Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 64: Ara kau sedang cari mati?



Suara sirine mobil ambulance berlalu, Ara tadinya ingin ikut mengantar Windy pergi ke rumah sakit namun Jenny melarangnya. Dengan wajah kebencian Jenny memaki Ara di depan umum, bahkan ia mengancam akan memposisikan Ara karena kejadian ini. Semua orang disana berpikiran sama dengan Jenny, mereka berpikir seorang nona muda dari keluarga Romanov bisa dengan tega menyakiti orang lain hanya karena masalah pekerjaan, para pegawai disana memandang Ara dengan tatapan sinis.


Wajah Ara memucat, ia tak peduli berapa banyak kepala yang sedang menyindir nya atau menghinanya, yang ada di kelapa Ara saat ini hanya bayangan darah, baik darah Windy atau darah Ibunya semuanya berbaur menjadi satu di kepalanya. Keringat dingin mulai mengguyur tubuh rampingnya itu. Wajahnya bahkan seperti tak teraliri darah, sangat pucat. Ara dengan lemas berusaha kembali ke kantornya mengambil tas dan kunci mobil. Melihat wajah Ara yang sepucat mayat itu Elly merebut kunci mobil dari tangan Ara. Ara menoleh seketika?


“Ada apa? “Tanya Ara bingung.


“Ara kau mau kemana dengan wajah sepucat itu? "


“Tentu saja pergi ke rumah sakit"


“Tidak, aku akan mengantarmu pulang, lagipula Jenny tak akan membiarkanmu masuk menjenguknya"


“Tapi setidaknya aku tetap harus ke sana"


“Jangan keras kepala Ara! berikan alamat Star lakemu, aku akan membawamu pulang"


“Elly!! “Seru Ara dengan suara meninggi, elly #yang mendengar pekikan suara Ara pun mau tidak mau mendengarkannya. Elly akhirnya mengantar Ara pergi ke rumah sakit.


Sesampainya disana, sudah banyak sekali wartawan berkerumun. Ia sampai harus masuk ke rumah sakit itu melalui pintu belakang. Mereka segera masuk ke ruang ER mencari keberadaan Windy namun ia tidak disana. Elly akhirnya memutuskan untuk bertanya pada salah satu perawat ternyata Windy sudah di pindahkan ke bangsal VIP dan mereka segera menuju ke sana.


Sesampainya disana, Ara segera masuk. Melihat Windy terbaring, terlihat balutan kasa di atas dahinya. Windy menoleh, saat ia melihat Ara yang datang wajah Windy langsung berubah sinis.


“Untuk apa kau datang? untuk memastikan seberapa parah luka yang aku derita?”Ara tersenyum ketus mendengar ocehan Windy.


“Aku membawakan buah-buahan untukmu, kau mau apel? aku akan kupas kan untukmu”Tanya Ara mengacuhkan pertanyaan Windy, dengan cuek ia meletakkan parcel buah di atas nakas dan mengambil sebuah apel untuk di kupas. “Aku tidak mengerti dengan tujuan apa kau menjebak ku seperti ini nona Windy”Ucap Ara sambil tangannya sibuk mengupas apel di tangannya. “Tapi jika itu karena Daniel sudah ku katakan sebelumnya, jika dia milikmu maka rebutlah dia dari sisiku, jika ia berhasil kau rebut, aku juga tak akan menahannya, jadi seharusnya kau tak perlu susah payah mencelakai dirimu sendiri seperti ini”Pandangan Ara beralih menatap Windy kemudian ia tersenyum ketus sambil meletakkan apel kupas di atas nakas. “Jadi nona Windy, mulailah sibuk memikirkan cara merebut Daniel dari ku dan berhentilah bermain-main denganku, mengerti? “Selesai bicara Ara kemudian bangun berdiri dan meninggalkan Windy sendiri. Saat ia membuka pintu, ia melihat sosok Daniel di depan pintu. Ara yakin, ia mendengar apa yang mereka bicarakan di dalam.


“Kau datang”Seru Ara


“Hemm”Jawabnya singkat dengan wajah dingin. Setelah itu mereka mendengar suara piring di banting, Ara, elly dan Daniel segera mengintip Windy di dalam dari sela pintu, benar saja, Windy melempar semua yang ada di meja jatuh ke lantai dengan marah. Ara kemudian kembali menatap Daniel.


“Sebaiknya kau masuk, buatlah tunangan mu lebih tenang”Seru Ara dengan wajah sinis. Ia sedikit kesal dengan Daniel, sejak kemarin ia menunggunya untuk membalas pesan atau panggilannya tapi tak satupun ia balas, tapi mendengar Windy terluka ia segera datang menjenguk. Bagus sekali Daniel! gerutu Ara dalam hati.


“Kau tunggu di sini, aku segera kembali”Titah Daniel dengan wajah dingin, kemudian masuk ke dalam bangsal.


Ara yang sedang kesal dengan Daniel, ia mengabaikan perintah Daniel dan tetap beranjak pergi menarik tangan Elly yang sejak tadi tak bersuara, wajahnya masih terkejut ketika ia mendengar Windy sebenarnya adalah tunangan Daniel. Sepanjang jalan Elly hanya diam, sesekali melirik Ara yang sedang membuang muka ke luar jendela. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Elly bahkan tak berani bertanya masalah Windy tadi. Tiba-tiba Ara meminta Elly menghentikan mobilnya.


“Elly tunggu di sini sebentar”Elly mengangguk ia melihat Ara keluar mobil dan masuk ke dalam sebuah apotik.


Seorang apoteker menyapa Ara, Ara tak banyak bas-basi, ia meminta pil pencegah kehamilan. Dengan segera apoteker mengambilkan nya. Setelah membayar bahkan Ara langsung meminumnya di tempat. Apoteker melihat yang di lakukan Ara ia pun mengernyitkan alisnya.


