Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 108: Ayah



Ara berjalan di belakang Daniel yang masih kesal pada Ara. Gadis itu berusaha mengejar Daniel di depan.


"Daniel, kenapa kau marah??!" teriaknya dari belakang. Jangankan menggubris teriaknya, menoleh pun tidak.


"Sudah sampai basah kuyup seperti ini menyelamatkannya bukannya terimakasih justru malah tanya ikan, setakut itukah kalah lomba?" Daniel terus menggelengkan kepalanya.


"Daniiiiell, haaaachuuuh... jalan pelan sedikit hachuuuhh" panggil Ara sambil bersin-bersin. yang basah kuyup tentu saja bukan Daniel seorang, tapi Ara pun juga. Ara bahkan meminum beberapa teguk air laut membuat tenggorokannya sakit dan di tambah angin laut yang kencang membuatnya semakin kedinginan.


Mendengar Ara bersin-bersin memanggilnya, Daniel menghela nafas panjang. Lagi-lagi ia harus mengalah pada Ara, rasanya sulit untuk marah pada istrinya itu. Kemudian ia membalikkan badannya dan berjalan mendekati Ara. Melihat Daniel di depannya, ia berhenti


"Jadi masih ingat dingin?sudah takut sakit belum?" seru Daniel sambil membuka handuk dari tubuhnya dan melilitkannya pada tubuh Ara. "Aku pikir di kepala mu ini hanya ada ikan dan lomba, ternyata masih bisa pikir yang lain"


"Huh, aku begini kau pikir karena siapa? aku ini sebenarnya mengkhawatirkan siapa?" Dengan kesal Ara membuka handuk yang di berikan Daniel barusan dan meletakkannya di atas tangan Daniel, ia pun melangkah pergi meninggalkannya di belakang ,"Jelas-jelas aku mengkhawatirkan dia, kenapa dia justru memarahiku!apa otaknya tertinggal di laut tadi?aggghhh" gerutu Ara dalam hati. Langkahnya terhenti ketika Daniel tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Aku sudah bilang, kalau kalah ya kalah saja" Daniel melepaskan pelukannya dan membalikan tubuh Ara memakaikan lagi handuk yang sebelumnya. "Dengar, aku lebih takut kehilanganmu yang jatuh dan hampir tenggelam barusan daripada kehilangan uang itu, uang bisa di cari tapi jika kau yang hilang, kemanalagi harus mencarinya?mengerti tidak?"


"Tapi uang itu banyak , aku tidak rela"


"Huh, masih tidak mengerti juga?terserah kau sajalah kalau begitu" seru Daniel meninggalkan Ara,


"Apa uangmu sudah terlalu banyak sampai tidak tahu 2M bisa membeli seluruh dunia,huh?!"


"Ya, tapi juga tidak bisa membeli ucapan terimakasihmu!"


Di belakang, Ara mencoba berpikir arti ucapan Daniel barusan, ternyata itu marah karena ia belum mengucapkan terimakasih padanya,


"Benar juga, pantas dia marah aku belum mengucapkan terimakasih malah menanyakan masalah ikan dan lomba, huh dasar bodoh"


Langkah kaki Ara dengan cepat melebar berusaha mengejar Daniel yang sudah hampir sampai di tempat dimana Brandon berada. Dari belakang, Ara bisa melihat reaksi orang-orang di sekitar Daniel yang memandangnya dengan wajah terpesona. Ya mau tidak mengakuinya berapa kali pun kenyataannya pria itu memang tampan dari ujung kepala hingga kaki, dia itu memang sempurna. Lagi-lagi kejadian seperti ini membuat iya mengingat sesuatu di masa lalunya, ingatannya itu membuatnya tertegun beberapa detik.


"Ya Tuhan, berhenti mencicil ingatanku seperti ini, berikan saja seluruhnya padaku aga aku cepat tahu yang sebenarnya terjadi" batin Ara.


"Brandon!!" Daniel memanggil Brandon yang sedang asik bermain lego bersama Bella.


"Ayahhhhhh!!" seketika Brandon berdiri dan memeluk Daniel. Ucapan Brandon barusan membuat Ara dan Daniel tertegun.


"Br.. Brandon.. kau panggil aku apa barusan?"


