Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 53: Dimana Alan?



Keesokan harinya di TopHill


Ara mengendArai mobilnya dan berhenti di lobby Tophill. Ia mengenakan baju terusan berleher tinggi dengan mantel berwarna coklat muda selutut, tubuhnya yang ramping memasuki pintu TopHill dan di sambut seorang wanita muda berpakaian formal, tersenyum ke Arah Ara.


“Selamat datang nona Ara, saya Medina"


“Ya terimakasih”Senyum Ara membalas jabat tangan Medina.


“Mari silahkan “Langkah Medina dan Ara kemudian mengayun menuju sebuah ruangan VVIP di TopHill, di sela perjalanan mereka, Ara samar melihat punggung Daniel berjalan memasuki Lift bersama seorang gadis yang tak asing. Ara pun mengerutkan Alisnya.


“Bukankah itu Windy, artis international yang sedang naik daun? kenapa bisa bersama Daniel? “Gumamnya dalam hati penasAran. Lamunannya buyar ketika Medina berhenti di depan pintu ruangan VVIP dan dengan cepat ia membuka pintu ruangan itu.


Saat pintu itu terbuka, Ara di sambut dengan sebuah senyuman pria paruh baya. Penampilannya mengisyaratkan statusnya. Saat Ara melihat pria itu. Ia langsung teringat pria itu adalah pria yang sama yang datang bersama Daniel saat dirinya datang dengan Kevan beberapa bulan lalu. Pria itu berwajah blesteran oriental, wajahnya sekilas sedikit mirip dengan Daniel. Barangkali ketika Daniel tua kelak, ia akan mirip seperti pria ini, batin Ara.


“Nona Ara akhirnya aku bisa bertemu denganmu”Ucap Shamus menatap Ara yang duduk di seberang mejanya.


“Selamat siang tuan Marquis, senang juga bisa bertemu dengan anda"


“Tak perlu sungkan, panggil aku kakek tak masalah"


“Baik lah kek”Senyum Ara


“Kau pasti sekarang sedang bingung kenapa aku ingin bertemu denganmu kan? “Senyumnya dan Ara pun mengangguk. Kemudian Ara melihat Medina menyerahkan sebuah dokumen pada Ara. Ara kemudian segera melihat dan membaca isi dari dokumen itu.


Dokumen itu adalah kumpulan dari latar belakang dan masa lalunya. Senyum sinis Ara tersinggung seketika, ia sepeti tahu apa yang akan di katakan oleh Shamus setelahnya, setelah melihat lembar demi lembar dokumen itu, Ara menatap Shamus. Ara menangkap perubahan wajahnya saat menatapnya saat ini. Tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin.


“Setelah melihat dokumen itu, aku yakin kau sudah tahu apa tujuanku bertemu denganmu. Kan??”Tanya Shamus


“Apa kau ingin mengekang hubunganku dengan Daniel? "


“Terlihat jelas bukan? "


“Kami sudah menikah dan tak berencana untuk bercerai tuan Marquis”Seru Ara lantang


“Sebutkan saja nominal yang kau mau, aku akan berikan”Ucap Shamus seraya tangannya menyalakan api untuk membakar cerutu mahal di tangannya. Ara tersenyum dingin.


“Seberapa banyak yang Anda punya tuan? “Tanya Ara. Membuat Shamus tersenyum.


“Gadis ini bernyali besar, pantas Daniel menyukainya”Batinnya


“Aku tidak tahu kau sudah tau atau belum, tapi akan aku beri tahu padamu, Daniel bukan orang sembArangan. Dalam darahnya mengalir darah bangsawan dan Kerajaan, dialah pewaris tunggal. Dengan latar belakangmu, aku rasa kau tidak cocok bersama Daniel kami, Ara”Seru Shamus to the point. Ara menghembuskan nafasnya yang berat. Kepalanya tiba-tiba seperti terisi dengan banyak adonan beton. Pria yang ia nikahi ini ternyata tak sesederhana yang ia bisa bayangkan sebelumnya. Belum sembuh rasa kagetnya saat mengetahui Daniel adalah pemilik TopHill sekarang juga harus di kejutkan dengan kenyataan dia pewaris tunggal kerajaan kakeknya.