“Pil pencegah kehamilan tak baik untuk rahimmu jika di konsumsi terlalu sering, jika kau tak inginkan anak makan jangan melakukannya dengan pacarmu”Seru apoteker itu sarkas,


“Bukan urusanmu nona”Setelah bicara ketus Ara langsung meninggalkan apotek itu dan melanjutkan perjalanan pulangnya. Beberapa jam lalu Ara baru saja berpikir sebaiknya ia mungkin mengikuti keinginan Daniel untuk memiliki anak, namun setelah melihat kejadian barusan emosinya kembali meninggi. Ia akhirnya kembali berubah pikiran untuk menunda kehamilan.


“Ini keputusan tepat, kami belum siap memiliki anak”Batinnya


***


“Daniel, akhirnya kau datang “Daniel seakan tak peduli, ia berjalan mengambil tempat buah yang jatuh di lantai dan memunguti satu per satu buah yang berserakan. Windy terkejut melihat apa yang di lakukan Daniel, seumur hidup pria ini tak pernah membungkukkan badannya apalagi menyentuh makanan yang jatuh. Daniel sangat higienis dan gila kebersihan. Menurut kebiasaan seharusnya ia memanggil suster untuk membuang buah yang jatuh di lantai itu, lagipula meskipun sudah di pungut Daniel, Windy juga tak akan mau memakannya.


“Apa buah ini buah yang di bawa Ara barusan?”Tanya Daniel dingin pada Windy, dengan cepat Windy mengangguk.


“Untuk apa kau pungut? aku juga tak akan sudi memakannya"


“Aku memungutnya bukan karena meminta kau memakannya, tapi apa yang di beli istriku, meski bArang tak berguna sekalipun tak boleh di buang oleh orang lain, yang boleh membuangnya hanya aku”Mendengar ucapan Daniel, Windy semakin merasa dadanya sesak dan panas. Api cemburu di hatinya benar-benar membakar di dalam. Mendengar Daniel membela istrinya sampai sepeti itu seperti sedang memberi penjelasan posisi gadis itu di hati Daniel.


“Daniel, kau harus ingat tidak ada status istri yang akan di akui oleh kakek selain aku, apalagi dengan latar belakang istrimu!"


“Aku tidak peduli orang lain akan mengakuinya sebagai istriku atau tidak, yang penting Ara mengakui dia adalah istri sahku, untukku itu lebih dari cukup dan berhentilah bersandiwAra, kau hanya luka ringan, tak perlu bersandiwAra seakan kau terluka hebat. Jika ini benar jebakan yang kau rencanakan untuk mencelakai istriku, aku tidak akan tinggal diam Windy”Tak lama kemudian suara pintu terbuka membuat mereka berdua menoleh, mereka melihat kakek datang berjalan mendekat. Pandangan Daniel semakin dingin, ia kembali menoleh pada Windy “Jika kakek benar-benar menyukaimu, maka minta beliau saja yang menikahi mu”Seru Daniel kemudian melangkah pergi mengacuhkan kakeknya yang baru datang. Windy tak bisa menahan air matanya.


“Daniel, aku baru datang kau akan pergi kemana?! “Bentakan Shamus tak menghentikan langkah Daniel.


“Aku akan pergi kemanapun istriku berada"


Brakkk... Suara bantingan pintu tertutup dengan keras. Daniel bertambah marah ketika melihat Ara benar-benar tak menggubris perintahnya untuk menunggunya. Dengan cepat ia menyusul mobil Ara. Ia mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat.


“Gadis itu kenapa sangat tahu cara membuat orang lain kesal? kapan dia behenti keras kepala dan mulai mendengarkan ku”Daniel membanting tangannya di atas stir, emosinya sudah sampai di ubun-ubun. Laju mobilnya bertambah cepat kemudian melambat dan berhenti. Ia melihat mobil Ara berhenti di sebuah apotik, ia bahkan melihat Ara keluar dari apotik dengan wajah kesal.


“Apa yang dia beli di apotik? bukankah dia masih memiliki obat dirumah?”Batinnya.


Setelah mobil gadis itu pergi menjauh, Daniel segera turun dan masuk ke dalam apotik. Apoteker yang sama menyambut kedatangan Daniel. Melihat seorang pria tampan datang, apoteker itu gemetar karena gugup.


“Kau mencari obat apa tuan? "


“Obat yang sama seperti yang gadis tadi beli"


apoteker itu mengangguk dan segera mengambil obat yang sama seperti milik Ara. Daniel melihat obat itu dengan wajah bingung .


“Obat apa ini?"


“Obat pencegah kehamilan", “Kau apakah pasangan dari gadis barusan?”Tanya apoteker. Daniel tak mengindahkan pertanyaan apotekeritu, matanya masih terpaku pada obat di tangannya itu.


“Jangan membuat pacar mu meminum obat ini dalam jangka panjang, dia masih terlalu muda dan juga jika obat ini terus di minum kalian benar-benar tidak akan bisa memiliki anak"


“Bisa tidak memiliki anak karena obat ini? benarkah? “Tanya Daniel dengan wajah terkejut


“Ya itu benar, bahkan ia seperti tak peduli nasehat ku dan langsung meminum pil ini setelah membayar, pergaulan anak muda jaman sekarang sangat mengkhawatirkan"


Apoteker berbicara seperti itu pada Daniel bak sedang mengipas bara menjadi kobAran api. Dengan kesal Daniel meletakkan pecahan uang 100rb dan meninggalkan apotik.


“Ara kau benar-benar tak ingin melahirkan anakku kah? beraninya kau meminum obat seperti ini!!! kau benar-benar cari mati?!!"