
Sore itu, Aldric sibuk mengerjakan pekerjaannya di kantor. Perusahaan yang di miliki Aldric tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga Qin, perusahaan keuangan BW consulting yang di bawah naungannya adalah perusahaan yang ia rakit secara pribadi dengan modal yang ia miliki sendiri.
Sebenarnya, Aldric meminta Daniel untuk memegang BW saja sebelum ia memutuskan untuk merakit TopHill, di samping usia Daniel yang saat itu masih sangat muda, ia juga minim pengalaman di bidang perhotelan dan juga club malam. Berbeda dengan Downgrup yang bergerak di bidang yang sama seperti BW. Tapi siapa sangka ketakutan Aldric seakan terpatahkan, Daniel baru berusia 30 tahun tapi TopHillnya sudah menjadi yang terbesar di kota A melebihi BW. Bakatnya memang sangat mengesankan.
Daniel adalah lulusan kedua terbaik jurusan Finance dari universitas elit di Inggris. Saat ia melihat Shamus hampir kehilangan perusahaan. Aldric yang sudah mengundurkan diri dari jajaran direksi di Down Grup tak bisa melakukan apapun. Keluarga dan bisnis tentu saja harus di bedakan. Saat itu Daniel masih berstatus pekerja magang di perusahaan itu di bagian accounting. Dari seluruh laporan yang ia baca, banyak sekali keanehan di dalam laporannya. Namun dengan kecerdasannya ia menemukan sebuah jalan keluar untuk menolong Down Grup dan hal yang lebih tak terduga ide itu sangat brilian dan berhasil membawa Down grup berdiri dan berjaya lagi.
Melihat perkembangan perusahaannya tertolong karena Daniel, akhirnya Shamus membuat Daniel menjadi direktur beberapa tahun kemudian Shamus pensiun dan menjadikan Daniel sebagai CEO Down Grup.
Sejak ia menjabat sebagai CEO, Down grup mengalami masa kejayaannya, untuk bekerja sama dengan Down grup biasanya Daniel akan minta di wakilkan oleh Yogi jika kerja sama itu hanya kerja sama biasa. Hanya beberapa orang yang pernah dan tahu identitasnya sebagai CEO. Hal ini memang sengaja di sembunyikan Daniel, ia tak ingin semua orang memandangnya dengan pandangan takut dan segan. Ia hanya ingin hidup dengan cara yang normal, orang lain menyukainya bukan karena uang yang ia miliki dan juga agar ia lebih mudah menilai orang lain. Kebanyakan orang lain akan memakai topeng terbaiknya untuk menjilat orang yang berada di atasnya dan Daniel benci hal seperti itu.
Keseriusan Aldric terganggu saat mendengar suara handle pintu terbuka. Aldric yang sedang sibuk memegang beberapa lembar dokumen pun seketika mendongak dan menoleh ke arah pintu masuk. Ia melihat Arion datang sedikit terburu-buru. Aldric mengerutkan alisnya dan membuka kacamatanya.
"Ada apa?!" tanya Aldric.
"Tuan, ada berita buruk tentang Tuan Daniel.. " ujar Arion sambil menyalakan sebuah TV LED besar di salam ruangan itu. TV menyala, terlihat berita Live tentang Daniel di sana. Anak laki-laki semata sayangnya itu terlihat sedang memukuli seseorang. Wajah Aldric menjadi pahit.
"Ada apa dengan dia?"
"Tuan Daniel terlibat perkelahian dengan Tuan Muda dari keluarga Gu. Menurut berita, Tuan muda marah karena Tuan Gu menyinggung nona Ara."
Tangannya membolak-balikkan sebuah pulpen di atas meja. Aldric menarik matanya dari siaran berita itu kemudian menatap serius ke depan. Aldric tahu bahwa Daniel mencintai Ara, tapi tak pernah membayangkan pria yang tenang dan dingin seperti anaknya bisa kehilangan kesabarannya hanya karena sebuah kata singgung. Aldric tahu betul Daniel seperti apa , ia hampir tak pernah bereaksi secara langsung apalagi sampai memukuli seseorang di depan banyak orang apalagi jika ada sorot media. Yang biasa ia lakukan adalah mematikan sumber ekonominya sampai akar hingga mereka akan dengan sendirinya bertekuk lutut memohon di bawah kaki Daniel. Jika Daniel sampai bereaksi seperti ini, bisa di pastikan perasaannya pada Ara begitu serius dan dalam.
