
Kevan tak melakukan apapun melihat Sisil pergi meninggalkannya. Ia menatap Ara yang menatapnya dengan tatapan heran.
“Apa kau bodoh?” serunya sambil memasang wajah tak percaya.
Kevan tak peduli, ia menuruni tangga dengan angkuh. Meraih tangan Ara dan menyeretnya masuk ke dalam mobil.
Sepanjang jalan Kevan diam tak mengatakan sesuatu. Membuat Ara tak bisa menahan sejuta umpatan di mulutnya.
“Apa kau ini di lahirkan dari bongkahan es?"
Mendengar ucapan Ara, Kevan hanya tersenyum pahit meliriknya.
“Beberapa hari ini dia terus merindukanmu, saat kau pulang kau malah membiarkannya pergi, kebodohan macam apa ini?"
Ara dengan bingung menggelengkan kepalanya yang ditopang tangannya bersandar di jedela pintu mobil.
“Di antara kita yang paling bodoh adalah kamu"
“Hah? kenapa aku?"
Kevan menepikan mobilnya dan berhenti dan menoleh melihat Ara.
“Kau kehilangan keperawananmu olehku bukannya meminta tanggung jawabku malah mendorongku untuk bersama orang lain, katakan siapa yang bodoh sekarang?"
Kata-kata Kevan seketika membuat Ara kehilangan kata-kata. “Meskipun malas mengakui, tapi dia benar, bukankah seharusnya aku marah? lalu kenapa justru merelakannya? ya dia benar, akulah yang paling bodoh di sini"
“Kenapa diam? baru sadar? bagus, aku ingin bersama siapa itu urusanku. Hatiku miliku sendiri, kalian tak berhak menentukan siapa yang harus aku cintai"
Apakah itu sebuah pengakuan? dia menyukaiku?
“Kau benar, hatimu milikmu sendiri, tapi hidup mati gadis itu ada di ujung jarimu, lagi pula dia telah memberikan setengah nyawanya untuk kau gunakan, bagaimana kau harus berterimakasih padanya kau seharusnya tahu"
“Aku tak pernah memintanya memberikan setengah nyawa itu untukku, jika hari itu aku tahu dan bisa memilih, aku memilih mati daripada hidup dan selamanya berhutang budi"
“Jika kau menyesalinya kenapa kau tak mati saja dan mengembalikan apa yang sudah dia berikan?"
Ara mendengus kesal dan memalingkan wajahnya dari mata Kevan. Kevan mengayunkan jarinya mencubit dagu Ara, memaksa kepala Ara menoleh padanya.
“Jikapun harus mati, aku akan menyeretmu masuk ke peti matiku. Hidup atau mati kau tetap harus bersamaku"
“Dasar psycopath!"
“Bukankah harusnya kau senang aku jatuh hati padamu?"
“Baiklah, kalau begitu batalkan pernikahanmu dengan Sisil dan tinggalah di sisiku?"
“Tidak akan"
“Jadi kau berencana menjadikanku simpananmu? kau benar-benar sudah gila!"
“Apa pentingnya menjadi nyonya Wingsley??pernikahan itu hanya di atas kertas. Yang paling penting aku akan selalu bersamamu, kau memiliki semua hatiku dan aku akan menuruti semua keinginanmu, aku kira itu lebih dari cukup"
“Lalu dengan begitu aku akan menanggung nama buruk sebagai wanita simpananmu yang rela kau tiduri demi uangmu, semua orang akan memandang rendah diriku karena menjadi orang ketiga pada pernikahan kalian, jika aku melahirkan anak, dia akan di cap sebagai anak hAram, begitu maksudmu? kegilaan macam apa ini?"
Mendengar perkataan Ara, mulutnya tiba-tiba kelu. Beberapa saat ia hening, menatap mata Ara yang hitam. Tangannya menangkap jemari Ara dan menggenggamnya dengan kuat.
“Ra,Tunggulah sampai waktunya tepat, aku pasti akan menikahimu, hingga saat itu tiba cobalah terus bersamaku"
Wajah Kevan saat itu terlihat begitu sendu, tak terlihat seperti sedang berpura-pura. Ia bahkan bisa menangkap rasa sepi dari matanya. Rasa yang sama seperti lagu yang di mainkan Sisil tempo hari.
