Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 62: Daniel sempurna untuk menjadi seorang ayah



“Yogi duduklah dan temani aku makan, ini perintah"


“Nyonya bos, kau jangan terus mempersulit ku, kau tahu aku tidak akan berani"


“Baiklah, jika tidak mau, aku juga tidak akan makan, bawa kembali makanan ini dan katakan padanya aku tak mau makan”Ancaman Ara pada Yogi ternyata sangat efektif, yogi dengan cepat duduk di belakang meja makan dan segera mengambil piring.


Daniel malam ini memasak ikan asam manis, daging asap saus tomat dan juga tumis bayam, dari wanginya saja sudah sangat harum dan sudah pasti lezat. Ara bahkan bisa melihat mata Yogi berbinar-binar melihat masakan bos besarnya itu.


“Sulit di percaya bos Daniel bisa masak makanan seperti ini, sungguh bakat yang menakjubkan”Ujarnya memuji-muji masakan Daniel di depannya itu. Ara hanya menggeleng sambil tersenyum kecil.


Ara sebenarnya tak ada nafsu makan, ia masih merasa pencernaan tidak baik, makanan seenak apapun di mulutnya saat ini akan terasa sangat aneh hingga ia selalu merasa mual. Sebisa mungkin Ara memasukan beberapa suap makanan ke dalam mulutnya, ini hanya untuk menghargai masakan suaminya itu. Dia sudah susah payah masak makanan lezat ini, dengan alasan apapun harus tetap menghargainya.


“Nyonya bos, kau kelihatan kurang sehat? apa kau sedang sakit? aku lihat kau juga makan sedikit”Tanya Yogi sambil sibuk menyuap makanan masuk ke dalam mulutnya.


“Iya, akhir-akhir ini pencernaan ku agak aneh, jadi tak nafsu makan, kau habiskan lah”Yogi kemudian mengangguk, dengan cepat makanan di atas meja habis tak bersisa, Ara hampir tertawa, beberapa menit yang lalu pria ini bilang tak berani makan, tapi menit selanjutnya ia melahap habis makanan di atas meja, dasar bocah yang aneh.


“Yogi, apa kau tahu bos mu akan pulang jam berapa? “Tanya Ara sambil menatap jam di dinding yang sudah menunjukan hampir pukul 9 malam.


“Entahlah, habis masak tadi, ia langsung pergi ke ruangannya dan kembali membuka dokumen-dokumen kerjanya, aku kira mungkin jika pulang akan larut"


“Hemm jadi begitu, baiklah, kau tunggu sebentar, aku akan membuat makan malam untuk bos mu, kau juga harus pastikan dia memakannya ya”Mendengar titah nyonya bos nya itu Yogi mengangguk setuju, Ara kemudian bergegas membuka kulkas dan mengambil beberapa sayuran dan beberapa potong ayam. Beberapa menit ia sibuk dengan peralatan masak, setelah selesai ia segera memasukan masakannya ke dalam kotak makan dan memberikannya pada Yogi.


Yogi pun bergegas kembali ke TopHill.


“Daniel terimakasih makan malamnya, aku juga memasak untukmu dan menitipkan nya pada Yogi, mungkin tak akan seenak masakanmu, jika tak sesuai selera mu kau boleh membuangnya”Seru Ara mengirimkan pesan pada Daniel, menit demi menit Ara menunggu balasan Daniel, namun ia tak juga membalasnya, akhirnya ia pergi mandi dan naik ke atas tempat tidur hingga terlelap.


Keesokan harinya, Ara terbangun karena alarm di ponselnya berbunyi. Saat matanya terbuka, ia tak melihat sosok Daniel di sampingnya, ia pasti tidak pulang semalam. Ara membuka layar kunci ponselnya, ia juga tak membalas pesannya tadi malam.


“Jadi kau benar-benar marah padaku?”Gumam Ara dalam hati. Ia kemudian bergegas mandi, berpakaian dan bergegas menuju kantor. Sepanjang hari ini ia kehilangan fokusnya, ia berulang-ulang menatap layar ponsel nya, berharap Daniel menghubunginya tapi sampai sesiang ini ia tak juga menghubunginya, jadi Ara mengambil inisiatif menghubungi suaminya itu.


Tuuutt... Tuttt.... Tutttt.. Nada sambung panggilan terdengar dari seberang telepon. Tak ada jawaban.


“Dia tak menjawab panggilan mu Ra? "


“Hemm, dia marah padaku"


“Kenapa?”Pekik Elly penasAran


“Dia ingin anak, aku belum siap Elly “Mendengar jawaban Ara, elly mencubit pipi Ara dengan keras, Ara sampai mengaduh kesakitan,Ara refleks melotot pada Elly. “Auch, kau ini apa-apaan Elly, sakit tahu!"


“Tapi aku takut Elly, aku hampir kehilangan ibuku karena melahirkan adikku, aku jadi sangat takut Elly, lagipula aku masih sangat muda dan bagaimana dengan perusahaan? bagaimana aku bisa memiliki bayi di saat sepeti ini? "


Dulu saat Ara berusia 5 tahun Deisy tengah mengandung adik Ara, saat itu kandungannya baru berusia 2 bulan. Awalnya Higa senang dengan berita kehamilan Deisy namun 2 istri Tua Higa menfitnah Deisy bahwa anak yang di kandung Deisy bukanlah anak Higa, Higa marah dan menendang Ara dan Deisy ke kota C. 7 bulan kemudian saat waktunya melahirkan, deisy mengalami pendarahan hebat, saat itu tengah malam dan Ara yang berumur 5 tahun melihat banyak darah yang keluar dari tubuh ibunya dengan panik mengetuk pintu keluarga Han yang merupakan keluarga dokter, untung saja paman Cendrik dan bibi Selly cepat membuka pintu dan langsung datang menolong Deisy.


