Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
140: Cuci otak!



"Siapa yang berani mengusir cucu kesayanganku dan satu-satunya putri keluarga Romanof?" ujar Cliff dari atas kursi rodanya, ia datang bersama tiga orang lainnya, Higa, Deasy dan Tritan.


Mata semua orang tertuju pada pintu masuk ruangan mewah itu. Semua orang heran semua orang tak menyangka. Apalagi Ara, rasanya ia ingin mencubit diri sendiri berkali-kali berharap ini bukan mimpi. Ibunya yang ia pikir sudah meninggal ternyata masih bisa berjalan ke arahnya menggandeng tangan ayahnya dan tersenyum dengan mata berkaca-kaca saat melihatnya juga.


"I.. ibu" ujarnya dalam hati.


"Ara, kami datang untukmu" ucap Cliff merebut tangan Ara dan menggenggamnya kuat-kuat sambil tersenyum.


"Kakek.. " Air mata Ara kini tumpah ruah, antara bahagia dan tidak percaya. Ia kehilangan satu penyangga hidupnyan dan 3 penyangga lain tiba-tiba muncul menguatkannya. Bibir Ara bergetar, Deasy juga segera memeluk anak semata wayangnya itu.


"Ibu.. apa ini benar-benar kau?aku pikir kau sudah mati" bisik Ara di dalam pelukan Deasy semakin terisak. Deisy melepaskan pelukanya dan menyeka air mata Ara.


"Jika bukan karena suamimu yang menyelamatkan aku dan ayahmu mungkin kami akan benar-benar sudah mati" ujar Deisy tersenyum.


"Daniel?" tanya Ara kemudian di jawab anggukan oleh Deisy. Hati Ara jadi semakin getir mendengar ucapan ibunya barusan, ternyata diam-diam selama ini Daniel benar-benar membantunya mencari ibunya, diam-diam menolongnya tanpa ia sadari. Tapi saat mereka semua kembali justru dia yang pergi? kenapa? Ara semakin tersedu-sedu.


Wajah Clara sepucat mayat sekarang, tak berapa lama sebuah rekaman video dan rekaman suara tiba-tiba terlihat dan terdengar di proyektor berukuran besar itu. Video dan rekaman suara itu di ambil di dalam ruangan Elly. Diam-diam Tritan menanamkan penyadap suara dan juga kamera tersembunyi beresolusi tinggi di dalam ruangan itu. Ini juga ide dari Daniel, ia yang memintanya menyembunyikan dua benda ini di tempat tersembunyi.


Clara hendak tak percaya tapi ini memang bukti yang kuat. Suara yang sedang di dengarkan semua orang itu kini mengalun seperti melodi indah di telinga Ara namun menjadi guntur di telinga Clara. Di dalam rekaman itu terdengar ia menceritakan kronologi rencana untuk menyingkirkan Higa, Cliff, Ara dan juga Daniel bersama Rudy dan Elly.


Clara langsung melihat kursi Rudy, namun matanya terbelalak kaget ketika kursinitu sudah kosong tidak ada bayangan Rudy di sana. Diantara gemuruh ketakutan dihati Clara, ia sempat tertawa ketus di dalam hatinya.


"Elly, jadi kau sudah tahu hari ini akan begini maka dari itu kau tidak datang?! bagus sekali jika aku bisa bertemu dengan mu kau tidak akan selamat" batin Clara penuh benci dan dendam.


"Mulai detik ini didalam silsilah keluargaku istriku hanya Deisy, anakku hanya Ara dan menantuku hanya Daniel. Untuk yang lain aku sudah tidak ada hubungan apapun" ujar Higa menatap seluruh anggota keluarga Romanof yang lain. Semua orang saling berpandangan termasuk Clara.


