Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 10: Teman Lama



Ara memasuki toko itu, matanya memutari setiap sudut toko, sudah hampir 15 menit Ara memperhatikan setiap label harga pada setiap setelan baju atau rok di toko itu. Sesosok wajah yang familiar menghampiri Ara, Ara pun menoleh.


“Tidak ada diskon di toko ini, harga termurah untuk setelan baju di toko ini adalah 550.000, jika tak kuat beli, silahkan pergi"


Kata-kata sinis yang sama keluar dari mulut wanita di samping Ara itu. Ara tersenyum sinis sambil melihat nama yang tertulis di bajunya, pegawai itu bernama Keke. Kali ini entah bagaimana Ara bisa mempertahankan harga dirinya, uangnya tak cukup untuk membeli baju disana.


“Kau lagi nona, apa kau sedang membuat toko ini bangkrut?"


“Tentu saja tidak, aku sedang melindungi toko ini dari pelanggan miskin yang datang hanya untuk melihat-lihat"


Mata Ara menghitam mendengar perkataan pelayan di sampingnya, ia meremas kepalan tangannya kuat-kuat. Kenapa ia terus di rundung kesialan bahkan kesialan bisa datang sepagi ini. Ara menghela napasnya dalam-dalam untuk mengatur emosinya. Ara sadar ia tak punya cukup uang untuk membeli baju disana, waktunya akan terbuang sia-sia jika harus berdebat dengan manusia tak berotak di hadapannya ini, akhirnya ia membalikan tubuhnya dan hendak melangkah pergi. Tapi langkahnya tertahan, ketika matanya melihat Kevan berada beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Matanya menatap pelayan itu seperti ingin mengulitinya hidup-hidup.


“Siapa yang kau sebut miskin itu??"


Seru Kevan melangkah mendekati Pegawai itu


“Tentu saja gadis itu"


Pegawai itu menjawab Kevan dengan sangat ringan. Pegawai itu belum menyadari siapa yang berada di depannya.


“Kau tahu, dia sekretaris direktur perusahaan Wingsley"


“Kau pasti salah tuan, dia tak mungkin bekerja disana apalagi jadi sekretaris bos besar perusahaan Wingsley"


“Kenapa kau pikir begitu?"


“Dilihat dari penampilannya saja semua orang akan sependapat denganku, lagi pula butuh pencapaian luar biasa untuk bekerja disana kecuali ia mau naik ke ranjang bosnya"


Mendengar perkataan pegawai itu, Ara setengah berlari mendekati Keke dan melayangkan tamparan keras. Matanya berkobar kali ini, ia tak bisa lagi menahan emosinya.


“Jaga ucapanmu nona!! aku mungkin miskin, tapi aku bukan *******!!"


Di wajah Keke terlihat jelas bekas tangan Ara. Wajahnya tak terima, ia hendak membalas Ara, namun tangan Kevan lebih dulu meremas pergelangan tangan Keke. Mata Keke beralih ke wajah Kevan yang dingin.


“Tuan kau tak perlu ikut campur urusan kami"


Kevan tersenyum lebih sinis, auranya kali ini seperti serigala lapar yang hendak membunuh mangsanya. Tiba-tiba seorang pria berbadan gemuk menghampiri mereka dengan wajah pucat. Keke menepis tangan Kevan dan segera mendekati tubuh pria yang ia sebut manager itu dengan suara yang manja ia mencari perlindungan. Mata Ara melirik ke Arah gadis itu, dengan bahasa tubuh gadis itu mendekati managernya seperti *******, Ara seketika tahu hubungan atasan dan bawahan itu.


“Tu..tuan Kevan maafkan karyawan kami berlaku kurang ajar, keke kau harus minta maaf pada tuan Kevan"


Lengan manager itu seketika di tarik oleh gadis di sampingnya, dari raut wajahnya ia tidak terima.


“Dia yang salah kenapa aku yang harus minta maaf"


“Keke, tentu saja kau yang salah, dia direktur Kevan, pewaris perusahaan terbesar keluarga Wingsley"


Mendengar itu, tubuh pegawai yang bernama


Keke itu bergetar hebat, wajahnya memutih seolah aliran darahnya tersumbat.


