
Hari ini adalah hari terakhir mereka berada di pulau Wanalulu, pengumuman perlombaan juga masih akan di adakan sore nanti. Akhirnya Daniel memutuskan membawa Ara dan Brandon mengitari pertokoan untuk membeli makanan kecil, tak lupa es krim kesukaan Brandon dan perjalanan mereka berakhir di taman bermain. Medina dan 2 orang lainya masih terus mengikuti Daniel dan Ara dari jauh. Setelah apa yang Shamus lakukan, Medina tidak melihat adanya perbedaan dari sikap Daniel, ia masih terlihat sangat senang dan tenang. Seperti tidak terjadi apapun padanya.
Saat Ara dan Brandon bermain komidi putar berdua, Daniel duduk di pinggir tak jauh dari mereka. Memperhatikan anak dan istrinya tertawa bahagia, ia seperti melupakan semua masalah yang terjadi padanya.
"Tuan muda sepertinya kau sangat bahagia?" Suara Medina tiba-tiba terdengar di sampingnya.
"Tentu saja"
"Sungguh langka melihat Tuan bisa tersenyum bahagia seperti sekarang" Medina menatap wajah Daniel dengan senyuman, Daniel kemudian menoleh sekilas kemudian memalingkan wajahnya lagi.
"Perasaan ini hanya bisa di rasakan oleh orang yang sudah berkeluarga, saranku tinggalkan kakekku dan menikahlah agar kau tahu rasanya seperti apa dan berhentilah menjadi seseorang yang menyebalkan, Medina" ujar Daniel ketus tanpa menoleh pada Medina. Mendengar ucapan tak terduga dari Daniel, Medina sampai tertegun. Medina sudah terbiasa dengan ucapan dingin dan ketus dari Daniel, tapi tak pernah menduga Tuan Mudanya ini bisa mengatakan hal menusuk hati seperti itu tanpa perasaan.
Di umur matang seperti Medina, mungkin seharusnya ia sudah memiliki 2 orang anak dan hidup bahagia bersama suaminya. Tapi ia lebih memilih menjadi tangan kanan kakeknya dan menghiraukan masalah pribadinya. Bukanlah itu aneh? tapi ucapan Daniel barusan sungguh meruntuhkan hatinya, apa lagi yang paling di benci oleh seorang wanita matang selain sindiran masalah pernikahan dan juga kesendiriannya?
"Terimakasih atas perhatian Tuan Daniel," Jawab Medina tersenyum pahit menahan rasa kesalnya. Daniel melirik dan lagi-lagi senyum sinis nya mengembang. "Tuan Daniel, apakah anda tahu bahwa akun anda di bekukan?"sambungnya.
"Sudah"
"Tuan Marques meminta saya untuk menjemput tuan, nona Ara dan Tuan kecil kembali"
"Kau sudah lama mengenalku, menurutmu apa aku akan kembali karena masalah ini?"
Medina terdiam sejenak, ia sempat terkagum dengan ketenangan yang di miliki Daniel. Di dalam akunnya, seharusnya hanya tersisa beberapa milyar saja tapi sikapnya seolah tak terjadi apapun. Ia bahkan masih menolak untuk kembali dan bertemu Shamus, ketenangan pria ini memang patut di acungi jempol.
"Menurut penilaian saya, anda tidak akan kembali meskipun Tuan Marques seperti ini. Tapi tidakkah lebih baik anda membawa mereka kembali ke kediaman? Setidaknya, nona Ara dan Tuan kecil berhak bertemu dengan anggota keluarga Qin lainnya seperti tuan Aldric dan Nyonya Meilyn" ucapnya.
"Kau benar, aku tidak akan kembali"
"Jika begitu, saya akan terus mengganggu anda Tuan,"
"Tidak masalah, teruslah berusaha sampai kau dan kakek bosan, tapi kau harus tahu keputusanku tidak akan berubah" Ujar Daniel tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Brandon dan Ara. Mereka berjalan mendekat dan Medina pun kembali menjauh ke belakang.
"Ayah lihat, ibu membelikan ku permen kapas" ujar Brandon sambil memperlihatkan pada Daniel permen kapas di tangannya dengan wajah gembira. Melihat permen kapas di tangan putra kecilnya itu, ia jadi teringat beberapa tahun lalu di pasar malam, Ara juga membeli sebuah permen kapas besar dan memakannya sepanjang jalan dengan wajah gembira. Daniel menoleh pada Ara di belakang Brandon dengan tersenyum.
"Daniel, sudah tengah hari sebaiknya kita mencari makan dan membawa Brandon ke kamar, ia harus tidur siang" ucap Ara.
"Hemm baiklah,"
Akhirnya mereka berjalan menyusuri pertokoan, sepanjang jalan itu mereka melihat banyak restoran. Restoran disana terlalu banyak, mereka sampai bingung Namun Brandon menarik tangan Ara dan daniel masuk ke dalam sebuah restoran seafood. Daniel tertegun sesaat, ia yang alergi seafood berusaha menyembunyikannya saat melihat wajah Ara dan Brandon gembira
Ara dan Brandon memesan beberapa makanan laut, mulai dari udang, cumi bakar, lobster dan beberapa menu sayuran. Setelah makanan mereka datang, mata Brandon berbinar-binar. Anak itu memang sangat menyukai makanan laut, ia makan dengan lahap nya sampai membuat Daniel dan Ara tertawa.
"Enak sayang, Brandon makan yang banyak ya agar cepat besar" Seru Daniel mengusap kepala Anaknya itu.