Ara hening. Ia hanya bisa memalingkan wajahnya. Sampai detik ini, Ara belum yakin perasaannya pada Kevan seperti apa.
Mobil berhenti di sebuah apartemen mewah di kota A. Ara menoleh pada Kevan dan mengerutkan keningnya.
“Aku kira kau akan mengantarku pulang?"
“Itulah yang sedang aku lakukan saat ini"
Kevan mengabaikan wajah heran Ara, ia membuka sabuk keselamatannya dengan acuh kemudian melangkahkan kakinya keluar dari mobil. Di susul Ara. Ara berjalan di belakang Kevan, ia terus menatap punggung berotot Kevan di balik kaus putih yang ia kenakan. Baju itu begitu sederhana tapi tak mengurangi kesan maskulin di tubuhnya.
Kevan menyadari Ara berjalan lambat di belakangnya, ia menghentikan langkahnya dan mengulurkan tanganya pada Ara. Langkah Ara pun seketika terhenti.
“Jangan berjalan di belakangku, aku akan kesulitan menjagamu"
Mendengar ucapan Kevan, seketika hatinya menjadi hangat. Dengan ragu ia memberikan tangannya pada Kevan. Kevan tersenyum dan menariknya masuk ke pelukannya.
“Klak”Suara kunci pintu terbuka. Kevan segera membuka pintu apartemen mewah itu dan membawa Ara masuk.
“Mulai sekarang kita akan tinggal di sini"
“Kita?"
“Ya kita, kau dan aku tinggal ber-sa-ma di-si-ni"
“A..apa kau sudah gila? tidak, aku akan pulang, kamarku lebih nyaman"
“Benarkah? mari kita test bersama seberapa tidak nyamannya kamar utama apartemen ini"
Dengan cepat Kevan naik membungkuk di atas tubuh Ara, ia menyebarkan aroma maskulin dari tubuhnya. Bibir mereka bertemu, nafas pria itu mulai memburu, tangannya menjelajah tanpa ampun ke sekujur tubuh Ara.
Melihat respons Ara yang mulai tenggelam, Kevan segera membuka kaus putihnya, memperlihatkan otot perutnya yang sempurna kemudian melepaskan semua kain yang menutupi tubuh Ara.
Kevan mulai merentangkan kaki Ara dan Benda asing itu mulai memasuki Ara. Ara seketika memejamkan matanya. Akal sehatnya mulai berhenti bekerja, ia seakan sudah tidak peduli, hanya ingin tenggelam dan menikmati gerakan yang Kevan buat.
Beberapa jam berlalu, Ara kelelahan dan tertidur di dalam pelukan Kevan. Punggungnya sekarang penuh dengan guratan melintang bekas yang di tinggalkan dari kuku Ara. Kevan tidak peduli. Ia akhirnya ikut tertidur di samping Ara.
***
Beberapa jam berlalu, Ara mulai terbangun dan sadar Kevan sudah tidak ada di sampingnya. Ara mulai mengangkat kakinya, menuruni tempat tidurnya. Ia pergi membersihkan diri dan turun untuk menuju dapur. Bermain dengan Kevan tanpa sadar ia belum makan sesuap pun sejak pagi. Ia baru merasa kelaparan. Ia memandangi sekeliling apartemen itu, terkadang memanggil nama Kevan hanya untuk memastikan keberadaannya. Tapi tak ada jawaban. Artinya Kevan pergi entah kemana.
Ia mulai membuka kulkas, melihat apa yang bisa ia gunakan untuk makan malam. Hebatnya, di dalam kulkas penuh terisi bahan makanan organik lengkap dengan berbagai jenis daging dan ikan.
Setelah makanan matang, Ara duduk di kursi meja makan. Memperhatikan layar ponselnya. Dengan ragu ia hendak menghubungi Kevan. Tapi urung di lakukan.
Sejak kapan aku peduli?
Kemudian Ara meletakan ponselnya dan mulai memakan semua masakan yang ia buat. Sendiri di dalam apartemen sebesar itu. Tiba-tiba Ara merasa sepi.