"Arion, hentikan berita itu. Bawa Daniel ke hadapanku"
"Menurut info dari Medina, Tuan Daniel beserta Nona Ara dan tuan kecil sudah dalam perjalanan kembali, Tuan" ujar Arion
Aldric sedikit kaget mendengar ucapan Arion. Semenjak kakeknya dan Ibunya memaksanya untuk menikah dengan Windy, jangankan untuk kembali, untuk berbicara dengan merekapun seakan tidak mungkin.
"Arion, selain maslah ini, apa kau tahu sesuatu tentang Daniel baru-baru ini?"
Arion tak menjawab beberapa saat,
"Kenapa diam? apa benar terjadi sesuatu selain hal ini?"
Aldric menghela nafas panjangnya, matanya terpejam beberapa saat. Apa yang di lakukan ayahnya kali ini memang sangat keterlaluan. Seperti kacang lupa kulitnya, bagaimana ia bisa memaksa Daniel kembali dengan cara seperti ini. Apalagi ia memberikan semua jabatan Daniel pada Sebastian yang sudah sejak lama tidak pernah akur. Lagipula Daniel telah menikah dengan Ara dan telah memiliki seorang putra, pembahasan ini seharusnya sudah berhenti sejak dulu lalu kenapa harus di perpanjang hingga hari ini? Lagi-lagi Aldric menghela nafasnya.
"Baiklah, antar aku pulang sekarang" titah Aldric kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar di ikuti oleh Arion.
Sesampainya di rumah, Aldric di sambut Meilyn dan juga Shamus yang juga sedang menunggu kedatangannya.
Sudah hampir 5 tahun Daniel tak kembali dan tak mengizinkan mereka mengunjunginya di kota A. Sekarang ia datang meskipun membawa orang yang ia benci tapi setidaknya anaknya kembali.
"Sayang, kau sudah pulang" ujar Meilyn menyambut kepulangan suaminya.
Aldric hanya tersenyum kemudian ia melemparkan pandangan matanya pada Shamus di belakang Meilyn.
"Ayah, apa kau sudah dengar tentang Daniel hari ini?" tanya Aldric berjalan mendekati Shamus dan duduk tak jauh darinya.
Shamus duduk dengan tangan berpangku di atas sebuah tongkat dari kayu mahoni. Wajahnya datar, "Sudah, aku sudah dengar"
"Caramu membujuknya kembali ternyata sungguh efektif, bagaimana kau bisa menggunakan cara seperti ini? kau sudah lupakah dia yang membawa Down Grup kembali?"
"Jika bukan memiskinkannya bagaimana dia akan kembali?"
"Tapi TopHill adalah perusahaan miliknya pribadi, bagaimana kau bisa mengakuisisinya begitu saja dan lagi kenapa harus Sebastian?" Ujar Aldric dengan nada sedikit meninggi, bagaimana ia tak kesal, anaknya itu telah berjasa banyak untuk keluarga lalu bagaimana ia bisa di perlakukan seperti ini?"
Meilyn yang melihat suaminya mulai terbawa emosi dengan lembut memegang bahu dan mencoba menenangkannya.
"Sayang, ini tidak selamanya. Semua ini hanya untuk membuatnya kembali, kau tak perlu khawatir."
Brakkk... Bantingan tangan Aldric di atas meja membuat tubuh Meilyn tersentak kaget. Berniat membuat emosinya mereda justru malah bertambah parah. Aldric menatap Meilyn dengan tatapan tajam.
"Kau itu ibu macam apa? Daniel itu anak kandung mu atau bukan? perasaannya sudah menderita sekian lama sekarang di tambah dengan membekukan keuangannya, kau itu harusnya membelanya bukan justru ikut menyudutkan posisinya!" seru Aldric kehilangan kesabaran, wajahnya kemudian ia palingkan dan kembali menatap Shamus yang sejak tadi terdiam, "Ayah, hentikan yang kau lakukan sekarang, kehilangan Daniel bukan hanya akan merugikan keluarga kita tapi juga kau akan kehilangan perusahaanmu kedua kalinya,"