Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 49: Denis Han



Kevan memandang terpaku punggung Daniel yang membawa pergi Ara keluar ruangan kerjanya. Perasaan cemburu menutupi hatinya.


Tak lama, seseorang datang berbisik pada Gerry, wajah kaget tak dapat ia tutupi. Kevan pun memandang Gerry.


“Ada apa? apa kau sudah menemukan siapa dalangnya? “Tanya Kevan


Hati Gerry kali ini di selimut keraguan luar biasa. Jika ia tak mengatakan yang sebenarnya tentu saja Kevan tak akan percaya, orang suruhannya bahkan memberitahunya di depan bosnya itu, tapi jika memberitahunya hubungannya dengan Sisil pasti akan berantakan. Sisil menatap gArang pada Gerry. Seakan ia memintanya untuk tidak mengatakan yang sebenarnya.


“Bagaimana aku harus bersikap? “Tanya Gerry dalam hati


“Apa yang kau temukan? KENAPA DIAM???! “Bentak Kevan pada Gerry


“Masih di selidiki bos”Gerry dengan ragu berbohong pada Kevan. Kevan tersenyum sinis dan mendekati Gerry.


“Kau masih ingat siapa Bosmu kan Ger?"


“Ma.. Masih tuan"


“Siapa bosmu? istriku atau aku? “Tanya Kevan berbisik pada Gerry, seakan Kevan sudah tau siapa dalang dari semua ini.


“Tuan Kevan Wingsley”Jawab Gerry


“Lalu masih belum mau mengatakan yang sejujurnya?”Tekan Kevan semakin membuat Gerry bingung. Melihat tekanan yang di berikan Kevan pada Gerry, sisil mendekati Kevan dan melingkarkan tangannya di lengan Kevan dengan manja.


“Sayang, kau tak perlu begitu pada Gerry, dia bilang masih menyelidikinya”Seru Sisil berusaha menenangkan Kevan. Kevan menoleh pada Sisil dengan raut wajah yang marah.


“Kau! kau pikir aku tak tahu kaulah di balik ini semua? bagaimana bisa kau menyakiti orang lain seperti ini? mengecewakan!"


Jantung Sisil serasa ingin berhenti mendengar kata-kata Kevan. Sisil merasa kesabAran seseorang pasti ada batasannya. Dan mendengar ucapan Kevan ia pun marah.


“Kenapa jadi aku yang menyakiti orang lain? bagaimana denganmu? kau pikir kau sedang tak menyakitiku sebagai istrimu? huh? ingat Kevan kau tak akan hidup tanpa pertolongan dariku!!"


“Lalu kau mau apa? meminta kembali yang sudah kau berikan? baiklah.. Tapi setelah itu aku akan menceraikan mu dan jangan ganggu hidupku lagi”Setelah itu, Kevan meninggalkan ruangan dengan emosi tak terbendung.


“Demi seorang Ara kau menceraikan aku? dari sudut mana dia lebih baik dari aku?”Seru Sisil menghentikan langkah kaki Kevan.


“Dia memang tak lebih baik darimu, status sosialnya juga tak sebaik reputasi mu, tapi dia tak pernah merendahkan siapapun apalagi menyakiti siapapun demi orang lain”Sisil melangkah mendekati Kevan.


Matanya memandang Kevan dengan berkaca-kaca. Rasa sakit di hatinya terlihat dari sorot matanya itu.


“Tidaklah kau tahu kenapa aku berubah seperti ini? apa kau tidak merasa kaulah sebab semua ini?"


"....... “Kevan terdiam


“Aku tidak akan menyentuh Ara jika kau tak menyentuhnya, apa kau merasa sakit dan cemburu saat suaminya datang dan membawanya pergi? lalu kenapa. Aku tak boleh merasakan yang sama padamu Kevan? kau membawa pergi gadis lain dan berusaha menyentuhnya, lalu apa aku harus diam saja seperti gadis bodoh?!”Air mata Sisil jatuh sejadi-jadinya.


Tentu saja yang ia katakan itu benar. Kevan pun tak bisa menyangkalnya. Mungkin ia tak mencintai Sisil tapi Sisil mencintainya. Ia bahkan mengorbankan 1 ginjalnya hanya untuk menyelamatkan nyawanya. Sekali lagi ia menghela nafasnya dalam-dalam. Menurunkan Egonya sampai dasarnya dan berusaha memeluk Sisil.


“Aku tak bisa menjanjikan cinta untuk mu Sil.. Apa ada cara lain untuk ku membalas pengorbanan mu selain menjadi suamimu?”Tanya Kevan melembut.


“Tidak ada.. Aku mau kau mencintaiku dan tetap menjadi suamiku"


“Kalau begitu tunggulah sampai batas yang kau mau.. “Kevan melepaskan pelukannya dan meninggalkan Sisil di belakang untuk menuju Hotelnya.


Kejadian ini tak seperti rencananya semula. Semula ia membawa Ara datang bersamanya untuk mencari ibunya, tentu saja tak benar-benar untuk mencari ibunya. Kevan tahu, deisy sudah mati. Apalagi yang harus di cari? Ia hanya ingin bersama Ara beberapa hari, tadinya ia pikir Ara masih memiliki perasaan untuknya tapi kejadian hari ini membuatnya sadar, Ara sudah lama pergi, rekaman di dalam recording pen itu membawanya pergi.


Tiba-tiba rasa marahnya kembali muncul. Kali ini ia berpikir untuk menyingkirkan Daniel. Hanya meruntuhkan perusahaan kecil seperti MD bukanlah hal sulit.


