Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 25: kau sedang memuji mantan mu?



“Kevan!!! apa yang kau lakukan!! lepas!!"


Kevan tanpa ampun mencengkram lengan Ara kuat-kuat. Di matanya terlihat banyak belati yang siap mengulitinya hidup-hidup. Ara merasakan sakit tak terkira di lengannya, terasa tulangnya akan patah jika ia tak segera melepaskan cengkraman tangannya. Menahan sakit, air mata Ara hampir berjatuhan.


“Lepas!! aku bilang lepas!!!"


Sekuat tenaga Ara menepis tangan Kevan. Akhirnya ia melepaskan tangannya juga.


“Dasar wanita ******!! lepas dari ku beberapa hari, kau sudah menemukan pria lain untuk bersandar, dasar tak tahu malu!!"


Kata-kata kasar Kevan membuat Ara sedikit terguncang. Selama bersamanya, tak sekalipun ia mendengar pria ini memakinya. Tapi kali ini dengan lantangnya tanpa rasa bersalah mencabik hatinya dengan ucapan kotornya.


“Apa yang kau harapkan? aku terus menangisimu dan menyesal pergi darimu begitu? haha kau gila??!!"


“Ara ingat kata-kataku dulu, kau itu miliku, bahkan jika aku mati, aku akan menyeretmu masuk ke peti matiku!! janga lupa itu"


“Kau pikir kau ini siapa??? sehebat apa hingga aku harus terus bersamamu????!!"


“Kau lupa sehebat apa aku? kau mau pacar barumu jatuh miskin seketika?"


mendengar ucapan Kevan, tubuh Ara bergetar. Benar, yang dia katakan benar. Hanya menjentikan 1 jarinya, ia dengan mudah merubuhkan perusahaan orang lain.


“Kau!! jangan ganggu dia!"


“Maka kau harus meninggalkannya dan ikut denganku!"


Kevan kembali mencengkram tangan Ara dengan kasar, ia berusaha menarik tangan Ara, namun tiba-tiba Daniel datang melepaskan cengkraman tangan Kevan. Sorot matanya meskipun sangat tenang tapi tak kalah tajam dari Kevan. Arah matanya langsung mengArah pada tangan Ara dan Air mata Ara yang berjatuhan.


“Daniel!!"


“Sudah tak apa-apa, aku disini"


Daniel membawa Ara masuk ke pelukannya.


“Ara siapa dia? kau tak berencana mengenalkannya padaku?


“Kau benar-benar tak mengenalnya? dia putra sulung keluarga Wingsley, Kevan"


“Hemm, lalu kau punya masalah apa dengannya?"


“Aku..aku..."


Ara tak sempat melanjutkan ucapannya, Kevan sudah menarik tangan Ara kebelakang tubuhnya.


“Dengar Tuan Daniel, dia miliku, kau jauhi dia atau masa depanmu jadi taruhannya"


Dengan nada sombong Kevan berbicara pada Daniel, Daniel tersenyum ketus mengerutkan alisnya. Kevan tak mengira pria di depanya itu begitu tenang menghadapinya. Di kota A ini siapa yang tak mengenal dirinya. Daniel berjalan santai mendekati Kevan. Tangannya menarik Ara dari belakang tubuh Kevan.


“Dia istri sahku, bagaimana dia bisa jadi milikmu?!


Mendengar pria itu memanggil Ara dengan sebutan istri, Kevan tak bisa menahan tawanya.


“Istri? hahah lelucon macam apa lagi ini Ra? dia pasti sedang mempermainkanmu, di kota ini siapa yang mau menikah dengan bekas wanita simpananku?"


Buk!!! pukulan keras tepat mengenai wajah Kevan. Kevan terjatuh ke belakang.


Ada Gelombang mematikan dari sorot mata Daniel saat ini. Wajahnya yang tenang berubah sangat mengerikan. Kevan bangkit dan berusaha membalas Daniel, namun pukulannya dengan mudah di tangkap Daniel. Cengkraman tangan Daniel begitu kuat. Kevan begitu marah, wajahnya bahkan berubah sangat merah.