"Ayah" kemudian Brandon kembali ke dalam dan membawa Bella keluar bertemu dengan Daniel,


"Darimana Brandon dapat ide memanggil pria itu dengan sebutan ayah? Denis sudah selama itu bersamanya saja tak pernah dia sebut dengan sebutan itu? "batin Ara.


"Hai Bella, aku ayahnya Brandon"


"Hai, Om.. itu ayahku" Bella kemudian menunjuk Liam yang berjalan dengan Cintya mendekat.


Tak lama kemudian, peraihan skor tim akhirnya keluar, tak di sangka tim Ara meraih skor tertinggi dan berhasil menyalip tim Liam, membuat Liam mengepalkan tangannya karena marah,


"Awas saja kalau kau tidak menang, kita benar-benar akan kehilangan uang yang sangat banyak! kau benar-benar tak masuk akal Liam" seru Cintya di samping Liam sambil berjalan mendekat ke arah anak dan orang tua itu dan melambaikan tangan pada Bella. "Tuan Qin, kenapa anda seperti basah kuyup?" seru Cintya yang tak bisa menahan pandangannya melihat tubuh seksi Daniel.


"aku juga basah kuyup, kenapa hanya Daniel yang di tanya? apa dia buta? dasar genit!" batin Ara.


"Tentu saja habis bersenang-senang Nyonya Gu" seru Ara dengan ketus, Ara melengos dan menutupi tubuh Daniel dengan handuk. Daniel tertawa kecil kemudian menggendong Brandon dan memeluk Ara. Membuat siapapun termasuk Cintya cemburu dengan kehangatan keluarga mereka.


"Skor kami paling atas sekarang, Tuan Gu berdoalah semoga kalian tak perlu sampai kehilangan uang, kami permisi dulu" Ujar Daniel tersenyum ketus sambil membawa Ara dan Brandon kembali ke kamar mereka.


"Aku harap kau tak mengesali keputusanmu bertaruh dengan mereka, Liam!", " Ayo Bella, kita pergi" Cintya mengulurkan tangannya pada Bella dan pergi meninggalkan Liam dengan hati penuh dengan rasa kesal.


***


Keesokan harinya, mereka berkumpul lagi meneruskan perlombaan. Mereka di bawa oleh panitia ke sebuah landasan terbang. Peraturan lomba kali ini sedikit berbeda, di atas sebuah papan tertera beberapa lomba dengan nilai jumlah skor yang akan mereka dapatkan. Lomba dengan skor tertinggi adalah lomba terjun payung yang memiliki nilai 350, lomba balap sepeda dengan nilai skor 150, lomba lari estafet dengan nilai skor 100. Para peserta lomba di perbolehkan untuk memilih sesuai kemampuan masing-masing tim.


"Baiklah, silahkan kepala keluarga memilih lomba mana yang akan kalian pilih, jika salah satu lomba hanya di pilih satu tim maka tim itu harus memilih lomba lain" teriak salah satu panitia dengan loud speaker.


Awalnya Ara meminta Daniel memilih lari estafet namun Daniel justru memilih terjun payung, hal itu juga di lihat oleh Liam yang tentu saja tidak akan mau kalah.


"Wah, Daniel kau sepertinya berusaha keras agar bisa menang ya sampai harus membawa keluargamu mencoba lomba yang ekstreem"


"Benar tuan Gu, tiba-tiba aku merasa mendapatkan 2 milyar darimu juga tidak buruk. Jadi aku putuskan untuk mengalahkanmu"


"Haha, tak semudah itu Daniel, aku pernah ikut club terjun payung di Australia, sepertinya ini tidak mudah untukmu, semoga beruntung" Liam meninggalkan senyuman ketusnya pada Daniel dan Ara kemudian masuk ke dalam Pesawat,


"Daniel, ini bukan lomba memancing seperti kemarin, jika kau gagal kita bisa mati terjun bebas lebih dari ketinggian 13.000 kaki loh"


"Aku rela mati kok asal bersama kalian!hahaha"


"Iiiihhh Daniel! ini bukan waktunya bercandaaaaa!!" seru Ara kemudian berlari mengejar Daniel yang tertawa masuk ke dalam pesawat.