Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 141: Membuatku semakin jijik!



"Kau bisa mencuci tangan tapi tidak dengan otakmu!" ujar Elly.


Setelah tangannya bersih, Tritan mengambil beberapa helai kertas tisu dan berjalan lagi ke arah Elly.


"Untuk apa mencuci otakku? yang harusnya kau cuci adalah otak dan hatimu itu!" ujar Tritan terus mendekati Elly, tangannya sekali lagi mencekik leher Elly. Tubuh Elly terdorong membentur sandaran sofa. Ia seketika merasa sebuah aura ngeri yang keluar dari tubuh Tritan. Kenapa dia bisa semarah ini? sebenarnya ada apa? tanya Elly dalam hati.


"Tri... Tritan.. Sebenarnya ada apa ini?kenapa kau marah sekali?" tanya Elly dengan terbata-bata karena cekikan Tritan.


Tritan tersenyum ketus.


"Kau jangan berpura-pura polos lagi di depanku membuatku semakin jijik! aku terlalu memandang tinggi kamu Elly ternyata kau tak lebih rendah dari tikus di selokan!"


Elly mencoba mengatur napasnya yang terasa sesak karena cekikan Tritan, ia mengerutkan alisnya mencoba memahami apa yang sebenarnya pria ini ketahui.


"Apa maksudmu?!"


"Bagaimana sudah merasa menang karena hampir membunuh orang?"


Bang, suara dentuman keras masuk ke telinga Elly. Ternyata yang membuatnya marah adalah karena ia mencelakai sahabatnya.


"Kalau kau pikir kau mencelakai sahabatku kau bisa hidup tenang maka kau salah, "


"Jika aku lebih rendah dari tikus selokan kau bagaimana? kau juga pengkhianat! kau mencuri data kantorku dan mencampakkan aku begitu saja saat kau tahu aku hamil! kau itu pria macam apa?! "


Tritan tiba-tiba tertawa dan melepaskan cekikannya.


"Bukan aku yang pengkhianat, dari awal sampai akhir kaulah yang bodoh! mana mungkin aku memilih bersama wanita menjijikkan dan kejam sepertimu, sejak awal aku berada di sisimu hanya untuk mencuri data untuk Daniel tapi tak di sangka kau benar-benar jatuh dalam permainanku tapi kau tak perlu khawatir, obat tadi akan menggugurkan bayi itu. Aku tidak akan rela darah daging keluargaku terkontaminasi dengan darah busuk di tubuhmu!"


"A.... apa?! jadi obat tadi adalah obat penggugur kandungan?!" tanya Elly dengan wajah pucat dan gemetar.


"Benar, seharusnya beberapa menit lagi obat itu akan bereaksi"


"Apa salah bayi di perutku ini Tritan?! kenapa kau jahat sekali?!" ujar Elly sambil meringkuk menahan sakit di perutnya.


Tritan tak menggubris pertanyaan Elly barusan, ia melihat arlojinya kemudian berdiri.


"Jika kau beruntung kau hanya akan kehilangan janinmu bukan nyawamu, tapi aku lebih berharap kau tidak beruntung!" ujar Tritan kemudian pergi meninggalkan Elly sendiri yang sedang kesakitan.


20 menit sejak kepergian Tritan, darah segar mulai membanjiri lantai apartemennya. Benar yang di katakan Tritan. Obat itu obat keras, terlalu keras hingga ia benar-benar merasa nyawanya ada di ujung tanduk. Tubuhnya benar-benar lemas, tapi ia terus menyeret tubuhnya ke luar dari kamar apartemennya berusaha menemukan seseorang untuk menyelamatkannya. Beruntung seorang cleaning servis sedang berada tak jauh dari pintu kamarnya. Seorang wanita paruh baya melihat Elly dengan darah terus keluar dari bawah tubuhnya membuat ia berteriak dan segera membawa Elly ke rumah sakit.