“Benar-benar kau Daniel! “Batinnya.


“Kalau begitu anda bisa bicarakan masalah perceraian ini langsung dengan Cucu anda tuan, jika ia menginginkannya, aku juga tak akan menahannya, sampai di sini sepertinya sudah tidak ada yang perlu di bahas, saya pamit dulu kek, selamat siang”Tanpa menunggu jawaban Shamus, Ara sudah melangkahkan kalinya dengan cepat keluar dari ruangan itu.


Medina yang sejak tadi berasa di ruangan itu menyaksikan apa yang terjadi merasa tindakan Ara sedikit kasar pada Marquis. Selama ini tak ada yang berani berbicara dengan Shamus seperti Ara berbicara padanya tadi.


“Saya merasa tuan muda menyukai gadis yang unik”Seru Medina. Tentu saja yang Medina katakan bukan dalam konteks yang baik, justru sebaliknya.


Shamus tersenyum kecil.


“Gadis itu sungguh menarik, tak heran Daniel menyukainya"


***


Langkah Ara perlahan melambat setelah ia merasa telah cukup jauh meninggalkan ruangan Shamus. Ia sekarang berdiri di depan pintu Lift dengan wajahnya menunduk. Lagi-lagi latar belakangnya yang selalu menjadi kartu hitam di mata semua orang. Ara dengan kesal hendak memukul pintu Lift, tapi pintu itu justru terbuka dan pukulannya justru mengenai dada bidang seseorang pria di depannya, iapun langsung mendongak dan berapa kagetnya ketika Ara melihat Denis berasa di depannya.


“Ara! “Seru Denis yang tak kalah kaget.


“Kak Denis! "


“Kau, kenapa bisa di sini? “Tanya Denis heran.


“Aku... Aku... “Ara bingung ingin menjawab apa, tak mungkin kan ia menjawab baru saja disuruh bercerai oleh keluarga suaminya. Huh, Ara menghela nafas. Melihat reaksi Ara yang bingung, dimas pun tersenyum.


“Sudahlah, apapun alasanmu di sini, kita sudah bertemu, kau harus mentraktir ku makan siang, bagaimana? "


“Baiklah, ayo! "


“Ayo"


***


sudah 3 hari Elly tak menerima kabar dari Alan. Ia bahkan sampai datang ke kantor alan hanya untuk memastikan keberadaan tunangannya itu.


Sesampainya di kantor Alan, langkah Elly tertahan di meja resepsionis. Entah ada apa tapi Elly selalu merasa mereka berusaha menyembunyikan sesuatu darinya. Meskipun Elly adalah tunangannga tapi tak sekalipun ia di perbolehkan masuk menemui Alan di kantornya.


“Maaf nona Elly, menurut informasi tuan Alan sedang melakukan perjalanan bisnis ke kota A”Seru seorang resepsionis setelah menutup panggilannya pada salah seorang asisten Alan.


“Pertemuan bisnis? kota A sejak kapan? "


“Sejak 3 hari lalu nona"


“Benarkah? boleh aku tahu dimana tempat pertemuan mereka? "


Akhirnya Elly mendapatkan sebuah alamat din secarik kertas yang di berikan oleh resepsionis itu. Elly menatap kertas itu dalam-dalam.


“Kau tak bisa di hubungi dan juga tak menghubungiku, sekarang kau pergi keluar kota juga tak mengabariku, sebenarnya aku ini kau anggap apa?”Tanya Elly dalam hati.


Ia berjalan ke Arah pintu keluar kantor, namun langkahnya terhenti saat ada dua orang gadis berjalan di depannya dan sedang membicarakan tentang seseorang yang ia yakini mereka sedang membicarakan tentang bosnya “Alan".