Setelah mereka selesai, Daniel, Ara dan Brandon segera keluar dari restoran itu. Akibat alergi, wajah Daniel memucat, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Sebelum terjadi sesuatu yang fatal, ia segera membawa Ara dan Brandon kembali. Ara melihat perubahan wajah Daniel, ia sempat bertanya namun Daniel tetap menutupi.
Kamar mereka sudah dekat tiba-tiba langkah kaki mereka terhenti, mereka bertemu dengan keluarga Gu.
"Halo Daniel, apa kalian sudah siap dengan hasil pengumuman lomba sore nanti? aku dengar babak terakhir buka dari lomba terjun payung itu tapi lomba foto Candid yang di ambil diam-diam oleh juri" seru Liam yang berdiri menghalangi jalan Daniel. Jantung Daniel sudah tak beraturan, nafasnya mulai sesak dan keringat dingin mulai terus bercucuran.
" Tuan Gu, kami sedang buru-buru sebaiknya kau tak menghalangi jalan kami" seru Ara dengan wajah cemas saat melihat wajah Daniel dan nafasnya yang tersengal-sengal. Namun Liam seperti tak mempedulikannya, ia justru berbicara semakin banyak. Kesadaran Daniel mulai menipis dan hampir terjatuh namun Ara segera menahan tubuh Daniel. Medina dan 2 orang di belakangnya melihat Daniel hampir jatuh dan hampir kehilangan kesadaran, mereka pun berlari membantu Ara merangkul Daniel dan membawanya ke kamar mereka.
Medina segera memanggil seorang dokter. setelah di rawat sebentar dan diberikan obat, nafas Daniel mulai stabil.
"Bagaimana Dok keadaan suami saya?" tanya Ara dengan wajah cemas.
"Kondisi Tuan Daniel saat ini seharusnya sudah lebih baik setelah saya suntik obat anti alergi, apa nyonya tahu makanan apa yang baru-baru ini di makan oleh tuan Daniel?"
"Seafood?"
"Hemm, mungkin Tuan ini alergi dengan Seafood Nyonya", "Baiklah, beberapa jam kedepan seharusnya alerginya sudah membaik, tapi lebih baik hindari kejadian seperti ini, jika terlambat bisa sangat berbahaya, saya permisi" Ujar Dokter itu kemudian pergi meninggalkan semua orang di ruangan itu. Ara tertegun sejenak, lamunannya terhenyak ketika Brandon mencubit kain lengan baju blousnya. Ara menoleh pada Brandon.
"Bu, ayah Daniel tidak apa-apa kan? tidak akan seperti Lexy kan?" tanya Brandon dengan wajah lucunya. Lexy adalah kucing peliharaan Brandon yang mati karena tak sengaja memakan racun tikus di kediaman Li beberapa bulan lalu. Ara tersenyum mengusap rambut Brandon.
"Tidak sayang, tadi dokter bilang Ayah Daniel akan segera sehat lagi, lebih baik Brandon kembali ke kamar dan tidur. Siapa tahu Ayah Daniel sudah bangun saat Brandon bangun nanti, bagaimana?!" Brandon mengangguk setelah mendengar ucapan ibunya. Ara kemudian mengantar Brandon naik ke atas tempat tidurnya kemudian setelah ia tidur, ia kembali pada Daniel.
Melihat Daniel yang masih tak sadarkan diri, Ara menjadi sangat merasa bersalah. Ia bahkan tak tahu bahwa Daniel alergi makanan laut.
"Nona Ara, apa kau tak tahu bahwa Tuan Muda alergi seafood?"
"Tidak, aku tidak tahu"
"Bagaimana seorang istri tidak tahu kebiasaan suaminya? padahal Tuan Muda sangat perhatian pada anda namun anda sendiri tak membalasnya dengan baik?" ujar Medina dengan ketus. Medina tidak mengetahui bahwa Ara kehilangan ingatannya. Ia hanya tahu Ara sempat menghilang dan kemudian di temukan di kediaman keluarga li.
Ada terdiam, yang di katakan Medina benar. Ia tidak tahu apa-apa tentang suaminya itu selain Daniel sangat mencintainya dan dia adalah pria 10 tahun lalu. "Ya, maafkan aku" jawab Ara singkat, "Bisakah kalian tunggu di luar, biar Daniel aku yang jaga" sambungnya pada Medina, Medina setuju dan kemudian keluar bersama pengawalnya. Setelah semua orang pergi, Ara duduk di samping tubuh Daniel yang terbaring tak sadarkan diri. Tangannya dengan lembut membelai pipi Daniel.
"Daniel, tahu tidak melihatmu seperti tadi, aku seperti akan kehilangan jantungku! kenapa kau tak bilang kau alergi seafood, kenapa memaksakan diri memakan udang yang Brandon sodorkan tadi?apakah aku yang dulu tahu kau alergi Seafood? Seandainya aku tahu aku pasti akan mencegah mu, tapi aku kehilangan ingatanku meskipun aku berusaha keras untuk mengingat tentang mu, aku tetap kehilangan ingatan itu. Kadang aku berpikir, seperti apa aku yang dulu? apakah aku sudah menjadi istri yang baik atau justru sebaliknya? mengingat kau sempat hampir bertunangan dengan wanita lain, apakah hubungan kita separah itu sampai kau memutuskan bersama wanita lain? " seru Ara berbisik. Melihat wajah tenang Daniel yang terbaring, Ara memutuskan untuk bangunan dan hendak pergi, langkahnya terhenti saat sebuah tangan meraih lengannya dengan lemah.
"Jangan pergi Ara, tetaplah di sini" seru Daniel pada Ara yang menoleh kemudian mematung.