"Ara, maafkan aku yang begitu tega pada kalian selama ini, jika bukan aku menyaksikan dan mengalami langsung perbuatan mereka mungkin aku masih akan mencurigai ibumu dan membuat kalian menderita. Aku tahu ini tidak akan mudah di maafkan, tapi setidaknya beri aku kesempatan membayar hutang sebagai ayah untukmu Ara" ujar Higa dengan mata berkaca-kaca. Ia terlihat seperti sedang melepaskan jubah keangkuhan di tubuhnya, membungkuk dan meminta maaf di hadapan banyak orang. Sebenci apapun ia pada ayahnya ini, melihatnya yang seperti ini juga hatinya tidak bisa tidak tergerak. Ara mengangguk tersenyum kemudian kembali memeluk ibunya.


"Denis, aku berterimakasih kau sudah banyak membantu Ara" ujar Deisy pada Denis di belakang tubuh Ara. Denis tersenyum, "Tidak masalah, Bi"


Setelah itu, Higa dan Cliff melanjutkan peresmian cabang baru FireGate dan juga mengumumkan Ara kembali ke perusahaan menjadi presdir yang baru. Semuanya bertepuk tangan dan ini menjadi berita besar bukan hanya di kota A juga di seluruh China.


Di sisi lain, Elly baru saja keluar dari rumah sakit tanpa di ketahui oleh siapapun, langkahnya gontai, ia tahu hari ini adalah hari besar untuk Clara, tapi ia sama sekali tidak peduli. Tangannya hanya bisa memegang perutnya yang tak lagi mengandung anak Tritan.


Malam itu beberapa hari yang lalu setelah ia mendapatkan kabar dari orang suruhannya untuk mencelakakan Daniel dan Ara, ia senang bukan main. Akhirnya mereka pergi dan tak ada lagi yang akan mengancamnya.


Saat itu sudah 4 hari berlalu ia tak mendengar sama sekali berita tentang Ara dan Daniel. Ia juga tidak peduli tentang mereka. Yang ada di pikiran Elly mungkin Ara dan Daniel sudah di kubur atau di kremasi, senyum ketus tersungging di bibirnya.


Klak, suara pintu apartemennya berbunyi. Elly yang sedang berdiri menatap ke arah luar dari kaca jendela apartemennya seketika menoleh ke arah pintu masuk. Mata Elly membulat tak percaya bahwa yang muncul dari pintu masuk adalah sosok pria yang menghamili nya, Tritan. Tritan berjalan lurus mendekati Elly, Elly meletakkan teh hangatnya di atas meja kemudian juga berjalan duduk di sofa dengan santai. Tritan berhenti melangkah, wajahnya sangat dingin tak ada senyum hangat seperti biasanya. Elly masih terbayang sebenarnya dengan perkataan pria ini dengan Daniel beberapa waktu lalu, ia tersenyum ketus.


"Mau apa datang?" tanya Elly.


Tritan tak menjawab apapun ia hanya merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah tabung plastik kecil berisi beberapa pil. Elly mengerutkan alisnya bingung.


"Obat apa itu?" sambung Elly, matanya tak lepas dari tangan Tritan yang mulai mengeluarkan beberapa pil ke telapak tangannya. Tritan tak pikir panjang, tangan besarnya dengan cepat beralih mencengkram kedua pipi Elly dengan kasar menggunakan satu tangannya kemudian memaksa Elly menelan pil-pil itu. Elly tak bisa melawan, semakin melawan cengkramannya semakin keras. Ia di paksa membuka mulut menelan obat-obatan itu. Setelah Tritan yakin obat itu di telan oleh Elly, ia melepaskan cengkramannya dan mendorong tubuhnya hingga terduduk lagi di sofa.


Elly masih mencoba menstabilkan napasnya yang sempat tersengal-sengal itu, matanya masih menatap sosok Tritan yang berjalan menuju dapur dan mencuci tangannya. Hanya melihat pria di dapur itu mencuci tangannya, ia seketika merasa terhina.


"Kau bisa cuci tangan tapi tak bisa cuci otakmu!"