Saat mereka datang dan sampai dirumah Ara, Cendrik dan Selly panik melihat keadaan Deisy berlumuran darah dengan kondisi sangat kritis, mereka bergegas membawanya ke rumah sakit terdekat namun sayang adik Ara tak bisa di selamatkan. Karena pengalaman itu bayangan saat ibunya hampir mati itu membuatnya sangat trauma, ia selalu berpikir melahirkan adalah gerbang kematian. Kenangan itu terus mengakar dalam pikirannya hingga sekarang.


Tatapan Elly berubah saat Ara mengingatkan masalah ibu dan adiknya itu. Ara pernah menceritakan kejadian itu padanya saat sekolah dulu. Dengan lembut ia merangkul bahu Ara.


“Memang tidak semua wanita bisa merasakan hamil dan melahirkan Ara, hanya wanita-wanita yang Tuhan pilih yang bisa merasakannya, hamil dan melahirkan juga adalah kodrat kita sebagai perempuan, melahirkan anak untuk suami kita juga kewajiban, suatu hari kita juga akan mati, entah mati karena melahirkan, karena tua atau karena musibah, seharusnya kau tidak perlu takut dengan itu, lagi pula kau dan ibumu ada di posisi yang berbeda, kau punya suami sempurna seperti Daniel, mana mungkin dia membiarkan mu dan bayi kalian dalam bahaya, berhentilah khawatir pada sesuatu yang belum tentu terjadi Ara dan masalah perusahaan kau masih bisa bekerja meskipun hamil, jadi ikuti saja mau Daniel, dia sudah sangat berusaha padamu, kenapa kau tega mengecewakan nya? “Ujar Elly panjang lebar meyakinkan Ara, Ara terdiam.


Meskipun yang di katakan Elly benar, tapi Ara masih tetap pada pendiriannya, rasa takut nya dan juga kondisi saat ini benar-benar tak memungkinkan untuknya memiliki anak, lagi pula pernikahan mereka akan berjalan selamanya, masih ada bertahun-tahun kedepan, menundanya satu atau dua tahun seharusnya tidak masalah bukan? kenapa harus memilikinya sekarang? pikir Ara dalam hati.


“Entah lah Elly, aku benar-benar tak ingin memiliki anak untuk sekarang”Setelah menjelaskan panjang lebar seperti tadi, elly pikir pikiran sahabatnya ini akan terbuka, tapi justru bertambah keras kepala. Dasar Ara, sejak dulu tak pernah berubah, pikirnya.


Ponsel Elly tiba-tiba berdering, itu panggilan dari tim produksi, ia memintanya dan Ara untuk datang lagi ke studio, Windy lagi-lagi tak ingin melakukan pemotretan. Elly sekali lagi menghela nafas panjang dan menutup teleponnya.


“Kau di tunggu Windy di studio, dia lagi-lagi buat onar dan tak mau di foto"


“Ada apa lagi? masalah baju lagi? "


“Entahlah, sebaiknya kita cepat kesana"


Akhirnya Ara dan Elly langsung menuju lokasi pemotretan, Ara mendekati sang fotografer menanyakan masalah apa lagi yang terjadi, sang fotografer akhirnya menjelaskan masalah yang terjadi. Melihat Ara sedang berbicara serius dengan fotografer , Windy berjalan mendekati Ara. Ara pun menoleh pada Windy.


“Nona Windy, masalah pencahayaan bisa di atur sedemikian rupa lalu kenapa masih tak mau di foto? "


“Manager Ara, aku ingin semuanya sempurna, tak mau bekerja dengan suasana yang tak kondusif seperti ini"


“Tak kondusif seperti apa maksudmu? bisakah kau bekerja dengan profesional? hargailah usaha keras kami di sini, lagi pula semuanya terlihat baik-baik saja"


“Seperti ini”Dengan wajah licik Windy menarik tangan Ara, seolah-olah Ara sedang mendorong Windy hingga jatuh, saat terjatuh tangan Windy dengan sengaja menarik kabel lampu gantung hingga lampu itu jatuh tepat menimpa kepala Windy hingga terluka dan berdarah. Saat itu, tak banyak orang yang memperhatikan Windy dan Ara, sang fotografer, elly dan Jenny sedang sibuk berdebat di belakang tubuh Ara, jadi hampir tak ada saksi yang melihat kejadian itu.


Windy terjatuh dan terluka. Semua orang seketika membantu menolong Windy yang bersimbah darah, kecuali Ara dan Elly. Ara menatap Windy dengan tatapan kosong, ia terlalu terkejut dengan semua yang terjadi. Semua orang panik. Ara memundurkan langkahnya, ia menatap Elly dengan wajah pucat.


“Elly panggil 911 kemari”Seru Ara dengan tubuh gemetar. Elly mengangguk ia kemudian segera menelepon 911 untuk meminta bantuan paramedis. Tak terhitung berapa banyak makian Jenny pada Ara dan tak terhitung juga pembelaan Elly untuk Ara. Ara hanya diam. Darah yang keluar dari kepala Windy mengingatkan ibunya. Selang tak begitu lama, ambulance datang dan segera membawa Windy pergi ke rumah sakit terdekat.