
2 hari kemudian..
Ara hari ini mengerjakan semua rutinitas yang biasa ia kerjakan. Pagi ini ia mengantar Brandon pergi ke Daycare karena Meira dan Xander harus pulang mengunjungi orang tua Meira di luar kota. Awalnya, Xander meminta Ara untuk ikut bersama, namun akhir-akhir ini pet shop ramai pengunjung karena sebentar lagi di kota G akan mengadakan lomba anjing terbaik. Lomba itu adalah even tahunan di kota G, agak unik namun sangat menarik.
Saat ini jam 9 pagi, setelah menitipkan Brandon, Ara menuju pet shop. Sesampainya di sana, ia di sambut senyum manis Sean. Seperti biasa, setiap pagi ia akan sibuk "Sarapan" yang menurut Ara lebih tepat di sebut makan siang, karena porsinya 3 kali lipat lebih besar jika hanya di sebut sarapan.
"Ara, apa hari ini kurir obat akan datang? kau sudah memesan obat yang aku minta kemarin kan?" tanya Sean sambil tak henti menyuap makanan ke dalam mulutnya. Ara yang saat ini tengah sibuk membuka komputernya mengangguk, "Harusnya kurirnya sudah datang, mungkin sedikit terlambat. Kemarin ia menghubungiku akan mengantar jam 9" Jawab Ara sambil tetap menunduk di balik meja resepsionisnya.
Tak lama kemudian, lonceng pintu terdengar, pintu terbuka. Ara masih sibuk dengan komputernya ia bahkan tak menyadari seorang pria masuk ke dalam pet shop dan berjalan mendekati meja resepsionis.
Pria itu mengenakan sweater rajut dan celana panjang hitam. Kulitnya yang putih dan penampilannya yang elegan sukses membuat Sean menghentikan kegiatan sarapannya dan segera bangun dari duduknya ketika melihat Ara tak menyadari seorang malaikat memasuki pet shop mereka. Sean mendekati Ara itu, matanya menatap sekilas Anjing yang berada di dalam pelukannya.
"Selamat datang Tuan, ada yang bisa kami bantu?!" sapa Sean tersenyum malu-malu. Ara yang mendengar sapaan Sean, ia baru tersadar ada seorang pelanggan di sana. Akhirnya ia buru-buru bangun dan hendak menyapa pelanggan itu. Namun saat bangun dan mendongak pada pria yang saat ini berdiri di depannya, jantung Ara seakan berhenti, tiba-tiba dadanya sesak. Mata pria itu hanya sekilas menatap Sean, kemudian lebih fokus menatap Ara yang terlihat begitu terkejut.
Pria di depannya ini adalah pria yang mirip sekali dengan pria yang selalu ada di dalam mimpinya. Bukan hanya mirip, tapi sangat persis. Ara sudah hampir hafal dengan wajah pria di mimpinya itu, karena terlalu sering memimpikannya. Beberapa saat Ara tertegun, Sean sampai harus mencubit kecil lengan Ara untuk menyadarkannya.
"Se.. selamat datang di Happy pet, Tuan! ada yang bisa kami bantu?" tanya Ara gugup. Entah kenapa kali ini dia begitu gugup, padahal bukan kali ini saja seorang pria tampan datang membawa peliharaannya.
Paw yang semula di dalam pelukan Daniel, Tiba-tiba menggonggong dan berlari mendekati Ara. Ia bahkan berputar-putar mengelilingi kaki Ara. Wajahnya saat ceria.
"Hai, kau sepertinya sedang bahagia" Ara seketika membungkukkan tubuhnya dan membelai lembut anjing di bawah kakinya itu.
"Sepertinya anjingku menyukaimu" Daniel melemparkan senyum pada Ara, Ara pun menoleh pada Daniel.
"Kau memiliki anjing yang lucu, Tuan"
"Ya, penjaga anjing rumahku telah merawatnya dengan baik, tapi sayang tiba-tiba ia menghilang. Tak ku sangka ia bisa bahagia seperti ini setelah bertemu denganmu"
"hemm" Jawab Ara singkat tersenyum sambil mengangguk. "Lalu apa yang bisa kami bantu dengan anjingmu?"
"Aku ingin mengawinkan anjingku, Selain kehilangan penjaganya ia juga kehilangan pasangannya, mungkin anjingku bisa menemukan satu di pet shop ini?"