“Ma..maafkan saya tuan Kevan, saya salah"


“Berlutut dan minta maaf di depan sekretarisku"


Wajah Ara terlihat puas, ia menatap keke dengan senyum terdinginnya. Akhirnya dengan berat hati Keke berlutut dan meminta maaf pada Ara. Banyak pasang mata memperhatikan mereka.


“No..nona, maafkan saya, saya janji takan terulang lagi, mohon maafkan saya"


Belum sempat Ara menjawab, Kevan meraih lengan Ara masuk ke pelukannya. Kemudian ia mengeluarkan kata-kata menusuk, sudah di pastikan masa depan gadis itu takan tertolong.


“Maaf, sekretarisku tak menerima permintaan maaf dari sampah busuk sepertimu, aku pastikan kau akan kehilangan pekerjaan ini, selamat menjadi pengangguran abadi, selain tempat prostitusi tidak ada perusahaan yang mau mempekerjakanmu"


Kata-katanya menusuk tajam tepat mengenai ulu hati pegawai itu. Wajah Keke seperti mayat hidup, tak hanya Keke, Ara yang mendengar kata-katanya saja bisa merasakan kengerian luar biasa. Laki-laki di sampingnya ini bisa berubah menjadi monster dalam waktu sekejap.


Mata Kevan beralih melihat pria Gemuk di hadapannya


“Kau manager di sini?"


“I..iya benar tuan"


“Kau harusnya menjaga kebersihan toko mu, sampah harusnya segera di buang ke tempatnya, jangan sampai bau busuknya memenuhi ruangan"


“Ara, ayo kita pergi, aku tak tahan dengan bau busuk toko ini, kita cari bajumu di toko lain"


Kevan menarik lengan Ara, namun ia menepis lengan Kevan dan Ara membalikan tubuhnya pada Keke yang masih berlutut dengan air mata membajiri pipinya. Ara menunduk mendekati wajah Keke.


“Jika kau penjilat, lakukan dengan benar. Pastikan yang kau lakukan di atas ranjang sebanding dengan apa yang akan kau dapatkan, aku lihat kali ini kau bermain di atas ranjang yang salah nona"


Seru Ara dengan senyuman sinisnya, Kevan menatap Ara dengan tatapan kagum, kemudian mereka beranjak ke keluar toko dan memasuki mobil. Di dalam mobil Kevan memandangi Ara dengan senyuman.


“Tadi itu lumayan"


Ara menatap Kevan dengan sinis.


“Kau pikir karena tak ada uang, aku mau di rendahkan seperti itu?"


Melihat wajah Ara yang kesal, Kevan tertawa geli. Tangannya meraih sebuah plester dari dalam saku jasnya dan memberikannya pada Ara.


“Untuk apa memberi ku plester? menambal rok ku yang sobek? tak perlu, akan ku jahit sesampainya di kantor


“Dasar sekretaris bodoh, ini untuk luka di tumitmu"


Ara menatap Kevan dengan bingung, ia bertanya-tanya bagaimana Kevan bisa memperhatikanya hingga luka kecil di tumitnya saja ia tahu, ia memang seorang yang penuh perhatian atau kebetulan melihat lukanya, Ara meraih Plester itu dengan canggung


“Oh.. Iya.. Terimakasih"


Kali ini Kevan membawa Ara ke sebuah toko baju, tak kalah elit dari yang sebelumnya, beberapa pegawai menyambut mereka dengan senyuman, Ara tersenyum ketus.


“Kenapa? mereka tidak akan kurang ajar padamu"


“Karena ada kau saja mereka baik, jika tidak mana mungkin mereka baik padaku"


Kevan menghentikan langkahnya dan tiba-tiba menoleh, Ara seketika canggung.


“Lalu jika begitu apa kau akan membiarkan mereka terus memandang rendah dirimu?"


“Jangan khawatir pak direktur, aku tahu cara membela diri sendiri"


Kevan mengabaikan jawaban Ara, ia memanggil beberapa pelayan untuk memilihkan baju yang sesuai untuk Ara. Kevan membelikan Ara banyak sekali baju. Dengan wajah tak senang, Ara meremas lengan Kevan.