“Kau begitu marah, apa kau sedang menyesal telah membuangnya saat ini?”Seru Daniel dengan senyuman mengejek.


Kevan berusaha melepaskan genggaman tangan Daniel yang mencengkram erat tangannya. Daniel benar-benar membuat Kevan seperti pecundang. Melihat wajah Kevan yang hitam, Daniel tertawa sinis dan melepaskan tangan Kevan dengan kasar.


“Sekali lagi aku mendengarmu merendahkan istriku, aku pastikan kau akan menyesal dan bersujud di kakiku, ayo istriku, kita pulang"


Ara mengangguk, Daniel merangkul lengan Ara dengan kuat. Langkahnya begitu mantap, tatapannya sedingin es. Ia bahkan mengacuhkan mata Ara yang sejak tadi memandanginya dengan tatapan heran.


Sesampainya di rumah, Daniel berjalan menuju dapur apartemen Ara. Ara baru menyadari Daniel sejak tadi membawa kantung berisi sayur-sayuran dan bahan makanan mentah di tangannya.


“Kau, sedang apa?"


“Apa kau lapar? aku membeli beberapa bahan makanan, aku akan memasak untukmu"


“Membuat makanan untukku?"


“Hemm, tunggulah sebentar"


Pria ini tak henti-hentinya membuat Ara bingung. Sepanjang perjalanan, di dalam mobil, ia tak berbicara apapun dan tak bertanya apapun tentang Kevan. Entah karena tak peduli atau tak ingin membahas masalah ini, ia begitu tenang. Wajahnya yang semula sedingin es saat keluar dari mall itu, perlahan berubah sehangat mentari pagi.


“Tidak masalah"


Mendengar itu, Daniel hanya mengangguk tersenyum sambil memasukan sepotong potongan timun ke dalam mulutnya.


Ara berjalan mendekati Daniel yang sibuk memasak. Dari caranya memasak, bisa di pastikan dia sudah sangat terbiasa. Siapa sebenarnya pria ini?


“Darimana kau belajar memasak?"


“Dari ayahku"


“Hemm, sebelumnya kau tinggal dimana?"


“Aku tinggal di luar negeri dan baru berada di kota ini sekitar 6 bulan, kenapa? mulai penasAran denganku?"


“Tentu saja, kau suamiku, tapi aku tak tahu apapun tentangmu"


Daniel tak menjawab apapun, ia hanya tersenyum.


“Wah, sepertinya enak"


“Sudah selesai, ayo makan"


Ara dan Daniel membawa makanan itu di meletakannya di atas meja. Mereka makan dengan bahagia. Pertama kalinya dalam sejArah hidup Ara, ada seseorang pria yang memasak untuknya. Ternyata menyenangkan.


Setelah makan Daniel bangkit untuk membereskan meja, namun Ara mencegahnya


“Biar aku saja” seru Ara, Ara dengan cekatan membersihkan meja dan mencuci piring.


“Terimakasih, istriku memang sangat pengertian” Daniel tiba-tiba mencium kening Ara. Ara tersentak kaget. Ia mundur beberapa langkah.


Daniel mengerti, Ara belum terbiasa dengannya, mereka hanya orang asing yang kebetulan memiliki kegilaan yang sama dan memutuska untuk menikah. Apalagi sebelumnya Ara pernah sangat dekat dengan Kevan. Terlebih lagi ia pernah menjadi simpanannya.


Desir dingin masuk ke dalam hari Daniel. Ia saat ini sedang duduk di atas sofa, acara Tv yang di lihat Daniel tak lebih hanya iklan berbagai macam produk. Sayangnya Daniel tak peduli, ia bahkan tak menyadari apa yang sedang di tayangkan di Tv itu. Pikirannya melayang-layang.


