
Setiap hari Selasa dan Sabtu Ara selalu akan mengunjungi Dr. Mia di sebuah Panti Jompo bernama "Angel Wings" tak jauh dari pet shop milik Sean. Dr. Mia adalah seorang Psikiater, Awalnya ia bekerja di Premier Hospital, baru sejak setengah tahun lalu, ia memutuskan keluar dari premier dan pindah bekerja di Angels wings. Ia adalah teman baik Denis dan ia juga adalah dokter yang dulu sempat menangani Ara untuk meringankan rasa trauma Ara. Setelah Ara sembuh, karena sudah terbiasa datang ke tempat itu ia menjadi sangat akrab dengan para lansia dan suster di panti itu. Akhirnya Ara mengajukan diri sebagai volunteer di sana. Hal itu di sambut baik oleh Dr. Mia.
Setelah Ara keluar dari rumah sakit, Xander segera membeli sebuah rumah besar di pinggir kota G untuk menghindari keramaian.
Kota G pada dasarnya adalah kota di atas perbukitan. Udaranya sangat sejuk, meskipun ramai tapi tak bising dan sepadat seperti di kota A. Meskipun begitu Ara tak pernah lagi di izinkan untuk mengemudi mobil sendiri, kemanapun ia pergi ia akan selalu diantar oleh supir Xander . Tapi beberapa minggu belakangan, Ara diperbolehkan untuk mengendarai sepeda setelah ia memohon pada Xander berulang-ulang kali.
"Ara, hari ini kau akan bertemu dokter Mia?" tanya Meira yang sedang memasak di dapur bersama beberapa pelayan.
"Iya bi, seperti biasa", ia menoleh pada Meira sesaat kemudian kembali bermain lego dengan Brandon.
"Brandon, apa kau mau ikut ibu, Nak?" tanya Ara pada Brandon, Brandon tertawa seakan tahu apa yang Ara sedang katakan.
"Brandon biar ikut dengan Bibi saja Ara, aku akan pergi ke arisan bersama teman-temanku, mereka sangat menyukai Brandon jadi kau pergilah sendiri, oke?"
"Wah.. Wah.. Anak ibu kecil-kecil sudah banyak fans ya, kau memang tampan", Seru Ara tersenyum lebar sambil memeluk Brandon kecil dan menciumnya " Baiklah bi, aku titip Brandon ya"
"Baiklah baiklah, sana pergilah, jangan buat Dokter Mia menunggu lama"
"Brandon, ibu pergi dulu, kau jangan merepotkan nenekmu ya sayang" Kecup Ara pada Brandon, Ara kemudian bangkit dari duduknya dan segera menuju pintu keluar," Bi, aku pergi dulu ya!"
"Oke, Hati-hati!! " seru Meira.
***
Ara perlahan-lahan mengayuh sepedanya sambil menikmati udara sejuk di pinggiran kota G. Setiap kali Ara pergi, ia akan membelikan banyak tangkai bunga mawar untuk menghibur para lansia di panti itu. Saat pertama kali datang kesana, mereka terlihat sangat murung. Ara sempat bertanya pada beberapa lansia di sana, sebagian dari mereka merasa lebih baik berada di rumah lansia dan yang sebagiannya lagi sangat merindukan keluarganya. Meskipun para lansia di sana sebagian besar memiliki penyakit demensia atau kepikunan, tapi mereka masih bisa merasakan kesepian dan merindukan keluarganya juga. Ara merasa iba terlebih lagi Ara merasa ia tak jauh beda dengan para lansia itu, ia juga masih belum mengingat sedikitpun tentang masa lalunya tapi bisa sedikit merasakan kepahitan di dadanya.
Sesampainya di Angel Wings, Ara di sambut senyuman para suster di sana. Melihat Ara membawa banyak tangkai mawar mereka segera berinisiatif membantu membawakannya.
"Suster aku akan bertemu dengan kakek Peter dulu, ini hari ulang tahunnya jadi aku akan memberikannya hadiah" Seru Ara tersenyum, para suster itu pun mengangguk.
Langkah Ara berhenti di sebuah ruangan, di depan pintu tertulis nama Peter. Pintu terbuka, Ara melihat Peter sedang duduk di kursi roda nya melamun, pandangan matanya menatap jauh ke luar jendela. Ara mendekat, Peter yang melihat Ara seketika tersenyum.
"Ara, kau datang? "
"Kabarku selalu baik ketika melihatmu Ara" Peter tersenyum, dari matanya terlihat sorot sendu dari dalam hatinya. Peter memang tak bicara banyak tentang dirinya. Dia telah menghuni panti jompo ini sudah lebih dari 1,5tahun. Menurut Dr. Mia dan suster yang merawatnya, sejak 1,5 tahun lalu ia berada di sini, tidak ada satu orangpun keluarganya yang menjenguknya. Bahkan tidak di libur akhir tahun atau hari-hari besar. Itu kenapa Peter terlihat sedih.