"Wah, anjing yang malang" Seru Ara pada Paw di pelukannya. Paw hanya menggonggong kecil, kemudian Ara menoleh pada Daniel "Tapi sayangnya kami tidak ada jasa mengawinkan anjing Tuan"
"Tapi aku lihat kalian memiliki anjing yang cantik dan mirip dengan pasangan anjingku yang hilang.." Daniel melirik ke arah seekor anjing lucu di bawah kaki Ara. Ara seketika menoleh pada Happy anjingnya. "Bisakah kalian mengusahakannya? aku bisa membayar berapapun untuk itu"
"Maaf tuan, tidak bisa.. silahkan cara jasa tersebut di toko la.....",
" Baik.. baik Tuan, kami akan usahakan semaksimal mungkin" Dengan cepat Sean menyela ucapan Ara, Ara melemparkan lirikan tajam pada Sean, namun Sean tak peduli. Dengan cepat bahkan ia mengambil Paw dari dalam pelukan Ara. Daniel tersenyum.
"Tapi butuh waktu setidaknya beberapa minggu untuk mengawinkan mereka, apakah kau tak keberatan?" sambung Sean.
"Baiklah tidak masalah, akan ku tunggu seberapa lama pun akan ku tunggu" pandangan mata Daniel benar-benar tertuju pada Ara dan cenderung tak melihat Sean sama sekali. Ara pun mengernyitkan dahinya bingung.
"Baiklah, tolong isi formulir ini,Tuan" Ara kemudian meletakkan secarik kertas dan pulpen di atas meja. Daniel pun dengan cepat mendekat dan mengisi formulir itu.
Sepanjang Daniel mengisi formulir itu, mata Ara terus menatap wajah yang tak asing di depannya. "Kenapa dia bisa sebegitu mirip dengan pria di mimpiku? apa benar dia? atau hanya mirip saja? kenapa perasaanku begitu aneh?!" batin Ara.
"Hah.. eh.. tidak aku tak mengenalmu"
"Lalu, kenapa kau terus menatapku begitu?"
Ara seperti tertohok dengan pertanyaan Daniel.
"Maafkan aku, Tuan. Tapi apa kita pernah bertemu sebelumnya? kenapa wajahmu tak asing untukku"
"Ya, mungkin di suatu tempat"
"Ah, ya mungkin begitu"
"Baiklah, aku sudah mengisi formulirnya, aku akan datang setiap hari untuk melihat perkembangannya"
"Ya baiklah"
"Baiklah, aku harus pergi", " Paw, berusahalah dengan baik, oke?" Senyum Daniel sambil membelai lembut kepala anjingnya, kemudian ia melangkah pergi dan menghilang dari balik pintu.
Sean seketika menarik kursi di depan meja Ara.
"Ya Tuhan, bagaimana bisa ada pria setampan itu?! apakah dia malaikat dari langit?" Mata Sean berbinar-binar masih melihat ke arah pintu keluar. Bayangan Daniel masih teringat jelas di dalam pikirannya. Namun kemudian ia membalikan tubuhnya dan menatap Ara dengan ketus. Ara melihat pandangan mata Sean, ia menyatukan alisnya bingung. "Apa?!"
"Kau ini benar-benar bodoh Ara, mata mu itu apa tak bisa melihat ketampanan seorang pria? selain Denis apa kau juga tak bisa melihat kharisma pria tadi?"
Ara tak peduli pada tatapan mata Sean yang menusuk itu, ia kemudian mengambil formulir yang Daniel isi.
"Namanya Daniel.. " bisiknya dalam hati, tapi saat melihat alamat yang Daniel tulis, ia segera mencubit jubah dokter Sean untuk mendekat. "Alamatnya di StarLake kota A??!" Beberapa saat mata mereka bertemu dengan tatapan keheranan.
"Kenapa pria dari kota A jauh-jauh mengawinkan anjingnya di kota kecil seperti kota G ini? apa kau tak merasa aneh Sean?" tanya Ara bingung
"Benar, aku pernah dengar StarLake adalah komoleks para konglomerat! lalu kenapa dia kemari dan justru mengawinkan anjingnya?" ujar Sean sambil mencubit kecil dagunya.
Brakkkkk.. Tiba-tiba Sean membanting tangannya di atas meja, membuat tubuh ara tercekat.
"Hei!!!kenapa tiba-tiba menggebrak meja! " Ara membentak Sean. Namun Sean tak peduli.
"Jangan-jangan... " Sean mendekatkan tubuhnya dengan isyarat seperti akan berbisik pada Ara, Ara pun segera mendekatkan telinganya pada Sean. "Jangan-jangan dia adalah jodoh dari langit untukku Ara, sepertinya aku akan menjadi istri seorang konglomerat Ra!" Seru Sean sambil mengepalkan tangannya bersemangat. Ara mendengar ucapan Sean tiba-tiba tak kuasa menahan tawanya dan mencubit pipi gemuk Sean. "Hahaha, jika benar begitu, aku pastikan dia akan menyesal!"
"Kenapa menyesal?"
"Dia akan segera jatuh miskin, kau akan segera menguras kekayaannya untuk perut mu itu, haha"
"Araaaa!" Teriak Sean kesal
"Hahahaha"