“Ini terlalu banyak, aku hanya butuh 1 stel pakaian, atau kau juga sedang berusaha merendahkanku?"


Kevan menarik otot keningnya tanda bingung.


“Aku tak mau selalu kehilangan muka karena selera pakaianmu yang buruk, mereka akan selalu berpikir aku tak kuat menggajimu dengan layak"


Rasa kesal Ara hilang ketika ia menerima panggilan dari Gerry, suara Gerry begitu panik, direktur Chang sudah menunggu Kevan lebih dari 30menit yang lalu. Ara buru-buru menarik lengan Kevan menuju mobil untuk segera meninggalkan toko itu.


“Ada masalah apa? kenapa harus buru-buru?"


“Kita sudah sangat terlambat. Direktur Chang sudah menunggumu di kantor"


Kevan segera menghentikan langkahnya dan menarik balik lengan Ara. Tubuh Ara terdorong membentur dada bidang Kevan. Ara segera mendongakkan wajahnya menatap Kevan bingung.


“Tak perlu berjalan terburu-buru, perhatikan luka di kakimu"


Entah bagaimana, mendengar perkataan Kevan, Ara seperti merasakan sebuah angin musim semi yang tiba-tiba berhembus mengenai wajahnya, jantungnya tiba-tiba berdebar cepat dan wajahnya memerah. Ia segera memalingkan wajahnya dan melepaskan cengkraman tangan Kevan di lengannya.


Sesampainya di kantor, Gerry menyambut Ara dan Kevan. Kevan seperti acuh dengan wajah panik Gerry. Ara melihat Gerry, Gerry bertanya pada Ara kenapa mereka sangat terlambat datang ke kantor, Ara menjelaskannya secara singkat sambil berjalan di belakang Kevan.


Kevan membuka pintu ruangannya, di dalam ruangannya, ia melihat seorang pria paruh baya dan seorang gadis yang sangat familier di ingatan Ara. Dia Lina, teman lama Ara di sekolah dulu.


Lina teman lama Ara di SMK, mereka tidak bisa di bilang memiliki hubungan yang baik, ia lebih cocok di sebut musuh bebuyutan Ara. Ara sangat cerdas,ia selalu mendapatkan Ranking nomor 1 di sekolahnya, hal itu bukan tanpa usaha, Ara selalu belajar lebih giat dari teman-temannya untuk memastikan ia mendapatkan beasiswa dari sekolah, selepas beberapa tahun Ayahnya tak pernah mengirimkan uang, Ara harus selalu memutar otak dan berusaha keras mendapatkan beasiswa itu. Lina merasa tidak puas, lina selalu berada di Ranking 2 di sekolahnya. Kecemburuannya semakin meningkat ketika murid laki-laki yang ia sukai justru menyukai Ara.


Sudah 4 tahun berlalu. Kabar terakhir yang Ara tahu, lina kuliah sambil bekerja di salah satu universitas di kota C. Tak di sangka Lina bertemu Ara di perusahaan Kevan.


Ara menatap Lina dengan tatapan datar tapi sebaliknya, lina melihat Ara masih dengan tatapan membakarnya. Seperti sedang bertanya, bagaimana seorang lulusan SMK di daerah terpencil bisa bekerja di perusahaan terbesar di kota A, terlebih menjadi sekretaris dari direktur Kevan yang terkenal sangat tampan. Jika di bandingkan dengan perusahaan dimana Ara bekerja, perusahaan lina seperti buah semangka dan bijinya.


Selama rapat antara Kevan dan direktur Chang, mata direktur Chang sering kali menatap Ara dengan pandangan menjijikan, ia menatap tubuh Ada dari atas hingga bawah, terutama di bagian dada Ara. Jika ada kesempatan bahkan Pak tua itu melemparkan senyum pada Ara. Ara tersenyum sinis. Antara bos dan sekretaris sama-sama memiliki pandangan menjijikan. Ingin rasanya Ara mencungkil mata pak tua di hadapannya itu.