"Ayo kek, aku temani kau berkeliling"
Dengan cekatan, tangan Ara mendorong kursi roda Peter keluar dari kamar dan berjalan mengelilingi halaman panti jompo itu. Peter tak banyak bicara, hanya sesekali memuji keindahan alam pinggiran kota G. Langkah Ara terhenti di sebuah bangku panjang.
"Kek, aku punya hadiah untukmu" Ara kemudian merogoh tasnya dan mengambil sebuah kotak kecil berwarna biru di hiasi dengan pita cantik dan ia menyodorkannya pada Peter, Peter mengerutkan alisnya dan terlihat bingung.
"Apa ini?!"
"Selamat ulang tahun kakek" senyum Ara mengembang sempurna. Melihat wanita muda di depannya mengucapkan selamat ulang tahun untuknya, Peter tak bisa membendung air matanya lagi. Beberapa saat ia terisak, membuat beberapa suster yang tak sengaja lewat bahkan datang menanyakan apa yang terjadi. Wajar saja mereka panik, untuk lansia yang memiliki riwayat jantung seperti Peter, ia tidak di perkenankan terlalu senang atau sedih. Itu bisa membahayakan mereka sendiri.
"Ara, kau tau tidak. Hanya kau lah satu-satunya orang yang masih ingat tanggal ulang tahunku" seru Peter sambil tangannya membuka kotak kecil itu. Saat kotak terbuka, terlihat sebuah cincin di dalamnya.
"Ara, darimana kau dapat cincin ini?" tanya Peter sedikit tertegun melihat cincin itu.
"Entahlah Kek, cincin itu selalu berada di kamarku, aku tak tahu milik siapa, aku bertanya pada siapapun mereka juga tak tahu. Karena terlihat bagus dan aku ingat ulang tahunmu, jadi ku putuskan untuk memberikannya padamu, bagaimana? kau suka?"
"Terimakasih Ara" Peter kemudian memeluk Ara dengan Erat. Air matanya sekali lagi mengalir.
***
2 tahun berlalu dengan cepat. Pertunangan Daniel dan Windy telah di batalkan. Awalnya Daniel bersikeras menuntut Windy dan keluarganya ke pengadilan. Namun seperti dugaan, Shamus melindunginya dari tuntutan. Sebenarnya, setelah Daniel mengatakan pada Shamus bahwa Ara sedang mengandung anaknya, Shamus sedikit menyesal, bagaimanapun anak yang di kandung Ara adalah bagian dari keluarga Qin dan Edmund. Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Shamus juga berkali-kali meyakinkan Daniel, ia tidak ada hubungannya dengan kasus menghilangnya Ara. Tapi tentu saja Daniel tak percaya dengan mudah.
Kasus menghilangnya Ara semuanya berhenti di gedung tua di perbatasan kota B. Semua orang selamat yang terlibat di dalam kejadian itu, semuanya mati bunuh diri saat berhasil di tangkap polisi. Tidak ada yang tersisa, jadi baik dari pihak kepolisian dan Daniel tak mendapatkan informasi apapun tentang Ara.
Semua tempat di telusuri, semua rumah sakit di periksa. Tidak ada nama Ara di list daftar pasien dan Ara tak di temukan di manapun.
2 tahun Daniel lewati dengan perasaan bersalah, setiap hari tak sehari pun ia tak mengutuk dirinya sendiri. Ia berubah menjadi pribadi yang cepat marah, tak sabar dan semakin dingin menghadapi orang lain. Tritan dan Yogi seperti sudah kehilangan Daniel yang dulu. Daniel yang dulu seakan sudah dan digantikan dengan Daniel yang menjadi pecandu berat rokok dan pemabuk berat. Setiap kali mabuk, kondisinya lebih memprihatinkan. Ia akan dengan mudah marah dan menangis memanggil nama Ara.
Karena terlalu khawatir, Tritan sampai beberapa kali berbicara pada Elly menanyakan perihal Ara, namun Elly tak pernah menjawab. Ia selalu mengatakan ia tidak tahu menahu tentang Ara. Tentu saja Elly tidak akan bicara apapun, diam-diam di dalam lubuk hatinya bahkan ia berharap Ara tidak akan pernah kembali dan lebih baik mati. Karena sepeninggal Ara, ia mendapatkan apa yang Clara janjikan. Jabatan, uang dan kehormatan, ia sangat puas dengan pencapaiannya meskipun harus mengorbankan sahabatnya.