“Ini belum di mulai, aku belum tentu mau berada di sisinya, tapi kenapa melihatnya tidak ada di sampingku, aku merasa kehilangan?"
Seketika ia teringat pesan ibunya.
“Aku akan sekuat tenaga menghindarinya bu"
Akhirnya, Ara memutuskan untuk pergi. Tempatnya bukan di sini dan Tugas utamanya bukan untuk ini.
***
Ara kembali menggunakan bis umum. Butuh waktu 10 menit berjalan dari halte hingga apartemennya. Di ujung jalan Ara seperti melihat sosok ayahnya dengan setelan mantel panjang berwarna hitam, topi hitam lengkap dengan kacamata hitamnya dengan santai menghisap rokok di tangannya. Mobil yang ia gunakan mobil berbeda dari biasanya, ia menggunakan mobil Audi A5 berwarna hitam.
Ara dengan malas mendekati Higa yang sudah melihatnya dari kejauhan.
“Ada apa kau kemari?"
Dengan santai Higa menghisap rokoknya kemudian membuangnya ke tanah.
“Sepertinya akhir-akhir ini kau sibuk bermain-main"
“Kau mengintaiku? apa aku buronanmu?"
“Kau sudah melupakan ibumu kah sampai leluasa mengulur waktu?"
“Kau pikir mencari keberadaan cincin itu semudah itu?"
“Kalau sulit kenapa tak kau katakan pada pacarmu saja untuk mengambilkannya?bukankah itu tujuanmu mendekatinya"
“Jika mudah, kenapa tak kau saja sendiri yang mengambilnya???"
Mata Ara benar-benar penuh api yang menyala-nyala. Higa menangkap kemarahan Ara. Langkahnya berayun mendekati Ara, tangannya mencengkram kuat leher Ara dan membenturkan tubuhnya ke sisi mobil.
“Jika pada akhirnya aku yang harus mengambilnya, lalu untuk apa aku masih membiarkan kalian hidup??"
Kali ini ketakutan masuk menyelimuti wajah Ara. Air matanya mengalir.
“Kau... Apakah kau benar-benar ayah kandungku? kenapa aku tak berhak mendapatkan sedikit kasih sayangmu?"
Air mata Ara masih terus menetes. Mendengar ucapan Ara. Higa tiba-tiba melepaskan cekikannya, Ara seketika berjongkok dan terbatuk-batuk. Ketika ia menoleh ke samping, jauh di ujung jalan
Ia melihat sosok Kevan berdiri menatapnya. Wajah Ara tiba-tiba pucat memutih.
“Klak”Sebuah kunci mobil jatuh di hadapan Ara. Mata Ara langsung tertuju pada kunci itu dan seketika mendongak menatap ayahnya.
“Gunakan mobil ini, aku tahu kau bisa mengemudi. Cepat atau lambat kau akan membutuhkannya"
Dengan langkah santai, Higa berbalik dan menuju mobil lain di dekat mereka meninggalkan Ara yang masih meringkuk bercucuran Air mata.
Kevan datang mendekati Ara. Memegang lengannya dan membuatnya berdiri. Wajahnya memerah, air matanya terus berjatuhan. Kevan berusaha memeluknya.
“Siapa dia?"
"..."
“Kenapa kau di sini? apa ucapaku tadi kurang jelas? aku melarangmu berjalan di belakangku, artinya tanpa sepengetahuanku kau tak boleh pergi kemanapun, akan sulit untukku menjagamu, dasar gadis bodoh, ayo kita pulang"
Kevan berusaha membawa tubuh Ara, namun Ara menepis tangannya.
“Biarkan aku sendiri malam ini, aku benar-benar ingin sendiri"
“Kau pikir dengan kau mengatakan kau tak ingin pergi, kau bisa tidak pergi? sejak kapan kau memiliki pilihan itu?"
Dengan cepat Kevan menarik tangan Ara. Genggaman tangannya lebih kuat dari Ara. Meskipun menolak, ia tak bisa pergi. Meskipun mungkin maksud Kevan baik, hanya saja cara dia memaksa Ara membuat Hati Ara bertambah sakit. Baik di mata Higa atau Kevan, ia merasa hanya sebagai sebuah boneka. Tak berhak memilih dan tak berhak menolak.