“Ara kita lihat apakah kau masih akan bersamanya jika dia kehilangan segalanya”Batin Kevan.


Yang Kevan tidak tahu, ia berusaha membunuh ikan kecil berpikir ikan itu akan mati tapi justru yang sebenarnya ikan kecil itu hanya umpan untuk membunuh mangsa sebenarnya.


****


“Yogi, tahan dulu apapun rencanaku sebelumnya. Kali ini biarkan Kevan merasa menang dengan rencananya, tapi jangan buat MD hancur, back up MD Sementara ini”Seru Daniel pada Yogi melalui Telepon.


Baru panggilan itu ditutup ponselnya berdering lagi, Daniel melihat nama Tritan disana dan langsung mengangkat panggilan itu.


“Daniel, kau Daniel atau nyonya Qin?”Tanya Daniel dengan suara menyelidik.


“Ada apa?”Seru Daniel dingin


“Daniel oh Daniel...bagaimana ini? kenapa kau membiarkan Kevan menghancurkan perusahaanku? perusahaan ku dalam kondisi kritis sekarang"


“Lalu bagaimana dengan perusahaanku? "


“Tenang saja, aku back up kau dari belakang haha"


“Serius kau sedang tertawa sekarang? huh menyebalkan!! "


“Haha.. Sejak kapan kau mulai peduli dengan perusahaanmu? aku kira kau mendedikasikan hidup mu hanya untuk gadis-gadis"


“Agh sial, apa hebatnya aku tanpa uang bro.. Jika MD hancur maka hancur juga nasibku"


“Tenang saja, apa kau meragukanku?"


“Tentu saja, kenapa kau bermain-main dengan uang orang lain?”Seru Tritan mendengus kesal


“Hanya uang kecil, tenang saja lah haha”Daniel membayangkan wajah sahabatnya itu sekarang hingga tak bisa menahan tawanya.


Dengan cuek ia menutup panggilannya saat melihat Ara keluar dari kamar mandi.


“Apa kau akan pergi? "


“Hemm, bertemu dengan Elly”Seru Ara sambil memakai bajunya


“Perlu aku temani?"


“Antar aku saja, tapi tak perlu menemaniku boleh ya? ada kamu di antara kami pasti akan sangat canggung"


“Oke baiklah"


Setelah siap, Daniel dan Ara bersiap-siap pergi. Saat berada di lobby dan menunggu mobil Daniel datang, seseorang tiba-tiba menepuk bahu Ara lembut dan membuat Daniel dan Ara menoleh.


“Kak Denis!! Hai”Seru Ara dengan girang dan refleks memeluk Denis. Hal itu tentu membuat Daniel mengerutkan alisnya dan sontak menarik lengan Ara menjauh dari Denis. Ara pun menoleh dengan tatapan heran pada Daniel.


“Ara, lama tak jumpa, bagaimana kabarmu?"


Tanya Denis tersenyum pada Ara.


Ara memandang dengan tatapan masih tak percaya pada pria yang mengenakan baju kemeja dengan motif kotak-kotak kecil sederhana di padu dengan celana panjang berwarna coklat muda. Tampilannya begitu rapi dan segar seperti yang biasa ia lihat dulu. Ia juga tak lupa menenteng sebuah koper kecil khas dokter.


Denis adalah salah satu tetangganya saat ia tinggal di kota C dulu. Ia tumbuh besar di keluarga Dokter, bahkan di kota C, keluarganya memiliki rumah sakit sendiri. Mereka keluarga yang sangat baik hati, hampir setiap minggu mereka akan bergantian memanen sayur mayur dan Bibi Han pasti akan menyuruh Denis untuk mengantarkan hasil panen mereka pada Ara dan Deissy.


Denis dan Ara terpaut usia 3 tahun, mereka sangat akrab bahkan Ara menganggapnya seperti kakak sendiri. Kepergian Ara 1 tahun lalu begitu mendadak sehingga ia tak sempat berpamitan dengan keluarga Han.


Daniel menatap Denis dengan tatapan waspada.


“Aku baik kak, tak percaya bisa bertemu dengan di sini, apa kau bekerja di kota L sekarang?"


“Tidak, aku ada urusan di sini, aku bekerja di kota A”Ucap Denis membuat mata Ara lebih berbinar.


“Benarkah? aku pun tinggal di kota A, mungkin kita bisa bertemu disana nanti "


“Ehem”Daniel merasa di acuhkan, ia pun berdehem.


“Ah.. Maaf, kau adalah... ?! “Tanya Denis melirik pada Daniel dan Ara bergantian


“Suami Ara, Daniel Qin”Dengan tegas Daniel menyodorkan tangannya pada Denis. Denis pun menyambut tangan Daniel dengan senyum lembut khas dirinya.


“Aku Denis, tetangga Ara saat di kota C, senang bertemu denganmu tuan Qin"


“Hemm”Jawab Daniel singkat.


Ara melirik wajah Daniel, wajah pria itu berubah jadi tak bersahabat, apa dia sedang cemburu? haha batin Ara tertawa.


Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka. Seseorang pelayan hotel keluar dari mobil dan memberikan kunci mobil pada Daniel.


“Nyonya Qin, ayo pergi “Seru Daniel dengan menggenggam tangan Ara. Sebutan Nyonya Qin yang di ucapkan Daniel terdengar seperti sebuah penekanan.


“Ara, simpan kartu namaku, kita harus bertemu saat di kota A nanti oke”Ucap Denis memberikan selembar kartu nama


“Tentu saja,Kak, kami pergi dulu”Jawab Ara menerima kartu nama itu dan masuk ke dalam mobil.