Selesai mencuci piring Ara membuka satu per satu kAntong-kAntong belanja Daniel. Ia melihat banyak sekali bArang disana. Handuk, sendal, sikat gigi, parfum dan banyak lagi.


Dia belanja sebanyak ini? apa dia benar-benar bukan pengangguran? batinnya bingung. Ara lalu lalang di belakang Daniel. Sesekali ia lirik wajah Daniel yang tenang.


“Kau seharusnya tak usah memperdulikan Kevan, sekarang kau menyinggungnya, ia tak akan tinggal diam"


Beberapa saat Daniel tak bereaksi apapun, ia dengan santai bangkit menuju dapur meraih sebuah gelas dan menuangkan air untuk di minum.


“Apa saat ini kau sedang mengkhawatirkanku?"


Kevan menyusul Ara masuk ke dalam kamar, Ara merapihkan baju-baju yang Daniel beli. Matanya membulat ketika ia membeli beberapa baju dan kemeja berwarna putih, termasuk kemeja yang ia pilihkan tadi.


“Kau.. Benar-benar membeli baju warna putih?"


“Hemm, kau bilang putih akan cocok denganku, jadi aku beli beberapa"


Dengan cuek ia menjawab pertanyaan Ara sambil masuk ke dalam kamar mandi.


Jawabannya sangat singkat, tapi berhasil membuat pipinya merona merah. Ia benar-benar membelinya. Ia benar-benar peduli apa yang ia katakan.


Tak lama berselang. Terdengar suara gemericik air dari dalam. Ara pastikan ia sedang mandi.


Mereka berdua hening beberapa saat.


“Tak ada bagusnya menyinggung Kevan. Dengan kemampuannya, akan dengan mudah menghancurkanmu"


Seru Ara dengan ragu-ragu. Ini adalah kekhawatirannya. Meskipun ia gila, tapi tak ingin menghancurkan karier dan hidup orang lain dengan bersamanya. Hanya Wingsley sendiri saja sudah bisa membuat hidup orang lai hancur, apalagi jika keluarga Lee ikut turun tangan, tak akan ada lagi yang tersisa. Wajah Ara tiba-tiba muram. Ada kesedihan di kelopak matanya.


Tiba-tiba suara Air berhenti dan Daniel keluar dengan hanya mengenakan jubah mandi berwarna putih longgar. Jubah itu tak menutupi dada dan perut Daniel dengan baik, sehingga Ara sekilaspun bisa melihat otot perut dan dada Daniel yang menawan. Ara segera memalingkan wajahnya malu, Daniel tersenyum kecil melihat Ara yang salah tingkah.


Langkah Kevan mengayun berdiri di samping Ara. Ia menatap wajah Ara.


“Jangan buatku salah paham, semua ucapanmu tadi karena kau mengkhawatirkan ku atau kau sedang memuji mantan mu?"


Jantung Ara berdesir cepar, jarak Daniel dan Ara tak terlalu jauh, Ara bisa melihat tetesan air jatuh dari rambut pendeknya yang hitam. Bahkan ia bisa mencium wangi sabun dari tubuhnya dengan mudah. Melihat senyuman di wajah Daniel, Ara benar-benar gugup. Ia segera mundur dan menjauh.


“Te..tentu saja mengkhawatirkanmu, ada baiknya besok kita ke biro urusan sipil, kita bercerai saja, setelah itu kau segeralah pergi dari kota A ini, pastikan Kevan tak akan dengan mudah menemukanmu agar kau biza jalani hidupmu dengan tenang"


Mendengar kata cerai, wajah Daniel tiba-tiba berubah sedingin bongkahan Es. Ia menatap Ara lebih dalam. Langkahnya terus maju hingga tubuh Ara membentur lembut tembok di belakangnya. Di matanya terlihat emosi yang tak terjabarkan.


“Apa aku terlihat begitu lemah dimatamu hingga aku harus bersembunyi seperti tikus?"