusias sekali?" tanya Ara berbisik pada Annchi di sampingnya.
"Setiap anak memiliki pengalaman yang berbeda, kau juga akan merasakannya nanti" ujar Annchi keceplosan. Semangatnya tiba-tiba mengendur saat ia menyadari kesalahannya. Di lihatnya Ara yang sekarang berewajah nanar.
"Ara, ma.. maaf bukan itu maksudku" ujar Annchi merasa bersalah. Satu tahun berteman dekat dengan Ara meskipun berawal karena pertemanan anak mereka ia juga banyak mendengar cerita pribadi Ara. Ia tahu bahwa Daniel belum kembali sejak insiden pahit itu. Annchi bukan tidak pernah menolong Ara. Ia bahkan secara pribadi meminta Liu melacak keberadaan Daniel. Namun, saat Liu mencoba melacaknya nomor itu berada di Starlake dan tidak pernah aktif selama satu tahun ini.
Ara tersenyum kemudian merangkul lengan Annchi.
"Sudahlah aku tahu, kau tak perlu khawatir" bisiknya.
"Iya aku kesana dan setelah itu pergi mabuk, aku seperti melihat Daniel tapi saat aku bertanya pada bartender semalam sesaat sebelum aku pergi kesini dia bilang tidak tahu siapa yang membawaku ke kamar hotel TopHill"
"Kau benar-benar yakin yang kau lihat Daniel?"
"Penglihatan orang mabuk mana bisa di percaya Ann, ah sudahlah kalau dia di kota ini sudah pasti akan menemuiku. Jadi sudah pasti bukan Daniel orang semalam,"
"Apa?? tapi kau tidak melakukan hal yang tidak-tidak dengan orang asing kan??"
"Tidak, aku yakin tidak!"
"Dasar bodoh!" tiba-tiba Annchi mencubit pipi Ara sedikit keras. Ara mengerutkan alisnya dan menepis cubitan Annchi barusan.
"Auch.. sakit Ann, bodoh kenapa?"
"Kau itu bagaimanapun bukan wanita sembarangan, kenapa kau ceroboh sekali? siapapun bisa mengambil keuntungan dari mu saat kau lengah"
Ara tak bisa menjawab apapun perkataan Annchi. Yang di katakan sahabatnya itu benar. Dialah yang ceroboh.
Setelah 2 jam berlalu, acara selesai. Mereka pergi keluar bersama namun langkah Ara menjadi berat dan berhenti. Di kejauhan ia melihat seorang pria berdiri bersandar di samping mobilnya. Ia mengenakan kacamata hitam, baju polo berwarna abu-abu dengan celana jeans. Terlihat santai namun sangat tampan. Ara, Liu juga Brandon dan Huanran yang sedang berjalan tiba-tiba menoleh pada Ara yang berhenti melangkah. Mereka dengan wajah bingung seketika menoleh ke arah tujuan pandangan mata Ara. Annchi dan Liu tidak pernah melihat suami Ara, ketika melihat reaksi Ara seperti itu mereka pastikan itu adalah Daniel.
Brandon melihat Daniel berdiri di samping mobil Maybach nya langsung berlari cepat menuju ayahnya. Daniel tersenyum dan membuka pelukannya kemudian menggendong Brandon. Ia tak henti menciumi jagoan kecilnya itu. Berbeda dengan reaksi Brandon, kaki Ara terlalu lumpuh untuk sekedar melangkah maju ke depan. Ia berulang kali meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang ada di depannya sedang menggendong Brandon adalah benar-benar suaminya. Annchi melihat air mata yang mulai menetes di pipi Ara, dengan lembut merangkul lengannya.
"Ann, katakan ini mimpi kan? hari ini pasti mimpi?"
"Ara, ini buka mimpi" ujarnya memeluk sahabatnya itu.
Daniel melihat Ara tak juga mendekat akhirnya menurunkan Brandon dari gendongannya kemudian berjalan mendekati istrinya. Liu menarik tangan Annchi, isyarat untuk mundur. Annchi menoleh pada Liu kemudian tersenyum dan mengangguk melepaskan pelukannya pada Ara.
Setelah pelukan Annchi lepas, Daniel segera meraih tengkuk Ara dan menarik tubuhnya masuk ke dalam pelukannya. Ara terus terisak. Antara marah, benci, senang, tak percaya bercampur menjadi satu.
"Daniel, kau jahat! kau benar-benar jahat padaku dan Brandon! kenapa baru kembali? aku pikir kau sudah... sudah.." ujar Ara sambil memukul-mukul dada Daniel tak sanggup melanjutkan perkataannya.
"Maafkan aku, aku tak bermaksud begitu. Kita bicarakan di rumah ya" ujar Daniel melepaskan pelukannya dan menyeka air mata Ara dengan ibu jarinya.
"Bro, kau memang jahat" Ujar Liu tiba-tiba merubah suasana dramatis itu. Daniel mendengar Liu bicara kemudian menoleh dan menjabat tangan Liu sambil menepuk bahu Liu sesaat.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Annchi bingung.
"Tentu saja, Webrick dan Downgrup memiliki hubungan khusus"
"Hah?bukankah kau bilang kau melacak nomornya dan tidak mengetahui keberadaannya? kau membohongi kami Liu?" Selain Annchi, wajah kesal juga terlihat di wajah Ara, "Kalian keterlaluan tahu tidak!" sambungnya geram.
"Sayang, itu semua permintaan Daniel sendiri, masalah ini biar mereka selesaikan. Kita sebaiknya pergi " ujar Liu kemudian menarik tangan Annchi dan menggendong Ran. "Bro, kami pergi dulu" ujarnya menepuk bahu Daniel, Daniel hanya mengangguk sesaat sambil tersenyum kemudian pandangan matanya beralih lagi pada Ara yang sedari tadi diam karena kesal.
"Aku jelaskan nanti, kita pulang dulu"