Butuh waktu lebih dari 2 hari untuk Elly benar-benar bisa keluar dari rumah sakit seperti hari ini. Selama di rumah sakit tidak ada yang menjenguk, tidak ada yang merawat juga tidak ada yang peduli. Sekarang ia tak lagi mengandung, ia keluar dari rumah sakit dengan gontai. Wajahnya pucat pasi menahan rasa sakit di perutnya yang belum benar-benar sembuh. Hari sudah sore ketika ia keluar dari rumah sakit. Ia segera menyetop taksi untuk kembali ke apartemennya.


Setelah sampai di apartemennya, ia duduk di atas sofa. Bayangan kejadian waktu itu juga tidak lepas dari ingatannya. Hatinya tiba-tiba merasa semakin getir, untuk mengalihkan perhatiannya ia akhirnya menyalakan TV mencari berita tentang peresmian cabang baru FireGate hari ini.


TV menyala, tak butuh waktu lama Elly mendengar dan melihat hampir semua chanel berita berisikan berita besar tentang FireGate dan kejadian yang hari ini terjadi.


Tangan Elly semakin bergetar, keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya saat ia melihat Ara di podium bahkan ada salah satu saluran berita menayangkan detik-detik penangkapan keluarga Romanof dan juga saat Clara kabur dari penangkapan itu. Tak henti-hentiny Elly berusaha tak percaya dengan berita itu. Tapi yang menayangkan berita ini bukan hanya satu saluran berita tapi semua saluran berita menyiarkan berita yang sama. Elly merasa keselamatannya benar-benar dalam bahaya. Dengan menahan rasa sakit di perutnya, ia segera berlari ke kamarnya meraih koper dan memasukan semua bajunya. Ia merasa harus pergi dari apartemen ini dan juga kota ini untuk menghindari amukan Clara. Setelah selesai ia segera pergi ke bandara dan ingin melarikan diri kemanapun ia bisa namun terlambat. Sesampainya di bandara ternyata gerak gerik Elly sudah di perkirakan oleh Clara. Suruhan Clara menemukan Elly di bandara akhirnya dengan paksa menyeretnya masuk ke dalam mobil setelah sebelumnya ia di bius hingga tak sadarkan diri.


Keesokan harinya, Elly terbangun ketika sebuah guyuran air dingin membasahi tubuhnya. Saat ia membuka mata, ia merasa tubuhnya tak bisa bergerak, tubuhnya terikat dengan kuat, matanya mengedar ke sekeliling. Ruangan ini tampak tidak asing bagi Elly.


Ya benar, ini adalah rumah kecil di perbatasan kota A dan B. Rumah yang sama seperti beberapa tahun lalu, rumah yang sama tempat dimana Ara pernah juga di sekap di sini. Ingatan itu terpanggil seketika, bayangan Ara yang tak berdaya saat itu tak di sangka juga menimpanya. Elly dengan kepala yang kacau justru tertawa dalam hati. Ada perasaan bersalah dan menyesal, ia jadi ingat kata-kata Arab yang dalam kondisi lemahnya memperingatkannya ia berada di sisi yang salah. Kata-kata yang sempat membuatnya ragu saat itu, kata-kata dari seseorang yang dulu pernah benar-benar menganggapnya seperti sahabat. Tapi, sekarang justru ia yang merusaknya. Kekhawatiran Ara terjadi, sekarang sudah tidak ada yang tersisa lagi. Uang, kekasih, sahabat, bahkan anak di kandungannya juga hilang. Semuanya menghilang,


"Hah, jadi seperti ini rasanya karma?" batin Elly menertawai kebodohan dirinya sendiri.


Baang! suara pintu di buka dengan kasar hingga handle nya membentur keras ke dinding. Suaranya sampai membuat Elly kaget dan terbelalak. Seorang wanita dan 3 orang pria masuk mendekati tubuhnya. Siapa lagi kalau bukan Clara, Rudy dan juga 2 orang pengikutnya. Melihat kemarahan Clara, Elly seketika tahu bagaimana nasibnya.


Plak! sebuah tamparan keras bolak balik mengenai pipinya. Pipinya seketika merah dan terasa sangat panas. Clara jongkok dan mencubit kedua pipi Elly dengan satu tangannya. Mata mereka bertemu, aura berbahaya benar-benar keluar dari mata wanita di depannya ini.


"Kenapa melihatku begitu? sedang menyadari tingkat kebodohanmu itu?"