Elly terus mencuri dengar pembicaraan gadis-gadis itu. Mereka mengatakan bahwa Alan pergi bersama sekretaris barunya untuk bersenang-senang di kota A, ia bahkan menyewa sebuah hotel mewah di kota A dan membelikannya banyak bArang mahal.


Jantung Elly membeku. Dengan cepat ia meraih bahu salah satu gadis itu.


“Nona, benarkah rumor tentang bos kalian itu? “Tanya Elly.


Gadis itu kemudian menoleh berbalik memandang Elly dari atas sampai bawah. Elly bertunangan dengan Alan memang tak banyak orang yang mengetahuinya, jika dilihat sekilas dari penampilan Elly pun tak mencerminkan tipe yang di sukai oleh Alan, jadi saat ia bertanya seperti ini, gadis-gadis itu tidak ada yang mengira Elly adalah tunangan dari Alan.


“Benar, kau tidak rahu? bahkan sekretaris cantik itu memamerkan ruangan dan bArang-bArang mahal yang di belikan bos, sungguh beruntung”Seru salah satu gadis memperlihatkan salah satu postingan sekretaris itu di media sosial.


“Apa kalian tahu apa nama hotel di dalam foto ini?”Tanya Elly


“Ini adalah hotel termewah di kota A. TopHill"


Elly dengan marah meremas tangan di samping tubuhnya. Tanpa pikir panjang ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan 2 gadis itu dan menyetop sebuah taksi dan pergi ke bandAra menuju kota A.


Beberapa jam berlalu, elly akhirnya sampai di kota A. Pikirannya carut marut, ia masuk ke dalam sebuah taksi dan menuju TopHill.


Saat taksi berhenti di lobby, elly turun dengan ragu dan menuju meja resepsionis hotel.


“Aku ingin tahu nomor kamar atas nama Alan shu”Tanya Elly, kemudian sang resepsionis menyibukan pandangannya pada layar komputer di depannya beberapa saat. Sesaat kemudian ia menyebutkan nomor sebuah kamar suit presidensial. Salah satu kamar mewah di TopHill.


“Ternyata gadis-gadis itu benar, alan memang berada di sini, tapi mungkin tidak bersama wanita lain”Elly masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak percaya bahwa Alan bersama gadis lain menginap di hotel ini.


“DING”Pintu Lift terbuka, di dalam Lift itu hanya ada 1 orang pria jangkung berpakaian mahal dengan menyembunyikan kedua telapak tangannya di dalam sakunya. Ia melihat Elly dengan tatapan datar tanpa ekspresi. Elly pun tak menghiraukan nya dan segera menekan tombol 24.


Tak butuh waktu lama hingga Elly sampai di lantai 24, ia terus berjalan terus mencari kamar dengan nomor P1024, saat mencari, ia merasa pria din Lift tadi terus mengikutinya, beberapa kali ia menoleh ke belakang, pria jangkung itu masih menatapnya dengan ekspresi datar.


Setelah menemukan nomor kamar yang di maksud, elly berdiri di depan pintu, namun menyadari pria itu juga berhenti Elly seketika menoleh ke Arah pria itu dan bertanya.


“Apa kau sedang mengikutiku? “Tanya Elly, pria itu kemudian tertawa kecil sambil mengerutkan keningnya.


“Kau terlalu percaya diri nona”Seru pria itu tertawa geli sambil menunjukan sebuah kartu akses dan membuka pintu kamar yang tepat di samping kamar Alan itu. Dengan malu, elly membuang muka dan memencet bell kamar Alan, sedangkan Pria itu dengan angkuh masuk tanpa memperdulikan Elly.


Beberapa kali Elly memencet bell kamar itu. Pintu pun terbuka. Betapa kagetnya ketika seorang wanita yang hanya mengenakan jubah mandi muncul dari balik pintu. Elly menatap gadis itu dengan marah.


“Kau mencari siapa nona? “Tanya gadis itu


“Aku mencari Alan, dimana dia? “Tanya Elly geram.